Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 36: Desa Hoa 3 (Hilang)


__ADS_3

Setelah makan, mereka pun bergegas membersihkan kasur yang akan ditempati oleh Juline,Mayra dan Chandra.


“Nona, bisa tidur di kamar kami, dan Tuan Chandra akan menempati kamar Jion dan Jiam,”jelas Jiana.


“Jiana, bisakah kalian berdua menemani Mayra tidur, aku masih ingin duduk disini,”ucap Juline.


“Tapi nona sebaik nya nona istirahat, nona terlihat lelah,”ucap Jion.


“Aku tidak apa – apa."


Juline membaringkan Mayra di kasur bersama Jiana dan Jiona lalu keluar dan duduk di kursi, sementara Chandra dan Jiam sudah masuk ke kamar beristirahat karena besok mereka akan kembali ke ibu kota. Jion yang masih duduk di hadapan Juline hanya menatap gadis itu sesekali.


“Jion, aku melihat jembatan di depan sana, itu jembatan apa?”


“Nona, itu jembatan yang menghubungkan para bangsa Elf dengan kerajaan ini, tak ada yang bisa melewari jembatan itu, itu hanya untuk bangsa Elf.”


“Apa ada orang yang mencoba melewati jembatan itu?”


“Pernah ada beberapa tapi mereka tidak pernah kembali lagi nona.”


Juline merasa penasaran dengan jembatan itu, terbesit di otak nya untuk melewati jembatan itu. Setelah beberapa jam Jion memutuskan untuk tidur dan kini hanya Juline yang masih duduk menatap pintu yang tertutup.


Ia pun beranjak dan membuka pintu. Ia berjalan dan kini


tiba di depan sebuah jembatan gantung, hanya sinaran lampu pekarangan rumah paman John yang menyinari jembatan itu.


Juline pun mulai melangkah kan kaki nya, saat langkah nya mencapai bagian tengah jembatan, kaki nya kelihatan bercahaya, ia mendongak, Juline tak melihat hutan yang gelap lagi melainkan sebuah desa dengan sinaran lampu berwarna – warni, Juline juga bisa melihat orang – orang bertelinga panjang mulai berkumpul melihat kedatangan nya.


Empat orang pria berjubah kuning selaras dengan bola mata mereka, menatap Juline yang masih berdiri menatap orang – orang di hadapan nya.


“Ketua, lihatlah manusia ini berhasil sampai dengan selamat,”ucap salah satu pria berjubah kuning, ia adalah Xion.


“Kau benar, dia adalah manusia pertama yang berhasil sampai hidup – hidup,” ucap Xica.


“Biasanya manusia akan mati ketika menginjakan kaki di tanah kita tapi gadis ini kelihatan nya baik – baik saja.”ucap Xoan sembari menatap Juline.


“Kau siapa? Bagaimana kau bisa baik – baik saja sampai di sini?” tanya ketua, ia bernama Lecha.


“Aku hanya melewati jembatan gantung itu, ini dimana?”tanya Juline sembari mengedarkan pandangan nya.


“Bagaimana bisa kau berjalan ke sini tanpa tahu ini dimana?” tanya Lecha.


“Ini adalah negeri bangsa Elf, tak ada satupun manusia yang berhasil sampai di sini dan bagaimana kau bisa sampai di sini dengan selamat?” tanya Xica.


“Ahh, jadi kalian bangsa Elf? Tapi ada apa dengan telinga kalian?”

__ADS_1


Semua orang tertawa mendengar ucapan Juline, tiba – tiba seorang wanita berambut putih menghampiri kerumunan, saat melihat wanita itu semua orang membungkuk memberi hormat, wanita itu menatap Juline dengan senyum manis nya.


Wanita itu menghampiri Juline dan memeluk Juline, semua Elf yang melihat itu di buat terkejut, mereka di buat bertanya – tanya tentang siapa sebenarnya gadis itu. Saat tubuh Juline bersentuhan dengan wanita yang memeluk nya, ia merasa berada di pangkuan seorang wanita, wanita yang memangku nya tersenyum manis pada nya, wanita itu mencium kening Juline dan seorang pria dengan lembut mengelus pipi nya sembari bergumam.


“Anak ku sangat cantik.”


Saat wanita itu melepas pelukan nya, Juline kembali pada diri nya yang sedang berdiri, wanita itu kembali menatap Juline.


“Belum saat nya kau kembali, kami semua akan menunggu mu disini,”ucap wanita itu.


“Tapi anda siapa? Lalu siapa kedua orang yang ku lihat tadi?”


“Mereka adalah orang – orang yang sedang menunggu mu, perjalanan mu masih panjang sayang, tapi aku yakin kau bisa melewati semua takdir yang sengaja mereka buat untukmu.”


“Mereka?”


“Kau tahu waktu di sini dan di tempat mu tinggal sangat jauh berbeda, mungkin saat ini orang – orang sedang mencari mu.”


