
Alec, Aniel, Shimon dan Petra tiba - tiba menghentikan langkah nya di depan sebuah kedai. Mereka merasakan aura yang tidak asing. Mereka pun berjalan memasuki kedai itu.Tampak keramaian di dalam kedai tersebut. Para pria yang di teman oleh beberapa wanita yang memakai pakaian minim sembari menuangi minuman ke gelas pria - pria itu. Mereka berempat yang tidak tahu perihal tempat itu pun bertanya pada salah satu pelanggan.
"Permisi tuan kalau boleh tahu tempat apa ini?" tanya Alec sembari menatap pria yang tengah memangku seorang wanita. Pria itu memandang Alec dari atas sampai bawah.
"Kau masuk kemari tanpa tahu tempat apa ini? sini biar ku jelaskan tempat ini tempat para wanita cantik tinggal dan bekerja," jelas pria itu sambil sesekali meneguk minuman nya.
"Aku kurang mengerti apa yang diucapkan pria itu sebaiknya kita pergi dari sini tidak mungkin Juline dan Melanie ada disini," ucap Alec yang langsung keluar diikuti mereka bertiga. Mereka kembali meneruskan perjalanan sembari merasakan aura Juline.
..
Sementara itu Juline yang sudah menghadiri pernikahan kakak nya memilih keluar dari aula dan berjalan menelusuri Lorong - lorong istana. Ia bisa merasakan aura - aura yang tidak menyukai kehadiran nya. Tiba - tiba telinga Juline berdengung. Sekilas ia melihat seorang pria bermata merah hitam bergerak menghampiri nya. Pria itu membisikkan sesuatu ke telinga Juline yang membuat telinga Juline berdarah. Juline tak sanggup menahan diri nya akhirnya tersungkur.
Darah masih terus mengalir di telinga nya. Berbagai macam suara mengisi gendang telinga nya.
"Aku akan bangkit.. dan kau akan mati."
"Larilah... jangan korbankan dirimu."
"jadilah kuat."
"Kau harus mati"
Suara itu terus menggema secara bergantian. Juline menutup erat telinga nya tapi suara itu masih menggema. Seseorang datang dan langsung memeluk Juline. Suara itu berhenti. Napas Juline terengah - engah.
"Adik ku apa kau baik - baik saja? telinga mu berdarah,"ucap raja Samuel yang panik melihat telinga adiknya berdarah. Raja Samuel menyodorkan sapu tangan berwarna pink.
"Aku tidak apa - apa," ucap Juline sembari membersihkan darah dengan sapu tangan yang diberikan Raja Samuel. Juline bangkit dan mengucapkan terimakasih pada kakak nya.
"Kau mau kemana?"
"Aku mau jalan - jalan ke kota, suasana di sini sedikit kurang mengenakkan."
"Baiklah, kakak akan menemani mu."
__ADS_1
Juline dan Samuel pun berjalan meninggalkan lorong istana. Mereka terus berjalan hingga keluar dari istana. Suasana ibu kota kerajaan nampak ramai di siang itu. Hiruk pikuk yang setiap hari di ibukota selalu sama. Orang - orang dari Kerajaan lain pun banyak yang datang berkunjung. Kerjasama antar iblis dan manusia pun selalu terlihat baik walau terkadang di antara mereka masih yang sering berseteru perihal mahluk mana yang lebih baik.
Banyak orang - orang yang menghentikan aktivitas mereka karena ingin Melihat Juline dan Raja Samuel. Para iblis yang bisa merasakan aura tidak biasa dari mereka berdua berjalan menjauh atau hanya menunduk ketika berpapasan.
"Apa kau sering menghabiskan waktu berkeliling?"
"Terkadang, keramaian di ibu kota bisa sedikit mengobati kejenuhan ku."
Sudah berapa lama aku disini? perjalanan yang ku pikir takkan sepanjang ini berubah menjadi perjalanan tanpa ujung, Ahh aku mulai kehilangan perasaan - perasaan itu, aku takut berubah menjadi mahluk tak berperasaan. Siapa aku? bagaimana bisa aku menjadi seperti ini? aku tak tahu bagaimana harus bahagia dan sedih, semua nya terasa membosankan, ku mohon siapa pun kau di sana sisakan sedikit sisi kemanusiaan ku untuk orang - orang yang ingin ku lindungi.
Juline berhenti di depan kedai yang menjual barang - barang antik. Juline tertarik pada sebuah kalung permata hitam. Ia pun memutuskan membeli beberapa permata hitam.
"Paman aku mau beli permata hitam itu,"
"Boleh nona tapi permata itu sangat mahal," ucap pedagang itu. Tiba - tiba seorang wanita datang dan menyenggol Juline hingga hampir jatuh. Juline menatap wanita itu dengan seksama. Ia bingung padahal ia baru saja memohon agaria ia tak berubah menjadi mahluk tak berperasaan tapi entah mengapa ada saja orang bodoh yang memancing sisi keiblisan Juline.
