
Alan, Arnold, dan Anara memilih untuk pulang ke rumah karena permintaan kedua orangtuanya. Sedangkan yang menunggu Abel saat ini adalah Nadia dan Andre. Mereka bertiga akan dijaga oleh Ridho dan Mbok Imah karena sekarang urusan membereskan rumah dan segala pekerjaannya adalah tanggungjawab Ibu Rivan.
Rencananya Nadia ingin mencari beberapa ART lagi untuk membantu ibunya Rivan agar tak terlalu lelah, namun wanita paruh baya itu menolak. Pasalnya kalau hanya membersihkan rumah, memasak, mencuci, dan menyetrika baju itu adalah hal yang mudah baginya. Apalagi membersihkan rumah juga hanya dua hari sekali kalau untuk secara keseluruhannya.
"Ayo Kak Livan, Opal... Tita main tuh di lapangan cebelah. Tita itut lomba," seru Alan yang sudah tak sabaran.
Hari ini di lapangan sebelah akan diadakan lomba dalam rangka hari kemerdekaan. Kebetulan perumahan tempat tinggal mereka bergabung dengan desa sebelah dalam merayakannya tahun ini. Jadilah kemarin diumumkan kepada anak-anak untuk mengikuti lomba hari minggu ini.
Alan yang memang suka dengan tantangan pun langsung mengajukan dirinya untuk ikut. Kebetulan nanti pesertanya banyak sekali anak kecil seumuran dengannya dan kakak-kakaknya. Nadia dan Andre sudah mengijinkan mereka untuk ikut asalkan ditemani oleh Ridho.
"Pasti aku bakalan kalah nih kalau ikut lomba gituan. Pasti lawan mainnya pada hebat-hebat semua," ucap Rivan yang sudah pesimis lebih dahulu.
"Pecimis telus. Dangan cemangat, mali pecimis." ucap Alan yang mengikuti orang-orang jaman sekarang.
"Sudahlah ayo ikut saja dengan kami. Kalah menang itu hal biasa dalam sebuah perlombaan. Yang penting kita sudah mencoba walaupun kalah," ucap Arnold yang membujuk temannya itu agar ikut.
"Baiklah," ucap Rivan dengan pasrah.
Anara, Alan, Arnold, Rivan, dan Naufal pun pergi menuju lapangan diikuti oleh Ridho. Ridho menggendong Naufal yang nantinya takkan bisa mengikuti acara lomba ini. Awalnya Ibu Rivan ingin kalau Naufal ditinggal saja di rumah namun Alan dengan tegas tak mengijinkannya.
"Opal tuh cemangat atu lho, ante. Coalnya celain pacal atu, Opal yang atan adi penyemanattu." ucap Alan sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai juga di lapangan itu. Terlihat di sana sudah ada banyak anak-anak yang berkumpul. Mereka berkumpul dengan berkerumun pada salah satu panitia.
__ADS_1
Alan, Anara, Rivan, dan Arnold pun segera mendaftarkan diri di salah satu panitia yang dikerumuni anak-anak kecil itu. Mereka haruslah mendaftar terlebih dahulu agar nantinya bisa disesuaikan kelompok lawannya sesuai umur peserta lomba.
"Mindil... Mindil... Talon pleciden mau yewat. Ntal tena papamples lho talo ndak beli Alan dalan," seru Alan tiba-tiba dengan gaya sok berkuasanya.
Arnold yang melihat tingkah adiknya itu hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ia sudah mencoba mencegah Alan agar tak langsung masuk dalam kerumunan itu. Ridho yang mendengar ucapan Alan itu langsung memilih duduk di tempat yang disediakan.
Ia seakan pura-pura tak mengenal Alan karena sedikit malu dengan tingkah anak majikannya itu. Bahkan di saat anak-anak lain yang seusianya masih malu-malu untuk bergabung dengan teman barunya, Alan malah seakan menantang semuanya. Wajah songong dan tengilnya membuat beberapa anak yang berkerumun memilih membubarkan diri.
"Kak, atu mau daptal lomba. Cemua lomba ya dan Alan bajib menang lho. Talo ndak menang, talian halus tetap beli Alan adiah." ucap Alan memaksa.
