Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 32: Lahan Perkebunan


__ADS_3

Kereta kuda dengan cepat sampai dipekarangan Mansion Juline. Juline turun dan berjalan masuk ke rumah, ia naik ke lantai kedua di ruang makan, perut nya sejak tadi bergetar hebat. Saat tiba di ruang makan, sudah ada ayah nya yang sedang membaca buku sembari menyantap makanan nya.


“Ayah.”


“Juline, ayo makan siang nak.”


“Baik ayah,”


Juline menyantap makanan nya dengan lahap, ia sesekali menatap ayah nya yang makan sembari membaca buku yang ada di genggaman nya. Entah mengapa juline merasa takut meninggalkan ayah nya sendiri.


“Ayah, hari ini aku membeli sebidang tanah yang cukup luas, aku ingin ayah dan paman John membuat perkebunan di sana, apa ayah tertarik, aku juga sudah membeli beberapa gedung untuk ayah membuka toko sayuran, ayah tidak perlu bekerja cukup mengawasi, semua bisnis ini untuk ayah.”


Ascar melepas buku dari tangan nya, mata nya berkaca – kaca mendengar penuturan putri nya, air mata nya jatuh di pelupuk mata nya, ia berjalan dan duduk di samping putri nya, Ascar memeluk putri nya, ia berterima kasih pada putri nya yang begitu menyayangi nya, Ascar juga meminta maaf karena menjadi ayah lemah dan tidak mampu melakukan apapupn untuk kebahagiaan Juline.


“Terima kasih nak, ayah tak bisa mengucapkan apa –apa lagi, terima kasih sudah lahir menjadi putri ayah.”


Juline mengusap air mata ayah nya, ia tersenyum memandang ayah nya.


“Ayah, akan ku lakukan segalanya untuk ayah,”


Akan ku lakukan segalanya untuk ayah sekalipun menghancurkan dunia sihir ini dan seisi nya akan ku lakukan selama itu untuk ayah, aku berharap dapat melindungi ayah, aku berharap aku tidak gagal lagi melindungi ayah.


Setelah makan, Juline mengajak ayah dan paman John untuk meninjau lahan yang tidak jauh dari mansion nya. Mereka berjalan kaki sembari menikmati suasana siang yang tidak terlalu terik.


Sampailah mereka di depan sebuah lahan yang sangat luas, bisa di bilang lahan itu adalah lahan yang sangat luas. Saking luas nya di lahan itu bisa di bangun satu desa dan perkebunan yang luas.


“Nak, bukankah tanah ini sangat luas?"


“Iya ayah, Ahh paman, bukan kah paman mempunyai 2 orang putra dan putri?"


“Benar nona.”


“Maukah paman membawa mereka tinggal di sini?"


“Nona, saya sangat mau membawa mereka tapi desa saya sangat jauh dan lagi biaya perjalanan sangat mahal nona, saya tidak mampu nona,”jelas paman John.


“Desa paman di mana?"


“Desa Hoa, desa yang berada di perbatasan antara kerajaan Moon dan Kerajaan Demon."


“Ahh baiklah, ayah boleh aku menjemput keluarga paman John?”


“Nak, kau serius? Apa kau tahu letak Desa Hoa?”

__ADS_1


“Aku bisa membawa peta ayah.”


“Baiklah nak, tapi bawalah seseorang untuk menemani mu.”


“Tapi nona, desa saya sangat jauh, 2 hari untuk bisa sampai di sana.”


“Paman, dimana pun itu, sejauh apapun itu, akan ku jemput anak – anak paman.”


“Terima kasih nona, terima kasih banyak, biarkan saya mengabdi pada nona seumur hidup saya, kebaikan nona tidak pernah terbayar dengan apapun yang saya lakukan,”ucap Paman John terisak.


“Paman cukup menemani ayah saya agar ayah saya tidak merasa kesunyian.”


“Putri ayah memang luar biasa,”puji Ascar.


Mereka pun mulai meninjau lahan dan memulai merencanakan pembangunan, mulai dari pembangunan tembok besar untuk melindungi lahan perkebunan, Juline juga berencana mencari beberapa pekerja yang pemilik element tanah dan membeli bibit – bibit unggul serta membangun beberapa rumah di lahan nya.


Juline bisa saja melakukan semua nya sendiri tapi Juline tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada ayah nya, jika soal biaya ayah Juline takkan mempertanyakan nya lagi karena sebelum nya Juline meminta pada ayah nya untuk tidak menanyakan hal itu.


Sore itu, Ayah Juline dan paman John berangkat ke pusat kota mencari pekerja yang akan membangun tembok untuk lahan perkebunan mereka, sementara Juline dan beberapa pelayan nya termaksud Bi Joan pergi ke toko bibit – bibit unggul.


Para pelayan yang di antara nya Bi Joan, Celine, Anna, dan Martha merasa sedikit canggung satu kereta dengan Juline, apa lagi Juline adalah nona mereka sementara mereka hanyalah seorang pelayan.


“Kalian tidak perlu canggung begitu, bukankah kita keluarga?” tanya Juline.


“Bagi ku siapapun yang tinggal serumah dengan ku adalah keluarga ku, dan lagi kalian adalah bagian terpenting dari rumah itu, kalian memasak, mengurusku dan ayah dengan baik, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku dan ayah tanpa kalian.”


