
"Arnold, sahabatku yang nggak tampan. Rivan datang nih..." seru Rivan yang memasuki ruang rawat inap Arnold.
Sontak saja semua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung mengalihkan pandangannya. Abel, Anara, Mama Anisa, dan Papa Reza sedikit terkejut dengan kehadiran seorang pemuda yang sudah dianggapnya saudara itu. Berbeda dengan Arnold yang memang sudah mengetahuinya lebih dulu.
Namun yang membuat semua bertambah terkejut adalah sosok di belakang Rivan. Apalagi Anara dan Abel yang memang sudah beberapa hari tak melihat papanya. Walaupun keduanya tahu jika Andre berada di balik sel penjara.
"Wah... Sungguh kejutan nih. Tapi lebih terkejut nih sama sosok di belakangmu," ucap Arnold dengan sedikit menyindir.
"Pasti terkejut bukan dengan wajah papa yang kucel karena belum mandi ini," ucap Andre dengan acuh.
"Dari dulu memang kucel bukan? Apalagi sekarang udah nggak ada istri yang ngurusin," ucap Arnold meledek papanya.
Andre hanya mengedikkan bahunya acuh kemudian berjalan memasuki kamar mandi. Bahkan ia juga meminjam baju milik Arnold yang dibawa ke rumah sakit. Beruntung perawakan tubuh Arnold dan Andre itu hampir sama.
"Rivan, kok bisa bareng sama papa?" tanya Anara.
"Tadi Rivan habis ke kantor polisi buat bebasin Om Andre. Kasihan kan kalau lama-lama di sana. Lagian sebentar lagi para pelakunya sudah mau masuk ke penjara juga," ucap Rivan dengan santai.
"Padahal kakek sengaja tak membebaskah dia biar merenungkan diri," ucap Papa Reza.
"Sudahlah, kek. Kita harus berdamai dengan masa lalu. Apa yang sudah terjadi, takkan bisa diubah. Lagian sekarang biarkan Om Andre itu mencari istri dan anaknya. Biarkan dia memperbaiki kesalahannya dan kalian bisa berkumpul bersama lagi," ucap Rivan mencoba memberi penjelasan.
"Benar kata Rivan, kek. Kalau papa ada di penjara terus, yang ada semakin lama kita bertemu dengan bunda dan Alan." ucap Arnold yang setuju dengan ucapan Rivan.
Papa Reza hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Fokus sekarang adalah kesembuhan Arnold. Sedangkan urusan Nadia dan Alan, tentu Andre yang harus bisa mengembalikan semuanya. Walaupun mereka juga akan ikut membantu.
__ADS_1
***
"Nadia, apa-apaan kamu ini? Kok malah ngerjain seluruh pekerjaan rumah sih," tegur Nenek Hulim pada Nadia.
Nenek Hulim kesal dengan Nadia yang kondisinya masih sakit namun malah membersihkan seluruh rumah. Padahal di sini banyak sekali ART yang dipekerjakan oleh Nenek Hulim itu. Namun sepertinya Nadia tak mau terlena dengan kemewahan yang disuguhkan oleh wanita tua itu.
"Nadia itu kalau diam saja nanti bakalan capek, nek. Lagian ini cuma nyapu dalam dan luar rumah kok. Nadia sudah biasa melakukan hal ini," ucap Nadia sambil tersenyum tipis.
"Bunda, ndak usah kerja terus. Lagian di sini itu kita tamu terhormat lho," ucap Alan yang baru saja pulang dari mall.
"Lah... Dipikir kamu itu presiden apa pakai tamu terhormat begitu," ucap Nenek Hulim dengan sinis.
"Calon presiden masa depan nih, nek." ucap Alan dengan percaya dirinya.
"Alan, jadinya kamu belanja apa di mall? Kok kaya nggak bawa apa-apa sih. Peralatan sekolahnya mana?" tanya Nenek Hulim yang kebingungan mencari barang belanjaan cucunya.
"Alan beli ****** ***** saja, nek." ucap Alan yang kemudian mengeluarkan satu kantong plastik dari balik bajunya.
