Sang Penerus Keluarga

Sang Penerus Keluarga
Adu


__ADS_3

Akhirnya Andre menyetujui tantangan Alan untuk beradu tinju di atas ring. Walaupun nanti ada kemungkinan ia kalah, setidaknya itu bisa membuat Alan puas. Ia yakin kalau Alan melakukan ini semua untuk meluapkan semua emosinya yang terpendam.


"Alan, bunda hanya berpesan sama kamu buat nggak terluka sama sekali. Bunda ini takut lho kalau kamu bonyok-bonyok lagi. Dulu waktu muda, papamu itu jago berantem. Walaupun kalau sama bunda pasti sekalu kalah," bisik Nadia pada anaknya itu.


"Alan pasti menang, bunda. Ya cuma kena tonjok sekali atau dua kali sih nggak masalah. Namanya juga lawan pasti nyerang," ucap Alan dengan santainya.


"Kamu ini, dibilangin juga. Namanya seorang ibu pasti khawatir sama anaknya. Apalagi tahu kalau lawannya juga jago," ucap Nadia memberengut kesal.


Cup...


Sebuah kecupan dilayangkan oleh Alan pada pipi Nadia. Sontak saja Nadia yang memberengut kesal itu jadi tersenyum dan memeluk anaknya. Interaksi keduanya itu tak luput dari perhatian Andre. Laki-laki itu tersenyum tipis melihat keakraban keduanya.


"Alan itu hatinya lembut. Bahkan kalau sama bundanya dan orang sekitar yang membutuhkan saja dia langsung terenyuh atau tak tega. Walaupun sikapnya tengil dan susah diatur, itu hanya ia gunakan untuk menutupi rasa kesepiannya. Jadilah laki-laki yang bisa jadi panutan untuk anak dan cucumu kelak," ucap Frank sambil beberapa kali menepuk bahu Andre.


"Iya, aku sadar kalau selama ini salah. Apalagi Alan sama sekali tak mendapatkan perhatian dariku. Padahal ketiga anakku yang lain selalu mendapatkan perhatianku. Alan juga anak kandungku, aku sendiri bingung kok bisa seemosi ini ketika Arnold terluka." ucap Andre sambil terkekeh miris.


"Itu artinya kau belum bisa menguasai emosimu. Bahkan kasih sayangmu pada ketiga anakmu berbeda dengan yang diberikan ke Alan. Pokoknya jaga Alan, dia hanya butuh perhatian dari kamu dan lainnya." ucap Frank.


Andre menganggukkan kepalanya kemudian segera mendekat kearah ring. Di sana juga sudah ada Alan yang bersiap. Wajah Alan tampak berbeda dari biasanya. Ini adalah raut wajah Alan saat setelah ditampar olehnya di rumah sakit.


Bugh... Bugh...


Dugh...


Brughh...


Rasakan ini...

__ADS_1


Bugh...


Tanpa aba-aba, Alan langsung saja menyerang Andre. Bahkan Andre sampai kuwalahan harus menghadapi serangan dari Alan ini. Pukulan demi pukulan tak bisa terelakkan lagi. Andre juga sedikit mengurangi menyerangnya karena takut kalap memukul anaknya.


"Ayo serang aku. Jangan anggap aku ini orang yang kau kenal," seru Alan yang kesal karena Andre hanya menangkis pukulannya tanpa menyerang.


"Silahkan pukul papa sepuasmu. Sampai kamu bisa memaafkan segala kesalahan papa dan kembali pada kami," seru Andre pada sela-sela adu tinju itu.


Bugh... Bugh...


Arrghh...


Alan ternyata langsung menyerang Andre dengan membabibuta. Apalagi Andre mengijinkannya untuk memukul sepuasnya. Andre tumbang dan terjatuh di atas matras dengan Alan yang duduk di atas badannya.


"Pukul papa lagi, Alan. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa sakit hati yang ditimbulkan oleh papamu ini. Kalau mau, habisi nyawa papa saja. Papa ini memang tak berguna sebagai papamu, " seru Andre yang melihat Alan baru menetralkan nafasnya.


