
Keempat Cemon tersebut seketika bersujud dan memohon ampun atas perbuatan buruk mereka, Juline mengedipkan mata nya dan kembali seperti semula. Juline meminta mereka bangkit dari sujud nya.
“Mata kalian indah sekali, sebenarnya kalian ini mahluk apa?” tanya Juline.
“Kami adalah Cemon, kami adalah mahluk setengah iblis dan setengah Elf,”jelas Jacob.
“Apa hutan ini milik kalian? maksudku ini rumah kalian?” tanya Juline lagi.
“Kami sudah tinggal beberapa tahun, sebelum nya kami tinggal di kerajaan Stanzaz,”jelas Wings dengan raut wajah yang sedikit aneh.
Juline menyadari ada hal yang terjadi para Cemon dan kerajaan Stanzaz, dilihat dari ekspresi wajah keempat Cemon tersebut dan kebencian mereka yang sangat besar pada manusia.
“Apa yang terjadi dengan kalian sebenarnya?”
Keempat Cemon diam sembari menunduk, tak satupun dari mereka menjawab pertanyaan Juline. Angin berhembus pelan, pepohonan yang menjulang tinggi ikut menari bersama angin, keempat Cemon masih terdiam dengan kepalan tangan yang nampak oleh Juline.
“Dimana rumah kalian?” tanya Juline.
“Rumah kami di arah utara tak jauh dari kerajaan Stanzaz, beberapa meter saja dari tempat kita berdiri sekarang,”jawab Marco.
“Apa anda ingin mengunjungi tempat kami?” tanya Marci.
“Apa boleh?”
“Bukan kah anda sedang terburu – buru ke kerajaan Stanzaz?” tanya Wings.
“Aku bisa beristirahat sebentar.”
“Baiklah mari ikut kami tapi sebelum itu kami harus memanggil anda apa?” tanya Jacob.
“Panggil saja aku Juline.”
“Baiklah nona Juline,”ucap Jacob.
__ADS_1
Juline pun berjalan mengikuti keempat Cemon yang berada di hadapan nya.
Juline bisa merasakan aura – aura binatang Iblis yang seakan menyambut kedatangan nya, Juline menyeringai.
Apa sekarang mereka sedang menyambutku, ahh apa aku benar – benar seorang iblis sekarang, semoga ayah dan yang lain nya baik – baik saja.
30 menit berjalan melewati pepohonan yang mulai menutupi langit, suasana gelap dan lembab mulai terasa, Juline bisa merasakan aura yang di penuhi kebencian, kemarahan yang membuat area hutan sekitar tempat tinggal para Cemon gelap dan terasa mencekam.
“Kita sudah sampai nona,”ucap Wings.
Juline mendongak kan kepala nya, sebuah pohon besar dengan bentuk kan yang unik yakni di setiap bagian pohon terdapat ruangan seperti kamar dengan dedaunan yang ditata rapi menjadi kasur mereka. Nampak para cemon mulai berkumpul kea rah Wings, Jacob, Marco dan Marci. Mereka mulai bertanya – tanya siapa gadis yang mereka bawa bersama mereka.
Juline bisa melihat anak – anak yang masih kecil tengah di gendong oleh seorang anak yang sedikit lebih besar, Juline tak melihat satu pun wanita, Juline pun sedikit kesusahan dalam melihat sekeliling nya karena kurang nya percahayaan nya di tempat huni para Cemon.
“Apa kalian bisa melihat dengan baik?” tanya Juline.
“Mata kami memiliki keistimewaan nona, kami bisa melihat apapun dalam kegelapan walau masih lebih baik jika ada cahaya,”jelas Jacob.
Beberapa pria lain nya maju dan menatap Juline dari atas sampai bawah seakan mencurigai Juline.
“Iran, dia adalah Nona Juline,”jawab Jacob.
“Apa dia seorang manusia? Tapi bagaimana bisa dia sampai di sini?” tanya Pria yang agak tinggi yang tengah membawa sebuah baik besar berisi daun – daunan bernama Abra.
“Dia bukan manusia, dia adalah seorang Iblis bukan hanya iblis tapi dia keturunan penguasa kegelapan,”jelas Wings.
Mendengar hal itu semua Cemon nampak bersujud di hadapan Juline. Hal itu membuat Juline bingung. Juline sekali lagi meminta mereka semua bangkit, Juline menatap anak – anak Cemon, di wajah mereka nampak sebuah penderitaan yang sangat dalam, luka yang begitu mengerikan terpancar dari mata indah mereka.
“Maafkan atas kelancangan kami tuan putri, terima kasih telah mengunjungi tempat kami,”ucap Abra dengan mata berkaca – kaca.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian dan kemana para wanita? Kenapa hanya ada kalian para lelaki dan juga anak – anak kecil ini?” tanya Juline.
Sekali lagi para Cemon tak dapat mengatakan apapun. Melihat itu Juline tak lagi bertanya dan maju menyentuh tangan Abra seakan ia yakin bisa melihat ke dalam ingatan Abra. Dan yah Juline melihat semua kejadian dari mata Abra.
