
Alan begitu marah ketika melihat Rivan malah dengan santai-santainya duduk di sini sedangkan adik dan ibunya bekerja. Adiknya yang tentu usianya di bawah Rivan itu seharusnya yang berada di rumah. Alan kesal karena justru Rivan bersikap santai seperti ini.
"Itu tadi kan Rivan mau nyusul mereka buat bekerja, tapi tadi Alan nyindir aku tidak bersyukur kalau menolak tumpangan. Padahal niatnya tadi mau mampir ke sana. Aku nggak enak kalau ajak kalian ke sana," ucap Rivan memberi alasan yang malah menyudutkan Alan.
Arnold yang mendengar Rivan menyalahkan adiknya itu tentu saja menahan tawanya. Begitu juga dengan Ridho karena selama ini tak pernah ada yang bisa menyalahkan bocah kecil itu. Sedangkan Alan menatap sinis kearah Rivan yang menundukkan kepalanya saat melihat tatapan itu.
"Adi tamu nalahin cindilan Alan ditu? Tan bica talo ajak tami ke cana. Alacan caja tamu tuh, pate nalahin Alan ladi. Alan tuh celalu benal tahu, talo yang calah tuh biacana paman Lidho kalna dia yang copilin tita adi." ucap Alan yang malah kini menyalahkan sopir keluarganya.
Tentu saja sifat Alan yang tak mau mengalah dan disalahkan inilah yang membuat Arnold ingin sekali menoyor kepalanya itu. Entah darimana sifat adiknya ini, yang tentu berasal dari Andre yang waktu muda juga sama seperti itu. Arnold hanya bisa menggelengkan kepalanya kali ini.
Sedangkan Ridho yang kini disalahkan hanya bisa menghela nafasmya pasrah. Pasalnya ia mengendari mobil itu sesuai arahan dari dua anak majikannya itu. Namun kini malah disalahkan oleh Alan.
"Sudah nggak usah berantem. Jadi adik kamu itu selalu ikut ibumu mencari barang rongsokan untuk dijual ke pengepul?" tanya Arnold yang memang sangat penasaran dengan kehidupan temannya itu.
"Iya, soalnya kalau ditinggal di rumah nanti nggak ada yang jagain. Kan Rivan sekolah, adikku masih umur satu tahun lho. Jalan aja masih harus dituntun," ucap Rivan sambil tersenyum.
Sontak saja Alan yang mendengar hal itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Mata Alan juga langsung berbinar cerah setelah mendengar cerita dari Alan. Seperti ada sesuatu yang membuatnya begitu antusias dengan hal ini.
Sedangkan Arnold dan Ridho hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Mereka paham dengan apa yang diucapkan oleh Rivan, kemudian tatapan keduanya beralih pada seorang wanita paruh baya sedang menggendong anak kecil di punggungnya. Keduanya itu berjalan menuju kearah mereka.
"Itu ibu dan adik kamu?" tanya Arnold tiba-tiba sambil menunjuk kearah dua orang yang baru saja datang.
__ADS_1
"Iya," jawab Rivan yang kemudian berdiri dan menyalami tangan ibunya.
Bahkan Rivan juga langsung mengambil alih adiknya dari gendongan sang ibu. Arnold dan Alan ikut mendekat kearah ibu Rivan kemudian menyalami tangannya. Tentu saja hal ini membuat Ibu Rivan sedikit tak enak hati, terkejut, dan canggung. Pasalnya tangan Ibu Rivan yang masih kotor habis memunguti sampah walaupun sudah mencucinya.
Melihat dua orang bocah laki-laki yang sepertinya berasal dari kalangan atas dan terlihat begitu bersih, membuatnya merasa tak enak hati. Ia tak enak hati dengan penampilannya yang sangat berbeda. Bahkan jika disandingkan, rasanya tak pantas.
"Maaf ya, nak. Kalian duduknya malah cuma beralaskan batu bata begini," ucap Ibu Rivan sambil tersenyum canggung.
