Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Semangat


__ADS_3

Papa Nilam yang membantu semua rencana dari Alan, Arnold, dan Anara kini sedang berada di rumah sakit. Bukan karena ia sakit, namun ia tengah berbincang dengan Nadia nengenai rencana anak-anak wanita itu. Tidak mungkin juga kalau ibu dari ketiga anak itu tak diberitahu, pasti akan ada rasa khawatir jika terjadi sesuatu pada keluarganya.


"Jadi anak-anak mau memancing para pelaku untuk keluar?" tanya Nadia dengan raut paniknya.


Papa Nilam hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia paham dengan kekhawatiran dari wanita di depannya ini. Disini tak ada suami dan mertuanya yang biasanya membantu kalau ada masalah sepert ini, jadi ia sedikit takut untuk memutuskan. Nadia langsung terdiam untuk memikirkan rencana terbaik untuk semuanya.


"Baiklah, aku setuju dengan rencana itu. Tapi aku juga akan ikut serta dalam rencana ini. Aku takkan membiarkan anak-anakku melakukan hal berbahaya ini tanpa dampingan dari keluarga," ucapnya dengan yakin.


Papa Nilam menganggukkan kepalanya setuju. Ia juga sudah menghubungi Andre mengenai masalah ini. Terlebih ada kesan ditutup-tutupinya kasus ini demi nama baik suatu instansi. Ini harus menggunakan kekuasaan seseorang agar adanya keterbukaan suatu masalah.


"Siap, besok biar anak-anak aku yang jemput dan antar mereka sekolah. Untukmu, biar sopir keluarga yang antar agak siangan," ucap Papa Nilam.


Nadia menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diucapkan oleh Papa Nilam. Papa Nilam segera pulang karena hari sudah beranjak sore. Terlebih kedua anaknya di rumah hanya dijaga oleh ART saja. Setelah Papa Nilam pulang, Nadia langsung berjalan menuju ke brankar tempat Abel masih menutup mata dan terbaring lemah.


Ia tak menyangka kalau anaknya yang berangkat sekolah begitu semangatnya harus mendapatkan kejadian yang tak terduga. Sampai saat ini, Abel memang belum tak sadarkan diri setelah operasi kemarin. Dokter masih memeriksa semua hasil pemeriksaan untuk menemukan jawabannya.


"Ayo cepat bangun, nak. Saudara-saudaramu sekarang sedang memperjuangkan keadilan untukmu. Kamu pasti bahagia kan? Dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangimu," bisik Nadia tepat pada telinga anaknya.


Nadia mencium kening Abel dengan lembut. Setelah kejadian ini, ia berjanji untuk akan selalu ada buat anak-anaknya. Terlebih perkembangan ketiga anaknya yang lain sungguh pesat. Ia harus mengimbangi keaktifan mereka agar tidak tertinggal terlalu jauh. Beruntung juga saat ini Andre sudah dapat dihubungi untuk mendiskusikan segala keribetan yang ada di sini.

__ADS_1


"Bunda janji, akan membalas orang-orang yang sudah mencelakai kamu. Walaupun nantinya bunda akan mengeluarkan sifat bar-bar seperti pada waktu muda." lanjutnya sambil tersenyum misterius.


***


Alan, Arnold, dan Anara sudah siap dengan seragamnya sejak habis shubuh. Mereka begitu bersemangat menjalani hari ini dengan senyuman. Apalagi hari ini akan dilakukan rencana yang telah mereka susun. Mereka dengan antengnya kini makan bersama bahkan Anara sibuk menyuapi Alan yang manja.


"Celecai. Ayo tita belangkat, Alan ndak cabal lho ini. Apaladi anti ada polici, Alan ngin liat embak-embakan." ucap Alan dengan semangat.


"Masa lihat begituan malah semangat dan senang sih. Seharusnya kita itu bisa menyelesaikan ini dengan musyawarah," ucap Anara dengan bijak.


"Talo diajak bicala baik-baik ndak bica, ya telpakca halus patek kekelasan," ucap Alan dengan acuh.


