Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 38: Berkumpul kembali


__ADS_3

Tidak terasa dua hari sudah Juline, Mayra serta keempat anak paman John melalui perjalanan. Nampak gerbang ibukota telah ada di hadapan mereka, wajah keempat anak paman John kelihatan lebih sumringah. Sementara di mansion Juline, Damien bersikeras ingin menyusul Juline yang belum juga kembali, ayah nya dan Roman berusaha menghentikan nya bahwa Juline pasti akan kembali.


Damien merasa frustasi dan takut karena adik nya belum kunjung kembali, Genny dan Melanie pun masih duduk di gazebo, sudah dua hari mereka tidak tidur, Sean, Dean, Nona, Rian dan Mikey pun masih duduk di gazebo sembari meminum teh mereka.


Ascar berusaha tenang di saat jantung nya akan meledak, ia sangat takut akan putri nya yang tak kunjung kembali, para pelayan yang melihat mereka semua yang tak beranjak dari gazebo semakin merasa cemas.


“Bagaimana kalau mereka semua sakit, ini semua karena nona Juline yang tak kunjung kembali,”ucap Mia.


“Apa yang kau bicarakan, kau menyalahkan nona Juline?"


Apa kau sudah gila?” tanya Celine.


“Kenapa kau yang marah? Aku hanya tidak ingin para tuan muda itu kenapa – kenapa apa salah?” Mia mendengus kesal.


“Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian bertengkar di saat suasana rumah sedang tidak baik begini?” tegur Bi Joan.


Celine menatap ke arah Mia dengan sinis, melihat itu Mia mendekati Celine dan membisiki nya.


“Apa jangan – jangan nona Juline sudah mati di makan hewan buas.”bisik Mia semabari menyeringai dan meninggalkan Celine.


Celine yang hendak mengejar Mia di tahan oleh Ana dan Martha, mereka tidak ingin Celine membuat masalah di saat keadaan tidak baik begini.


***


Jiam tak berkedip menatap ibu kota, meskipun desa Hoa tidak jauh berbeda tapi ibu kota tetaplah sebuah kota, ada banyak hal yang ada di ibu kota yang tidak di temukan di desa seperti kastil kerajaan yang berdiri di bukit dan memukingkan semua penduduk dapat melihat istana kerajaan.


“Nona, saya tidak sabar bertemu ayah,”ucap Jiona.


“Terima kasih nona karena sudah susah payah menjemput kami ini,”ucap Jion.


“Sebentar lagi kita akan sampai.”


Mayra terlihat gembira melihat kerumunan orang berlalu lalang, Mayra tersenyum dan mengalungkan tangan nya di leher Juline, Juline menatap Mayra ia sangat bahagia bisa membawa Mayra bersama nya.


Tidak terasa kereta telah memasuki kawasan elit bangsawan, Chandra memperlihatkan token nya dan kemudian di persilahkan lewat oleh penjaga, kereta memasuki Blok 5.


Saat mendengar derap langkah kuda, semua orang yang berada di gazebo berdiri menghampiri pagar, para pelayan pun menghentikan aktivitas nya, mereka semua menunggu kereta itu masuk dan yah terlihat kereta yang dikendarai Juline masuk dan berhenti di pekarangan mansion Juline.


Ascar menghela napas lega sementara yang lain berjalan mendekat ke kereta, keempat anak paman John yang lebih dulu turun terkejut melihat banyak kerumunan orang, mereka merasa takut kemudian Juline turun sembari menggendong Mayra.

__ADS_1


Paman John berlari memeluk keempat anak nya, suara tangis bahagia terdengar dari mereka, sementara Genny dan Melanie berlari mendahului Ascar dan Damien, mereka memeluk Juline sembari menangis, Juline hanya terdiam menatap wajah orang – orang yang begitu mencemaskan, Dean, Sean, Noan, Rian dan Mikey bernapas lega tapi mata mereka tidak lepas menatap Mayra yang masih berada di gendongan Juline.


“Aku pikir kau kenapa – kenapa, aku takut Juline,”ucap Melanie di sertai isakan nya.


“Aku baik – baik saja,”ucap Juline sembari mengusap air mata Melanie dan Genny.


Ascar menghampiri dan memegang tangan anak nya, Damien dan Roman mendekat menatap adik mereka.


“Kami semua sangat cemas nak, kakak – kakak serta teman – teman mu sentiasa menunggu mu dan mencemaskan mu,”ucap Ascar.


“Apa kalian sedang meremahkan ku kak,kalian lupa sehebat apa adik kalian ini,”ucap Juline, Roman dan Damien hanya menghela napas lega melihat adik mereka kembali dengan selamat.


“Nak, anak ini anak siapa?” tanya Ascar.


“Dia Mayra, aku menyelamatkan dia ketika berada di desa Hoa, Mayra tidak punya siapa – siapa lagi ayah, jadi ku putuskan membawa Mayra bersamaku, apa ayah dan kakak tidak keberatan Mayra menjadi anak ayah dan saudara kita?”


“Ayah akan dengan senang hati menyayangi Mayra nak,”ucap Ascar sembari mencoba mengendong Mayra dan Mayra dengan cepat mengalungkan tangan nya pada Ascar.


“Wah, Mayra sangat imut, bolehkan aku mengendong nya juga?” tanya Rian.


“Jangan bermimpi menyentuh adik kecilku,”ucap Damien.


“Aku yakin kau akan baik – baik saja,”ucap Dean.


“Aku harap dapat selalu ada di samping mu Juline,”ucap Melanie diikuti anggukan Genny.


