Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 37: Kembali


__ADS_3

Juline melangkah kan kaki nya kembali di jembatan, saat kaki nya menyentuh bagian tengah jembatan ia melihat cahaya jingga di langit. Ia bingung melihat senja karena itu berarti sebentar lagi malam akan menyapa.


Berapa lama aku pergi sebenarnya.


Juline berjalan menuju rumah paman John, ia melihat Chandra dan Jion sedang diam mematung menatap rumput – rumput di hadapan mereka, Juline berjalan dan memanggil mereka, Chandra dan Jion tanpa sadar menjatuhkan air mata nya, mereka tidak menyangka melihat Juline kembali dalam keadaan baik – baik saja.


“Kalian berdua kenapa?” tanya Juline yang bingung melihat kedua pria di hadapan mereka menangis seperti anak kecil.


“Nona, maafkan saya, saya sudah mencari nona kemana – mana tapi saya tidak menemukan nona dimanapun, saya sangat takut terjadi sesuatu pada nona, bahkan nyawa saya tidak akan menanggung kesalahan saya karena tidak menjaga nona dengan baik,”ucap Chandra.


“Nona dari mana saja, kami semua sangat cemas dan mencari ke penjuru desa bahkan para master sampai ketua master ikut mencari nona tapi nona tidak ada dimana – mana,”jelas Jion sembari mengusap air mata nya.


Mendengar suara ribut di luar, Jiana dan Jiona diikuti Jiam keluar dan mematung menatap Juline yang sedang berdiri melihat mereka, Jiam berlari memeluk Juline, ia menangis dengan keras sedangkan Jiana dan Jiona tersungkur dengan air mata yang mengalir begitu deras, kecemasan dan ketakutan akan hilang nya Juline membuat mereka tak mampu berkata – kata, mereka bertiga menangis beriringan, bukan karena mereka takut tidak bertemu ayah mereka melainkan kehilangan sosok Juline adalah hal yang paling mereka takutkan, bagi mereka tidak akan pernah ada lagi sosok seperti Juline.


Apa mereka begitu mencemaskan ku, aku sudah membuat mereka semua menangis, tidak, apa mereka semua menangisi ku, manusia kotor sepertiku.


Juline duduk di depan Jiana dan Jiona bersama Jiam, Juline mengusap air mata dua gadis dihadapan nya yang begitu mencemaskan nya, Chandra dan Jion ikut duduk di samping Jiana dan Jiona.


“Maafkan aku yah, aku bersalah karena karena membuat kalian cemas,” ucap Juline.


“Nona, syukurlah nona kembali dengan selamat, kami semua takut kalau nona kenapa – kenapa, kami semua takut akan kehilangan nona,”ucap Jiana.


“Aku berjanji pada kalian semua, aku tidak akan membuat kalian cemas lagi dan juga aku tidak akan hilang semudah itu, apa Mayra baik – baik saja?”


“Iya nona, hanya saja Mayra sering sekali menangis, seperti nya ia cemas pada nona,”jawan Jiona.


“Ada apa dengan wajah kalian, kalian sangat pucat, apa kalian baik – baik saja?”


“Nona, kami sangat cemas pada nona dan selama tiga hari ini kami tak dapat tidur ataupun makan, beberapa warga desa membawakan kami makanan tapi mengingat nona yang entah dimana membuat kami tak bisa menelan makanan itu,”jelas Jiam.


Juline tersenyum melihat wajah – wajah orang yang begitu mengasihi nya, Juline mengajak mereka semua untuk istirahat karena hari sudah malam. Satu persatu mulai mandi dan beristirahat sementara Mayra hanya bangun sebentar dan tidur lagi.


Sementara Juline, Jiana dan Jiona masih duduk menemani Juline, mereka takut jika Juline menghilang lagi. Juline meminta Jion dan Chandra tidur lebih dulu.


“Apa kalian masih mencemaskan ku?”


“Nona, sebenar nya nona kemana selama 3 hari ini?” tanya Jiona.


“Apa kalian percaya jika ku katakan aku baru kembali saja melewati jembatan Elf?”

__ADS_1


“Benarkah nona?” tanya Jiana.


“Kami percaya nona, tapi bagaimana bisa nona kembali, maaf nona tapi orang – orang yang melewati jembatan itu tidak pernah kembali lagi,”ucap Jiona.


“Aku juga bingung, tapi kalian tahu yang lebih aneh, aku hanya beberapa menit di sana tapi kalian mencariku selama 3 hari, bisa kalian lihat perbedaan waktu yang sangat berbeda,” jelas Juline.


“Nona, nona mungkin memiliki kekuatan yang besar, konon yang bisa melewati jembatan itu hanya keturunan bangsa Elf saja tapi nona tidak terlihat seperti seorang Elf,”jelas Jiana.


“Apa kau pernah melihat Elf?” tanya Juline.


“Iya nona, beberapa Elf sering ke pasar, biasa nya mereka memakai jubah untuk menutupi wajah mereka, tapi ketika kembali ke jembatan mereka melepas jubah mereka, aku dan Jiona sering melihat mereka, telinga mereka panjang dan sorot mata mereka sangat mempesona,”terang Jiana.


“Apa kau menyukai seorang Elf?”


“Eh, tidak nona hanya saja mereka terlihat mengagumkan, aku juga penasaran bagaimana desa mereka,”ucap Jiana.


“Benar nona, setiap hari Jiana selalu menunggu di balik jendela hanya untuk melihat Elf itu,”ledek Jiona.


“Aku melihat desa mereka, desa yang sangat indah, warna warni yang bisa membuat perasaan kalian tentram, desa impian, aku paham jika mereka membatasi manusia ke desa itu,”


“Benarkah nona, ahh aku ingin sekuat nona, agar bisa bertemu dengan Elf itu,”ucap Jiana.


