Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 78: Serpihan Memori (Amirin)


__ADS_3

Mereka berlima kini berada di istana, Juline menghentikan langkah nya saat mereka hendak memasuki istana.


“Ada apa adikku? Kau tak ingin masuk?” tanya Dark.


“Tidak, aku sedang ingin melihat senja,”


Mereka berempat pun kembali ke tempat Juline berdiri dan menatap senja saat itu, warna yang mampu memesona mereka. Warna yang Juline sukai, senja yang selalu mengingatkan nya pada kedua sahabat nya, Dante dan Lukas.


“Adikku, kau bisa saja menghidupkan kembali keluarga mu, tapi kenapa kau tidak melakukan nya?” tanya Raja Samuel.


“Apa maksud kakak?” tanya Dioz.


“Adik kita mempunyai kekuatan dewa, aku bisa merasakan aura nya, ia mampu menghidupkan siapa saja atau dengan kata lain ia bisa mengembalikan hidup seseorang,”jelas Dark.


“Tapi kenapa aku tidak bisa merasakan apa – apa?” tanya Dioz.


“Saya pun tak merasakan apapun yang mulia,”tambah Rain.


“Itu karena kalian berdua masih kurang kuat, dan berada di bawah level iblis,”jelas Raja Samuel.


“Kenapa adikku?” tanya Dark.


“Aku masih menghargai para dewa, aku menghargai mereka dengan tidak ikut campur pada hidup matinya manusia, tak bisa di pungkiri aku sangat kehilangan dan terpikir untuk membawa Mayra dan keluarga ku kembali tapi hal itu aku tahan sampai aku berhasil memastikan tentang satu hal.”


“Apa itu?” tanya Raja Samuel.


“Apakah para dewa itu benar – benar dewa atau mereka hanya iblis berwujud dewa.”


Mereka berempat tak berkata apa –apa lagi, Juline memberikan jawaban yang mampu membuat mereka mengerti kenapa Juline selalu menahan dirinya. Juline masih berharap jika ia salah, ia berharap dewa Q tidak seperti yang ia pikirkan.


“Baiklah, aku akan berangkat sekarang.”


“Adikku, kau tak ingin bersih – bersih dulu?” tanya Dioz.


“Hmm, baiklah.”


Mereka pun masuk kedalam istana, satu persatu pelayan datang dan membawa Juline diruangan yang cukup besar, sebuah kamar yang memang telah di siapkan untuknya. Juline mengedarkan pandangan nya, beberapa lukisan tergantung di beberapa bagian dinding. Nampak potret seorang wanita dan pria yang sedang mengendong seorang bayi, lukisan yang sama yang Juline lihat ketika berada di perpustakaan tempo hari.


siapa bayi itu?


Seorang wanita berambut putih datang menghampiri Juline sembari memberi hormat pada Juline. Juline menoleh dan menatap wanita itu. Mata wanita itu berkaca – kaca menatap Juline, ia seakan bertemu dengan orang yang selama ini ia rindukan.


“Selamat datang tuan putri Mintiaz, senang melihat anda telah kembali, anda telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dengan mata terindah yang pernah saya lihat,”ucap wanita itu.


“Apa kau mengenal ku?”


“Tuan putri mungkin tidak ingat karena waktu itu tuan putri masih sangat kecil, saya adalah Amirin, saya yang mengurus tuan putri saat tuan putri masih kecil dan di tinggal oleh ibu tuan putri.”


“Maksud anda ibu saya meninggalkan saya ketika saya masih bayi? Tapi kenapa?”

__ADS_1


“Tuan putri jika soal itu saya tidak tahu tapi setahu saya saat itu ayah tuan putri sangat terpukul atas kepergian ibu tuan putri karena meninggalkan tuan putri begitu saja.”


“Jadi lukisan itu?”


“Itu lukisan Raja dan Ratu serta tuan putri.”


Jadi mereka adalah ayah dan ibu ku yang sebenarnya, apa aku harus percaya dengan kenyataan ini, kenyataan yang ingin ku hindari, kenyataan bahwa aku adalah seorang iblis, putri seorang penguasa kegelapan, putri yang ditinggal ibu nya tanpa alasan yang jelas.


“Kenapa aku selalu saja di tinggalkan oleh mahluk yang bernama ibu? Apa aku tidak punya hak memiliki seorang ibu? Siapa yang harus aku salahkan atas nasib buruk ini.”


Amirin dan para pelayan tertunduk mendengar ucapan Juline yang begitu menyakitkan. Sebagai seorang yang tahu bagaimana kehidupan Juline, membuat mereka ikut merasakan kesedihan Juline yang berusaha tidak di tampakkan oleh Juline.


“Lalu, apa ibu ku masih hidup?”


“Saya tidak tahu tuan putri.”


“Hmm, baiklah.”


Amirin dan para pelayan pun mulai membantu Juline bersih – bersih, menyiapkan gaun yang telah lama tersimpan di sebuah lemari bercorak bungan tulip yang terletak di samping meja rias. Juline duduk dan memandang wajah nya di cermin, mata merah dan hitam nampak memesona semua pelayan.


Juline kemudian memejamkan mata nya dan seketika mata nya kembali seperti semula, hitam seperti manusia. Ia sedikit terkejut namun tidak dengan para pelayan dan Amirin.


“Kenapa mata ku tiba – tiba bisa kembali?”


“Itu karena tuan putri sudah bisa mengendalikan kekuatan tuan putri.”