"Eh... Nggak bisa gitu dong, dek. Kalau ikut lomba itu menang dan kalah sudah biasa. Kalau mau dapat hadiah, berarti harus menang dulu. Adek kecil harus berusaha dan berjuang agar bisa memenangkan perlombaan yang ada," ucap salah satu panitia memberi pengertian.
"Bica-bicain dong. Dan napa tamu pandil atu adek tecil? Atu cudah becal ya," elak Alan sambil menatap sinis kearah panitia itu.
Arnold yang melihat perdebatan antara adik dan panitia lomba itu pun langsung mendekati mereka. Arnold menarik tangan Alan agar berdiri di belakangnya. Sedangkan panitia lomba itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena bingung cara menghadapi Alan.
"Baiklah. Biar kami catat dulu nama dan usianya ya," ucap panitia itu.
Arnold langsung saja mendaftarkan adik dan saudaranya itu agar Alan bisa segera diam. Walaupun sudah didaftarkan oleh Arnold, Alan masih saja menggerutu tak jelas. Ia itu ingin mengintimidasi panitianya agar dimenangkan semua lomba yang ada, namun kakaknya malah seakan menghalanginya.
"Wawas ya talian, talo ndak menangin Alan. Alan endang tuh tatina bial ndak bica jalan," ancam Alan setelah Arnold selesai dengan pendaftaran lombanya.
"Alan, nggak boleh kaya gitu. Abang bilangin sama bunda dan papa lho. Kita harus sportif kalau ikut lomba seperti ini," ucap Arnold memberitahu adiknya itu.
__ADS_1
Alan tak peduli dengan nasihat yang diberikan oleh Arnold. Beberapa panitia sangat gemas dengan tingkah Alan itu walaupun sedikit kesal juga. Apalagi beberapa orangtua yang menemani anaknya di sana begitu salut dengan keberanian Alan.
Alan pun duduk di dekat Ridho dan Naufal sembari menunggu namanya dipanggil. Ridho seperti menutup wajahnya dengan tas yang dibawanya agar tak terlihat oleh warga sekitar. Hal itu membuat Alan mengernyitkan dahinya heran.
"Paman Lidho napa tuh mutana ditutup cama tas? Pati talna wadahna delek tan? Cemuwa wewek di cini talo liat wadah Paman Lidho, Alan yatin batalan pada tabul." ucap Alan dengan ucapan pedasnya.
Ridho yang mendengar hal itu hanya bisa mengelus dadanya sabar. Ia selalu saja dinistakan oleh Alan, membuatnya kebal hati dan pikiran. Ridho memilih diam saja dibandingkan mengomeli Alan yang akan dibalas lebih kejam olehnya.
"Lomba makan kerupuk. Pesertanya adalah Alan, Yuno, Megan, Dani, Riko, Deden, dan Nino." seru panitia yang langsung memanggil nama-nama yang mengikuti lomba makan kerupuk.
Alan pun berdiri dari duduknya kemudian berjalan kearah kerumunan anak-anak lainnya. Arnold, Anara, dan Rivan langsung memberi semangat pada Alan agar bisa memenangkan perlombaan ini.
"Ayo Alan, semangat. Kamu pasti bisa," seru Arnold.
Kini Alan sudah berdiri di tempatnya masing-masing sesuai dengan arahan panitia. Alan berdiri dengan penuh percaya dirinya. Bahkan anak-anak lainnya malah pada ketakutan dengan wajah Alan. Apalagi seorang anak kecil bernama Megan yang berdiri di samping Alan.
"Pototna tamu halus talah. Wawas caja talo ndak nalah cama Alan, ulang-ulang ntal tamu ndak puna lambut." ancam Alan dengan berbisik pelan kepada Megan.
"Atu tan emang ndak puna lambut. Ntal pulang ke lumah juda batalan ndak puna lambut dong," ucap Megan dengan polosnya langsung mengelus kepalanya.
"Tuh tau, napa nana cama Alan." ucap Alan dengan acuh.
Megan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sepertinya Alan tengah menjahili temannya yang mengikuti lomba yang sama dengannya.
__ADS_1
1... 2... 3...
Cetoppp....