Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 31: Undangan Masuk Academy


__ADS_3

Pagi menyambut, Juline bangun dan mengucek mata nya, ia meregangkan tubuh nya lalu memandang keluar jendela. Juline sedikit merasa kesepian karena Damien dan Roman harus kembali ke academy dan hari ini adalah hari kedua Juline tanpa kakak – kakak nya.


Juline beranjak berjalan ke kamar mandi dan mandi sekitar 30 menit. Setelah mandi dan memakai gaun ungu lilac nya, ia duduk di kursi rias nya. Sejenak Ia menatap dirinya, Juline menyadari ada hal yang berubah dari diri nya, ia melihat mata hitam nya sedikit membesar hampir memenuhi mata putih nya.


Apa aku memakai lensa mata? Tapi seingat ku aku tidak memakai apa – apa, Ahh sudah berapa hari ini aku merasa aneh, ada apa dengan diriku, aku terus mengingat ketiga pria yang ku temui di hutan, aneh bagaimana bisa aku merindukan mereka, siapa mereka sebenar nya, kemana para dewa yang selalu mengganggu hari ku, kenapa di saat membutuhkan mereka, mereka malah tidak ada.


Ia mencoba meraba mata nya, Juline beberapa kali berkedip tapi tetap saja mata nya masih terlihat seperti itu, tiba – tiba air mata nya jatuh, Juline menangis bukan, mata Juline mengeluarkan butir – butir air mata padahal saat itu Juline baik – baik saja.


“Kenapa?”


“Apa aku menangis? Tapi aku baik – baik saja.”


“Apa lagi ini?”


Juline mengusap air mata nya, ia merasa banyak sekali keanehan yang terjadi dalam diri nya sejak kedatangan ke dunia sihir itu.


Tok…


Tok…


Tok…


Juline berjalan membuka pintu, Terlihat ana di ambang pintu, dengan sedikit membungkuk ia menyapa Juline dan memberikan sebuah surat undangan.


“Terima kasih ana.”


“Sama – sama nona.”


Ana pun pamit kembali untuk membersihkan ruangan. Juline duduk di tepi kasur nya lalu membuka surat yang ada di tangan nya. Surat itu adalah undangan masuk ke academy yang dikirim oleh Ing Cosmo untuk Juline.


Juline mulai membaca kata demi kata, bait demi bait hingga akhir nya ia sampai dipenghujung surat.


“Kami menunggu kedatangan mu di Wizard Academy, from Ing Noel.”


Juline sedikit terkejut ketika melihat Dewa Q berada di samping nya dan ikut membaca isi surat yang sedang ia baca.


“Selamat Juline, kau akhir nya di terima di Academy itu,”ucap Dewa Q sembari tersenyum menatap Juline.


“Bisakah kau tidak membuat ku terkejut?”


“Maaf, maaf, apa kau tidak merindukan ku?”


“Merindukan mu tidak ada untung nya bagiku.”


“Padahal aku sengaja tidak datang menemui mu, dasar gadis batu.”


“Apa yang membawa mu kemari?”


“Aku datang melihat keadaan mu, jangan lupa kau masih dalam pengawasan ku, dan aku membawa hadiah untuk mu karena berhasil di terima di Academy,”ucap Dewa Q sembari mengeluarkan hadiah dari cincin nya.


“Ini dia 50 pasang kaos tangan dengan berbagai macam warna,”ucap Dewa Q.

__ADS_1


“Sekalian saja kau berjualan kaos tangan.”


“Kau akan butuh ini, apa kau tidak malu memakai kaos tangan itu setiap hari.”


“Baiklah, terima kasih dewa yang baik hati dan tidak sombong.”


“Apa ada yang ingin kau tanyakan?” tanya Dewa Q yang bisa membaca raut wajah Juline.


“Hmm, kau pernah bilang jika aliran sihir ku tak dapat di rasakan oleh orang – orang di sini tapi beberapa hari yang lalu, untuk pertama kali ada yang merasakan aliran sihirku, apa yang sebenar nya terjadi?”


“Seperti nya aku lupa memberitahu mu kalau aliran sihir mu bisa dirasakan oleh pemilik Black Magic atau element kegelapan,”jelas Dewa Q.


“Tapi kenapa? Bukan kah aku mempunyai element cahaya dan kegelapan, lalu kenapa hanya pemilik element kegelapan yang bisa merasakan aliran sihir ku?


Dewa Q terdiam, ia tak mampu menjawab pertanyaan Juline, ada sesuatu yang tidak seharusnya di ketahui Juline saat ini. Dewa Q hanya menyipitkan mata nya menatap Juline.


“Aku harus kembali sekarang banyak tempat yang harus ku kunjungi, dan Juline, matamu jauh lebih indah,”ucap Dewa Q yang langsung menghilang.


“Tungg- aishh bagaimana bisa dewa itu pergi begitu saja tanpa memberi ku jawaban, apa dia menyembunyikan sesuatu dari ku, tidak mungkin kah.”


Jadi Rain memiliki element kegelapan, apa dia kawan? Lawan? Tapi aku juga memiliki kedua element itu, situasi apa ini, sudahlah, aku harus fokus dan belajar di academy, aku masih punya 1 minggu untuk ke academy, aku ingin menyiapkan sesuatu untuk ayah sebelum ke sana.