Juline beranjak dan tidak sengaja menyentuh tangan Amirin yang sedang merapikan gaun nya. Ia kembali melihat ingatan seseorang. Ia melihat seorang pria yang tidak lain adalah ayahnya yang sedang menatap nya yang tengah berada dalam gendongan Amirin.


“Putriku, maafkan ayah nak, ayah tidak bisa membawa kembali ibumu, maafkan ayah nak, kamu harus menjalani kehidupan yang menyedihkan tanpa kasih sayang seorang ibu, ayah berjanji akan menjaga mu nak.”


Juline melepas tangan nya, mata nya nampak berkaca – kaca.


“Ada apa tuan putri?”


“Tidak apa – apa, apa sudah selesai, aku harus segera pergi.”


“Tapi tuan putri akan pergi kemana? Ini adalah rumah tuan putri.”


“Aku akan kembali bila saatnya tiba, terima kasih semua.”


Juline pun langsung bergegas keluar dari kamar diikuti Amirin dan para pelayan. Sementara itu Rain, Raja Samuel, Dioz dan Dark sudah menunggu di aula istana. Mereka sedikit terpaku menatap Juline yang nampak sangat cantik.


“Adik ku mata mu kembali seperti manusia,”ucap Dark.


“Iya, bagaimana bisa adikku?” tanya Raja Samuel.


“Aku hanya mengedipkan mata, dan semua kembali seperti semula.


“Tuan putri sangat cantik,”puji Rain.

__ADS_1


“Terima kasih.”


“Ayo kita berangkat.”


“Tuan putri, berhati – hatilah dan cepatlah kembali,”ucap Amirin.


Juline hanya tersenyum menatap Amirin, Juline semakin ingin tahu segalanya tentang dirinya, segala kenyataan yang mungkin akan semakin membuat nya hancur.


****


Di Frost acara pernikahan Ing Noel dan Ing Carmel di laksanakan. Nampak para tamu tersenyum melihat pasangan tersebut. Acara pun dimulai dengan pemasangan cincin dan penyatuan element sihir yang di pimpin oleh Shion Ing Frost dan para master sihir.


Nampak raut bahagia di wajah Carmel setelah akhirnya resmi menjadi pendamping Ing Noel.


“Semoga kebaikan para dewa selalu mengiringi perjalanan hidup kalian berdua anak ku,”ucap Shion Ing Frost.


Ing Noel dan Ing Carmel duduk di singgasana yang di siapkan untuk mereka sebagai pasangan yang telah resmi menjalin janji sehidup mati. Satu persatu para tamu memberi selamat dan hadiah untuk pasangan tersebut.


Berbeda hal nya dengan Ing Carmel, Ing Noel nampak tak bergeming, tak ada senyum yang menghiasi wajah nya.


Hal itu membuat ibu Ing Noel nampak heran dengan ekspresi putra nya. Setelah beberapa jam acara itu pun selesai, ibu Noel yang melihat Ing Noel sedang duduk bercengkrema dengan Ing Daniel dan Ing Cosmo di ruang tengah. Ibu Noel menghampiri anak nya yang.


“Salam Ibu,”sapa Ing Daniel dan Ing Cosmo bersamaan.


“Iya nak, Noel ada apa nak? Seperti nya ada sesuatu yang mengganggumu?”


“Tidak ada ibu, aku baik – baik saja,”jawab Ing Noel.


“Aku juga penasaran dengan raut wajah mu,” tambah Ing Daniel.


“Diam kau.”


“Nak, ibu bisa paham dengan perasaan mu saat ini, tapi keputusan ayah mu adalah keputusan yang tidak bisa dibantah nak, kau tahu kan bagaimana ayah mu.”


Ing Noel hanya terdiam sembari memandang ke segala arah. Ada kesedihan di matanya, kesedihan yang membuat ruangan itu terasa lebih dingin. Ing Carmel yang sedang bersama dengan para tamu lain nya bisa merasakan aura Ing Noel, rasa dingin yang sedikit menusuk menandakan kesedihan yang di selimuti amarah tertahan.


Ing Carmel nampak tertunduk sembari menahan air matanya yang memaksa keluar. Ing Carmel sadar bahwa ia memang tidak akan pernah bisa menempati hati Ing Noel, walau dengan ikatan yang erat sekalipun seperti layak nya sebuah pernikahan yang baru saja mereka laksanakan.


Ia tahu bahwa Ing Noel bukanlah sosok yang mudah menjatuhkan hati nya, tapi ketika hati nya telah jatuh maka Ing Noel akan jatuh sejatuh – jatuh nya. Meskipun begitu Ing Noel masih bersedia menerima pernikahan itu dengan berpikir bahwa apa yang ia lakukan setidaknya dapat melindungi Juline dari ayah nya.


Ing Shen menghampiri dan menepuk pundak kakak nya lalu membisiki nya sesuatu.


“Kak, kau bisa membunuh semua orang.”


Tanpa Ing Noel sadari aura dingin nya mulai membuat para tamu merasa tidak nyaman. Ing Noel dengan cepat menarik aura nya sembari mencoba mengingat wajah seseorang, wajah yang selalu ia ingat, wajah yang mungkin melupakan wajah nya.


Ibu Ing Noel, Ing Shen, Ing Daniel dan Ing Cosmo hanya terpaku menatap Ing Noel yang tak mengatakan apapun.


🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2