
Shelyn, Wen and Gio maju hendak menyerang Juline tapi Roman dengan cepat berlutut dan memohon ampun. Ia takut jika mereka bertiga menyakiti Juline.
Gio menginjak kepala Roman yang sedang bersujud di hadapan mereka. Juline yang merasa amarah mulai mengusai dirinya, segera ia menarik pedang yang bergantung di pinggang Roman.
Ia melayangkan tepat di kaki Gio. Dan yah, pergelangan kaki Gio putus dan terbang masuk ke piring seorang pengunjung. Gio berteriak kesakitan, semua pengunjung menjadi rusuh. Mereka menghampiri Gio yang berteriak.
Darah mulai membanjiri lantai tempat Gio berdiri. Wen dan Shelyn yang melihat teman mereka terluka begitu murka. Shelyn menyerang Juline dengan sihir api nya.
"Fire"
Tapi dengan cepat Juline menghindar. Api itu membakar horden restoran
“Akan ku bunuh kau bajingan,”geram Wen.
“Silahkan saja."
Roman hanya terdiam mematung. Ia menoleh ke arah Juline yang sedang tersenyum evil menatap Wen. Roman tidak menyangka gadis yang tidak memiliki sihir tapi begitu berani melawan orang – orang yang mempunyai sihir tingkat tinggi.
Saat Wen hendak maju menyerang Juline, seorang pria paruh bayu dan beberapa pengawal datang menghampiri mereka. Pria itu menatap ke arah Gio yang sedang meringis kesakitan.
Beberapa pengawal segera membawa Gio keluar restoran dan di bawa pulang untuk mendapat pengobatan. Pria itu adalah Gilbert Rodrig. Ia adalah jenderal kerajaan yang sedang menikmati liburan nya setelah menyelesaikan misi kerajaan. Ia adalah paman dari Shelyn Rodrig.
“Paman, lihatlah gadis ini, dia yang sudah memotong pergelangan kaki Gio,”ucap Shelyn.
“Aku hanya sedang mengajarkan pada nya sopan santun,”jelas Juline.
“Nona, kenapa nona berbuat seperti itu? Apakah nona tidak tahu jika perbuatan mu bisa membunuh mu,” jelas Gilbert.
“Mohon maaf Jenderal Gilbert, nona ini adalah Murid saya. Mohon maafkan saya. Jika kau ingin menghukum seseorang, hukumlah aku saja,”ucap Roman.
“Paman, aku ingin paman menghukum gadis kurang ajar ini."
“Apa kau ingin kepala mu ikut melayang?" ucap Juline sambil memandangi Shelyn.
“Nona, seperti nya nona tidak mengenal rasa takut. Bagaimana nona bisa mengancam keponakan saya dan lagi apa nona tidak mengenal siapa kami?"
“Mengenal? siapa kalian? aku tidak peduli siapa kalian, aku hanya minta padamu didik lah keponakan anda dengan sopan santun. Bukankah memalukan seorang bangsawan tidak tahu tata krama,"jelas Juline.
Roman tak mampu berkata apa – apa lagi. Gilbert hanya tersenyum tipis mendengar penuturan Juline yang tak mengenal takut. Wen yang semakin geram menyerang Juline dengan sihir es nya.
“Freeze”
Ia membekukan Juline seketika. Wen dan Shelyn tersenyum penuh kemenangan karena berpikir sudah membunuh Juline. Roman dan Gilbert hanya diam mematung. Mereka tak bisa melakukan apa – apa lagi karena gerakan Wen dengan cepat membekukan Juline.
“Sihir yang luar biasa. Keluarga Hernandez memang yang terbaik," ucap Gilbert sembari tertawa dengan bangga.
“Kehilangan satu rakyat jelata tak membuat kerajaan rugi kan,”ucap Shelyn yang langsung pergi bersama wen diikuti Gilbert dan pengawal nya.
Roman berusaha membuka bongkahan es itu dengan sihir angin nya tapi element es terlalu kuat. Dan lagi Wen adalah pemilik sihir terkuat di kerajaan Moon setelah ayah nya. Mata Roman berkaca –kaca. Tak ada satupun yang mau menolong nya.
Bahkan pemilik Restoran meminta nya mengganti semua kerugian. Roman tak dapat berkata apa – apa lagi. Ia mematung menatap bongkahan es yang ada di hadapan nya.
“Maafkan aku Juline."
__ADS_1
Tiba – tiba bongkahan es itu retak, perlahan – lahan dan setelah itu bongkahan berhamburan. Roman masih diam mematung memandangi Juline yang memecahkan bongkahan es nya. Juline bahkan terlihat baik – baik saja.
Roman berlari memeluk Juline. Ia sangat khawatir jika Juline terluka apalagi sampai mati. Karena sadar Juline menatap nya, Roman melepas pelukan nya.
“Aissh bajingan itu berani nya dia merusakkan gaun ku."
“Apa nona baik – baik saja?"
“Apa kau takut aku akan mati?"
“Aku sangat cemas nona, bagaimana nona bisa memecahkan bongkahan es itu?"