“Benarkah? Ah Mayra, aku akan kembali sekarang.”


“Sayang, ingatlah satu hal kau adalah anugerah terindah, bahkan jika takdir mengerikan mengikuti mu kau tetaplah anugerah bagi orang – orang terdekat mu.


Juline berbalik dan berjalan kembali ke jembatan, tanpa ia sadari ia telah pergi selama 3 hari. Lecha berjalan menghampiri wanita itu.


“Panatua, siapa sebenarnya gadis itu?”


***


Kepanikan terjadi pada Chandra serta keempat anak paman John, Juline yang menghilang selama tiga hari membuat mereka semua cemas, Mayra yang sering menangis berusaha di tenangkan oleh Jiana dan Joana, Jion , Jiam serta Chandra mengelilingi desa selama 3 hari tapi tak ada tanda – tanda keberadaan Juline.


Mereka semua kembali ke rumah dan duduk sembari berharap Juline akan segera kembali, Chandra sudah 3 hari tak dapat tidur begitupun keempat anak paman John, mereka sangat mencemaskan Juline yang belum juga kembali.


Sementara di mansion Juline, Ascar dan paman John terlihat gusar dan gelisah karena Juline juga kembali, kecemasan juga di rasakan pelayan – pelayan Juline serta keluarga mereka yang kini sudah berada di mansion Juline, suasana sangat ramai tapi wajah – wajah kecemasan terpampang jelas karena Juline juga kembali.


Ascar terlihat semakin cemas karena seharus nya Juline sudah sampai tapi tak ada tanda – tanda kedatangan kereta Juline.


Di lain tempat, di sebuah ruangan rapat terlihat seseorang yang sedang diam mematung, perasaan nya tiba – tiba kacau, mata nya menatap kosong, bayangan Juline tiba – tiba terlintas.


“Shen, bisakah kau memanggil Roman dan Damien ke sini,”pinta Ing Noel.


Semua Ing yang sedang rapat hanya saling memandang karena Ing Noel tiba – tiba menghentikan rapat. Tidak lama kemudian Roman dan Damien pun datang bersama Shen.


“Salam Hormat ketua,”ucap Roman dan Damien bersamaan.


“Kalian berdua pulanglah sekarang, seperti nya ada sesuatu yang menimpa Juline,”ucap Ing Noel yang masih menatap kosong tak berkedip.

__ADS_1


Mendengar itu, mereka berdua pamit dan langsung mengemasi barang mereka lalu bersiap pulang, sementara para Ing semakin di buat bingung dan penasaran akan Ing Noel yang tiba – tiba terdiam sembari menggumamkan nama Juline. Ing Daniel menepuk bahu Ing Noel.


“Kenapa kau memukul ku?” tanya Ing Noel.


“Kau melamun, apa yang terjadi pada gadis itu?” tanya Ing Daniel.


“Gadis siapa yang kau maksud?” tanya Ing Noel lagi.


“Apa kau baik – baik saja?” tanya Ing Green.


“Jelas, kenapa kalian membahas yang lain, ayo lanjutkan rapat ini.”


Para Ing hanya menggeleng melihat keanehan yang terjadi pada Ing Noel. Mereka pun melanjutkan rapat dengan 1001 pertanyaan dikepala mereka.


Saat berjalan menuju kereta, Damien dan Roman berpapasan dengan Genny dan Melanie.


“Salam master,”ucap mereka berdua serempak.


“Salam.”


“Kenapa master tergesa – gesa?” tanya Genny.


“Kami di minta Ing Noel untuk kembali kerumah melihat keadaan Juline,”jelas Roman.


“Apa terjadi sesuatu pada Juline?” tanya Melanie.


“Kami juga tidak tahu, semoga Juline baik – baik saja,”ucap Damien yang berlari menuju kereta diikuti Roman.


“Genny, kita harus pulang sekarang perasaan ku tidak enak.”


“Baiklah.”


Saat mereka berjalan menuju asrama, mereka berpapasan dengan Mikey, Dean, Sean, Noan dan Rian. Genny menatap mereka datar.


“Kenapa kalian terlihat buru – buru?” tanya Dean.


“Kami mau pulang,”jawab Genny.


“Tapi sekarang kan sedang ada test sebelum ujian master,”ucap Rian.


“Terserah, kita harus pulang melihat keadaan Juline,”ucap Melanie.


“Apa sesuatu yang buruk menimpa Juline?” tanya Sean.


“DIAMLAH, APA KAU BERHARAP JULINE KENAPA – KENAPA?” Teriak Melanie.

__ADS_1


Setelah itu Genny dan Melanie berlari menuju asrama untuk berkemas, sementara mereka berlima mematung, perasaan cemas akan Juline mulai menghantui mereka, akhir nya mereka memutuskan ikut pulang dan melihat keadaan Juline.


Happy Reading♡♡♡


__ADS_2