Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Arnold 2


__ADS_3

Rivan dengan polosnya menganggukkan kepalanya setuju. Toh menemani Arnold makan setiap istirahat itu sudah membuatnya bahagia. Apalagi melihat orang makan atau mencium baunya.


Rivan tak peduli dengan omongan orang yang selalu mengatainya sebagai pencuri dan bersikap aneh. Lagi pula apa yang mereka ucapkan itu tidak benar sama sekali. Rivan kembali ke kelasnya yang berbeda dengan Arnold dan Nilam.


"Aku sudah kenyang. Saatnya kembali ke kelas yang penuh orang-orang jahat ya, perut." guma Rivan berjalan sambil mengelus perutnya yang datar.


Tentu saja sikapnya yang seperti ini membuat beberapa teman sekelasnya curiga. Mereka sering kehilangan uang dan siswa paling dicurigai di sini hanyalah Rivan. Pasalnya di dalam kelas ini yang merupakan siswa dari kalangan tidak mampu hanya Rivan sendiri.


Tak mungkin orang berduit seperti yang lainnya akan mengambil milik orang lain. Apalagi ketika istirahat tiba, Rivan langsung pergi ke kantin dan sekembalinya selalu mengusap perutnya seakan kekenyangan. Itulah yang membuat anak-anak polos di sana curiga kalau selama ini uang mereka hilang karena diambil Rivan untuk jajan.


"Uangku hilang 10 ribu lagi nih hari ini. Padahal mau buat beli jus," kesal Ando yang merupakan teman sekelas Rivan.


"Coba cari dulu. Siapa tahu keselip diantara buku-bukumu," ucap Niko memberi saran.


Ando pun langsung saja mengobrak-abrik isi tasnya bahkan mengeluarkan semuanya. Namun tetap saja tidak ada uang yang dicarinya. Niko hanya bisa mengusap bahu temannya itu agar sabar.


"Nih pasti Rivan tuh yang ambil. Buktinya orang miskin kaya dia aja bisa beli makanan di kantin yang harganya mahal gitu," ucap Ando yang langsung menuduh Rivan yang baru saja masuk ke dalam kelas.


"Emm... Tapi Rivan ke kantin hanya lihat orang makan saja, bukan buat beli makanan." elak Rivan yang sepertinya harus membela diri.


"Orang kamu kelihatan kenyang begitu kok. Kamu pasti makan di kantin kan dan beli makanannya pakai uang yang diambil dari tasku," seru Ando.

__ADS_1


Beginilah keseharian Rivan di kelas itu. Ia merasa kalau apapun pembelaannya selalu saja tak dihargai bahkan tak dipercaya. Ini juga yang membuat Rivan memilih untuk diam saja saat teman-teman sekelasnya menuduh dia.


Ia juga sama sekali tak mempunyai teman dekat di kelas ini karena semuanya yang memilih menjauhinya. Mereka tak ingin kalau sampai uangnya terus saja diambil jika dekat dengannya. Rivan pun hanya bisa pasrah dengan keadaan ini karena orang sepertinya hanya akan dianggap angin lalu saja. Terlebih dia hanya siswa yang mendapatkan beasiswa di sekolah ini.


"Terserah Ando saja mau percaya atau tidak. Tapi yang jelas, Rivan sama sekali tak mengambil uang Ando. Kalau nggak percaya, kalian bisa lihat CCTV." kesal Rivan yang kemudian duduk di kursinya yang berada di depan paling pojok.


Ando hanya bisa mendengus kesal melihat teman sekelasnya itu. Seharusnya ia memang tidak boleh asal menuduh seperti itu apalagi belum ada buktinya. Namun semua teman sekelasnya selalu menuduh Rivan hingga ia juga ikut-ikutan.


***


Arnold menggandeng tangan Nilam untuk keluar dari kelasnya saat bel pulang sekolah berbunyi. Keduanya berjalan kearah tempat parkir mobil khusus yang menjemputnya. Nilam segera masuk mobil setelah melihat maid yang menjaganya datang.


