Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 71: Kecemasan Seorang Kakak


__ADS_3

Di kediaman Rosemburg nampak mereka sedang makan malam bersama. Setelah peristiwa berdarah yang di sebabkan oleh para black vampire dan menewaskan sebagian besar besar keluarga bangsawan, membuat beberapa keluarga bangsawan yang masih tersisa nampak nya lebih berhati – hati karena tidak menutup kemungkinan para black vampire lain nya masih ada dan bisa saja menyerang mereka kapan saja.


Para master sihir dibantu para panatua serta penyihir lain nya membuat perisai yang melindungi daerah ibu Kota dari serangan mahluk apapun sementara para murid academy di minta untuk siap siaga di kediaman masing – masing. Para ing di tugaskan membantu para master sihir yang melindungi setiap desa di kerajaan Moon.


Di ruang makan nampak Michael bersama anak – anaknya dan juga cucunya nampak menikmati makan malam dengan khidmat. Nampak raut kecemasan di wajah Alec dan Aniel yang sesekali tenggelam dalam lamunan dan memandangi mahluk bersayap tergolek lemah di depan nya namun nampak sangat lezat.


Marie dan Suaminya tertegun melihat Alec dan Aniel yang akhir – akhir ini lebih banyak diam dan menghindari berbicara dengan mereka. Sementara itu nampak wajah kesal di wajah Michael menatap wajah cucunya seperti tak ada kehidupan.


“Alec, Aniel, makanlah makanan kalian,”ucap Michael.


“Baik kakek,”ucap mereka bersamaan.


“Ahh,kalian sepertinya sangat mengcemaskan Ayah serta adik kalian, ketimbang mencemaskan adik perempuan kalian bukankah Dryas, Damien dan juga ayah kalian lebih penting, mungkin saja saat ini ayah serta adik kalian sudah menjadi mangsa gadis monster itu,”ucap Richi Rosemburg.


“Sebaiknya paman diam, tahu apa tentang adik kami, paman lebih baik mencemaskan diri paman sendiri,”ucap Alec dengan lembut.


“Dan Juline bukan monster, apakah telinga paman sudah tidak berfungsi, Juline yang sudah membantu kerajaan yang tidak tahu terima kasih ini,”ucap Aniel.


“Aniel, cukup,”bentak Marie.


“Ibu pun sama saja, ini semua salah ibu, jika ibu sedikit saja menerima Juline waktu itu Damien dan Dryas masih disini, Juline bisa merasakan bahagia dan tidak mengalami hal mengerikan seperti ini,”ucap Aniel sembari menatap ibu nya.


“Kak Aniel, kakak tidak sopan pada ibu,”ucap Flowerina dengan mata berkaca – kaca.


“Diam kau, kau sama saja seperti ibu, kau tumbuh menjadi gadis pembenci dan tidak punya perasaan seperti itu,” ucap Aniel.


“CUKUP ANIEL.” Teriak Avzil Sebastian yang sejak tadi diam.


“Ada apa paman? Apa kau keberatan? Aku penasaran dimana Melanie sekarang, sudah jelas paman tidak memikirkan putri paman kan, paman bahkan bisa makan dengan tenang sementara putri paman satu – satu nya entah kini berada dimana, entah hidup atau mati.”


Mendengar ucapan Aniel, Avzil Sebastian tidak dapat lagi mengeluarkan satu kata pun, semua nampak diam begitu pun Michael dan Richi serta anggota keluarga lain yang lebih memilih pergi meninggalkan Aniel yang masih berdebat dengan ayah tirinya. Marie hanya diam dengan air mata di pipi nya, ia bahkan tak mampu menjawab satu kata pun dari ucapan Aniel.


“Aniel, kakak mohon berhentilah,”ucap Alec.


“Kak, bagaimana bisa aku berhenti melihat mereka selalu saja merendahkan ayah dan saudara kita, aku sangat mencemaskan mereka kak, dadaku begitu sesak, rasanya aku akan meledak dan menghancurkan segalanya,”ucap Aniel yang terisak sembari memegang dada nya.

__ADS_1


Tanpa pamit Alec membawa Aniel pergi dari ruang makan, sementara Flowerina mendekati dan memeluk ibu nya yang nampak mengusap air mata nya.


“Melanie, kau dimana nak, ayah berharap kau baik – baik saja, maafkan ayah yang tidak bisa melindungi mu, ayah berharap kau saat ini bersama dengan gadis itu, bukankah ayah sangat tidak tahu diri, meskipun ayah meragukan gadis itu tapi entah mengapa bila membayangkan mu bersama nya ayah bisa merasa tenang,”gumam Avzil Sebastian dalam hati.


Sementara itu di kerajaan, Shimon yang saat kejadian sedang bersama pangeran petra di kerajaan selamat dari penyerangan itu, saat ia kembali ke rumah dan mendapati semua keluarga nya dibantai membuat nya sangat terkejut apalagi di sana ia tak menemukan mayat adik nya, Melanie. Hal itu membuat nya semakin gusar.


