Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 35: Desa Hoa 2


__ADS_3

Juline duduk di hadapan anak kecil itu, anak kecil itu tersenyum manis menatap Juline, anak itu bahkan meraba mata indah Juline, beberapa wanita itu nampak terkejut melihat anak kecil itu tersenyum.


Anak itu adalah anak bungsu kepala desa, ia terlahir tanpa bisa tersenyum, semacam kutukan yang diberikan pada seseorang untuk ibu yang mengandung nya.


“Xiam, anak ku kau tersenyum nak,”isak salah satu wanita yang bersujud di hadapan Juline.


“Xiam, nama yang bagus, apa yang terjadi pada nya?"tanya Juline.


“Nona, anak saya terkena kutukan dari seseorang, seumur hidup nya ia takkan pernah tersenyum,”jelas wanita itu.


Juline tersenyum dan mengelus wajah Xiam dengan tangan kiri nya, seketika Xiam tersenyum dan tertawa sembari memeluk Juline, semua yang menyaksikan itu di buat kagum dan terharu, bahkan kepala desa sampai meneteskan air mata nya saat melihat anak nya bisa tersenyum bahagia. Kepala desa bersujud berterima kasih pada Juline.


“Anak kalian akan jadi anak yang hebat kelak maka dari itu jadilah orang tua yang baik agar mereka tumbuh sebagaimana mesti nya,”ucap Juline.


Isak tangis terdengar dari para wanita dan anak – anak kecil lain nya yang berada di hadapan Juline. Juline meminta mereka semua untuk bangkit, para master dan ketua master tak dapat berkata apa – apa lagi, mereka di buat terkejut berkali – kali, apa yang Juline perbuat hari ini adalah sesuatu yang luar biasa bagi mereka, seorang gadis dingin dan sadis seperti Juline ternyata memiliki hati yang hangat dan juga kekuatan yang menurut mereka tak ada satupun yang bisa menandingi nya.


Juline beranjak menggendong Xiam dan membawa nya pada salah satu wanita di hadapan nya, para wanita itu berkali – kali berterima kasih pada Juline.


“Nona, saya berjanji akan menjadi pemimpin yang baik,”ucap Kepala desa dengan lantang sembari membungkuk di hadapan Juline.


“Aku harap kejadian hari ini tidak terulang lagi, dan kalian para master jadilah seorang pelindung bagi rakyat, bukankah kalian mempertaruhkan nyawa kalian di ujian master untuk bisa melindungi rakyat? Hari ini kalian gagal menjaga satu orang, hari ini seorang ibu meninggalkan anak nya yang masih kecil, seorang anak kecil yang juga ditinggal oleh ayah nya, mungkin kalian tidak pernah merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa kedua orang tua, tapi percayalah itu adalah hal yang paling mengerikan.”


Juline berjalan meninggalkan mereka semua, ucapan Juline menjadi pukulan berat bagi ketua dan para master, mata mereka berkaca – kaca karena merasa gagal menjalani tugas mereka. Semua membungkuk menyertai kepergian Juline yang berlalu dari hadapan mereka.


***


Juline berjalan menuju ke kedai Bi Nua, di sana terlihat beberapa warga yang sedang mengatur kedai Bi Nua, melihat kedatangan Juline mereka sedikit membungkuk memberi hormat, mereka juga berterima kasih pada Juline karena pria – pria berbadan besar yang sering meresahkan warga akhir nya dapat di atasi oleh Juline.


“Terima kasih paman dan bibi yang sudah membantu memakamkan Bi Nua,” ucap Juline.


“Nak, kau tidak perlu berterima kasih, kalau bukan karena kau kami masih pasti terus – terusan di tindas oleh anak buah kepala desa,”ucap salah pria di hadapan Juline.


Juline mengambil 20 kantong kecil yang berisi emas dan di berikan pada warga yang membantu Bi Nua.


Saat membuka kantong pemberian Juline, mereka semua di buat terkejut dengan isi kantong pemberian Juline.


“Nona, ini terlalu banyak.”


“Nona, apa yang harus kami lakukan untuk berterima kasih pada nona.”

__ADS_1


“Terima kasih banyak nona,”


“Saya harap dengan ini paman dan bibi bisa meneruskan usaha paman dan bibi.”


“Terima kasih banyak nak.”


Satu persatu warga mengucapkan terima kasih Juline, setelah itu Juline pamit kembali ke kereta sementara para warga tadi meneruskan membereskan kedai Bi Nua sebelum mereka menutup nya dan menempelkan kedai itu dengan bunga tulip di bagian pintu nya.


Juline melihat Chandra sedang mengendong Mayra sembari terus mengedarkan pandangan nya menunggu Juline.


“Chandra, kau sedang mencari apa?”


“Nona, syukurlah nona baik – baik saja.”


“Apa Mayra tidur?”


“Iya nona, nona sebenarnya apa yang terjadi?”