Sedangkan Arnold masuk dalam mobilnya sendiri yang sudah ada sopir keluarga yang menjemputnya. Bahkan Alan juga ada di dalam mobil dengan masih menggunakan seragam sekolahnya. Padahal Arnold sering meminta Alan agar pulang ke rumah dulu namun sepertinya adiknya itu tetap kekeh untuk selalu datang ke sekolahnya.


"Alan bocan. Di lumah tuma ada Mbok Imah cama pak catpam, ndak acik." ucap Alan memberi alasan.


Akhirnya sopir pun melajukan mobilnya menuju rumah karena sepertinya dua anak majikannya itu sudah terlalu lelah. Apalagi melihat Alan yang kini duduk dengan kepala disandarkan pada bahu Arnold. Alan yang seperti ini sangat terlihat kalau dirinya sangat butuh sosok seseorang yang menjaganya dan dijadikan sandaran.


"Berhenti di depan sana, pak. Itu ada temanku yang lagi jalan kaki," seru Arnold tiba-tiba yang melihat seorang temannya tengah berjalan kaki.


Sopir itu pun sedikit terkejut dengan seruan Arnold begitu pula dengan Alan. Bahkan Alan langsung menegakkan tubuhnya kemudian memandang kearah depan. Sang sopir segera saja memelankan laju mobil kemudian menepikannya. Saat sudah berada di dekat teman yang dimaksud oleh Arnold itu, mobil segera berhenti.

__ADS_1


"Rivan, ayo masuk. Aku antar pulang," seru Arnold setelah membuka kaca mobil yang ada di sampingnya.


Rivan yang tadinya kebingungan dengan siapa yang berada di dalam mobil itu seketika membulatkan matanya. Ternyata yang berada di dalam mobil itu adalah Arnold, seorang siswa yang menjadi orang pertama yang mau berteman dengannya. Bahkan memberikan pekerjaan yang begitu mudah untuknya.


"Nggak usah, Arnold. Rivan mau pergi dulu soalnya," ucap Rivan yang langsung menolak ajakan Arnold.


"Ndak belcukul tamu tuh. Talo diajak tu ya mau, toh ni lejeki lho. Tamu ndak ucah dalan tati ulang ke lumahna," seru Alan dengan ucapan pedasnya.


Sontak saja Rivan yang terkejut dengan seruan itu langsung mengintip sebentar kearah dalam mobil. Ternyata Alan kini menatapnya julid karena memang bocah cilik itu tak suka kalau orang yang diajaknya malah menolak ajakannya. Arnold merasa tak enak hati dengan ucapan dari adiknya itu.


"Maafin adik aku ya. Dia mah memang suka gitu soalnya habis makan cabe 5 kilo," ucap Arnold membuat Alan menggerutu panjang pendek.


"Ah... Tak apa. Lagi pula aku memang kurang bersyukur. Padahal tinggal ikut naik tapi malah pilih panas-panasan dan jalan kaki," ucap Rivan sambil tersenyum canggung.


"Tuh tan benal apa yang atu ucaptan. Alan ditu lho," ucap Alan berbangga hati.


Arnold hanya bisa geleng-geleng kepala melihat dan mendengar apa yang diucapkan oleh adiknya itu. Wajah sinis dari Alan itu lho yang menurut Arnold sangat menyebalkan hingga ingin sekali dirinya menggetok kepalanya.


"Ayo masuk. Kita antar saja kemana kamu mau pergi," ucap Arnold membujuk.


Rivan pun dengan sungkan langsung menganggukkan kepalanya. Walaupun tadi menolak dan mendapatkan tatapan sinis dari Alan. Rivan segera saja masuk dalam mobil kemudian duduk di sebelah Arnold.

__ADS_1


"Mayu-mayu tapi mawu," sindir Alan dengan bibir mengerucut seperti bebek membuat Arnold langsung meraup muka adiknya dengan telapak tangannya.


__ADS_2