Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 6: Juline Ascar


__ADS_3

Di sebuah perkebunan nampak seorang gadis mengusap peluh yang memenuhi wajah nya. Ia adalah Juline ascar. Seorang gadis biasa dari desa Hato yang berada di pinggir ibu kota. Juline tinggal bersama ayah nya.


Ibu dan keempat kakak laki – laki nya tinggal di ibu kota. Sehari – hari juline membantu ayah nya mengolah perkebunan. Ayah juline adalah kepala Desa Hato.


Mata pencaharian warga desa Hato adalah berkebun. Juline adalah seorang gadis yang terlahir tanpa elemen sihir. Di keluarga nya hanya juline yang tidak memiliki element sihir.


Ayah, ibu serta saudara – saudara nya memiliki sihir cahaya. Bisa dibilang Juline adalah aib bagi keluarga nya terutama bagi keluarga ibu nya.


Setiap hari nya juline menghabiskan waktu nya di kebun. Menanam dan merawat tanaman yang ia tanam. Juline sangat rajin. Selain merawat tanaman nya ia juga membantu warga desa dalam merawat perkebunan mereka.


Meskipun ia hanya gadis biasa tapi ia tetap ingin membantu siapapun.


Pagi – pagi Juline sudah bangun membuat kan ayah nya sarapan. Karena hanya tinggal ia dan ayah saja. Ibu dan keempat kakak nya memutuskan tinggal di ibukota. Ibu juline bernama Marie Rosemburg. Marie adalah seorang bangsawan dari keluarga Rosemburg.


Keluarga marie rata – rata memiliki sihir cahaya dan itu menurun pada keempat saudara Juline. Mereka adalah Alec, Dryas,Aniel dan Damien. Sedangkan Ayah juline adalah rakyat biasa.


Meskipun ayah julien mempunyai sihir cahaya, pernikahan keluarga bangsawan dan rakyat biasa adalah hal yang memalukan bagi bangsawan.


Pernikahan itu pun terpaksa di lakukan demi menutupi kehamilan Marie. Setelah kelahiran Juline yang lahir tanpa sihir, keluarga Rosemburg membawa Ibu Juline dan keempat kakak nya untuk tinggal di ibu kota agar dapat pendidikan yang lebih baik.


Juline yang saat itu masih kecil, di tinggalkan bersama ayah nya. Keluarga rosemburg adalah keluarga bangsawan paling terkenal di kerajaan Moon. Mereka tidak ingin jika Juline hanya menjadi aib bagi keluarga Rosemburg. Kini, Ibu nya telah menikahi seorang pria bangsawan dan melupakan Juline.


Keempat kakak nya pun kini bekerja dan sekolah di Academy sihir di ibu kota.


“Ayah ayo kita sarapan,” panggil Juline.


“Bisakah kau bawakan sarapan ayah, ayah sedang tidak enak badan?" ucap ayah Juline.


“Baik ayah."


Juline segera membawakan ayah nya sarapan. Terlihat ayah nya sedang terbaring lemas di tempat tidur.


“Apa ayah baik- baik saja? kenapa ayah tidak meminum obat?" tanya Juline sedih.


“Juline, ayah baik – baik saja. Ayah hanya perlu beristirahat sebentar,”ucap ayah juline.


“Apa ayah rindu ibu?"


“Iya sayang. Ayah sangat rindu pada ibu dan kakak – kakak mu."


“Ayah kenapa kita tidak boleh ikut ibu?"


“Sayang, bukan nya tidak boleh tapi perjalanan menuju ibu kota jauh, kau akan lelah."


Ayah Juline tak ingin memberitahu yang sebenarnya pada Juline. Ia takut jika putri nya akan semakin sedih karena ia tidak diterima di keluarga ibu nya. Juline menyuapi ayah nya makan.


Dalam hati nya ia ingin sekali mengunjungi ibu nya di ibukota. Tapi jika ia beritahu ayah nya, ayah nya pasti melarang nya.


Setelah selesai mengurus ayah nya, Juline membersihkan rumah dan ke kebun melihat tanaman nya. Ia juga menyiram tanaman nya. Saat sedang menyiram tanaman nya, ia mendengar jika tetangga berencana ke ibu kota membeli pupuk untuk sayuran nya.

__ADS_1


Ia pun menghampiri lelaki itu. Lelaki itu adalah Gene. Ia adalah teman Juline. Meskipun mereka berada di usia yang cukup jauh tapi Gene selalu membantu Juline.


“Kak gene,” panggil Juline


“Ada apa juline?"


“Aku dengar kak Gene akan pergi ke kota, bisakah aku ikut? Aku sangat ingin melihat ibu kota,” Pinta Juline.


“Tapi Juline aku takut kepala desa takkan mengizinkan mu."


“Aku akan minta izin pada ayah, bisakah kau membawaku juga?"


“Hmmm.”


Juline begitu bahagia. Ia segera berlari meminta izin pada ayah nya.Walaupun sangat sulit meminta izin pada ayah nya, Juline tetap tidak menyerah dan tetap membujuk ayah nya. Hingga ayah nya lelah dan mengizinkan. Dengan syarat ia harus tetap mengikut Gene dan tidak pergi ke sembarang tempat.


‘Baik ayah. Terima kasih ayah."


Juline segera mengemas perlengkapan nya. perjalanan ke ibu kota memakan waktu seharian. Saat sudah siap, Juline langsung naik ke gerobak Gene.


