
Andre...
Papa...
Mas Andre...
Kejadiannya begitu cepat hingga tak ada orang yang menghalanginya. Andre yang kelewat emosi karena mendengar kalau Arnold terluka langsung menampar Alan. Andre, Nadia, Mama Anisa, Papa Reza, Anara, dan Abel bertemu di parkiran rumah sakit hingga masuk bersama.
"Dasar anak sialan. Kau pikir sudah jagoan kalau tawuran kaya gitu? Pikirkan keselamatanmu dan orang-orang sekitarmu sebelum bertindak. Semakin besar bukannya bertambah pintar dan dewasa dalam berpikir malah nambah repot orangtua," ucap Andre dengan ketus.
Bahkan Andre menatap marah dan kesal melihat wajah Alan yang juga babak belur. Walaupun belum mendengar penjelasan lengkap, namun ia sudah bisa menilai kalau ini karena tawuran. Alan memegang pipinya yang ditampar papanya dengan pandangan kosong.
"Nak..." panggil Nadia yang langsung memeluk Alan dengan eratnya.
Bahkan Anara dan Abel juga ikut memeluk Alan dengan erat. Papa Reza langsung menarik tangan Andre agar tak melampiaskan kemarahan pada cucunya. Sedangkan teman-teman Alan kebingungan berada dalam situasi seperti ini.
"Maaf, om. Ini bukan sepenuhnya salah Alan karena..."
"Kalian juga sama. Sama-sama begajulan. Pembelaan kalian untuk Alan takkan berguna karena saya sudah tidak respect dengan kalian terutama dia," seru Andre sambil menunjuk kearah Alan setelah menyela ucapan dari Lucas.
Sebenarnya teman-teman Alan ingin membela diri dan sedikit marah dengan ucapan Andre itu. Namun Papa Reza memberi kode untuk diam dulu. Ia tak mungkin membiarkan mereka berbicara sekarang karena pasti keadaannya akan semakin parah.
"Saya memang anak sialan. Lalu anda mau apa, Tuan Andre Listyo Farda? Tidak menganggapku anak? Tak apalah, saya masih bisa mencari sosok seorang papa yang setidaknya mau mendengar penjelasan anaknya dulu sebelum bertindak. Terimakasih untuk tamparan anda. Saya pastikan kalau ini adalah tamparan pertama dan terakhir yang bisa anda berikan kepada saya," ucap Alan dengan nada formalnya.
Deg...
Jantung Andre dan semua yang ada di sana seketika berdetak lebih cepat. Bahkan Nadia merasakan kalau keluarganya akan terasa hambar dan mencekam setelah ini. Papa Reza yang tak ingin ada sesuatu yang terjadi pun langsung menarik pergi Andre setelah membisikkan sesuatu pada istrinya.
__ADS_1
"Bunda dan yang lainnya mending pergi saja. Nggak usah dekat-dekat sama anak sialan ini. Nanti ketularan sial," ucap Alan sambil terkekeh miris.
Nadia, Abel, dan Anara langsung melepaskan pelukannya dari Alan kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mereka tak setuju dengan ucapan Alan yang seperti itu. Justru dekat dengan Alan itu adalah kebahagiaan karena selalu bisa tertawa dengan ocehan tak jelasnya.
"Alan bukan anak sialan. Alan kan anaknya bunda, gimana sih?" ucap Nadia dengan sedikit melontarkan candaan.
"Iya, Alan itu anaknya bunda Nadia dan adik dari Kak Bel juga Kak Nara," ucap Abel mencoba ikut menenangkan Alan.
"Ayo obati dulu itu wajahnya. Nggak tampan lagi lho itu wajah adiknya Kak Nara. Nanti cewek-cewek pada nggak mau jadi fans kamu lho," ucap Anara mencoba mencairkan suasana.
Nadia sudah mengalihkan pandangannya dari Alan. Ia tak kuat melihat Alan seperti ini. Apalagi tatapannya yang selalu ceria itu kini berubah menjadi tajam. Nadia belum pernah yang namanya melihat tatapan Alan seperti ini.