" Paman, aku mau kalung pertama hitam itu, aku akan bayar berapa pun,"ucap wanita itu dengan angkuh nya sembari melihat rendah Juline.
"Apa yang dilakukan gadis aneh ini? apa kau sedang mencoba menantang ku? gadis rendahkan seperti mu?! ucap wanita itu sembari melihat Juline dari atas sampai bawah. Ia tidak Terima jika ada wanita yang berniat mengalahkan kekayaannya. Wanita berjalan mendekati Juline.
"Pulanglah ke gubuk mu gadis kecil, kau hanya akan mempermalukan dirimu di sini."
Raja Samuel hanya diam mengamati perseteruan Juline dan wanita itu. Bukan nya tidak niat membantu Juline, ia hanya penasaran apa yang akan di lakukan adik nya. Juline hanya menatap datar ke arah wanita itu.
Apa yang harus aku lakukan pada wanita s*alan ini, dia menghina ku sesempurna itu, Ahhh apa aku harus mencekik lehernya dengan kalung - kalung ini.
Wanita itu nampak sangat geram karena Juline tidak bergerak pergi atau pun mengatakan apapun. Wanita itu menoleh ke arah Raja Samuel, dia nampak tersepona dengan ketampanan Raja Samuel. Wanita itu perlahan - lahan melupakan kalung yang ia inginkan dan berjalan mendekati Raja Samuel.
"Hai.. aku baru pertama kali melihat mu dikota ini, apa kau pendatang di kota ini?" tanya wanita itu dengan senyuman manis.
Juline bergerak menarik lengan Raja Samuel. Melihat hal itu, wanita tersebut murka dan menarik Raja Samuel kembali. Raja Samuel hanya diam dan pasrah saat diri nya ditarik kesana kemari.
"Lepaskan tangan kotor mu dari suami ku," ucap Juline yang membuat Raja Samuel batuk - batuk karena terkejut.
__ADS_1
"Apa? suami? gadis buruk rupa seperti mu, kau pasti bergurau, kau pasti hanya g*ndik kan?"ucap wanita itu. Perseteruan mereka mengundang perhatian orang - orang yang berada di sekitar mereka. Satu persatu orang datang menyaksikan perseteruan Juline dan wanita itu. Di antara mereka ada yang mulai berbisik - bisik.
"Bukankah dia Latina anak perdana menteri."
"Gadis itu selalu membuat masalah dengan gadis - gadis lain."
"Dia memiliki sifat yang buruk."
"Lalu siapa gadis bodoh yang menantang Nona Latina?!
" Pria itu pasti luluh di hadapan Nona Latina."
Juline yang merasakan terganggu dengan bisikan orang - orang pun berteriak.
"DIAM!!!
Suasana yang tadinya ramai tiba - tiba hening. Juline merasa semakin kesal karena telinga nya kembali berdengung. Tiba - tiba Raja Samuel memapah Juline hingga Membuat semua orang terkejut terutama wanita itu.
" Maaf Nona istri saya sedang sakit,"ucap Raja Samuel. Namun hal itu tak membuat wanita itu menyerah dan tetap menginginkan Raja Samuel.
"Tuan, tinggalkan saja istri anda yang sakit - sakitan ini, anda pasti lelah bukan mengurusi nya, aku bisa melayani anda lebih baik," ucap wanita tak tahu malu itu. Ia mendekati Raja Samuel dan menempelkan dirinya ke Raja Samuel.
Juline yang melihat itu semakin tak bisa mengendalikan diri nya. Ia turun dari kakak nya. Ia lalu menghampiri penjual permata. Juline mengeluarkan sekantong koin emas yang tak terhitung jumlahnya. Orang - orang yang melihat koin sebanyak itu hanya bisa menelan ludah mereka. Juline pun mengambil semua permata itu lalu memasukkan nya ke dalam gelang nya.
Ia berbalik, menatap wanita itu dengan seringai nya. Tiba - tiba saja wanita itu melayang. Raja Samuel sekali lagi hanya berdiri menonton. Wanita itu berteriak minta diturunkan. Gaun yang dipakai wanita itu terangkat dan memperlihatkan dalaman wanita itu. Pria - pria yang berada di bawah gadis itu tak bisa berkedip melihat pemandangan langkah.
Wanita menjerit - jerit minta diturunkan. Wajah nya memerah karena kini smua pria berebut untuk melihat dalaman nya.
"Turunkan aku gadis S*alan," jerit wanita itu. Juline pun menurunkan wanita itu dengan kasar membentur tanah. Pria - pria dengan wajah kecewa pergi meninggalkan wanita itu yang kini telihat basah dengan air mata.
"Akan ku laporkan pada ayah ku, kau dan keluarga mu akan menanggung akibat nya," ucap wanita itu yang langsung beranjak dan meninggalkan Juline yang masih menatap nya.
__ADS_1