“Kau takut karena tak bisa membayar makanan nya kan? Aku tidak akan mati semudah itu dan lagi bongkahan es itu bukan apa - apa."
“Maafkan aku nona. Nona harus nya tidak menyerang mereka bertiga."
“Ini semua salah mu."
“Maafkan aku nona."
“Lain kali jika kau tak ingin aku menyerang mereka, jangan bersujud di hadapan mereka. Mereka hanya binatang yang menempati tubuh manusia. Aku benci manusia seperti mereka."
Pemilik restoran menghampiri mereka dan memaki mereka. Juline mengeluarkan koin emas dan melempar nya ke wajah pemilik restoran. Hal itu membuat pemilik restoran itu terdiam.
“Kalau aku ingin, aku bisa menghancurkan restoran mu.“ucap Juline yang langsung pergi meninggalkan Restoran itu. Roman berjalan di belakang Juline. Roman masih tidak percaya jika Juline baik – baik saja setelah terkena sihir es.
“Ayo kita pulang."
“Ke mana nona?"
Mengajari gadis seperti Juline seperti nya hal yang sia - sia. Gadis ini terlalu hebat untuk menjadi murid ku.
Kereta kuda melaju meninggalkan keramaian kota. Juline menyandarkan kepala nya. Ia menutup mata nya. Roman memandangi Juline sejenak.
Walaupun aku tidak merasakan aliran sihir nya tapi ia sangat kuat bahkan sihir es tingkat menengah tak dapat membunuh nya.
Juline membuka matanya, ia mendapati Roman yang masih menatap nya. Roman segera menundukan pandangan nya.
“Bagaimana kau bisa mengenal mereka?"
“Mereka bertiga adalah murid di Wizard academy. Aku pernah mengajar mereka teknik berpedang tapi itu tidak lama. Setelah mereka tahu kalau kau rakyat biasa, mereka tidak ingin belajar pada ku lagi."
“Elemen apa yang kau punya?"
“Tanah dan angin."
“Lalu kenapa kau diam saja saat melihat ku membeku?"
“Anu, maafkan saya nona. Sihir saya belum sebanding dengan mereka. Saya hanya seorang master pedang."
“Ahh begitu."
“Tapi bagaimana nona bisa baik – baik saja setelah terkena sihir es?"
__ADS_1
“Itu bukan apa – apa. Sihir es itu terlalu lemah dan pemilik nya terlalu angkuh."
“Ehh."
“Kau pasti bingung kan, bagaimana gadis yang lahir tanpa sihir seperti ku bisa berkata se angkuh itu."
“Tidak nona."
“Aku lebih kuat dari mereka.Tidak, aku lebih kuat dari yang kau lihat."
“Lalu kenapa nona membiarkan Wen mengalahkan nona?"
“Aku bisa saja dengan mudah membunuh nya tadi, tapi bukankah aku terlalu baik jika membunuh nya begitu saja? aku sengaja membiarkan mereka menang. Mereka akan jadi penutup cerita yang menyenangkan. Aku penasaran lihat ekspresi mereka melihat ku masih baik - baik saja. Bisakah kau merahasiakan hal ini dari ayah dan kakak ku?"
"Baik nona."
Roman hanya terdiam mendengar ucapan Juline. Ia tidak menyangka seorang gadis belia seperti Juline bisa mempunyai pemikiran semengerikan itu.
Tak terasa kereta kuda sudah sampai di pekarangan mansion Juline. Juline turun diikuti Roman. Juline melihat ayah dan kakak nya sedang bercengkrama di gazebo taman. Juline menghampiri mereka berdua.
“Ayah."
“Juline, bagaimana latihan hari ini nak?"
“Ayah, boleh kah Roman menetap di sini beberapa hari?"
“Boleh nak."
“Baguslah, aku juga kesepian,”ucap Damien sembari menarik tangan Roman dan duduk bersama mereka.
“Baiklah ayah, Juline kembali ke kamar dulu istirahat."
“Iya nak."
Ascar memandangi putri nya yang berlalu meninggalkan mereka bertiga. Ia yakin di balik sikap nya yang dingin, ia tetap putri nya yang baik hati.
“Roman, maafkan adik ku yah. Dia memang sedikit dingin pada orang lain."
“Tidak apa – apa tuan."
“Kau tak perlu memanggil ku seperti itu, aku tidak suka, panggil saja Damien."
“Nak Roman, bagaimana latihan kalian hari ini?"
“Nona Juline sangat pandai dalam berpedang tuan. Meskipun tanpa mengalirkan Mana di pedang nya tapi kekuatan pedang nya sangat kuat apa lagi nona menggunakan tangan kiri dimana para master pedang jarang menggunakan tangan kiri."
“Bukan kah Juline sangat mengagumkan ayah?"
“Iya nak. Ayah bahkan tidak menyadari betapa hebat nya adik mu itu."
Mereka bertiga terus bercengkrama hingga larut malam.
Terima kasih yang telah membaca tulisan ini.
__ADS_1
Happy Reading ♡