Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Usiran Halus


__ADS_3

Secara tak langsung, Alan mengusir kedua orangtuanya agar lebih fokus bekerja dibandingkan menjaga Abel. Alan yang ingin menjaga Abel dengan baik pun memilih untuk tak bersekolah dibandingkan meninggalkan kakaknya itu. Arnold pun karena sudah terlambat juga tidak berangkat ke sekolah.


Andre dan Nadia akhirnya diusir oleh tiga bocah kecil yang ada di sana. Mereka pulang ke rumah terlebih dahulu untuk membersihkan diri. Tak lupa jika Ridho masih ada di rumah sakit untuk menjaga anak-anak. Namun kini Ridho ijin sebentar untuk sarapan karena tadi tak sempat.


Akhirnya di dalam ruang rawat inap Abel itu kini hanya ada empat bocah cilik. Arnold, Alan, Abel, dan Anara yang kini seakan berkumpul di dekat brankar. Bahkan Abel kini sudah duduk di atas brankarmya dengan menatap tiga orang yang ada di sekitarnya.


"Kak Bel ohong tan? Talo tupa inatan. Alan mah tau talo Kak Bel cedang belmain dlama," ucap Alan menebak apa yang terjadi pada kakaknya itu.


"Bukan, Abel nggak bohong kok. Kepala Abel memang sering pusing kalau terlalu banyak ingatan yang masuk. Dua orang dewasa yang sejak semalam menjaga aku pun saat ini Abel lupa siapa namanya," ucap Abel dengan tatapan polosnya.


Padahal tadi mereka sudah berkenalan dan sering berinteraksi namun Abel telah melupakan keduanya. Anara yang melihat kembarannya seperti itu pun hanya bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia tak menyangka kalau saudaranya yang dulu awal bertemu dalam keadaan sakit kini kembali seperti itu.


"Becok Alan kacih catatan cama poto Alan bial ndak lupa cama atu. Talo pelu, bawa temana-mana tuh potona Alan yang danteng. Pamelin cama cemua olang talo Kak Bel puna adik ampan tayak Alan," ucap Alan dengan percaya dirinya.


"Bisa nggak sih jangan terlalu percaya diri seperti itu. Yang ada kalau semua orang tahu tentang kamu, bisa-bisa diculik kamu." ucap Arnold.


"Ndak atan ada yang bica culik Alan. Alan dol anti palana tuh talo atal cama atu," ucap Alan tanpa takut dengan ancaman dari Arnold itu.


Arnold hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ternyata kemampuan Arnold dulu waktu kecil yang pintar dalam berbicara kini seakan musnah kalau sudah berhadapan dengan Alan. Arnold bagaikan anak ayam yang malah kuwalahan menghadapi Alan itu.

__ADS_1


Sedangkan Anara dan Abel hanya melihat kedua adiknya itu dengan tatapan sulit diartikan. Sungguh mereka tak menyangka mempunyai adik laki-laki yang begitu cerewet. Sedangkan Abel yang melihat dua orang bocah laki-laki sedang berdebat begitu takjub. Bahkan ia seperti merasa familiar dengan perdebatan ini, namun lupa kapan terjadinya.


"Kasihan Kak Abel, baru juga sadar udah harus dihadapkan dengan perdebatan kalian. Tidur lagi aja Kak Abel," suruh Anara agar kembarannya itu segera istirahat kembali.


"Woh... Tamu dahat, Kak Nala. Kak Bel tuh halus banun telus bial liat kelutuan Alan. Anti telbayan-bayan dalam impi lho talo tidul cekalang," ucap Alan tak terima dengan ucapan dari Anara itu.


Anara acuh saja dengan ucapan dari Alan itu. Ia kasihan dengan Abel yang baru sadar namun sudah dihadapkan oleh kecerewetan Alan. Padahal Abel harus banyak istirahat namun Alan selalu mengganggu dan merengek agar bocah kecil itu tidak istirahat. Abel hanya bisa terkekeh kecil melihat kelucuan dari Alan.