Akhir nya Juline menceritakan semua pada Chandra, Chandra hanya mematung mendengar penuturan Juline, sesekali Chandra bergidik ngeri mendengar cerita Juline.


“Biar aku yang menggendong Mayra, kita harus melanjutkan perjalanan sekarang, lihatlah sebentar lagi malam.”


Juline menggendong Mayra dan masuk ke dalam kereta. Kereta melaju perlahan, Juline menatap wajah sendu Mayra, anak kecil yang kini harus hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua, Juline menatap senja yang sebentar lagi digantikan malam.


Mayra, kau tidak sendiri, ada aku yang akan menjaga mu, ayah ku akan menjadi ayah mu begitupun saudara ku akan menjadi saudara mu. Mayra, kita akan mencari seorang ibu yang lembut hati nya, seorang ibu yang akan mencurahkan kasih sayang nya pada kita. Bi Nua, jangan cemas Mayra akan baik – baik saja.


****


Dengan cepat malam menggantikan senja, kereta Juline berhenti didepan sebuah rumah yang berdiri sendiri di samping sebuah pohon besar, rumput liar tumbuh menjalar menghiasi dinding rumah itu. Juline turun diikuti Chandra di belakang nya.


“Permisi,”ucap Juline.


Pintu di buka oleh seorang pria bermata biru, dengan wajah pucat diikuti 2 gadis dan 1 anak laki - laki, mereka menatap sendu ke arah Juline yang sedang menggendong anak kecil.


“Nona, mohon maaf tapi kami tidak punya apa – apa untuk di berikan pada nona, uang kami sudah di ambil oleh para bandit, kami pun juga saat ini kelaparan,”jelas Jion, anak pertama paman John.


“Maaf sebelum nya, perkenalkan saya Juline, saya dari ibu kota, saya ke sini hendak menjemput kalian.”


“Kenapa nona menjemput kami?” tanya Jiana, putri kedua paman John.

__ADS_1


“Nona, apa ayah kami membuat kesalahan, apa ayah kami baik – baik saja?” tanya Joana, putri ketiga paman John.


“Tenanglah, paman John baik – baik saja, paman John bekerja dengan baik di rumah saya, saya kesini menjemput kalian untuk tinggal bersama saya dan paman john di ibu kota,”jelas Juline.


Mata mereka berkaca – kaca mendengar penuturan Juline, mereka kemudian mempersilahkan Juline dan Chandra masuk, sebelum itu Juline meminta Chandra kembali ke pusat desa membeli makanan. Juline pun masuk dan duduk di kursi.


Terlihat perabotan usang dan di selimuti sarang laba – laba.


“Maafkan kami nona, rumah kami terlihat seperti ini, sekali lagi terima kasih nona karena memperkerjaan ayah kami dan mempelakukan ia dengan baik,”ucap Jion.


“Nona, apa kah benar nona akan membawa kami tinggal bersama ayah?” tanya Jiam, putra bungsu paman John.


“Iya, aku akan membawa kalian di sana, tinggalah di sana bersama ku dan ayah kalian.”


“Nona, apa yang harus kami lakukan untuk kebaikan nona ini, kami bahkan tidak pernah berpikir akan di jemput oleh nona,”ucap Jiana sembari mengusap air mata nya yang terus mengalir.


“kakak, aku bahagia akan bertemu ayah,”ucap Joana.


Mereka menangis sesegukan, mereka merasa seperti mimpi bisa berkumpul bersama ayah mereka lagi. Juline menatap mereka semua.


“Nona, tapi anak kecil itu siapa?” tanya Jiam yang menatap Mayra yang masih terlelap.


“Dia anak kecil yang ku selamatkan hari ini, ibu nya terbunuh di hadapan ku, dan aku gagal menolong nya.”


Mendengar itu mereka sangat kagum pada Juline, seorang gadis baik seperti Juline yang rela menjemput mereka dan menolong seorang anak yang tidak ia kenal sama sekali.


Beberapa saat kemudian Chandra kembali dengan membawa makanan yang cukup banyak. Melihat itu mereka berempat kembali mata kembali berkaca – kaca.


“Makan lah, kalian pasti lapar bukan?”


“Terima kasih banyak Nona,”ucap Jiana.


Mereka pun makan dengan lahap, mereka yang selama ini hanya makan kentang rebus, menangis ketika mulai menyantap daging serta roti gandum yang di beli Juline untuk mereka.


Air mata mereka tak berhenti mengalir menyantap makanan di hadapan mereka.


Sejak ibu mereka meninggal dunia, paman John dengan terpaksa meninggalkan mereka dan mencari pekerjaan di ibu kota, setiap bulan paman John mengirim uang untuk mereka tapi para pria besar selalu merampas uang itu, Jion sebagai anak pertama hanya bisa bekerja sebagai buruh dan di bayar dengan sekantung kentang.


Happy Reading ♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2