Arnold tak peduli dengan perdebatan keduanya. Ia segera saja keluar dari ruang makan kemudian pergi menuju depan rumah. Ia akan menunggu kedatangan Papa Nilam di depan rumah agar segera bisa pergi ke sekolah. Di belakangnya, Anara dan Alan langsung saja mengikutinya.


Arnold, Alan, dan Anara yang tengah berbincang pun langsung mengalihkan pandangannya. Ternyata di sana sudah ada Nilam yang mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil sambil melambaikan tangannya. Mereka bertiga berdiri kemudian berjalan menuju mobil yang berhenti di halaman rumah.


"Kalian sudah siap?" tanya Papa Nilam sambil tersenyum.


"Siap..." seru Anara dan Arnold sambil tersenyum.

__ADS_1


Alan hanya menganggukkan kepalanya. Ia kini tengah tersenyum penuh misteri karena akan melakukan sesuatu yang membuat para pelaku kelabakan. Papa Nilam semalam sudah menghubungi Arnold kalau pihak yang berwajib akan datang dan membantu. Walaupun beberapa bukti memang belum terkumpul, namun melihat track record Andre dan keluarganya tentu menjadi pertimbangan sendiri.


Bahkan pihak kepolisian sudah meminta bantuan pada tim IT untuk membantu mencari bukti tambahan. Sepertinya kasus seperti ini memang harus segera dituntaskan karena akan berhubungan dengan nama baik sebuah instansi. Apalagi ini instansi yang terkenal.


Mobil pun melaju keluar dari rumah Keluarga Farda dengan kecepatan sedang setelah Alan, Arnold, dan Abel masuk dalam kendaraan. Alan dan Arnold berbincang Nilam yang tampak senang karena bisa ngobrol dengan mereka.


"Kak Ilam, anti di balam telas caja. Ndak ucah kelual telas. Anti ada embak-embakan lho di cekolah," ucap Alan sok tahu.


"Wah... Masa di sekolah ada tembak-tembakan sih. Pasti polisi nggak akan kaya gitu kalau tangkap penjahatnya. Pasti ada rundingan dan strategi dulu agar tidak ada yang terluka," ucap Nilam membenarkan.


"Ish... Pototna anti ada embak-embakan." kesal Alan pada Nilam yang tak percaya padanya.


Arnold memberi kode pada Nilam untuk menganggukkan kepalanya saja dan percaya pada Alan. Daripada mereka nanti malah diomeli dan diceramahi oleh Alan. Akhirnya Nilam menganggukkan kepalanya setuju dengan Alan walaupun terpaksa.


"Iya, ada tembak-tembakan. Tembak pakai pistol yang isinya bukan peluru tapi air," gumam Nilam pelan diakhir kalimatnya.


Alan tersenyum senang dan bangga atas semua ucapannya yang disetujui oleh orang terdekatnya. Papa Nilam yang mendengar hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Anak sahabatnya itu memang berbeda dengan yang lainnya. Idenya cukup berlian pada usianya yang masih kecil. Sepertinya bocah kecil itu sering melihat tontonan kartun detektif di TV.


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Papa Nilam sampai di sekolah. Mereka semua turun, Alan pun juga ikut namun seragamnya telah ia lepas. Hari ini dia tidak berangkat sekolah karena ingin melihat kejadian menegangkan yang akan terjadi. Mereka segera saja berjalan menuju ruang kepala sekolah untuk meminta ijin melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Lho... Itu mobil kok kaya Arnold kenal ya?" seru Arnold saat akan keluar dari area parkir mobil.


Semuanya segera saja melihat kearah mobil yang ditunjuk oleh Arnold. Mata Anara dan Alan seketika membulat tak percaya melihat mobil yang sangat keduanya kenal itu. Bahkan mereka bertiga segera saja berlari menuju mobil itu untuk memastikan sesuatu. Plat mobil yang juga mereka ingat, tentu membuat ketiganya semakin yakin. Bahkan saat mereka berlari ke sana, ternyata pemilik mobil itu keluar membuat ketiganya begitu terkejut.


__ADS_2