
Makan malam telah usai, semua murid dan master telah kembali ke kamar mereka masing – masing begitupun para panatua dan para Ing. Juline, Neyra dan Moira pun kembali ke kamar setelah mengantar Melanie dan Genny ke asrama mereka. Genny dan Melanie yang bersikeras ingin sekamar dengan Juline, membuat Moira dan Neyra membujuk mereka berdua agar mereka berdua mau kembali ke asrama mereka.
Juline, Moira dan Neyra langsung merebahkan tubuh mereka dengan jubah yang masih menempel di tubuh mereka. Moira dan Neyra dengan cepat terlelap sedangkan Juline beranjak dan membuka jubah nya. Juline membuka jendela kamar nya dan menatap bintang yang memamerkan cahaya indah nya.
****
Pagi dengan cepat menyambut, Juline sudah lebih dulu bangun dan mandi, kemudian ia membangunkan Neyra dan Moira yang masih terlelap. Moira dan Neyra bangun sembari mengucek mata mereka.
“Kau sudah mandi Juline?” tanya Moira.
“Iya kak aku sudah mandi.”
“Aku mandi lebih dulu,”ucap Neyra yang langsung bergegas pergi ke kamar mandi.
Juline pun memakai seragam nya dan kaos tangan nya kemudian berdiri di depan cermin. Moira melihat Juline yang sedang menatap diri nya di depan cermin.
“Wah kau nampak cantik dengan seragam itu Juline,”puji Moira.
“Kak, Kelas C5 itu bagaimana?”
“Kenapa? Apa kau masuk dikelas itu?” tanya Moira.
“Iya kak.”
“Wah, aku merasa bangga bisa sekamar dengan murid genius seperti mu Juline, apa kau tahu ruangan mu?”
“Aku tahu kak, bukan nya kemarin kak Moira sudah menjelaskan padaku kemarin.”
“Maaf aku lupa.”
“Baiklah aku ke kelas kak sekalian ingin mengenal murid yang ada di sana.”
“Juline kau tak perlu terburu – buru, kelas itu hanya di huni oleh dua pria tampan, yang satu pangeran dan satu nya putra bangsawan, sebaik nya kau melatih telinga mu agar lebih kuat, mulut mereka berdua sangat manis tapi mengerikan.”
“Seperti nya kelas itu menyenangkan, aku suka hal – hal yang mengerikan kak,”ucap Juline sembari tersenyum tipis.
“Kau juga sama mengerikan nya Juline.”
“Dia memang gadis mengagumkan,”ucap Neyra sembari berjalan masuk ke kamar mandi.
Moira tak bisa berkata apa – apa lagi, tinggal bersama dua gadis mengerikan membuat nya harus kuat dan sabar.
Juline pun melangkah meninggalkan Moira yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
Juline berjalan menuju ke depan asrama dan terus melangkah ke bagian tengah kastil. Saat sedang berjalan menuju kastil kelas C, ia berpapasan dengan Alec dan Aniel yang juga hendak mengajar di kastil kelas C. Juline terus berjalan tanpa menyapa kedua saudara nya itu.
Melihat itu Alec dan Aniel juga melakukan hal yang sama, meskipun mereka berdua sangat ingin menyapa adik mereka tapi melihat Juline yang seperti nya tidak ingin bertemu mereka akhir nya mereka pun berjalan lebih cepat dan melewati Juline.
Kenapa hatiku sakit melihat mereka mengacuhkan ku, perasaan bodoh apa ini, ini pasti perasaan pemilik tubuh ini karena mereka adalah saudara – saudara nya.
Juline sampai di depan kastil yang berada sejajar dengan kastil tengah atau kantor para master,ia masuk dan mulai menaiki anak tangga. Di tembok samping tangga pertama tertulis kelas C1, ia pun kembali melanjutkan hingga sampai di kelas C4, nampak dua gadis menghampiri nya saat naik tangga menuju lantai 5.
“Kau mau kemana?” tanya Shiana Moon.
“Aku mau ke atas, apa kau tidak lihat?”
“Kau sangat kasar pada tuan putri, gadis macam apa kau ini?” tanya Cheyra.
“Bagaimana bisa academy menerima gadis yang tidak tahu sopan santun sepertimu?”
“Masih terlalu pagi bagi kalian untuk marah – marah, aku juga bingung bagaimana bisa seorang tuan putri berbicara kasar pada orang lain, bukan kah itu memalukan?”
“Jangan mencoba mengajariku, aku adalah putri di sini dan aku bebas melakukan apa saja termaksud mengeluarkan dari academy ini.”
