
Arnold keluar dari kelasnya untuk beristirahat bersama dengan Nilam. Beberapa siswa lain jarang ada yang mau berdekatan dengannya apalagi setelah kejadian saudaranya kemarin. Mereka takut kalau dekat-dekat dengan dia dan saudaranya yang lain akan ikut terkena imbasnya.
Arnold tak peduli akan hal itu, yang terpenting di sini dia tidak bersalah sama sekali. Bahkan saudaranya itu juga hanya korban dari keserakahan orang-orang yang menginginkan jabatan. Arnold menggandeng tangan Nilam menuju ke kantin. Anara masih sedikit demam sehingga gadis cilik itu belumlah masuk sekolah.
"Nilam bawa bekal?" tanya Arnold saat melihat tas kecil yang diletakkan di atas meja oleh Nilam.
"Iya. Ini bibi juga bawakan untuk Arnold makan. Pasti Arnold nggak bawa bekal kan? Tapi nanti kita minumnya beli ya, soalnya Nilam lupa nggak bawa." ucap Nilam.
Arnold menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menuju sebuah tempat penjual minuman. Ia memesan dua gelas jus buah untuknya dan Nilam. Setelah selesai, Arnold segera kembali duduk di mejanya. Sambil menunggu minumannya datang, keduanya makan sambil terus berbincang.
"Papaku bilang kalau seminggu lagi akan ke luar negeri. Katanya sekalian di sana mau jenguk nenek dan kakek kamu," ucap Nilam memberitahu.
"Iya kah? Aku juga ingin sekali menjenguk mereka. Tapi ya gimana, di sini sekolah. Mana sekarang harus jaga si Alan dan Kak Anara kalau bunda juga papa sedang sibuk dengan Kak Abel." ucap Arnold menceritakan keinginannya.
"Sabar ya, Arnold. Pasti ujian ini akan segera berakhir. Nenek, kakek, dan Kak Abel pasti akan segera sembuh. Kita terua berdo'a untuk kesembuhan mereka," ucap Nilam sambil mengelus lembut bahu sahabat kecilnya itu.
Arnold menganggukkan kepalanya mengerti. Lagi pula memang benar adanya kalau yang bisa ia lakukan kini adalah berdo'a untuk kesembuhan orang-orang terdekatnya. Sebagai anak laki-laki pertama, ia harus bisa menjaga kedua kakak perempuannya dan Alan.
Keduanya makan dengan tenang hingga pandangan Arnold jatuh pada seorang bocah laki‐laki yang duduk di pojokan kantin. Mata bocah laki-laki itu terus mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah kantin. Hal ini membuat Arnold begitu penasaran dengan apa yang dilihat dia itu.
__ADS_1
"Arnold, kamu mau kemana?" tanya Nilam yang langsung mencegah Arnold yang akan pergi.
"Kita samperin dia yuk. Kayanya dia sedih deh nggak ada yang menemani," ucap Arnold mengajak Nilam untuk mendekat kearah seseorang yang ditunjuknya.
Nilam langsung mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk oleh Arnold. Mata Nilam membulat saat melihat siapa orang yang tengah diperhatikan oleh sahabatnya itu. Nilam sangat mengenal bocah laki-laki itu, sedangkan Arnold yang jarang berbaur dengan yang lainnya tentu tidak mengetahuinya.
Nilam langsung menarik tangan Arnold dengan kencang agar sahabatnya itu terduduk kembali. Arnold menatap aneh sahabatnya yang sepertinya begitu khawatir kalau dirinya dekat-dekat dengan bocah laki-laki itu.
"Jangan dekat-dekat dengannya. Dia itu memang dijauhi oleh semua siswa seangkatan kita. Soalnya dia itu suka mencuri uang siswa yang ada di sini," ucap Nilam memberitahu dengan pelan.
"Mana ada seperti itu? Memangnya pernah uang kamu dicuri sama dia? Jangan fitnah atau menuduh orang sembarangan, Nilam." ucap Arnold memberi peringatan.
