Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 97: Alangkah Baiknya Kau Tak Bangun Saja


__ADS_3

Saat raja Samuel tengah menatap Melanie dan kakak Melanie, ia merasakan sesuatu memanggil namanya. Ia pun keluar dari ruangan diikuti Dark dan Dioz. Raja Samuel memejamkan matanya dan focus mendengar suara yang terdengar di otaknya. Panatua Elf meminta Raja Samuel untuk datang ke negeri Elf Karena negeri mereka dalam bahaya. Setelah mendengar itu, raja Samuel membuka mata nya.


“Ada apa kak?” tanya Dark.


“Negeri Elf dalam bahaya.”


“Kita harus ke sana kak, kita harus menolong nenek dan para Elf,”ucap Dioz.


“Baiklah, kita akan kesana, tapi bagaimana dengan Juline? apa kita harus memberitahu ia akan hal ini?”tanya raja Samuel.


“Sebaiknya tidak kak, sepertinya adik kita sedang dalam keadaan tidak baik – baik saja,”jawab Dark.


Mereka pun masuk dan berpamitan pada Juline tanpa memberitahu kemana mereka akan pergi. Juline dan kakak – kakak nya masih menatap Aniel dan Alec yang tak kunjung bangun. Juline berbalik menatap saat raja Samuel dan kedua kakaknya datang menghampiri.


“Juline, kami harus kembali ke dunia iblis, ada sedikit masalah, kami akan kembali lagi, tetaplah disini dan jaga mereka,”ucap Raja Samuel sembari membelai rambut adiknya. Juline menatap Raja Samuel, ia seakan tahu jika ada hal yang membuat Raja Samuel Cemas. Dark dan Dioz pun bergantian memeluk Juline dan langsung menghilang. Juline hanya terdiam mematung menatap kepergian ketiga kakaknya. Roman menyentuh bahu Juline.


“Adik ku, kau kenapa? Adik ku sepertinya kau sangat akrab dengan raja Samuel dan kedua saudaranya,”ucap Roman yang bisa melihat kedekatan tak biasa Juline dan Raja Samuel.


“Ayah mengajarkan kita untuk selalu baik pada semua orang kan kak? Aku hanya melakukan itu,”jawab Juline bohong. Ia tak mungkin memberitahu perihal siapa sebenarnya ia, sementara Juline pun tak yakin siapa dia sebenarnya.


“Kak Roman, Juline, Kak Aniel dan kak Alec sadar,”teriak Damien yang begitu bahagia bisa melihat kedua kakaknya sadar lagi. Mereka semua mendekat ke tempat tidur Aniel dan Alec. Mata Alec dan Aniel perlahan terbuka dan betapa terkejutnya Alec dan Aniel melihat keempat adik mereka berada di hadapan mereka. Alec yang tak bisa menahan kerinduan nya langsung memeluk Juline dan Damien sementara Aniel memeluk Dryas dan Roman. Pertemuan mengharukan itu membuat Shimon, Genny dan Melanie ikut merasakan haru bahagia itu.


“Kakak pikir kakak takkan pernah melihat kalian lagi, syukurlah kalian baik – baik saja, lihatlah kalian semua terlihat semakin kuat, maafkan kakak yang lemah ini, kakak sangat merindukan ayah, dimana ayah?” tanya Alec. Juline dan Damien melepas pelukan kakak nya begitupun Dryas dan Roman. Raut wajah mereka berubah saat Alec dan Aniel menatap mereka.


“Juline, ayah dimana? Kenapa kalian diam saja? Apa ayah tidak ingin bertemu kami?” tanya Aniel. Tak ada satupun kata yang mampu mereka keluarkan. Melanie yang merasa jika mereka berempat tak sanggup mengatakan perihal Ascar yang telah pergi meninggalkan mereka untuk selama – selamanya, berjalan menghampiri mereka berempat dan menjawab pertanyaan Aniel. Melanie menjelaskan segala yang mereka alami selama pelarian mereka, tentang Mayra dan semua pelayan yang terbunuh serta ayah mereka yang tak mampu merasakan kehilangan lagi yang akhirnya membuatnya menyerah pada hidupnya.


Aniel dan Alec terdiam sejenak, mereka masih berusaha mencerna ucapan Melanie namun satu yang mereka pahami tentang adik adik mereka yang bungkam, mereka tak bisa bertemu ayah mereka lagi, sosok yang paling mereka rindukan. Namun sebagai kakak bagi adik- adik mereka, Alec dan Aniel berusaha kesedihan itu.


“Semoga ayah tidak merasakan kepedihan lagi, maafkan kakak yah dan terima kasih sudah bertahan, jika kakak kehilangan kalian juga, kakak tidak tahu harus berbuat apa lagi,”ucap Alec. Juline bergerak memeluk kedua kakak nya. Ia tahu jika kedua kakak nya sangat terpukul namun tak ingin menampakkan nya.


“Kakak sangat merindukan mu adik ku,”ucap Aniel sambil memeluk Juline erat. Pangeran petra pun sudah sadar. Ia mengedarkan pandangan nya mencoba mengenali tempat nya kini. Genny mencoba menjelaskan jika saat ini pangeran Petra sedang berada di kerajaan demon.

__ADS_1


“Tapi bagaimana kami semua bisa kemari? Seingatku kami semua di gantung oleh iblis – iblis itu,”ucap Shimon sembari memegang kepalanya mencoba mengingat semuanya. Juline menjelaskan jika ia dan raja Samuel yang menolong mereka namun Juline tak mengatakan apapun tentang apa yang ia lakukan pada iblis – iblis itu.