"Jadi? Kau sudah selesai memukul papa? Sudah nggak mau dilanjutkan lagi adu jotos ini?" tanya Andre dengan menatap penasaran kearah Alan.


"Sepertinya ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa aku bukanlah orang yang lemah. Ini sebagai peringatan saja bagi anda kalau anak tidak berguna ini nyatanya bisa membuat wajah anda bonyok." ucap Alan yang kemudian bangkit dari duduknya di atas badan Andre.


Nafas Andre terengah-engah setelah melihat Alan pergi dari atad badannya. Bahkan Nadia langsung memeluk Alan yang ada sedikit lebam di sudut bibirnya. Nadia mengusap lembut wajah Alan yang berkeringat itu dan mencium pipinya berulangkali.


"Papa tunggu kamu sukses dengan caramu sendiri, Alan. Buktikan sama papa kalau kamu bisa," seru Andre tiba-tiba setelah bangkit dari baringannya.


"Jangan remehkan anakku. Bahkan tanpa uangmu, anakku ini bisa saja membangun kesuksesannya sendiri." ucap Nadia dengan ketus.


"Yang meremehkan itu juga siapa? Itu namanya memberikan semangat dan dorongan agar Alan bisa sukses dengan caranya sendiri," ucap Andre menjelaskan.

__ADS_1


Sepertinya apapun yang diucapkan oleh Andre itu akan selalu salah di depan istri dan anak bungsunya. Alan diam saja melihat kedua orangtuanya yang masih berperang dingin. Alan langsung membawa Nenek Hulim menuju tempat duduk dan memintanya untuk mengobati.


"Diam deh, kamu. Nggak usah ngomong lagi," ucap Nadia dengan kesal.


"Kamu lagi PMS ya, sayang?" tanya Andre yang tahu dengan mood istrinya itu.


"Iya, napa?" ketus Nadia yang malah menantang suaminya.


Andre segera saja melambaikan kedua telapak tangannya pertanda menyerah. Pasalnya saat istrinya itu kedatangan tamu bulanan, Nadia akan berubah menjadi singa yang kelaparan. Sehingga ia lebih memilih untuk diam saja dibandingkan diomeli olehnya.


***


"Wajah kamu kok nggak ada ganteng-gantengnya sih, mas? Udah nggak ganteng, eh sekarang bonyok lagi. Tambah jelek kan jadinya," ucap Nadia yang kini mengobati wajah Andre.


"Shhh... Astaga, sayang. Nggak mungkin dong kamu dulu mau menikah denganku kalau aku nggak ganteng," ucap Andre sambil menahan rasa sakitnya.


Apalagi Nadia sesekali menekan luka pada wajahnya itu. Sedangkan Alan sendiri tak mau diobati oleh bundanya karena ia merasa wajahnya baik-baik saja. Kini Alan malah tiduran dengan kepalanya diletakkan di atas pangkuan Frank.


"Kan aku nikahnya karena dipaksa sama kamu. Piye toh kamu ini," ucap Nadia yang seakan tak terima.


"Cari suami yang lebih tampan saja, bunda. Contohnya tuh Paman Frank. Dia udah baik, nggak emosian, sayang sama Alan, kaya, tampan, dan pintar main tembak-tembakan." ucap Alan yang malah menawari bundanya mencari pengganti Andre.


"Sembarangan amat sih kamu, Alan. Dipikir papa mau melepaskan bundamu ini apa," kesal Andre.


Frank bahkan sudah memelototinya namun Alan tak peduli. Pasalnya Alan memang lebih nyaman ketika bersama dengan Frank daripada Andre. Bahkan kini Andre menatap interaksi Alan dan Frank itu dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Siapa tahu kan? Lagian anda ini kan memang sebaliknya dari sikap Paman Frank yang Alan sebutkan," ucap Alan dengan santainya.

__ADS_1


Andre memilih diam saja saat Nadia sudah memelototinya. Ia tak ingin hubungannya dengan Alan kembali memanas. Ini memang sudah sedikit reda walaupun masih belum membaik sepenuhnya. Sedangkan Nadia berusaha untuk tak membahas apapun mengenai permasalahan kemarin. Daripada nanti semuanya akan ribut dan saling emosi.


__ADS_2