
Semua anggota Keluarga Farda sudah berada di dalam restorant. Mereka makan dengan tenang semua makanan yang tersedia di atas meja. Makanan mewah dengan segala dekorasi cantiknya. Bahkan pihak restorant dibuat kalang kabut atas permintaan Andre yang menginginkan ruangan VIP dengan dekorasi cantik secara dadakan.
"Papa, napa dekolna tayak olang mau ulangtaun? Pelacaan hali ini ndak ada yang ulangtaun," tanya Alan setelah menyelesaikan kunyahan makanannya.
Dekorasi cantik bernuansa banyak balon dan pita itu memang seperti sedang merayakan ulangtahun atau hari anniversarry pernikahan. Itu memang sesuai dengan permintaan Andre karena bertepatan dengan perayaan pernikahan kedua orangtuanya.
"Emang, hari ini kan hari anniversary pernikahannya nenek dan kakek. Masa Alan lupa sih," ucap Andre dengan santai.
"Apa tu anipelceli? Buwah apel cama celi di acala pelnitahan?" tanya Alan dengan polosnya.
Andre, Nadia, Mama Anisa, dan Papa Reza hanya bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan polos itu. Bahkan mata membulat besar semakin menambah kegemasan para orangtua pada wajah Alan. Sedangkan Arnold, Anara, dan Abel hanya jadi pendengar setia saja.
"Bukan, Alan. Anniversary itu peringatan tanggal pernikahan. Kaya ulang tahun, peringatan tanggal kelahiran kamu," ucap Arnold menjawab pertanyaan adiknya.
"Belalti Alan belom lahil dong. Dadi napain papa ilang talo Alan lupa. Olang Alan pas nenek dan akek nikah belum lahil. Mana Alan tau," kesal Alan yang kini paham dengan apa yang dibicarakan.
Andre hanya bisa menghela nafasnya lelah karena kini malah disalahkan lagi oleh anaknya. Padahal dia itu sebenarnya hanya mengingatkan saja. Tanggal pernikahan itu juga tak perlu saat menikah sudah lahir atau belum. Cukup dikatakan dan diingat saja.
"Ya... Papa yang salah," kesal Andre.
"Lha ditu tau. Dadi ndak ucah nalahin Alan," jawab Alan santai.
Nadia langsung mengelus lengan tangan suaminya itu agar sedikit tenang. Tak menyangka juga kalau mereka malah jadi berdebat seperti ini hanya karena dekorasi. Arnold sebenarnya kesal dengan adiknya yang terus saja berceloteh dan tak berhentu-berhenti.
__ADS_1
"Alan, bisa nggak kalau ngomongnya direm? Kak Abel agak pusing ini," ucap Abel dengan berpura-pura memegang kepalanya.
"Kak Bel, Alan tuh butan mobil ato motol. Ndak puna lem atu tuh. Talo pucing, ayo tita ke lumah cakit caja," seru Alan di akhir kalimatnya.
Bahkan dengan paniknya, Alan langsung melompat dari kursinya yang sedikit tinggi itu membuat Nadia kaget. Bahkan Nadia langsung memegangi anaknya agar tak terjatuh akibat kursi yang langsung terdorong ke belakang.
Padahal semua orang juga tahu kalau apa yang dilakukan oleh Abel itu hanyalah akting saja. Namun malah Alan yang terpancing dan membuat Abel melongo tak percaya.
"Alan, jangan asal turun dengan melompat seperti itu. Nanti jatuh," tegur Nadia.
"Abisna Alan panit tau talo Kak Bel cakit. Ayo tita ke lumah cakit," serunya yang langsung memberi alasan.
"Kak Bel itu hanya mengandaikan saja, Alan. Kalau kamu terlalu berisik dan nyerocos mulu tanpa tanda titik juga koma, ia akan pusing. Bukan sudah sakit kepala saat ini," jelas Anara.
Padahal Alan yang salah paham dalam mengartikan kode dari Abel. Namun malah kini Abel yang disalahkan. Abel hanya bisa pasrah saja menerima ceramah ajaib dari adiknya itu. Namun Nadia dan Andre senang melihat kepanikan Alan itu.
