Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 43: Cawan Nolie


__ADS_3

Ing Daniel yang diikuti Juline, Damien dan Roman masuk ke ruang rapat panatua yang berada di menara 100. Setiba nya di depan pintu ruang rapat Ing Daniel meminta Juline masuk sendiri sedangkan Damien dan Roman diminta untuk langsung mengajar. Juline membuka pintu perlahan, terlihat beberapa pria paruh baya bermata biru menatap ke arah Juline.


Juline sedikit membungkuk kan tubuh nya memberi hormat, terlihat beberapa pasang mata menatap nya tajam, salah seorang panatua meminta nya duduk di kursi yang telah di siapkan.


“Ahh, jadi ini gadis yang di maksud Noel, gadis yang kata nya hebat, kenapa kau bisa sehebat itu tanpa aliran sihir, bukankah itu hal yang mustahil,”ucap Diz Jacob penuh selidik.


“Jacob, pertanyaan mu terlalu berlebihan, ia kesini bukan mau menjawab pertanyaan mu,”sela Diz Carol.


“Nama kamu siapa?” tanya Diz Tiuz.


“Nama saya Juline Ascar.”


“Baiklah Juline, perkenalkan kami adalah panatua di Wizard academy, nama saya Diz Tiuz, kami meminta mu ke sini guna menguji kemampuan mu untuk bisa menempat kan mu dikelas yang sesuai dengan mu tapi menurut penjelasan Ing Noel ia tidak bisa merasakan aliran sihir mu dan memang ada kala nya aliran seseorang tidak bisa di rasakan oleh orang lain,”jelas Diz Tiuz.


“Aku pernah mendengar nya ketua tapi setahu saya belum ada satu pun penyihir yang tidak bisa di rasakan aliran sihir nya,”ucap Diz Caster.


“Itu hal yang mustahil, mana mungkin aliran sihir tak bisa dirasakan, lalu bagaimana memastikan jika ia adalah seorang penyihir?” tanya Diz Jacob.


Diz Tiuz meminta seorang pengawal membawa sebuah cawan yang berisi air jernih disertai kepulan asap, Diz Tiuz meminta Juline untuk menusuk ujung jari nya dan meneteskan darah nya di cawan yang berisi air itu.


Juline pun maju dan menusuk jarinya dengan ujung jarum dan meneteskan darah ke dalam cawan, seketika cawan itu mengeluarkan cahaya ungu, putih, merah dan biru. Hal itu sontak membuat Diz Tiuz dan panatua lain nya terkejut.


“Ketua, bukan kah itu cawan Nolie?” tanya Diz Vatha yang terkejut melihat cawan yang hanya ada satu di dunia itu.


“Iya kau benar, ini adalah cawan Nolie dan kalian bisa lihat cawan itu mengeluarkan empat warna sekaligus, ungu untuk angin, putih untuk cahaya, merah untuk api dan biru untuk air, jadi sudah jelaskan Juline adalah seorang murid jenius, sangat jenius saking jenius nya kalian tak bisa merasakan aliran sihir nya,”jelas Diz Tiuz


Semua panatua menatap Juline yang sedang menatap datar ke arah cawan itu, mereka tidak percaya jika mitos yang sering mereka dengar tentang seorang penyihir hebat yang aliran sihir nya tidak dapat di rasakan oleh siapapun.


Meskipun tahu akan hal itu Diz Vatha dan Diz Jacob tetap tidak menyukai keberadaan Juline di academy namun karena keputusan ketua panatua mereka akhir nya menyetujui Juline di terima di academy.


“Selamat datang di Wizard academy Juline, kau akan di tempatkan di kelas C5 atau di kelas jenius, kami berharap kau bisa belajar melatih element sihir mu karena saya dan panatua lain nya tidak tahu tingkatan sihir mu saat ini karena cawan ini tidak bisa memperlihatkan tingkatan mu,”jelas Diz Tiuz.


“Apa kau berasal dari keluarga bangsawan?” tanya Diz Vatha.


“Tidak panatua, saya hanya rakyat biasa dan ayah saya hanya seorang tukang kebun,”jawab Julie.


“Kau tidak perlu mempertanyakan Diz Vatha, Zua, tolong antarkan Juline ke asrama nya di kastil rakyat biasa,”pinta Diz Carol pada salah satu pengawal nya.


“Baik panatua.”


“Terima kasih panatua, saya permisi dulu.”


Juline pun keluar dan di antar Zua menuju asrama nya di kastil rakyat biasa. Sementara Ing Daniel kini telah berada di ruang khusus para Ing dan mengabarkan tentang kedatangan Juline di academy.