Mereka berangkat berlima dengan warga desa Hato yang juga ingin membeli pupuk. Gerobak itu berjalan di bantu tiga ekor kuda. Juline yang baru pertama kali melakukan perjalanan ke ibukota begitu excited.


Sepanjang perjalanan ia membayangkan bertemu dengan ibu dan kakak - kakak nya.


Setelah menempuh perjalanan seharian, sampailah mereka di gerbang masuk ibukota.


Orang – orang sedang berkumpul di sebuah Café. Kehidupan ibu kota membuat wajah Juline begitu berseri – seri.


Ia melihat sebuah kastil yang begitu besar dan berada di atas gunung sana. Juline bisa menebak kalau itu adalah istana. Tempat para putri dan pangeran tinggal.


Juline terus melihat – lihat sekeliling nya melalui jendela gerobak. Juline betul – betul kagum melihat ibu kota.


“Pantas saja ibu ku tak pernah kembali lagi, keadaan kota yang membuat nya betah.,”gumam juline dalam hati.


Saat gerobak berhenti Juline segera keluar dari gerobak. Ia melihat sebuah bangunan yang di dalam nya menjual bermacam – macam pupuk. Ia mengikuti Gene yang masuk kedalam. Juline begitu antusias melihat berbagai macam pupuk.


“Gene bisakah kau menolongku?" tanya pemilik toko


“Ada apa Green?"


“Bisakah kau mengantar kan pupuk ini di keluarga Rosemburg, aku masih harus mengurus pesanan lain, aku akan memberimu diskon, bagaimana?"


“Baiklah."


Gene berbalik menatap Juline.


“Juline, apa kau ingin ikut membantuku mengantar pesanan?"


“Di mana?"

__ADS_1


“Di rumah bangsawan Rosemburg."


“Benarkah? Aku ingin ikut. Bagaimana yah rupa para bangsawan?"


“Sama saja dengan wajah kita Juline."


Gene dan juline mulai mengangkat karung pupuk dan memasukan ke dalam gerobak. Mereka berdua berangkat ke rumah keluarga Rosemburg sementara tiga orang lain nya menunggu di toko pupuk.


Juline melihat bangunan tinggi nan megah. Saat tiba di salah satu bangunan megah itu, seorang penjaga memeriksa token dan mempersilahkan gerobak mereka masuk.


Mata Juline tak bisa berkedip melihat rumah ini. Sangat besar dan terdapat pekarangan yang luas serta taman bunga yang indah. Gene dan Juline turun di pintu dapur yang tak jauh dari taman.


Salah seorang pelayan mengarahkan mereka untuk menaruh pupuk itu di gudang samping dapur. Gene dan Juline mulai mengangkat karung – karung itu dan mengaturnya di gudang.


Juline mengusap peluh di wajah nya. Gene sangat bangga pada Juline. Juline adalah gadis yang sangat baik dan kuat. setelah selesai seorang pelayan memberi mereka roti.


“Terima kasih bibi,”ucap Juline.


“Sama –sama nak,” jawab pelayan itu ramah.


Gerobak mulai berjalan meninggalkan pekarangan. Tiba – tiba juline melihat seseorang yang ia kenal sedang duduk di gazebo. Juline turun dan melihat lebih dekat dan ternyata ia adalah ibu juline.


Juline sangat bahagia melihat ibunya. Saat hendak menghampiri ibu nya, seorang gadis belia menghampiri nya ibu nya.


“Ibu.” Gadis itu memanggil ibu juline.Juline hanya diam mematung.


“Sayang, kenapa kamu disini, bukan kah kamu sedang belajar di academy?" tanya ibu Juline yang langsung memeluk gadis itu.


Juline yang melihat itu merasakan sesuatu di hati nya. Rasa nya jantung nya di tusuk oleh sesuatu. Ia tidak menyangka ibu nya telah menikah lagi dan mempunyai keluarga baru.


Air mata juline terjatuh. Ia segera mengusap dan berlari masuk gerobak.


“Ada apa Juline. Apa kau mengenal mereka?" tanya Gene yang tidak bisa melihat jelas wanita yang berada jauh pandangan nya.


“Tidak kak. Ayo kak kita pulang."


Juline dan gene pun pergi meninggalkan rumah keluarga rosemburg. Juline masih terdiam. Dadanya terasa ngilu. Ia mulai kesulitan bernapas. Seketika itu ia pingsan.


Gene yang panik langsung menghentikan gerobak nya dan memeriksa Juline. Tapi Juline sudah tak sadarkan diri. Gene segera menjemput ketiga warga dan langsung kembali ke desa Hato.


Sepanjang perjalanan Juline tidur di pangkuan Seline. Seline menatap wajah sendu Juline. Ia sangat khawatir karena Juline belum juga bangun. Gene memacu kuda nya dengan cepat.


Setelah berjam – jam akhirnya mereka sampai dirumah Juline. Ayah Juline yang melihat anak nya yang tidak sadarkan diri panik. Gene menceritakan semua yang menimpa Juline selama mereka di ibu kota.


Ayah Juline segera membuat ramuan untuk Juline, tapi setelah berhari – hari Juline tak bangun – bangun juga. Seluruh warga berkumpul mendoakan Juline.


“Maafkan ayah nak,” ucap ayah juline lirih sembari menggenggam tangan anak nya yang tak kunjung membuka mata nya.


Happy Reading ♡

__ADS_1


__ADS_2