Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 83: Kau tidak pantas menjadi seorang ibu


__ADS_3

Malam semakin larut, bulan bersembunyi di balik awan. Di nirwana, para dewa tengah mengadakan rapat besar, raut wajah yang sulit di artikan nampak di wajah dewa Q, dewa Cahaya dan dewa kegelapan, hasil rapat yang sepertinya tidak sesuai dengan keinginan mereka.


Ketiga dewa tersebut meninggalkan ruang rapat dan membuat semua dewa menatap mereka bertiga dengan tatapan yang lebih sulit untuk di artikan.


“Ketua, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Dewa kegelapan tanpa menatap dewa Q.


“Apa kita harus mengikuti putusan itu, bagaimana dengan gadis itu? bukan kah hal ini akan membuat penderitaan nya lebih mengerikan,”ucap Dewa cahaya.


Tanpa menjawab, Dewa Q melangkah meninggalkan dewa kegelapan dan dewa cahaya yang menatap nya seakan meminta jawaban.


“Dark, apa benar kita ini seorang dewa?” tanya dewa Cahaya sembari menatap dewa kegelapan yang juga menatap nya.


*****


Dewa Q melangkah masuk di sebuah ruangan putih bersih, nampak seorang wanita tengah terbaring dengan mata terpejam, dewa Q mendekat dan duduk di tepi tempat tidur wanita itu. Dewa Q menatap wanita itu dengan tatapan datar.


“Averina, sampai kapan kau akan memejamkan mata mu? karena mu putrimu harus menanggung kekejaman dunia nya seorang diri, tak ada yang berpihak pada nya bahkan ayah sangat membenci putrimu, kau harusnya bangun dan menyelamatkan nya, atau kau seharusnya tidak melahirkan nya, kau membuat nya menderita karena terlahir dari wanita lemah sepertimu, kau tidak seharusnya menjadi seorang ibu,”ucap Dewa Q dengan air mata yang mengalir di pipi nya.


Seorang pria yang sedari tadi mendengar ucapan Dewa Q melangkah dan menepuk pundak Dewa Q.


“Kau seharusnya tidak menyalahkan adik kita, apa kau sedang membela iblis itu?” ucap Dewa Ivis.


“Lepaskan tangan kotormu dari pundak ku,”ucap Dewa Q yang langsung menghempaskan tangan Dewa Ivis.


Dewa Ivis adalah kakak dewa Q yang juga sangat membenci Juline sama hal nya dengan ayah mereka. Dewa Ivis yang selalu menghukum para iblis dengan hukuman yang mengerikan, itu sebab nya ia sangat membenci Juline dan melupakan fakta bahwa Juline adalah putri dari saudarinya, Dewi Averina. Menurut Dewa Ivis, iblis seharusnya tidak ada di dunia, mereka hanya akan membuat kerusakan di dunia.


Hubungan Dewa Ivis dan Dewa Q pun sangat buruk. Mereka berdua mempunyai sifat yang sangat berbeda. Dewa Ivis di kenal sebagai dewa yang angkuh, ia tidak menyukai bila iblis di samakan dengan para dewa apalagi bersanding dengan mereka.


Berbeda dengan Dewa Ivis, dewa Q sangat menghargai semua mahluk, ia sangat membenci ayah dan kakaknya yang melupakan kodrat mereka sebagai seorang dewa. Seorang dewa yang seharusnya tidak membenci kaum lain nya hanya karena merasa Dewa lebih tinggi di atas segalanya.


****


Di camp militer kerajaan Demon, nampak Roman dan Dryas tengah melatih teknik pedang mereka. Para jenderal dibuat kagum dengan keahlian Roman dan Dryas, para prajurit bahkan menghentikan latihan mereka dan ikut menyaksikan latihan Roman dan Dryas yang terlihat lebih serius.


“Sepertinya calon pendamping putri Esther bukan pria biasa, ia memilki keahlian yang cukup mengesankan,”ucap Jenderal Jain.


“Ketua, bagaimana jika mereka melatih para prajurit?” tanya Jenderal Ino.

__ADS_1


“Kau benar juga Ino, baiklah aku akan meminta pada mereka berdua,”jawab Jenderal Izuz.


Roman dan Dryas menghentikan latihan nya. Jenderal Izuz dan Jenderal Ino menghampiri Roman dan dryas.


“Roman, Dryas, sepertinya kalian sangat hebat dalam berpedang,”ucap Jenderal Izuz.


“Terima kasih ketua, tapi kami masih belum sehebat itu,”ucap Roman dengan senyum tipis.


“Benar ketua, bahkan adik kami lebih hebat dalam berpedang,”tambah Dryas.


“Adik kalian? Damien?” tanya Ino.


“Bukan Jenderal, adik perempuan kami, Juline,”jawab Roman.


“Benarkah? Kalau kalian saja sangat hebat seperti ini, bagaimana dengan adik kalian, tapi aku penasaran bagaimana adik kalian sangat hebat seperti itu?” tanya Jenderal Izuz yang masih tidak percaya mendengar cerita tentang Juline.