“Berbuat lah sesuka hati anda yang mulia, saya permisi dulu.”
Melihat Juline yang berlalu begitu saja membuat Shiana Moon geram dan meminta Cheyra untuk memanggil para Ing datang menghadap nya. Juline yang sudah sampai di lantai 5 pun langsung masuk.
“Kau murid baru duduk lah”ucap Ing Izig.
Juline pun langsung duduk di antara Petra dan Shimon.
“Guru, sejak kapan gadis ini di terima dan masuk di kelas ini?” tanya Shimon Sebastian.
“Dia masuk kemarin dan di terima langsung oleh para panatua,”jawab Ing Vint.
“Perkenalkan dirimu,”pinta Ing Amra.
“Nama saya Juline Ascar.”
“Ahh kau hanya rakyat biasa, bukan kah kau harus nya duduk di pojok ruangan, kau harus nya tau diri.”ucap Shimon Sebastian.
“Nama saya Petra Griano Moon, saya adalah seorang pangeran, bukankah tidak pantas kau rakyat biasa duduk bersanding dengan ku, sebaik nya kau mendengar saran Shimon dan duduk di pojok.”ucap Petra sembari tersenyum manis.
Benar yang dikatakan Kak Moira, wah pria ini memang lembut.
Mendengar hal itu Juline tersenyum dan hal itu membuat Petra dan Shimon menatap Juline, para Ing pun bingung dengan Juline yang tersenyum setelah di minta menjauh oleh Petra dan Shimon.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan ke pojok.”
“Apa kau bisa melihat dari sana dengan mata yang tertutup sebelah?” tanya Ing Vint.
“Aku bahkan bisa melihat semut kecil yang berjalan di papan tulis itu.”
Ing Vint tak berkata apa – apa lagi. Pelajaran pun dimulai dengan tema bagaimana cara memperluas area sihir cahaya atau element yang biasa di gunakan untuk menyembuhkan. Ing Izig mulai menjelaskan satu persatu dan diikuti anggukan dari Petra dan Shimon. Ing Izig menatap Juline yang tampak menatap nya juga.
“Apa kau mengerti dan mendengar penjelasan ku?” tanya Ing Izig.
“Aku bisa mendengar mu dengan jelas,”ucap Juline dengan sedikit teriak.
“Selanjut nya kita akan mempraktek kan penggunaan nya, salah satu dari kalian akan melukai diri kalian dan kemudian yang lain nya akan menggunakan penyembuhan dalam area yang luas, kau yang di sana, bisakah kau menggores mu lengan mu?” tanya Ing Izig pada Juline.
“Kenapa harus aku? Di depan guru ada dua orang lelaki hebat, minta saja mereka melakukan nya.”
“Juline, bukan kah guru sendiri yang meminta mu, kamu harus nya mendengar perintah guru dan lagi bukankah sudah seharusnya rakyat melayani pangeran dengan melakukan segalanya untuk kami,”jelas Petra.
“Lalu lelaki di sebelah mu guna nya apa?”
“Gadis gila sepertimu seperti nya memang tidak tahu diri,”geram Shimon.
“Sampai kapan kalian akan berdebat, mana sopan santun kalian pada kami?” tanya Ing Amra.
“Maafkan kami guru,”ucap Petra.
“Dan kau juga anak baru, apa kau sedang bermain – main di sini, jika kau tak sanggup berada di kelas ini, keluarlah.
Guru dan murid nya sama saja, mulut mereka setajam silet seperti nya menyenangkan jika membuat mereka geram.
“Mohon maaf guru, baiklah saya akan melukai tangan saya.”
Juline mengeluarkan belati dari meja nya yang memang di simpan di sana, Juline menggiris tangan nya dan menyayat wajah nya, dari pipi nya mengalir darah segar. Melihat itu mereka semua mematung dan tak bisa berkata apa – apa, melihat Juline yang begitu santai melukai dirinya sendiri.
“Apa kau baik – baik saja, kenapa kau melukai dirimu terlalu banyak?” tanya Ing Izig.
“Tidak apa – apa guru, sebentar juga akan sembuh, kalian berdua lakukanlah.”
Shimon dan Petra sama – sama menutup mata nya dan mengumpulkan mana lalu melepas mana mereka di sertai mantra.
“Area heal”
Seluruh ruangan di penuhi cahaya putih, beberapa saat kemudian ruangan kembali seperti semula. Mereka semua menatap ke arah Juline, terlihat luka di tangan dan wajah nya telah sembuh, ketiga Ing menepuk tangan atas keberhasilan Shimon dan Petra.
__ADS_1