“Baik nona, rasa nya aku tidak bisa menunggu hari esok, aku sangat ingin bertemu dengan ayah dan juga ini pertama kali bagi kami ke ibu kota.”ucap Jiana.


Juline, Jiana dan Jiona akhirnya tidur, Juline merebahkan dirinya disamping Mayra dan memeluk Mayra yang sudah terlelap.


****


Pagi dengan cepat menyambut desa Hoa, Jiana dan Jiona bangun lebih pagi membersihkan rumah setelah itu mereka menyiapkan sarapan. Juline terbangun karena Mayra mengelus pipi Juline. Juline tersenyum melihat Mayra, Juline langsung beranjak dan mencuci wajah Mayra serta memandikan Mayra, setelah itu mereka berdua keluar kamar.


Jiam, Jion dan Chandra sudah bersiap duduk di meja makan, Juline dan Mayra pun bergabung bersama mereka semua. Mereka makan kentang rebus yang di masak oleh Jiana dan Jiona. Setelah sarapan, mereka berempat mulai berkemas sementara Chandra dan Juline serta Mayra menunggu mereka di kereta.


Mayra terlihat bahagia duduk di pangkuan Juline, Mayra nampak tersenyum sembari melihat keluar Jendela. Saat Jion, Jiam, Jiana dan Jiona akan berangkat, ketua master dan tiga orang master serta beberapa warga menyambangi rumah paman John. Jion, Jiam, Jiana dan Jiona memberi hormat pada ketua master dan ketiga master.


“Bagaimana dengan nona Juline, apa dia sudah di temukan?” tanya ketua master.


“Nona Juline sudah kembali master,”jawab Jion.


“Syukurlah,”ucap Peter yang diikuti ekspresi lega dari master lain nya serta para warga.

__ADS_1


Mendengar nama nya di sebut, Juline keluar dari kereta sembari menggendong Mayra, mayra terlihat mengalungkan tangan nya di leher Juline, warga yang melihat itu cukup terkesima melihat Mayra yang begitu tenang berada di gendongan Juline.


“Terima kasih ketua dan para master serta para warga yang sudah membantu mencari saya, mohon maaf karena membuat kalian semua kerepotan,”ucap Juline.


“Tidak apa – apa nona, sudah kewajiban kami menolong nona, syukurlah kalau nona baik – baik saja,”ucap ketua master.


“Mohon maaf sebelum nya sebenarnya nona kemana saja selama tiga hari ini, kami bahkan mencari di setiap sudut desa tapi tak ada tanda – tanda keberadaan nona,”tanya Duan.


“Aku masuk ke hutan dan tersesat,”ucap Juline.


Jiana dan Jiona yang mengetahui yang sebenarnya hanya tersenyum, mereka paham jika Juline tidak ingin mengatakan yang sebenar nya. Ketua master dan para master mengantar kepergian Juline, Mayra dan keempat anak paman John.


“Nona, sekali lagi terima kasih atas kemurahan hati nona atas kesalahan saya dan juga kepala desa sudah berjanji akan memperbaiki kesalahan nya,”ucap Ketua master sebelum akhir nya kereta Juline meninggalkan pekarangan rumah paman John.


Jiana, Juline dan Mayra duduk bersama sementara Jion, Jiam dan Jiona duduk di kursi seberang. Terlihat wajah bahagia dari keempat anak paman John, mereka masih tak percaya akan bertemu ayah mereka apalagi di minta tinggal di ibukota.


Sementara di mansion Juline, suasana semakin ramai karena Damien dan Roman yang sudah tiba semalam serta Genny dan Melanie dan juga Dean, Sean, Ryan, Noan dan Mikey. Para pelayan sibuk menyiapkan makanan untuk mereka semua yang sedang duduk di gazebo sembari memandang pagar, menanti Juline yang tak kunjung kembali.


Mata Melanie berkaca –kaca, setelah ia tahu jika Juline pergi ke desa Hoa, desa yang lumayan jauh dari ibu kota di tambah lagi ini adalah perjalanan pertama Juline.


“Maafkan saya tuan dan tuan muda, ini salah saya,”ucap paman John.


“Tidak paman, paman tahu kan Juline bagaimana, ia akan baik – baik saja paman,”ucap Damien yang mencoba terlihat tenang padahal ia sangat panik dan ingin rasanya menjemput adik nya.


Roman yang melihat Genny dan Melanie melamun sembari menatap pagar, Roman menghampiri mereka berdua dan duduk di samping Melanie.


“Juline akan baik – baik saja, kalian tahu kan sehebat apa Juline,”ucap Roman.


“Master benar, Juline pasti akan baik – baik saja, dia gadis yang tidak akan mudah dikalahkan,”sahut Genny.


Melanie masih mematung menatap pagar, ada kecemasan yang mengusai hati nya, entah mengapa ia tidak tenang, sementara Dean dan Sean juga terlihat lemas.


“Kalian kenapa? Jika kalian seperti ini itu sama saja menganggap Juline gadis lemah,”ucap Noan.


“Gadisku adalah gadis yang kuat dan berani, aku percaya dia akan baik – baik saja,”ucap Rian.


“Kau memang tidak tahu malu, bagaimana bisa kau menyebut Juline gadismu sementara kau sudah bertunangan,”sahut Mikey sembari menatap sinis Rian.


Sementara keluarga para pelayan mulai bekerja di perkebunan, memangkas rumput dan pohon – pohon serta membuat tembok besar sebagai pelindung perkebunan, itu dilakukan oleh beberapa keluarga para pelayan yang memiliki sihir, yang lain nya mulai membangun rumah – rumah di area perkebunan.

__ADS_1


Happy Reading ♡♡♡♡


__ADS_2