Pangeran Laureun datang bersama pangeran Devera dan Damien. Para jenderal, prajurit, Roman dan Dryas memberi hormat pada Pangeran Laureun dan Pangeran Devera.


“Dryas, sedang apa kau disini? Pernikahan kalian sebentar lagi ayah tidak mengizinkan mu latihan sementara waktu,”ucap pangeran Laureun.


Pangeran Laureun dan Pangeran Devera pun pergi bersama Dryas sedangkan Damien dan Roman terus berlatih. Wajah Damien nampak berbeda, seakan ia tengah menahan sesuatu, tiba – tiba saja Roman terkejut ketika menoleh dan melihat Damien yang tengah mengayunkan pedang nya dengan air mata yang mulai mengalir di pipi nya.


Roman menghentikan latihan nya dan menghentikan Damien mengayunkan pedang nya, beberapa prajurit nampak bingung melihat Damien tiba – tiba menjatuhkan air mata nya, Jenderal Izuz dan Ino hanya menatap dari kejauhan meskipun penasaran dengan apa yang terjadi pada Damien.


“Damien, kau kenapa adik ku?” tanya Roman sembari mengusap air mata adik nya.


“Kak, aku mencemaskan Juline, apa dia baik – baik saja? aku merasa lemah kak, kenapa semua ini harus menimpa keluarga kita,”ucap Damien.


Putri Ailene, Genny dan Melanie yang melihat Damien dari kejauhan ikut bersedih, mereka yang begitu mencemaskan Juline tak kuasa menahan kesedihan mereka, ayah Juline yang hanya terbaring tanpa mengucapkan satu kata pun membuat mereka semua semakin terluka.


Roman mengajak Damien untuk beristirahat karena malam sudah mulai larut, begitupun putri Ailene yang mengajak Genny dan Melanie untuk beristirahat.


“Ketua, ayo kita rapat,”ajak jenderal Ino


“Hmm."


“Ada apa ketua?”

__ADS_1


“Tidak, aku hanya penasaran dengan gadis yang bernama Juline itu dan juga kenapa Damien tiba – tiba menangis?”


“Ketua, saya juga tidak tahu,”


“Kau memang tidak tahu apa – apa,”


Jenderal Ino hanya menghela napas sembari mengikuti jenderal Izuz menuju tempat rapat para jenderal. Malam semakin larut, di tempat lain nampak ratusan prajurit berdiri di hadapan Juline, raja Samuel, Rain, Diamond ana, Carol dan Caster.


Carol yang berulang kali menyerang pelindung para prajurit di buat terlempar hingga menabrak runtuhan tembok. Caster hanya menghela napas dan mengulurkan kabut hitam berbentuk tali menarik Carol yang sudah terlihat berantakan.


“Dasar lemah,”ledek Caster.


“Diam kau, aku pasti bisa menghancurkan perisai itu,”ucap Carol.


“Perisai itu bukan sembarang perisai, tidak akan mudah untuk di hancurkan, kau hanya akan terluka,”ucap Diamond ana.


“Kakak jangan lupa aku adalah seorang iblis dengan kekuatan yang sangat hebat,”ucap Carol.


“Mau ku tunjukkan cara menghancurkan perisai itu?” tanya Juline.


Carol dan Caster hanya saling tukar pandang. Juline sekali meniup pelan ke arah para prajurit yang dilindungi perisai, tiba – tiba sebuah angin besar menghantam perisai itu, Juline terpental tapi berhasil di tahan oleh Rain, dan perisai para jenderal dan para prajurit hancur seketika. Carol nampak bertepuk tangan sembari tertawa.


“Wah hebat sekali bibi,”puji Carol sembari tersenyum lebar.


"Eh, Bibi? Ahh aku?" ucap Juline sembari menghela napas.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya adikku?


" Memusnahkan pria - pria menjijikkan itu," ucap Juline sembari berjalan mendekat ke arah prajurit.


Sementara para jenderal dan para prajurit panik karena perisai mereka yang dikenal sangat kuat bisa hancur begitu saja. Jenderal Fashiho menatap tajam ke arah Juline yang kini berdiri tidak jauh dari nya.


“Siapa kau dan apa yang kau lakukan pada kerajaan ini?” teriak Jenderal Fashiho.


Juline tak menjawab pertanyaan Jenderal Fashiho, mata nya tertuju pada dua orang disisi kiri jenderal Fashiho yakni Jenderal Min dan Zin. Jenderal Fashiho yang melihat itu ikut menatap kedua adik nya.


Wajah Jenderal Min dan Zin tampak pucat, peluh bercucuran membasahi di wajah kedua jenderal tersebut dan membuat yang Jenderal Fashiho keheranan karena malam itu sangat dingin, untuk pertama kali nya ia merasakan dingin yang sepertinya mulai menusuk – nusuk tulang nya.

__ADS_1


__ADS_2