Kata – kata Juline membuat mereka berempat tak mampu berkata – kata, mereka sangat bersyukur di pertemukan dengan gadis sebaik Juline, mata mereka berkaca – kaca mengingat Juline yang begitu menghargai mereka. Bi Joan sampai menitikan air mata nya tapi buru – buru di usap nya air mata nya.


Ia mengingat bagaimana nona nya dulu sering melempar dengan benda kalau ia terlambat menyiapkan makanan, ia juga terkadang tidak di perbolehkan makan oleh majikan nya.


****


Kereta berhenti di depan sebuah toko bertuliskan Green's Store. Juline beserta keempat pelayan nya turun dan masuk kedalam toko, di dalam toko ia di sambut oleh wanita yang berambut hijau yang mengenal nya.


“Selamat datang Juline, bagaimana kabar mu? aku dengar dari Gene kau sudah pindah ke ibu kota.”


“Iya, apa kak Gene sering datang ke sini?"


“Terakhir kali Gene datang 2 minggu yang lalu itu pun dia tidak lama karena harus mengurus hama pada tanaman warga, kau tinggal di mana Juline?


“Aku tinggal di Blok 5.”


“Ehh, benarkah? Wah, syukurlah."

__ADS_1


“Kak Green bisa berkunjung kapan – kapan.”


“Kau memang gadis baik, apa yang bisa ku bantu?"


“Aku ingin membeli semua bibit yang ada di toko mu.”


“Apa?! Juline apa kau bergurau?”


“Aku serius.”


“Ahh oke baiklah, akan ku antar semua ke mansion mu oke, wahh Juline sangat hebat sekarang.”


“Kak Green, apa kau bisa menjadi pemasok bibit untuk ku, ayah ku dan aku berencana membuat perkebunan.”


“Pasti, aku akan jadi pemasok bibit untukmu, aku akan membantu menyiapkan semua keperluan perkebunan mu.”


“Terima kasih kak Green.”


Juline membayar Green dengan koin yang cukup banyak dan berhasil membuat Green mematung sejenak, Green bisa menebak jika Juline sekarang bahkan lebih kaya dari siapapun yang ada di kerajaan Moon, Green juga sudah tahu jika Juline membeli lahan serta gedung – gedung yang ada di area colors Building.


Juline pun pamit dan kembali ke mansion nya, sementara Green mulai menyiapkan semua bibit untuk di bawa ke mansion Juline.


“Aku butuh banyak pekerja yang berkenan tinggal di perkebunan,” ucap Juline.


“Nona, saya punya dua saudara laki – laki, biarkan mereka membantu nona,”ucap Anna.


“Ahh, betul juga Anna, bagaimana keluarga kalian semua di bawa ke mansion, biarkan mereka bekerja di perkebunan.”ucap Juline.


“Tapi nona, bukankah keluarga kami hanya akan menambah beban untuk nona? Dan lagi saya masih ada dua orang adik dan ibu yang harus saya biayai, kalau kakak laki – laki saya bekerja di sini lalu ibu dan adik – adik saya siapa yang menjaga mereka nona,”ucap Martha sembari tertunduk.


“Bawa saja mereka semua, bawa keluarga kalian semua ke mansion, tidak ada beban bagi saya. Bawalah, besok aku akan ke desa Hoa menjemput anak paman John, setelah pulang dari sana aku harus melihat keluarga kalian,”ucap Juline sembari menatap para pelayan nya.


“Nona, apa yang harus kami lakukan untuk membalas kebaikan nona yang tak terhingga, kami hanya rakyat jelata yang begitu beruntung, Izinkan kami berada di sisimu selama nya nona,”ucap Bi Joan di sertai butir – butir air mata yang mulai memenuhi mata nya.


Keempat pelayan nya menangis, mereka masih tidak percaya mendapat keberuntungan dalam hidup mengerikan mereka. Juline meminta mereka berhenti menangis.


“Berjanjilah menjadi orang yang kuat bagi keluarga kalian, aku tahu betul bagaimana penderitaan kalian, terkadang takdir suka sekali mempermainkan hidup seseorang tapi percayalah takdir juga sudah menyiapkan sesuatu di akhir permainan sebagai hadiah bagi seseorang yang berhasil bertahan.”


Mereka berempat tersenyum menatap hadiah terindah yang takdir berikan. Bagi mereka Juline adalah hadiah terindah itu, hadiah yang tidak semua orang beruntung mendapatkan nya.


Ayah, ibu bukankah aku sudah menjadi lebih baik? Aku ingin terus seperti ini, aku ingin melindungi orang – orang yang menyayangi ku dan membutuhkan ku, tapi ayah, ibu aku masih ingin membunuh, aku harus membunuh demi melindungi mereka semua, bersabarlah sedikit lagi, akan ku pastikan mereka semua baik – baik saja dan kembali pada kalian.


Semoga para readers tetap sudi membaca tulisan ini. Terima kasih pada readers yang budiman. Author berharap semoga tulisan ini tidak membuat readers bingung dan merasa kurang nyaman karena typo yang berserakan.

__ADS_1


Happy Reading❣️❣️❣️❣️❣️❣️


__ADS_2