Nilam memang belum pernah melihat bahkan uangnya sampai dicuri oleh bocah laki-laki itu. Namun beberapa teman berbeda kelasnya selalu menceritakan hal seperti itu. Tentunya membuat yang lainnya percaya dan tak mau dekat-dekat dengan bocah laki-laki itu.
"Kamu ngapain di sini? Mana daritadi celingukan lagi. Kalau mau makan tinggal pesan dan gabung sama teman-teman lainnya," ucap Arnold menegur bocah laki-laki itu.
Sontak saja bocah laki-laki itu langsung menegakkan badannya. Bahkan matanya menatap kearah Arnold yang sama sekali tak merasa takut padanya. Bocah laki-laki berperawakan tinggi namun kurus itu menatap Arnold dengan polosnya.
Arnold pun segera duduk di hadapan bocah laki-laki yang bernama Rivan Dickyandra, sesuai dengan name tag yang ada di seragamnya itu. Melihat tatapan polos dari Rivan tentu saja membuat Arnold yakin kalau anak laki-laki di depannya ini bukan pencuri. Terlebih itu bukanlah tatapan polos yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Rivan nggak punya uang dan teman. Liat makanan gini aja udah buat kenyang perut Rivan kok," ucap Rivan sambil tersenyum.
Tentu saja ucapan dari Rivan itu membuat Arnold dan Nilam terkejut. Apalagi Nilam yang langsung merasa bersalah karena menuduh Rivan mencuri uang. Kalau misal benar Rivan mencuri uang, sudah pasti akan digunakan untuk membeli makanan.
"Beli makanan pakai ini," ucap Arnold menyodorkan selembar uang lima puluh ribu kepada Rivan.
"Kata ibu, ndak boleh asal menerima uang dari oranglain. Apalagi kalau kita nggak kerja, masa iya tidak bekerja tapi dapat uang gratis," ucap Rivan sambil tersenyum.
Bahkan Rivan juga langsung menyodorkan kembali uang itu kearah Arnold. Arnold begitu tercengang dengan ucapan itu. Arnold segera berpikir agar Rivan bisa makan seperti yang lainnya. Apalagi sedari tadi Rivan terus menelan air liurnya sendiri karena melihat yang lainnya tengah memakan makanannya.
"Ya sudah, kalau begitu kamu kerja sama aku aja. Nanti bayarannya aku kasih kamu uang atau makanan. Bagaimana?" tanya Arnold dengan antusias.
"Aku kerjanya ngapain?" tanya Rivan dengan tatapan penasarannya.
"Kerjanya temani aku makan setiap istirahat," ucap Arnold dengan antusias.
Rivan yang mendengar hal itu tentu saja langsung mengernyitkan dahinya heran. Nilam juga sedikit merasa aneh dengan pekerjaan yang diberikan oleh sahabatnya itu. Kalau menemani makan, dia pun juga bisa. Namun selama ini dia tidak pernah yang namanya diberi upah berupa makanan atau uang.
Justru mereka berbagi makanan kalau memang tidak mempunyai. Sontak saja setelah berpikir, Nilam menjadi paham dengan apa yang diinginkan oleh Arnold. Ternyata Arnold yang memang ingin berbagi makanan atau uang pada Rivan itu menggunakan alasan kerja pada bocah laki-laki. Tentu itu agar Rivan mau menerima makanan dan uang yang diberikan oleh Arnold.
__ADS_1
"Jangan buru-buru bantuin orang. Siapa tahu kalau dia pura-pura polos dan nggak punya uang. Cari dulu asal usulnya," bisik Nilam tepat pada telinga Arnold.
"Aku tidak sebodoh ini untuk asal membantu orang. Nanti setelah pulang sekolah, kita bisa cari tahu semuanya." ucap Arnold dengan pelan pada Nilam agar Rivan tak mendengar ucapannya.