Shimon kini sedang duduk di gazebo bersama pangeran Petra nampak terdiam menatap langit berbintang malam itu. Pangeran Petra menepuk pundak Shimon.


“Aku tahu Melanie pasti baik – baik saja, selama dia bersama Juline, ia akan baik – baik saja.”


“Benarkah? Pangeran kenapa kau begitu mempercayai gadis itu? bukan kah para panatua mengatakan jika ia adalah seorang monster yang lebih mengerikan dari para black vampire?”


“Sekarang aku tanya padamu, apa kau percaya?”


“Iya pangeran.”


“Shimon, kau tahu kan bagaimana hubungan ku dengan gadis itu dari awal, kita tidak akur dengan nya, tapi kau tahu Shimon ada satu titik di mana air mataku jatuh, saat Juline menancapkan sebuah belati di dadaku, aku pikir aku akan mati, aku pikir aku pantas mendapatkan nya, sesaat sebelum Juline menyembuhkan ku, aku melihat diriku di bola mata Juline, sebuah masa depan yang akan aku hadapi, aku menjadi seorang raja dan terlihat berada di tengah – tengah rakyat yang meneriakkan namaku.”


“Apa artinya itu pangeran?”


“Melihat ku?”


“Hmm, bukan hanya kita, aku melihat Melanie dan banyak wajah di sana, seakan ia menguatkan dirinya untuk bisa melindungi orang – orang yang ada di sekeliling nya, saat itu aku percaya bahwa gadis itu memang bukan gadis biasa, ia mempunyai sesuatu yang orang lain tidak punya.”


“Apa itu pangeran?”


“Dia mempunyai hati yang kuat dibanding siapapun dikerajaan ini bahkan mungkin di dunia ini, dia tidak mudah kau jatuhkan, bahkan kau bisa terjatuh sendiri ketika justru hendak menjatuhkan nya.”


“Aku harap Melanie saat ini bersama gadis itu, untuk pertama kali nya aku merasa gagal menjadi manusia, aku gagal dilahirkan sebagai seorang kakak, aku seharusnya bisa melindungi adik ku di saat ayah ku tidak bisa melakukan itu, tapi aku gagal, aku hanya bisa membanggakan diri dihadapan nya tapi tak berani memperlihatkan keperdulian ku padanya.”


“Aku tahu kau sangat menyayangi adikmu, aku tahu selama ini kau berusaha menjadi yang terbaik agar bisa terlihat membanggakan di hadapan adik mu.”


****


Sementara itu di kediaman Juline yang baru, nampak Roman, Damien dan Dryas tengah duduk di ruang tengah sembari bermain bersama Mayra.

__ADS_1


“Wah, Mayra semakin besar sekarang,”ucap Roman sembari mengelus pipi adiknya.


“Kakak… Ayah…” panggil Mayra sembari ketawa.


“Putri ayah sudah bisa bicara sekarang.”


“Mayra bahkan sudah bisa memanggilku sekarang,”ucap Dryas.


“Bukan kah dia memanggilku?” tanya Damien.


“Mayra memanggilku,”ucap Roman sembari tersenyum ke arah Mayra.


Ascar menatap anak – anaknya, ada raut kebahagiaan di wajah nya, dalam hati ia sangat bersyukur bisa melihat anak – anak nya tumbuh menjadi anak – anak yang kuat.


Sementara itu Juline menghentikan langkah nya saat melihat ayah dan serta kakak – kakaknya sedang bersama Mayra.


Untuk pertama kali Juline merasakan takut yang begitu besar, ia takut jika harus kehilangan orang – orang yang di sayangi dan menyayangi dengan sepenuh hati, ia takut jika tak bisa melindungi orang – orang ia sayangi.


Sepertinya aku mulai lupa diri, aku ingin melindungi mereka semua, aku tidak ingin siapapun terluka di antara mereka, aku ingin membawa mereka di tempat yang aman, tapi di mana, aku merasa tidak tenang jika harus meninggalkan mereka berada di sini.


****


Sementara itu di tempat yang berbeda, dua orang pria sedang memandangi langit malam sembari memikirkan seseorang.


“Aku harap kau baik – baik saja adik ku, dimanapun kau berada ku mohon tetaplah hidup,”ucap kedua pria itu bersamaan.


...Baik – baiklah pada saudaramu, mereka adalah hubungan terbaik mu di masa lalu dan akan selalu bersamamu di masa depan....


..."Baz Luhrmann"...


Maafkan Author yang Akhir - akhir ini Jarang up karena ada satu dan lain hal. Author tetap berusaha mengupdate tepat waktu. Terima kasih Author Haturkan untuk para Readers yang mau meluangkan waktu nya membaca cerita ini. Semoga bisa menghibur para Readers.


Happy Reading ☺️


Thanks a lot.

__ADS_1


__ADS_2