"Tak apa, bu. Ini yebih baik dalipada tita diculuh duduk belalaskan tanah tok," ucap Alan sambil tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Ibu Rivan pun pamit sebentar untuk membelikan cemilan pada tamu anaknya. Tadi saat ia kembali pulang, di jalan sempat bertemu dengan tetangganya. Katanya ada teman anaknya sedang datang berkunjung. Hal itu membuat Ibu Rivan segera mempercepat langkahnya menuju rumah agar bisa mencarikan suguhan kepada tamunya.
"Sudah meninggal dua bulan yang lalu karena sakit," ucap Rivan sambil tersenyum miris.
Arnold lebih memilih tak melanjutkan ucapannya itu. Bahkan Arnold merasa tak enak hati karena mengorek kehidupan Rivan. Rivan yang mengerti bagaimana perasaan dari Arnold pun langsung menepuk bahu temannya. Rivan santai saja dengan semua ini karena merasa dirinya sudah ikhlas dengan kepergian ayahnya.
Sedangkan Alan sedari tadi diam sambil memperhatikan adik Rivan yang digendong itu. Bahkan adik Rivan yang ternyata seorang laki-laki itu juga berulangkali tertangkap basah melihat kearah Alan. Hal ini membuat Alan begitu tertarik dengan mata bulat dan pipi gembul itu.
"Tolong tuh adikna tacih Alan. Dia ndak naman lho tamu dendong, pati dia ingin cama Alan yang danteng ini." ucap Alan sambil merentangkan kedua tangannya kearah adik Rivan.
Rivan dan Arnold yang sedari tadi sibuk dengan perbincangannya langsung mengalihkan pandangannya. Arnold hanya bisa menghela nafasnya pasrah, pasalnya Alan yang kini sudah terlihat sangat terobsesi menjadi seorang abang setiap melihat anak kecil.
__ADS_1
"Jangan, dek. Kasihan lho kalau nanti adiknya itu jatuh. Kamu kan belum bisa kalau gendong anak kecil," ucap Arnold melarang adiknya.
"Bica. Alan dah dede lho ini. Talo tuma pantu cama dendong dah bica," ucap Alan yang kekeh dengan permintaannya itu.
Rivan pun akhirnya menyerahkan adiknya itu di atas pangkuan Alan. Kasihan juga dengan Alan yang terlihat sangat ingin memangku atau menggendong adiknya. Melihat adik Rivan sudah ada di atas pangkuannya, Alan langsung memegangnya erat dengan memeluknya dari belakang.
"Hati-hati, dek." ucap Arnold memperingatkan.
"Cekalang, tamu jadi adik atu ya. Pandil abang Alan yang anteng," ucap Alan dengan antusias.
Ridho yang was-was dengan tindakan Alan itu pun segera saja berdiri di belakang keduanya. Hal ini agar bisa mengawasi keduanya itu agar tak terjadi sesuatu. Arnold hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Alan yang begitu bahagia seperti mendapatkan mainan baru. Sedangkan yang dipangku hanya menatap Alan dengan tatapan polosnya.
Arnold membiarkan hal itu, yang terpenting adiknya itu tidak melukai bocah kecil yang ada dipangkuannya. Arnold lebih memilih berbincang dengan Rivan yang terlihat bahagia karena adiknya tak takut ketika bersama Alan.
"Ternyata Alan itu penyayang ya. Kalau yang umurnya di atas dia, dari awal udah diketusi. Tapi ini sama anak kecil, kelihatan sayang banget." ucap Rivan dengan pelan.
"Dia emang gitu, punya obsesi ingin dipanggil abang. Bahkan sepupu kami juga disuruh dia manggilnya abang, padahal seumuran." ucap Arnold sambil geleng-geleng kepala.
"Dangan cuka nomongin olang, ntal saliawan ndak cembuh-cembuh lho." ucap Alan yang mendengar Rivan dan Arnold sedang menggosipkan tentang dirinya.
Rivan dan Arnold hanya bisa terkekeh geli dengan apa yang diucapkan oleh Alan itu. Mereka membicarakan orang juga karena didepannya langsung. Bukan dibelakang orangnya.
__ADS_1