
"Siapa kalian? Yang dengan berani-beraninya menyakiti cucuku. Bukannya kalian itu hanya guru sementara untuk menggantikan beberapa pengajar yang memang tengah cuti," sentak Nenek Hulim sambil bertanya.
Papa Nilam yang mendengar apa yang diucapkan oleh Nenek Hulim itu segera berdiri kemudian menggiring Anara, Arnold, Alan, dan Fikri segera keluar dari ruang kepala sekolah. Sepertinya anak-anak itu tak cocok kalau mendengarkan suara bernada tinggi seperti itu. Namun Alan tentu tak mau keluar karena ingin ikut menyelesaikan masalah ini.
"Ndak mau, om. Ish... Alan ingin liat embak-embakan tau," kesal Alan yang merasa diusir oleh Papa Nilam.
"Tembak-tembakannya nanti di luar. Nggak ada ya tembak-tembakan di dalam ruangan. Ayo buruan, kita juga harus koordinasi dengan polisi yang ada di depan," bisik Papa Nilam agar oknum-oknum itu tidak mendengar ucapannya.
Alan pun menganggukkan kepalanya mengerti. Keempat anak kecil itu segera saja keluar dari ruang kepala sekolah itu. Saat Papa Nilam berdiri tadi, semua orang langsung saja menghentikan pembicaraannya. Mereka langsung menatap kearah laki-laki itu dengan anak-anak yang diajaknya keluar.
Setelah memastikan mereka keluar, Nenek Hulim segera saja mengalihkan kembali pandangannya kearah orang-orang didepannya ini. Ia tadi juga kelepasan mengucapkan sesuatu yang mungkin saja tak pantas didengar oleh anak kecil.
"Kalian ini masih magang di sekolah ini, kenapa malah membuat gara-gara? Kalian pikir apa yang dilakukan itu tidak membahayakan dan tak ketahuan? Jangan jadi provokasi kalau misalnya kalian masih membutuhkan nilai agar bisa lulus" lanjutnya.
Memang beberapa orang pengajar yang ada di dalam ruangan ini masihlah seorang mahasiswa magang. Mereka masuk dan magang di sini pun karena kekuasaan keluarganya yang memang menjadi donatur di sekolah. Nenek Hulim sudah meminta untuk tak menerima mahasiswa magang dengan alasan apapun, namun entah mengapa semuanya jadi seperti ini.
Sepertinya ada beberapa orang yang sengaja membuat mereka diterima di sekolah ini karena mendapatkan sesuatu. Namun Nenek Hulim memang belum mengetahui siapa oknum yang meloloskan hal ini. Ia memang sudah beberapa bulan ini tak terlalu memperhatikan urusan sekolah ini.
"Jadi mereka itu statusnya masih magang? Bukan pengajar tetap?" tanya Andre menatap tak percaya.
"Iya, entah siapa yang meloloskannya. Padahal nenek sudah memperingatkan mengenai aturan sekolah ini," ucap Nenek Hulim dengan kesal.
__ADS_1
Nenek Hulim segera melihat kearah kepala sekolah yang masih duduk di sana. Ia terlihat kaget dengan apa yang diucapkan oleh Nenek Hulim juga. Semua yang berkaitan dengan mahasiswa magang ini bukan atas persetujuannya juga.
Saat ia menjabat, ia mendapatkan surat persetujuan dari Nenek Hulim untuk menerima mereka mengajar menggantikan guru yang cuti. Ia merasa melakukan tindakan yang benar, terlebih dengan didukung oleh tanda tangan resmi. Tak lupa juga dengan status mereka yang merupakan anak donatur.
Kepala sekolah itu segera berdiri kemudian mengambil surat yang dibawa oleh mereka. Setelah menemukannya, kepala sekolah itu menunjukkan kepada semuanya kalau ia tak tahu menahu mengenai hal ini. Ia hanya menjalankan perintah sesuai surat yang ada.
"Nyonya Hulim, di sini saya tidak bersalah. Terlebih saya hanya menjalankan tugas sesuai surat yang memang sudah ditandatangani oleh anda. Ini kalian bisa lihat semuanya," ucap kepala sekolah itu sambil menunjukkan selembar kertas.