Para pelayan istana datang dan membawa makan malam untuk mereka semua. Dryas pun mengatakan pada kedua kakaknya tentang pernikahan nya. Hal itu membuat Alec dan Aniel begitu terkejut. Mereka tidak percaya jika adik mereka yang tidak pandai itu bisa menikah dengan seorang putri. Dryas yang tahu arti tatapan kakaknya nampak cemberut. Putri Esther dan pangeran Laureun masuk dan menyapa Aniel dan Alec. Putri Esther pun memperkenalkan dirinya sebagai istri Dryas. Juline terdiam menatap kakak – kakaknya yang sepertinya sudah kembali pulih.


Shimon dan petra pun bangun dan bergabung makan bersama mereka. Pelayan menyiapkan meja dan kursi makan khusus di ruangan itu atas perintah Raja William. Putri Esther berjalan menghampiri Juline dan sedikit membungkukan badannya. Juline tersenyum saat putri Esther memeluknya. Ia tahu jika Juline menanggung banyak keresahan hatinya. Malam semakin larut, setelah makan bersama dan bercengkrama, mereka pun kembali ke kamar masing – masing dan istirahat.


“Kak, beristirahatlah, besok tabib akan kembali mengobati kalian,”ucap Juline.


“Terima kasih adik ku, kau menolong kami lagi, kami selalu tak berdaya ketika di hadapan mu,”lirih Aniel.


“Kakak tenang saja, bukan kah tugas saudara memang saling melindungi, pangeran dan Shimon kalian juga beristirahatlah.”


“Baiklah, terima kasih Juline,”ucap Pangeran Petra. Setelah berpamitan Juline pun keluar dari ruangan nya mereka. Ekspresi wajah Juline kembali datar, kakinya melangkah menuju taman tempat ia sering duduk. Malam itu ia merasa tak dapat memejamkan mata nya. Kebahagiaan yang kini bercampur dengan kepedihan hatinya membuat nya bingung harus merasakan yang mana dulu.


Ahh, dewa sialan itu benar – benar menipu ku, dia bahkan tak pernah menampakkan wajah jeleknya lagi, apa yang harus ku lakukan selanjutnya.


“Apa aku sejelek itu?”


“Wah, lihat lah dirimu, kau datang saat aku mengatai mu, haruskah ku lakukan itu agar kau datang kemari, jelaskan padaku keadaan rumit ini.”


“Apa sejak awal kau tahu semua ini?”


“Aku hanya ingin mengingatkanmu banyak yang menginginkan kematian mu, bulan merah akan datang dalam beberapa hari lagi, dunia sihir akan kehilangan sihirnya, para iblis akan datang menyerang dan hanya ada satu tempat yang aman di dunia ini.”


“Tempat aman? Apa lagi ini?


“Kerajaan ini, satu – satunya tempat yang takkan kehilangan kekuatan nya, kau harus ingat tujuan mu kemari, bahkan jika dia adalah seseorang yang kau sayangi kau tak punya pilihan lain selain memusnahkan nya.”


“Jadi benar jika aku-


“Sepertinya kau tak mempercayai kebenaran itu tapi itu lebih baik terus lah seperti itu jadi kau takkan terlalu terluka memusnahkan mahluk itu.”

__ADS_1


“Apa kita tak bisa membiarkan nya?


“Apa kau ingin dunia sihir ini dan seisinya hancur? Kau ingin mengorbankan orang – orang yang kau sayangi? Sadarlah Mint, jangan lemah karena hal ini.”


Juline mengepalkan tangan nya, ia tak diberi pilihan selain memusnahkan seseorang yang sangat menyayangi nya. Dewa Q beranjak tanpa menoleh, ia menghela napas, ia tahu Juline akan semakin terluka dengan kenyataan namun ia salah, Juline sejak awal hati nya sudah hancur tak bersisa, ia berencana memusnahkan segalanya, segala yang membuat nya menderita seperti ini, ia ingin mengakhiri semuanya bahkan jika jiwanya ikut hancur. Juline beranjak dan meninggalkan Dewa Q.


Maafkan aku Juline, tak ada yang bisa kulakukan selain meyakinkanmu dengan cara seperti ini, biarkan aku melindungi mu sekali lagi.


Dewa Q kembali ke nirwana dengan perasaan buruk. Ia tahu jika ia hanya semakin menyakiti Juline. Ia berjalan masuk ke dalam ruangan, seorang wanita tengah duduk santai sembari meminum tea dan kudapan. Wanita itu tersenyum saat Dewa Q masuk.


“Selamat malam kak Q, sudah lama aku tak melihat mu, apa kau begitu sibuk?


“Averina bagaimana perasaan mu saat ini?


“Aku merasa bahagia kak, aku merasa beban di hatiku seakan menghilang, aku juga bingung tapi saat aku tersadar semua hal menyedihkan seakan hilang walau ada masih ada sedikit, aku terkadang mendengar tangisan seorang bayi, apa di nirwana ada seorang dewi yang memiliki bayi?


“Seingat ku tidak ada.”


“Eh? Benarkah? Lalu tangisan itu?


“Kau tahu alangkah baiknya kau tak usah bangun saja.”


“Kakak? Kenapa kakak berbicara seperti itu?


“Melihat mu duduk santai tanpa beban, tersenyum dan tertawa lepas membuat dadaku sesak, aku benci melihatmu seperti itu sementara seseorang di sana menderita dan bertahan setengah mati karena mu.”


“Q, APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?” teriak dewa Axel.


“Ayah, kakak tiba – tiba marah padaku,”lirih Averina.


“Q, kau kenapa haa? Apa yang sedan-

__ADS_1


“Diam ayah! Ayah sama saja dengan wanita ini, kalian berdua membuat ku muak,”ucap Dewa Q langsung pergi dari kamar Averina. Dewa Axel terlihat menenangkan Averina.



__ADS_2