Juline menghela napas memandang tumpukan kaos tangan di kasur nya. Juline menyimpan surat itu di atas meja dan langsung turun ke lantai dua mencari ayah nya, ia mengelilingi lantai 2 tapi tak menemukan ayah nya, ia pun bertanya pada salah seorang pelayan sedang membersihkan dan merapikan di ruang tengah.


“Celine, dimana ayah ku?


“Tuan berada di taman nona,”jawab Celine.


“Terima kasih Celine silahkan lanjutkan pekerjaan mu.”


“Sama – sama nona.


“Selamat pagi ayah, paman.”


“Pagi sayang.”


“Selamat pagi nona.”


Mata Juline mengarah pada sebidang tanah yang cukup luas berada di samping taman bunga, tanah yang belum di tanami apa – apa, tiba – tiba otak bisnis Juline mulai aktif.


Ia mulai berpikir apa yang bisa ia tanam dan bisa menghasilkan. Juline berencana membangun sebuah perkebunan yang menanam semua jenis sayur – sayuran.


Seperti nya aku butuh tanah yang lebih luas. Aku kan mau bilang pada ayah tentang undangan itu, nantilah aku urus dulu rencana ku.


"Ayah, Juline akan ke pusat kota, ada yang ingin Juline beli."


“Baik nak, hati – hati yah.”


Juline pun langsung naik kereta kuda menuju real estate. Saat tiba di real estate, Juline di sambut oleh Wanny dan beberapa karyawan real estate yang begitu terkesima melihat gadis cantik bergaun ungu.


“Selamat datang kembali nona, silahkan duduk,” ucap Wanny.

__ADS_1


“Aku ingin membeli tanah yang tidak jauh dari mansion ku, aku melihat tanah kosong di bagian itu,” ucap Juline.


“Baiklah nona tapi tanah itu sangat luas nona, apa yang akan nona bangun di sana?” tanya Wanny penasaran.


“Kau akan melihat nanti, dan lagi bisakah aku membeli semua gedung yang berada di depan Colors building?"


Wanny dan para karyawan nya menatap Juline aneh, mereka bingung bagaimana gadis di hadapan mereka ini bisa membeli banyak gedung.


“Nona, apa anda bergurau, bagaimana mungkin nona bisa membeli semua gedung yang berada di area Colors Building, gedung itu sangat mahal nona bahkan para bangsawan masih berpikir untuk membeli satu gedung di sana,”ucap Dacid.


“Iya nona, sebaik nya nona tidak bermain – main di sini,”tambah Marcus.


“Aku tidak bercanda, aku akan membeli semua nya.”


Marcus dan Dacid tak dapat berkata apa – apa lagi sementara Wanny mulai mencari data harga gedung – gedung yang ada di Colors building.


“Nona, gedung itu berjumlah 10 gedung, tiap gedung seharga 60 ribu koin, jadi 10 gedung 600 ribu koin di tambah tanah di blok 5 menjadi 750 ribu koin emas nona,”jelas Wanny.


Marcus dan Dacid menatap Juline, mereka yakin Juline takkan mampu membayar semua bahkan bangsawan pun tak punya uang sebanyak itu. tiba – tiba saja mata Marcus, Dacid dan Wanny membelalak ketika Juline mengeluarkan hampir sekarung koin emas dari gelang heaven nya.


“Wah, apa aku tidak salah lihat, itu gelang heaven dan koin nya,” ucap Marcus yang tak sanggup melanjutkan kata – kata nya.


“Baiklah, nona silahkan tanda tangan di sini dan semua gedung serta tanah resmi menjadi milik nona,”ucap Wanny yang mencoba tenang, ia pun terkejut ketika Juline mengeluarkan sekarung emas dari gelang nya.


“Baiklah, terima kasih Wanny.”


“Nona, 5 dari gedung itu sudah di sewakan oleh beberapa pengusaha, karena sekarang nona sebagai pemilik gedung itu apa nona ingin menaikkan sewa gedung nya?”


“Tidak perlu, biarkan saja seperti harga biasa.”


“Baiklah nona, beberapa hari lagi saya akan meminta para penyewa menemui nona.”


“Terima kasih sekali lagi.”


“Senang berbisnis dengan nona,”ucap Wanny.”


“Nona, maafkan kami berdua, kami tadi mencoba meremehkan nona,”ucap Dacid sembari tertunduk.


“Tidak apa – apa, aku sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu.”


“Nona, jika nona membutuhkan tenaga kami berdua siap membantu nona dengan sepenuh jiwa kami,”ucap Marcus diikuti anggukan Dacid.


“Baiklah, aku permisi dulu.”


Juline pun keluar dengan membawa beberapa dokumen, Marcus dan Dacid mengantar Juline sampai ke kereta. Julin mengeluarkan 20 emas untuk Marcus dan Dacid.


“Untuk kalian berdua,”ucap Juline sembari memberi mereka berdua 1 kantong emas yang berisi 10 koin emas.


“Nona, terima kasih banyak,”ucap mereka serempak.


Dengan mata berkaca – kaca mereka membuka kantong yang di beri Juline dan betapa terkejut nya mereka melihat ada 10 keping emas bahkan gaji mereka hanya 1 koin emas selama kerja sebulan, air mata mereka tak dapat terbendung mengingat ucapan mereka pada Juline sebelum nya, mereka sangat bersyukur bertemu dengan gadis sebaik Juline.

__ADS_1


Terima kasih nona, aku akhir nya bisa mengobati penyakit ibu ku, batin Marcus.


Happy Reading ♡♡♡


__ADS_2