Paman John datang dan bersujud didepan Juline, melihat itu Juline dengan cepat meminta paman John untuk bangkit. Paman John dan keempat anak paman John menatap Juline dengan mata berkaca – kaca.


Paman John berulang meminta maaf dan berterima kasih pada Juline, berkat Juline ia bisa berkumpul bersama keempat anak nya lagi. Paman John mengajak keempat anak nya ke kamar yang telah di siapkan oleh pelayan lain, sementara Juline, ayah, kakak – kakak nya serta teman – teman nya masuk ke ruang tengah, mereka semua mengambil tempat duduk lalu duduk sembari memandangi Juline.


Juline yang sadar menjadi pusat perhatian, menatap orang – orang yang sedang menatap nya secara bergantian.


“Bagaimana kalian semua bisa sampai disini? Bukan nya sekarang academy sedang ada test sebelum ujian master?” tanya Juline.


“Juline, master Damien dan Roman yang memberitahu kami,”jawab Genny sembari menoleh ke arah Roman dan Damien.


“Sebenarnya kami juga tidak tahu apa yang terjadi tapi waktu Ing noel memanggil kami berdua dan meminta kami kembali ke rumah untuk melihat keadaan Juline,”jelas Roman.


“Maksud nya Ing Noel tahu apa yang terjadi pada Juline?” tanya Sean penasaran.

__ADS_1


“Aku juga tidak paham bagaimana bisa Ing Noel tahu tentang Juline sementara saat itu dia sedang rapat,”jelas Damien.


Juline yang mendengar itu hanya terdiam, bayangan bangsa Elf kembali melintas ingatan nya, ia penasaran pada wanita yang memeluk nya, ia penasaran kenapa ia tiba – tiba merindukan tempat itu, kepala Juline terasa berat, bayangan – bayangan seorang pria dan wanita yang menimang nya kembali terlintas ingatan nya.


Melihat Juline terlihat lelah, Genny dan Melanie mengajak Juline untuk beristirahat. Mereka bertiga pun berjalan menuju kamar Juline, sementara Ascar meminta Damien dan Roman mengajak Sean, Dean, Rian, Mikey dan Noan untuk beristirahat, Ascar terlihat bahagia mengendong Mayra, ia mengajak Mayra jalan – jalan ke perkebunan bersama paman John, Jion dan Jiam sementara Jiana dan Jiona di ajak Bi Joan ke dapur dan membantu nya menyiapkan makan malam.


Juline memandang kedua gadis yang kini berada di samping kanan kiri nya secara bergantian, ada rasa kebahagiaan yang mulai membuat nya enggan meninggalkan dunia sihir itu.


Apa yang sedang aku pikirkan, aku tidak boleh lemah karena mereka, bukan kah tujuan ku kesini untuk menyelamatkan dunia sihir ini, dan lagi pemilik tubuh berhak merasakan kebahagiaan ini, aku tidak punya hak. Kira – kira siapa wanita itu, seperti nya ia mengenal pemilik tubuh ini.


Juline terus memikirkan hubungan wanita yang ia ditemui di bangsa Elf dengan pemilik tubuh yang tanpa menyadari satu hal akan diri nya.


Waktu terus berjalan, senja berganti malam, suasana mansion Juline terlihat lebih ramai dari sebelum nya, hal itu membuat nya Ascar terlihat lebih bahagia karena merasa memiliki keluarga besar, terlihat Bi Joa, Jiana dan Jiona serta Anna menyiapkan makanan untuk Ayah, kakak – kakak serta teman – teman Juline.


Juline membangunkan Genny dan Melanie, mereka berdua bangun sembari mengucek mata nya.


“Bangunlah, hari sudah malam,”ucap Juline.


“Baiklah, aku mau mandi lebih dulu,”ucap Melanie sembari mengucek mata nya.


“Akan ku siapkan gaun untuk mu.”


“Juline, kamu tidak perlu repot menyiapkan nya,”


“Mandilah, akan ku siapkan gaun untuk kalian berdua, Genny, bangunlah sebelum aku melemparmu keluar dari balkon,”teriak Juline sembari menarik – narik selimut yang menutupi wajah Genny.


Genny terlihat menggeliat dan dengan susah payah membuka mata nya, Juline menatap Genny dengan rambut acak – acak kan.


“Juline, apa yang kau lakukan di kamarku?” tanya Genny.


“Ehh, seperti nya kepala mu perlu dipukul supaya kau sadar.”


Genny mengedarkan pandangan nya, ia mulai menyadari jika ia kini bukan berada di kamar nya.


“Hehehe, maaf Juline, aku pikir aku berada dikamar ku, ini pertama kali nya aku tidur di kamar orang lain, kamar ini nyaman sekali, sudah lama aku tidak selelap ini, aku penasaran apa kamar ini nyaman atau karena kau ada di kamar ini sehingga membuat kamar ini nyaman.”


Setelah mengucapkan itu, Genny kembali menutup mata nya tapi dengan cepat Juline melayangkan bantal tepat di wajah Genny, akhir nya Genny bangun dan duduk di tepi kasur. Melanie terlihat dengan kain yang melilit tubuh nya keluar dari kamar mandi, setelah itu Juline mendorong Genny menuju kamar mandi.


Melanie memakai gaun biru yang disiapkan Juline, Juline meminta Melanie duduk dan mulai merapikan rambut nya, Melanie merasa bahagia memiliki saudara seperti Juline, ia berharap bisa terus bersama Juline.

__ADS_1


♡♡♡♡♡


__ADS_2