__ADS_1
Juline melihat Api, mendengar jeritan dari para wanita, anak – anak tak bersalah di bunuh dengan beringas seakan mereka adalah ancaman, para lelaki yang memohon agar keluarga nya di bebaskan, seorang wanita tua di bunuh dengan keji yakni kedua mata nya di copot dan memasukan kedua bola mata itu dalam mulut wanita tua itu dan lebih mengerikan lagi kejadian itu di jadikan tontonan oleh manusia – manusia dengan tawa mereka seakan mereka sedang menyaksikan film komedi.
Juline terhentak, ia tak dapat mengatakan apa – apa, ia kini paham alasan para Cemon begitu membenci manusia, tak ada satupun yang hendak menolong mereka bahkan di saat mereka di ambang kematian.
Anak – anak kecil di samping Juline menyetuh rok Juline yang terjuntai, dengan mata berkaca – kaca ia mengatakan.
“Tolong selamatkan kami dan orang tua kami tuan putri,”ucap anak kecil itu diikuti isakan dari anak – anak kecil lain nya.
Bahkan para pria pun termaksud Wings, Jacob, Abra dan Iran ikut menjatuhkan air mata nya, keluarga mereka yang telah di renggut dengan kejam, mereka tidak punya lagi tempat pulang, mereka semua harus menghabiskan hidup mereka di hutan hitam, di hutan yang gelap, para anak – anak harus hidup dengan rasa sakit karena kehilangan keluarga mereka.
Juline berjalan dan menyentuh pohon yang dijadikan tempat tinggal para Cemon, seketika cahaya menyelimuti tempat itu, mereka bisa melihat dengan jelas, anak – anak saling melihat satu sama lain, menyentuh wajah teman – teman mereka lalu berlarian menuju tempat mereka sering bermain, tempat mereka bermain mereka yang kini tak lagi gelap.
Wings, Jacob, Abra dan Iran dan pria lain nya di buat bingung, bagaimana bisa seorang iblis memilki element cahaya. Para pria tak hentinya mengucapkan terima kasih pada Juline, kebaikan yang mereka tidak pernah bayangkan akan datang menolong mereka dan hidup mereka.
“Apa yang harus kami lakukan untuk membalas kebaikan tuan putri?” tanya Abra.
“Tuan putri, terima kasih, terima kasih telah menolong hidup kami, terima kasih karena sudi menolong mahluk kotor seperti kami ini,”ucap Wings dengan mata berkaca – kaca.
“Maafkan kami tuan putri,”ucap Marco dan Marci bersamaan.
“Aku bisa memahami nya, aku bisa memahami kebencian kalian, kalian bukan mahluk kotor yang mahluk kotor itu adalah manusia yang sudah membuat kalian harus menjalani hidup yang mengerikan seperti ini, bahkan kematian lebih indah dari pada menjalani kehidupan mengerikan seperti ini, tapi ingat satu hal bahwa di luar sana masih ada manusia yang baik yang pasti akan menerima kalian dengan baik sekalipun dengan sebuah perbedaan.”
Seketika wajah – wajah orang yang dekat dan selalu ada untuk Juline terlintas di pikiran Juline, senyum Genny dan Melanie, Sean, Dean, Mikey, Noan dan Ryan, keempat saudara nya, ayah nya, Ing Noel, Neyra, Para pelayan nya yang sangat menyayangi nya, adik kecil nya yang sangat ia cintai, semua nampak berputar di kepala Juline.
“Aku bisa merasakan rasa kehilangan kalian, maka dari itu aku akan menghancurkan kerajaan itu sampai rata dengan tanah, takkan kumaafkan orang – orang yang telah membunuh keluarga ku, membunuh kaum kalian hidup lebih lama, aku ingin mereka merasakan bagaimana mengerikan nya ketika tak ada satu pun yang dapat menolong mereka di saat kematian datang tiba – tiba,”ucap Juline.
Mendengar itu semua para cemon bersujud dengan air mata yang terus mengalir, rasa sakit yang terus menggerogoti mereka seakan lepas seketika, melihat Juline dengan rasa sakit yang sama membuat mereka seakan mendapat kekuatan untuk lebih kuat lagi untuk melindungi kaum mereka.
“Kami semua siapa membantu tuan putri,”ucap para Cemon bersamaan bahkan anak – anak kecil bersujud sembari berteriak,
“Terima kasih tuan putri,”ucap anak – anak kecil itu dengan lantang.
“Kalian cukup melihat ku dari kejauhan, saksikan bagaimana aku menghancurkan para penghancur itu Juline pun menghilang seketika sementara para Cemon berlari ke atas gunung untuk melihat bagaimana kerajaan Stanzaz akan di lenyapkan dalam satu malam.
__ADS_1
Sementara itu Raja Samuel, Dark dan Dioz penasaran dengan apa yang akan di lakukan Juline untuk menghancurkan kerajaan Stanzaz. Diamond ana, Carol and Caster nampak bingung melihat ayah dan paman mereka yang nampak tengah memikirkan sesuatu.
🤗🤗🤗🤗🤗