Namun Alan sama sekali tak menggubris ucapan Nadia, Anara, dan Abel. Ia memilih menjauh dan duduk di dekat pintu ruang IGD. Setiap keluarganya ada yang mendekati, ia langsung berpindah tempat.
"Sabar, tante. Alannya sedang emosi. Nanti kalau emosinya sudah reda, barulah bicara." ucap Lucas pada Nadia karena merasa kasihan dengan kesedihan wanita itu.
"Iya, tante." jawab Lucas yang kemudian beranjak mendekati Alan.
Walaupun wajah Alan kelihatan datar dan dingin, namun pancaran matanya sudah terlihat kalau dia sangat khawatir dengan keadaan Arnold. Berulangkali Alan melihat kearah pintu yang belum juga terbuka padahal sudah satu jam lamanya dokter memeriksa.
***
Butuh waktu hampir 2 jam bagi dokter memeriksa sekaligus melakukan tindakan untuk Arnold. Dokter keluar dengan wajah sedikit gusar dan kelelahan. Kejadian yang terjadi pada Arnold ini sangat mirip dengan Abel dahulu. Bedanya, Arnold terkena pukulan beberapa kali di tengkuk hingga bagian kepalanya.
"Saya akan memantau kondisi pasien. Saat ini pasien dalam kondisi kritis. Ada pembengkakan dan pembekuan darah pada otaknya karena pukulan keras itu. Namun itu masih harus kami pastikan setelah semua hasil pemeriksaan keluar" ucap dokter itu.
Dunia Alan seakan hancur karena mendengar apa yang diucapkan oleh dokter itu. Badannya meluruh ke tembok karena merasa takut kehilangan sekaligus rasa bersalahnya begitu besar. Sedangkan Nadia, Mama Anisa, Anara, dam Abel masih mematung di tempatnya.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara Alan yang anak begajulan ini," teriak Alan setelah dokter itu pergi.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Alan memukuli dinding rumah sakit untuk melampiaskan kekesalannya pada dirinya sendiri. Sedangkan ketiga temannya segera memeluk Alan dan menjauhkannya dari dinding. Nadia sudah menangis sesenggukan dalam pelukan Abel.
"Bodoh... Alan memang bodoh. Nggak bisa jagain abang," serunya yang terus meronta dalam pelukan ketiga temannya.
"Alan, jangan seperti ini. Lihat bundamu, kedua kakakmu, dan nenekmu itu. Mereka dalam kondisi sedih dan drop, kamu harus menguatkan mereka. Jangan malah terus nyalahin diri kamu sendiri. Kita hanya cukup berdo'a untuk kesembuhan abangmu," seru Lucas mencoba menyadarkan Alan yang begitu terpukul.
Mendengar hal itu, Alan langsung melihat kearah empat orang perempuan yang kini saling memeluk dan menangis. Alan sudah berjanji untuk menjaga mereka, namun malah dia yang membuat keluarganya menangis sedih. Alan langsung melepaskan pelukannya dari teman-temannya dan berlari kearah keluarganya itu.
Tanpa ada yang menyangka, Alan langsung berlutut di depan keempatnya dan menangis. Sontak saja apa yang dilakukan oleh Alan itu membuat keempatnya terkejut.
"Maafkan Alan, bunda. Nenek, Kak Nara, dan Kak Bel maafkan Alan juga. Nggak bisa jagain abang dan malah membuat kalian susah. Kalau boleh ditukar, biar Alan saja yang terluka daripada abang. Ini semua karena abang yang melindungi Alan. Abang Arnold orang baik dan sopan, beda dengan Alan yang begajulan juga nggak berguna ini," seru Alan mengungkapkan keinginannya agar situasinya berbalik.
Sontak saja keempat orang perempuan itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Nadia ingin membantu Alan agar terbangun dari posisi berlututnya, namun bocah laki-laki itu kekeh dengan posisinya.
"Tidak, Alan. Kamu nggak boleh kaya gini. Ini musibah. Apa yang abang Arnold lakukan itu sudah benar untuk melindungi adiknya. Kalau kami ada di sana, mungkin kamu juga akan melindungi kamu," ucap Nadia sambil menangis.
"Tidak..."
__ADS_1