
Di kerajaan Demon, nampak para pelayan istana mulai mempersiapkan pesta pernikahan putri Esther dan Dryas. Roman dan Damien duduk dan menatap ayah nya yang masih berucap sekata pun, pukulan hebat atas kematian Maira dan para pelayan yang sudah seperti keluarga baginya membuatnya seakan tak mampu lagi bertahan.
“Ayah, bagaimana keadaan ayah?” tanya Roman sembari menggenggam tangan ayah nya yang tak bergeming sama sekali.
“Kak, apa ayah akan baik – baik saja? ini sudah beberapa minggu, ayah tampak pucat, ia bahkan tak mengatakan apapun,”ucap Damien.
Genny dan Melanie masuk ke kamar Ascar bersama sekeranjang buah yang baru saja mereka petik. Melanie duduk dan mengelus rambut Ascar, mencoba mengajak Ascar bicara.
“Paman, aku dan Genny baru saja memetik buah segar ini, apa paman ingin aku mengupasnya untuk paman?”
Lagi – lagi tak ada respon dari Ascar, wajah Melanie dan Genny nampak sedih, begitupun Damien. Mereka berempat terdiam menatap Ascar dengan mata terbuka tapi tak bergeming sama sekali. Sebagai seorang anak, Roman dan Damien nampak sangat terpukul, belum lagi kepergian adik mereka yang kini entah dimana.
“Aku harap Juline cepat kembali,”ucap Genny.
“Hmm, Juline pasti akan kembali, dan ayah pasti akan segera sembuh,”ucap Roman berusaha menghibur mereka semua.
Meskipun di saat sama ia pun hancur, ia merasa gagal menjaga keluarga nya. Sebagai seorang adik yang di beri amanah oleh kakak – kakak nya, ia gagal.
Ia merasa terpukul, ia merasa semua hal buruk terjadi karena nasib nya yang sial sehingga keluarga nya harus merasakan hal buruk juga. Damien menatap Roman seakan tahu apa yang di rasakan Roman saat ini.
“Hmm, semua akan baik – baik saja Juline kembali,” ucap Damien.
Di sisi lain, Ascar menatap langit – langit kamar nya, samar – samar ia melihat wajah wanita yang selalu ia cintai. Wajah Marie yang membawa nya pada kenangan yang berusaha ia bakar dalam hati nya, melupakan kenangan menyakitkan,
perpisahan yang datang bersama kebahagiaan.
Ascar kini berada di hadapan wanita nya, wajah Marie yang begitu menawan, tengah menimang Juline kecil, tersenyum menatap Ascar.
Apa ini akhir dari hidupku? Aku bisa melihat wajah Marie lagi, wajah yang menyiksaku, rindu yang menutup pintu hati. Aku merindukan wajah Marie, aku hampir melupakan wajah nya, tidak, aku harus tetap mengingat nya.
Saat Ascar hendak memejamkan mata nya, suara tawa Maira dan Juline terdengar di telinga nya, ia kembali membuka mata nya, nampak Maira dan Juline yang tengah bermain bersama, para pelayan nya tengah mengerjakan pekerjaan mereka, tersenyum menyapa Ascar. Dengan cepat Maira dan para pelayan nya terkapar bermandikan darah, Ascar mematung.
Ia berteriak tapi ada suara yang mampu ia keluarkan, kemudian ia melihat Juline melangkah lalu menoleh menatap sembari melambaikan tangan nya. Air mata Ascar jatuh perlahan, ia memilih menyerah.
Melihat kilas balik kejadian yang menyakitkan, membuat nya runtuh, bahkan sihir cahaya nya pun tak mampu menyembuhkan luka nya menggerogoti tubuh nya, luka dari kenangan yang menyakitkan.
Ascar memilih memejamkan mata nya, tak mampu lagi melihat masa lalu nya.Bersamaan dengan itu, Ascar perlahan menutup mata nya, Roman dan Damien yang menyadari hal itu, membangunkan ayah nya, mereka menggoyangkan tubuh ayah mereka tapi tak ada respon, bahkan mata ayah nya kini telah terpejam, nafasnya tak terasa lagi, air mata terakhir jatuh dari mata Ascar.
__ADS_1
“Paman,” panggil Genny.
“Kak, paman kenapa?” tanya Melanie yang tiba – tiba mematung dengan butir air mata yang mulai membasahi pipinya.
Damien menyadari ayah nya kini telah meninggalkan nya, Roman masih berusaha membangunkan ayah nya, Ia tak percaya jika ayah nya pergi begitu saja. Raja William, Ratu beserta para pangeran, Dryas dan putri Esther masuk ke kamar Ascar dan mendapati Melanie dan Genny yang kini menangis di tepi tempat tidur Ascar, Damien yang mematung menatap jasad ayah nya, Roman dengan sekuat tenaga membangunkan ayah nya.
