
(Kita kembali pada saat Alec, Aniel dan Dryas melewati portal)
Mereka bertiga melangkahkan kaki bersama masuk ke dalam portal. Alec dan Aniel mengedarkan pandangan ketika mereka sampai di pekarangan rumah yang mereka kenal.
“Kita sampai di rumah ibu.”
“Lalu Dryas?”
Mereka berdua bertukar pandang, mereka baru sadar kalau hanya mereka berdua yang tiba di kediaman keluarga ibu mereka. Sementara Dryas kini terlihat bingung karena ia sampai di sebuah pekarangan rumah yang belum pernah sekalipun ia lihat. Seorang pria paruh baya menghampiri Dryas yang tengah melihat sekeliling nya.
“Nak, kamu cari siapa?” tanya paman John.
“Paman, kalau boleh saya tahu ini kediaman siapa?”
“Ini kediaman Tuan Ascar nak.”
“Eh, Ayah, dimana ayah paman?”
Paman John yang bingung dengan Dryas pun mengantar Dryas menemui Ascar yang kini tengah duduk bersama Mayra, Roman dan Damien yang juga mulai mencemaskan Juline. Dryas berdiri di ambang pintu menatap wajah ayah nya,
“Ayah.”
“Dryas?”
“Kakak?"
Dryas menghampiri dan memeluk ayah nya, sosok yang selama ini ia rindukan, sosok yang membuat nya merasa lemah karena harus menjauh dari nya. Damien mengendong Mayra sementara Roman menatap sendu ke arah mereka berdua.
Damien yang penasaran pun bertanya bagaimana ia bisa sampai di sini, dan bagaimana dengan Juline.Dryas menceritakan semua yang terjadi di academy sebelum akhir nya ia melewati portal, raut kecemasan terpampang jelas di wajah mereka, Dryas menatap Mayra yang juga menatap nya sembari tersenyum,
“Ayah, anak ini siapa?”
“Dia Mayra kak, anak yang Juline tolong dan ia bawa ke rumah ini.”
“Adikku sangat berhati lembut dan baik.”
“Ayah dan Mayra sebaiknya tinggal di dalam rumah, aku akan pasang perisai mengelilingi rumah ini, kita tidak tahu apakah para Black Vampire akan menyerang kota,”ucap Roman.
“Aku akan memberitahu semua pelayan agar tetap di dalam rumah, biar kami bertiga yang menjaga rumah ini ayah,”ucap Damien.
“Bagaimana adik kalian Juline?”
“Ayah, Juline akan baik – baik saja, aku yakin, besok ia akan segera kembali.”
Mereka bertiga pun mengantar Mayra dan ayah mereka di kamar, dan memberitahu semua pelayan agar tetap di dalam rumah.
****
__ADS_1
Sementara di kediaman Rosemburg, Alec dan Aniel berlari masuk kedalam dengan tergesa – gesa, terlihat ibu, ayah tirinya, kakek dan paman nya sedang duduk santai sembari menikmati teh.
Ketika Marie melihat kedatangan kedua putra nya, ia beranjak dan menghampiri Alec dan Aniel. Michael pun ikut berdiri sembari menatap Alec dan Aniel, tiba – tiba Flowerina dan Isabel juga terlihat datang.
“Ada apa kalian semua kembali bersama? Apa ada masalah di academy? Dryas dan Damien mana?” tanya Michael Rosemburg (Kakek mereka).
“Saat ini academy sedang mendapat terror dari Black vampire, Dean Rodrig hari ini menjadi korban,”jelas Alec.
Nampak wajah terkejut dan cemas dari wajah Michael dan anak – anak nya, Michael dan Richi segera meminta pengawal mereka menyampaikan kabar hal tersebut pada Edward Rosemburg yang saat ini menjabat sebagai perdana menteri untuk menyampaikan hal tersebut pada raja.
“Kalian semua kembali ke kamar lain dan tetap waspada, kakek punya perasaan kalau mahluk itu akan menyerang ibu kota, persiapakan diri kalian, Alec, mana kedua adik mu?” tanya Michael Rosemburg.
“Seperti nya saat ini mereka di rumah ayah ku.”
“Ayah mu? Ascar? Si rakyat jelata itu? maksudmu mereka berdua kembali ke desa?”
Alec menjelaskan tentang ayah nya dan Juline yang kini tinggal di ibu kota tepat nya di kawasan elit bangsawan. Terdengar suara tawa yang keras dari Michael dan Richi, sementara Marie terlihat meremas jari – jari nya, ia pikir Juline membual tentang kepindahan nya di ibukota. Marie pun berpikir akan menjemput kedua anak nya.
“Bagaimana bisa rakyat biasa tinggal di kawasan elit ini?” tanya Michael.
“Jadi benar kalau gadis itu saudara Alec dan Aniel,”ucap Isabel.
“Siapa yang kau maksud?” tanya Richi.
“Gadis yang bernama Juline itu, gadis sok hebat, Cih,”jawab Isabel.
“Alec, kakek tidak paham bagaimana bisa ayah mu itu bisa tinggal di kawasan ini?” tanya Michael lagi.
“Aku juga kurang tahu kakek, tapi yang pasti nya ayah dan Juline tinggal di blok 5,”jelas Alec.
“Cih, jadi gadis sampah itu mengatakan hal yang sebenarnya, lalu bagaimana Isabel tahu tentang gadis itu?”tanya Richi.
“Juline masuk ke academy,”jawab Aniel.
“Hahah, bagaimana gadis sampah itu masuk di academy? Apa dia menawarkan dirinya pada para Ing,”ucap Richi Rosemburg.