"Lho terus peralatan sekolahmu mana?" tanya Nenek Hulim.
"Woh... ****** ***** ini juga digunakan buat sekolah lho, nek. Lagian di sini Alan ndak punya baju atau ****** ***** banyak. Alan juga kalau sekolah cuma bawa buku satu, nanti minta Kak Fikri aja sih." ucap Alan dengan santainya.
Bahkan kini Alan langsung saja berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan Nadia dan Nenek Hulim yang shock. Walaupun sebenarnya Nadia sudah tahu kalau kebiasaan anaknya itu jarang membawa peralatan sekolah.
"Astaga... Anakmu itu, Nadia. Ajaib sekali tingkahnya. Padahal dia nanti belum tahu kebiasaan di sekolah baru yang lingkungannya wajib disiplin. Kalau kaya gini, bisa-bisa sekolah itu memecahkan rekor karena menerima murid yang berbeda." ucap Nenek Hulim sambil menepuk dahinya pelan.
__ADS_1
"Nek, kalau bisa sih Alan disekolahkan di tempat biasa saja. Kalau sekolahnya bikin Alan tertekan, pasti dia malas buat masuk." ucap Nadia memberikan saran.
"Kebanyakan sekolah di sini ya gitu, Nad. Peraturannya ketat. Beruntung tuh anak punya otak cerdas dan prestasi banyak jadi bisa dimaafkan. Mungkin..." ucap Nenek Hulim yang juga ragu dengan sekolah pilihannya itu.
Nadia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu. Ia juga sama ragunya dengan Nenek Hulim mengenai sekolah itu yang takkan tenang saat Alan mulai masuk di sana. Namun Alan harus bersekolah memang sebaiknya disekolahkan pada sebuah instansi yang peraturannya ketat.
"Semoga saja Alan nggak berbuat ulah kaya di sekolahnya dulu. Hampir tiap minggu, ada saja surat dari sekolah yang datang. Mau datang kok ya malu. Tapi kalau nggak datang, kasihan sama Alan yang diomelin terus sama pihak sekolah." ucap Nadia sambil geleng-geleng kepala.
"Tapi Alan banyak teman kan di sekolahnya dulu? Setidaknya di sini nanti dia akan mudah beradaptasi kala sikapnya sama dengan saat di sekolah dulu," tanya Nenek Hulim.
"Yang sering dibawa ke rumah sih tiga orang laki-laki temannya, nek. Ada satu lagi, sahabatnya dari kecil si Cia itu. Kalau yang lainnya, Nadia kurang tahu juga sih." ucap Nadia.
Nadia sering bertanya tentang siapa teman-temannya di sekolah Alan waktu itu. Hanya saja Alan hanya menyebutkan empat orang itu. Yang lainnya, tak terlalu sering ia mendengarnya. Atau malah mungkin dirinya yang tak dijadikan tempat bercerita sehingga tidak tahu.
"Semoga saja Alan di sini temannya banyak. Ia harus punya banyak teman biar saat membangun usaha nanti bisa ada koneksi luas," ucap Nenek Hulim dengan penuh harap.
"Buat apa sih punya teman banyak kalau semuanya bermuka dua. Kalau waktu lagi senang saja pada mendekat, eh pas susah ninggalin. Sakitnya tuh nggak berdarah lho, nek." ucap Alan yang tiba-tiba menyela pembicaraan keduanya.
Nenek Hulim dan Nadia hanya bisa mengelus dadanya sabar. Mereka sedikit terkejut saat ada suara dari arah samping keduanya tiba-tiba. Bahkan mereka tak menyadari saat Alan datang mendekati keduanya.
"Ngagetin aja sih, Alan. Kaya jailangkung tahu nggak." ucap Nenek Hulim.
"Wajah tampan kaya Alan ini kok dibilang kaya jailangkung, nenek periksa mata gih." suruh Alan yang kemudian berlari terbirit-birit melihat wajah kesal neneknya.
"Alan...."
__ADS_1