Dryas dan pangeran Laureun menahan Roman untuk berhenti. Dryas duduk di hadapan jasad ayah nya, memeluk ayah nya, mencoba merasakan detak jantung nya, tapi tak ada, tak ada lagi detak jantung yang ingin dia dengar, air mata nya pun tak kuasa ia bendung, mata putri Esther dan Ratu nampak berkaca – kaca.
Dryas bangkit dan memeluk adik dan kakak nya, suara tangisan pecah dari mulut Roman, kehilangan yang di begitu mendadak membuat nya tak mampu berdiri lagi, ia terjatuh ke lantai, tak ada lagi kekuatan di kedua kakinya.
Tangisan mereka membuat Ratu dan putri Esther ikut menitikan air mata, raja William terdiam, ia mengingat seseorang, seseorang yang akan merasa paling hancur atas kepergian Ascar.
Malam itu dengan hati yang berusaha mereka kuatkan, mereka memakamkan ayah mereka dan berharap luka tak lagi menyakiti ayah mereka.
****
Di nirwana, seorang wanita beranjak dari tempat tidurnya, terbangun dari mimpi panjang nya, mengedarkan pandangan nya, mencoba mengingat tentang dirinya. Dari balik pintu dua orang pria masuk.
Salah seorang pria bergerak memeluk wanita itu, dengan mata sendu nya, mata dengan butir air mata di pelupuk mata nya, ia terus memeluk wanita itu seakan ia baru saja memenangkan kerinduan nya.
“Ayah, sudah berapa lama aku tertidur?” tanya Dewi Averina.
“Kau sudah tertidur selama ratusan tahun, aku pikir kau takkan bangun lagi adik ku,”ucap Dewa Iviz.
“Jaga ucapan Iviz,”bentak dewa Axel.
“Ayah, maafkan aku, aku tidak mengingat apapun, apa yang sebenarnya terjadi padaku ayah?” tanya dewi Averina.
“Putriku, ayah akan menceritakan segalanya, tapi nanti setelah kau sudah benar – benar sembuh yah, akan ku panggilkan para dewi untuk membantu mu membersihkan diri,”ucap Dewa Axel.
Sebelum keluar ia sekali lagi memeluk putrinya, ia tidak menyangka putrinya bisa bangun lagi setelah tertidur dengan luka kutukan yang membuat nya hampir kehilangan hidup nya.
Pernikahan iblis dan dewi adalah hal yang sangat berdampak buruk pada seorang dewi, dan dewi Averina sangat tahu akan hal itu, tapi mengingat rasa cinta nya begitu pada penguasa kegelapan ia tak menghiraukan peringatan ayah nya tentang hal buruk yang dapat menimpa nya.
Dewa Iviz berjalan mengikuti ayahnya, menatap tajam di satu titik.
“Ayah, sekarang tidak masalah kan jika gadis itu aku singkirkan,”ucap dewa Iviz.
__ADS_1
“Iviz, kenapa kau sangat ingin menyingkirkan anak itu?”
“Kenapa ayah bertanya? Bukankah ini rencana ayah, bukan kah anak itu bisa menghubungkan Averina dan iblis itu atau jangan – jangan ayah sekarang berubah pikiran.”
“Iviz, jaga ucapan mu.”
“Sebaiknya ayah segera mengambil keputusan, aku tidak suka menunggu, ayah tahukan?”
Dewa Iviz berbalik meninggalkan ayah nya. Dewa Q menghentikan langkah Dewa Iviz. Dewa Iviz tersenyum menatap adik nya yang justru menatap tajam ke arah nya.
“Ada apa adik ku sayang?”
“Iviz, kenapa kau sangat ingin menyingkirkan Juline?”
“Juline? Siapa dia? Aku hanya ingin menyingkirkan Mintiaz.”
“IVIZ!!”
“Jangan meninggikan suara mu adik ku, seorang dewa harus selalu lemah lembut.”
“Siapa yang sedang kau nasihati?!”
“Adik ku, sekali – kali dengar lah ucapan ku, untuk apa kau berjuang melindungi jiwa berdosa itu, ia akan hanya akan membawa kerusakan, bukankah tugas kita mengadili jiwa – jiwa berdosa itu? hmm adikku?”
“Dosa apa yang kau maksud?”
“Dosa karena sudah lahir dari seorang iblis dan dewi,”ucap Dewa Iviz sembari tersenyum.
“Apa kau pikir ia mau lahir seperti itu?”
Dewa Iviz hanya tersenyum, mengelus rambut adik nya dan berjalan melewati adik nya. Dewa Q mengepalkan tangan nya berusaha menahan amarah nya. Dewa Q tidak memahami apa yang terjadi pada Dewa Iviz, kenapa ia sangat membenci Mintiaz.
..."Aku tidak tahu apa namanya, jarak di antara detik, tapi aku selalu memikirkan dirimu dalam interval itu."...
...Salvador Plascencia...
🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1