"Kak Bel, temalin napa angunna lama? Tamu tahu ndak talo pelatu yang putul Kak Bel tuh cudah di ukum cama pak polici. Cebetulna Alan ingin cekali embak pala pelatuna, api pistolna ndak dikacihkan Alan temalin cama pak policina." kesal Alan yang mengadu pada Abel.


"Memangnya Abel kemarin sakit karena dipukul?" tanya Abel yang seakan ingin tahu.


Arnold hanya bisa menepuk dahinya pelan melihat protesan dari Alan itu. Anara yang tak ingin kembarannya semakin sakit kepala dan kebingungan pun langsung saja menggendong Alan. Anara segera membawa Alan itu keluar dari ruang rawat inap Abel walaupun bocah laki-laki itu memberontak.


"Ish... Kak Nala nih main endong-endong Alan. Alan tuh dah becal, ndak ucah endong atu." seru Alan sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Habisnya kamu berisik. Mending kita cari makanan ringan di kantin. Soalnya kamu bakalan diam kalau udah disuguhi makanan," ucap Anara yang tak mempedulikan ocehan adiknya itu.


Alan pun langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher Anara. Ia tak mau terjatuh kalau sampai terus memberontak dalam gendongan kakaknya itu. Sesampainya di kantin, segera saja keduanya melangkahkan kakinya di area minimarket.

__ADS_1


"Sekarang kamu pilih cemilan mana yang ingin kamu beli. Ambil satu saja soalnya kakak nggak bawa uang banyak," ucap Anara setelah menurunkan Alan dari gendongannya.


"Emangna Kak Nala bawa uwang belapa?" tanya Alan penasaran.


Tentunya dengan mengetahui jumlah uang yang dimiliki oleh Anara itu bisa membuatnya memperkirakan akan membeli apa. Ia tadi tak sempat membawa uang yang diletakkan dalam tas sekolahnya karena tidak mempunyai rencana untuk jajan. Apalagi tadi Anara yang langsung tiba-tiba menggendongnya dan mengajaknya keluar.


"Bentar, Kak Nara cek dulu di saku celana." ucap Anara yang langsung memeriksa sakunya.


Anara pun segera saja mengambil semua uang yang ada dalam saku celananya. Anara langsung memperlihatkan telapak tangannya yang terbuka dan memperlihatkan beberapa uang koin dan kertas. Alan yang melihat itu langsung mengernyitkan dahinya pelan, pasalnya kini perasaannya tak enak.


"Wah... Cuma 3200 rupiah aja," ucapnya setelah menghitung semua uang yang ada di tangannya.


"Mana tukup uangna buwat beli matanan. Ish... Macak olang taya tayak Alan nih utang di tantin. Malu-maluin, bica-bica ntal talo ada wewek yang tenal Alan langcung mendauh ladi talna atu ndak puna wuwang jajan." ucap Alan yang langsung melihat kearah sekitar kantin.


"Alan, kamu itu seharusnya bersyukur punya uang walaupun sedikit. Kenapa juga malah mikirin cewek sih? Belum juga lulus sekolah dan kerja, mikirin cewek terus." ucap Anara menghela nafasnya lelah.


Seharusnya Alan tadi terus memberontak agar tak ikut kakaknya ini. Alan selalu malas jika bersama dengan Anara karena ada saja masalah yang datang. Apalagi kini melihat kakaknya hanya membawa uang 3000an saja, membuatnya hanya bisa menghela nafasnya frustasi.


"Astopiluloh... Leputaci Alan bica andlok nih mah di depan wewek-wewek antik. Macak buwat mau jajan caja halus utang," ucap Alan dengan lesunya.

__ADS_1


Ridho yang melihat adanya dua anak majikannya itu hanya bisa menahan tawanya. Apalagi melihat wajah frustasi Alan yang sangat lucu. Hal ini membuatnya memilih untuk tak menyapa keduanya dulu hingga mereka bisa melakukan sesuatu demi yang diinginkannya.


__ADS_2