Ini pertanda kalau anak-anaknya itu akrab dan mau saling membantu jika ada salah satu yang kesusahan. Apalagi dalam kondisi sakit, pasti satu sama lain mau saling menjaga. Nadia segera memperbaiki posisi dari Alan agar duduk kembali di kursinya.
"Alan, jangan apa-apa langsung panik begitu. Dengarkan penjelasan dulu dari kakaknya. Nanti kalau kamu panik duluan, malah nggak bisa mikir yang baik dan tidaknya." ucap Nadia memberitahu.
"Atu tuh talo cudah belhubunan cama kelualga celalu panik, unda. Kelualga is numbel wan. Talo ada yang cakit ditit ditu caja, Alan langcung atan heboh. Tolon neltiin itu, unda." ucap Alan dengan yakinnya.
Bahkan ada setitik kesenduan dalam pancaran mata Alan ketika sudah membahas tentang keluarga. Ia yang masih sekecil ini harus sudah mengerti saat kakak, nenek, dan kakeknya sakit. Ia yang harus mandiri, saling menjaga bersama dengan Arnold di saat kedua kakaknya berseteru.
__ADS_1
Apalagi Anara waktu itu yang sikapnya berubah terhadap Abel. Alan tak suka dengan kondisi seperti itu. Ia ingin keluarganya harmonis dan saling menjaga satu sama lain. Selalu berkumpul walaupun dalam keadaan susah.
"Iya, keluarga adalah nomor satu. Tapi Alan harus ingat, anak seusia kamu itu nggak boleh berpikiran terlalu dewasa. Kamu hanya mikirin belajar dan bermain saja. Selebihnya biar orangtua yang bertindak," ucap Nadia memberitahu.
"Ndak tau nih. Alan juda ndak mau mitil, tapi kepitilan. Memang Alan tuh cudah cocok talo dadi olang dewaca," ucap Alan yang malah memuji dirinya sendiri.
Arnold, Anara, dan Abel menatap sinis adiknya yang dengan percaya diri memuji dirinya sendiri. Mereka dulu seusia Alan ini memang sering usil, namun adiknya lebih dari itu. Bahkan usil, pintar, dan cerewet bergabung menjadi satu. Arnold yang dulunya cerewet saja sekarang hanya berbicara ketika ada sesuatu yang penting saja.
"Orang dewasa itu apa-apa harus sendiri. Mandi aja kamu masih suka dimandiin kok," ledek Anara.
"Loh... Alan cudah celing minta mandi cendili lho, api cama unda dimalahin. Malah langcung cama unda dimandiin," ucap Alan yang kini malah menyalahkan bundanya.
"Gimana nggak dimarahin? Kalau pasta gigi dan sabun kamu keluarin semua dari tempatnya," kesal Nadia.
Setiap kali mandi sendiri, ada saja ulah Alan itu. Pasta gigi yang dikeluarkan isinya kemudian diaduk jadi satu dengan sabun cair. Bahkan sering dibentuk busa hingga bergelembung. Busa dan gelembung itu dimainkan oleh Alan hingga keluar dari kamar mandi.
"Itu namanya pemborosan, Alan. Masa setiap kali mandi, bundamu harus beli sabun dan pasta gigi dulu." ucap Andre.
"Tatana olang taya, kok plotes?" ledek Alan.
Mama Anisa dan Papa Reza hanya bisa terkekeh pelan mendengar perdebatan anak dan cucunya. Hati keduanya menghangat karena keluarganya sudah dapat berkumpul dengan formasi lengkap. Apalagi sifat semuanya yang berbeda-beda tentu membuat suasana jadi semakin hangat.
Mereka semua hanya berharap kalau keluarga ini bisa utuh selamanya. Tanpa ada ujian berat yang bisa saja menimpa mereka. Melalui cobaan kemarin, mereka diuji agar bisa selalu kompak dalam menyelesaikan masalah. Tak boleh panik, membantu antar satu sama lain, dan menjadi pribadi yang saling memahami.
__ADS_1