Semua orang melihat kearah kertas yang ditunjukkan oleh kepala sekolah itu. Memang benar adanya kalau itu merupakan tandatangan Nenek Hulim, namun wanita tua itu tak merasa menandatanganinya. Nenek Hulim berdiri kemudian merebut kertas itu.
"Sialan... Siapa yang dengan beraninya menggunakan tandatangan digital milikkuuntuk menyetujui surat ini?" sentak Nenek Hulim tak terima.
"Frank, periksa seluruh karyawan tata usaha. Saya yakin ada orang yang sengaja memberikan tandatangan digital milikku untuk hal-hal yang tak baik," seru Nenek Hulim.
Asisten kepercayaan Nenek Hulim yang bernama Frank pun segera menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari ruang kepala sekolah. Kepergian dari Frank ini membuat ruang kepala sekolah itu menjadi hening. Tentunya nanti Frank akan kembali dengan beberapa bukti yang ada.
Di sana terlihat sekali beberapa orang yang terlihat panik namun menyembunyikannya. Ada juga yang terlihat tegang karena takut dibawa-bawa dalam masalah ini. Tentunya Nenek Hulim hanya bisa menghadap kearah Nadia dan Andre yang wajahnya menyiratkan kekhawatiran.
"Kalian tenang saja, nenek yang akan menyelesaikan semua masalah ini. Oh... Jangan lupa, ada polisi di dekat sini. Mereka akan dengan segera mengepung orang-orang untuk tak bisa keluar area sekolah sementara waktu," bisik Nenek Hulim pada Nadia.
Nadia menganggukkan kepalanya mengerti. Tentunya ia percaya dengan Nenek Hulim yang memang lebih tahu bagaimana menyelesaikan masalah ini. Terlebih kekuasaan beliau jauh lebih besar dibandingkan dengan Andre. Pikiran Nadia dan Andre saat ini juga sedang kalut karena banyak hal yang harus dipikirkan.
__ADS_1
***
"Yama mamat nih nenek. Alan cudah ndak cabal lho ini, tuh polici uga dah capek unggu lama," kesal Alan yang memang lelah menunggu terlalu lama.
Papa Nilam membawa mereka untuk menunggu di dekat area kantor guru. Tentunya agar hal ini tidak membuat mereka mengetahui apa yang dibicarakan atau sesuatu yang terjadi di dalam ruang kepala sekolah. Raut wajah Arnold terlihat begitu tegang karena takut terjadi sesuatu dengan keluarganya yang ada di dalam.
"Kalian tenang saja. Semua akan baik-baik saja, tadi kami bawa banyak bodyguard lho yang tentunya bisa menghajar semua orang yang ada di sana. Pokoknya Alan, Arnold, dan Anara terima beres saja," ucap Fikri dengan antusias.
"Ndak acik. Alan ingin celecaitan cemua macalah ini engan cala yang celu. Tacih Alan keljaan napa cih? Tok malah mau diteljakan cendili," ucap Alan yang protes.
"Nggak boleh gitu, dek. Kalau kamu ikutan terus terluka, nanti semuanya sedih lho." ucap Arnold menegur.
"Nemang tok, Alan tan anteng dan anis adi pasti pada cedih talo atu cakit," ucap Alan dengan percaya dirinya.
Fikri, Arnold, Anara, dan Papa Nilam yang mendengar ucapan begitu percaya diri dari Alan pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Sungguh mereka malas menanggapi Alan yang terlalu lebay itu.
Alan tiba-tiba saja berdiri saat melihat pintu ruang kepala sekolah terbuka. Bahkan ia melihat seorang yang dibawa oleh Nenek Hulim tadi keluar dengan setengah berlari. Hal itu membuat Alan langsung saja ikut berlari mengejarnya.
"Alan, mau kemana kamu?" seru Arnold.
"Abang ndak ucah itut. Bial ini adi ulucanna Alan," teriak Alan sambil terus berlari.
__ADS_1