“Jaga ucapan paman, Juline adalah adik ku, tidak sepantas nya paman mengatakan demikian,”ucap Alec.
Richi hanya tertawa sembari meninggalkan ruangan tanpa rasa bersalah, sementara Alec terlihat menahan dirinya yang ingin sekali memukul paman nya, Michael meminta Alec dan Aniel untuk ke kamar mereka, tinggalah Michael, Avzel dan Marie.
“Marie, besok jemputlah Damien dan Dryas pulang, dan hancurkan sekalian gubuk rakyat jelata itu,”ucap Michael.
“Baik ayah, besok aku akan ke sana menjemput mereka berdua.”
“Lancang sekali rakyat jelata itu, apa dia sedang bermimpi untuk sejajar dengan kita.”
Kembali ke di pagi di Wizard academy, terlihat para Ing mulai bersama – sama membangun kembali kastil yang hangus terbakar, di bantu master dan para siswa jenius, mereka masih tak habis pikir dengan peristiwa yang baru saja terjadi, bagaimana Juline mengalahkan para black vampire itu.
__ADS_1
Para master dan para siswa jenius mulai berbisik – bisik tentang Juline yang kini tengah membantu membangun kembali kastil, mereka menganggap Juline adalah monster, Juline adalah seorang siluman bahkan mereka mengatakan Juline adalah penyihir hitam yang jahat, yang sedang mencari mangsa bahkan Moira dan Neyra terlihat sedikit menjauhi Juline, melihat itu pangeran Laureun bersama para Ark membantu Juline memperbaiki kastil.
Para panatua yang baru saja tiba di kastil begitu terkejut, mereka bisa melihat kastil – kastil banyak yang di bakar, dan kini tengah di kembalikan ke bentuk semula oleh para master, hal itu membuat para panatua bingung, para Ing berlari menghampiri para panatua yang kini berdiri memandangi mereka.
Ing Noel menjelaskan segala yang terjadi di academy selama para panatua pergi ke frost, Diz Tiuz bingung bagaimana bisa mereka tidak merasakan apa – apa,
“Seperti nya seseorang dengan sengaja menutup academy ini dengan perisai hitam kami bahkan tak merasakan apa – apa,”ucap Diz Tiuz.
“Baiklah, ku perintahkan semua para Ing untuk menutup academy sementara, pulangkan murid – murid jenius, dan mulai memperketat penjagaan di sekitar ibu kota, kami para panatua akan menghadap ke kerajaan, aku yakin hal ini sudah sampai di telinga kerajaan,”ucap Diz Anzit.
“Baik panatua,”ucap Para Ing serempak.
“Kami turut berduka atas para Ing yang harus mati karena mahluk – mahluk itu,”ucap Diz Tenzin.
Terlihat raut kesedihan dari wajah para Ing,
“Noel, perintahkan para master mengurus jasad para Ing untuk di bawa kembali ke kediaman mereka masing – masing, Diz Vatha kembalilah ke frost dan kabarkan hal ini pada pemimpin, minta mereka membawa para master sihir di sana untuk melindungi para warga ibu kota, serangan ini mungkin akan berlanjut,”ucap Diz Tiuz.
“Baik ketua,”langsung melewati portal menuju frost. Diz Tiuz dan Diz Anzit menatap seorang gadis yang tengah berdiri sembari membangun kastil – kastil yang tinggal setengah kini terlihat kembali utuh, kedua Diz tersenyum,
“Noel, bukan kah gadis itu gadis cawan Nolie?” tanya Diz Jacob.
“Benar panatua, gadis itu yang sudah memusnahkan black vampire,”jelas Ing Noel.
“(Tertawa) apa kau bergurau? Bagaimana gadis itu bisa mengalahkan para black vampire yang sangat kuat,”ucap Diz Minot.
“Panatua yang dikatakan ketua adalah benar ada nya, kami para Ing bahkan harus bersama – sama melawan satu Black Vampire tapi Juline bisa membunuh mereka dengan mudah dan bahkan membunuh jiwa mereka,”jelas Ing Daniel.
“Mustahil,”ucap Diz Jacob.
“Jika itu benar adanya, maka gadis itu bisa menjadi senjata untuk memusnahkan para Black vampire,”ucap Diz Minot.
Ing Noel terlihat mengepalkan tangan nya mendengar ucapan para panatua, para Ing lain nya yang juga mendengar ucapan para panatua sedikit tidak terima, Juline yang sudah berjuang melawan para Black vampire seakan tidak dihargai para panatua, para panatua bahkan dengan tidak tahu malu nya mengatakan keinginan mereka, menjadikan Juline sebagai senjata.
Para Ark dan pangeran laureun menatap ke arah para panatua,
“Juline, apa kau baik – baik saja dengan ucapan para pria tua tidak berguna itu?” tanya Ark Davian.
“Seharusnya mereka bersyukur dengan adanya dirimu bukan justru berniat menjadikan mu senjata,”tambah Ark Evelen.
“Aku tidak apa – apa Ark, biarkan saja orang – orang bodoh itu melakukan yang mereka inginkan, kelak mereka akan menyesali perbuatan mereka,”ucap Juline sembari menunduk dan berjalan kembali ke asrama nya.
“Apa dia akan baik – baik saja?” tanya Pangeran Laureun.
“Semoga saja,”ucap Ark Reis.
Jadi kalian hendak menjadikan ku senjata? Seperti nya menyenangkan, tapi kalian jangan lupa aku adalah senjata mematikan, berdoalah semoga kalian semua baik – baik saja.
__ADS_1
Moira dan Neyra nampak menatap tajam ke arah Juline saat Juline berjalan melewati mereka berdua.