“Jadi gadis itu berani juga masuk di academy sihir ini,”ucap Ing Carina.


“Jaga ucapan mu Carina, dia bukan gadis tanpa aliran sihir seperti yang kau pikir,”jelas Ing Daniel.


“Apa maksudmu?” tanya Ing Chloe.


“Dia memiliki aliran sihir yang tidak dapat di rasakan oleh siapapun bahkan para panatua harus menggunakan cawan Nolie untuk mengetahui element gadis itu.”


“Benarkah? Lalu siapa yang menyebar rumor tentang gadis itu, bisa – bisa nya aku tertipu bagaimana kalau Ing Noel mendengar hal ini,”ucap Ing Carina.

__ADS_1


“Kalian tahu sendiri apa yang akan dilakukan pria dingin itu.”


Ucapan Ing Daniel membuat Ing Chloe and Ing Carina merinding, mereka berdua tahu betul bagaimana perangai manusia seperti Ing Noel. Ing Daniel mengedarkan pandangan di seluruh ruangan.


“Kemana Ing yang lain?”


“Mereka semua sedang rapat bersama master senior, kau lupa beberapa hari lagi ada kunjungan dari kerajaan Demon,”ucap Ing Carina.


“Aku lupa, baiklah aku akan ke sana,”ucap Ing Daniel yang langsung keluar dari ruangan.


Sementara itu Juline sudah sampai di kamar yang akan ia tempati, Zua menjelaskan bahwa Juline akan menempati kamar yang di tempati oleh tiga orang termaksud dirinya.


“Ini adalah kamar mu dan itu adalah tempat tidur serta lemari dan juga meja belajar, dua orang yang menempati ruangan yang sama dengan mu saat ini sedang mengikuti kelas, kau bisa berkenalan nanti, apa kau tidak membawa barang satupun?”


“Baiklah, terima kasih. Aku membawa nya”


“Sama – sama. Ehh, baiklah,”ucap Zua yang bingung karena tak melihat barang bawaan Juline.


Juline pun masuk dan duduk di tepi kasur nya, ia mengedarkan pandangan di seluruh ruangan, ia bisa melihat buku – buku tersusun rapi disetiap meja, lampu – lampu yang menghiasi dinding kamar disertai lukisan yang tergantung di beberapa bagian dinding.


Juline mengeluarkan barang bawaaan nya dari gelang heaven dan menaruhnya dilemari, ia kemudian duduk dan memandangi seragam yang tergantung di samping lemari nya, Juline beranjak dan menyentuh seragam itu dan memandangi lebih dekat, bersamaan dengan itu nampak dua gadis berambut hitam pendek masuk dan menatap nya.


“Kau siapa?” tanya Neyra.


“Aku Juline, murid baru,”


“Ahh, jadi kau Juline, ini buku untukmu, tadi Ing Carmel menitipkan nya untuk mu,”ucap Moira sembari menyerahkan beberapa paket buku.”


“Oh iya perkenalkan aku Moira dan ini Neyra, kami adalah teman kamar mu sekaligus senior mu,”


“Aku Juline.”


“Sebaiknya kau tidak membuat kamar ini jadi berantakan, aku benci kamar yang kotor,”ucap Neyra yang langsung berjalan menuju kamar mandi.


“Neyra terkadang seperti itu tapi dia orang nya baik,”ucap Moira.


Moira pun menaruh tas dan buku nya bawaan kemudian mengganti pakaian nya, setelah itu ia merebahkan tubuh nya di kasur nya, nampak kelelahan di wajah nya, Moira bangkit dan menatap Juline yang sedang menaruh kembali seragam nya.


“Juline, pekerjaan ayah mu apa?” tanya Moira.


“Ayah ku tukang kebun.”


“Ahh benarkah? Ayah ku juga, aku pikir hanya ayah ku yang bekerja sebagai tukang kebun.”


“Memang nya kenapa?”


“Kau mungkin belum tahu keadaan academy ini bagi kita rakyat biasa, kau harus menguatkan hati dan telinga mu karena seringkali kita akan di jadikan bahan candaan bagi anak – anak bangsawan itu, candaan bagi mereka tapi cacian yang menyakitkan bagi kita.”


“Kenapa kau harus peduli?”


“Kau benar Juline, kenapa juga yah aku harus peduli pada ucapan mereka tapi terkadang aku takut, seperti nya kita akan jadi teman yang dekat Juline,”ucap Moira di selingi tawanya.


Neyra keluar dari kamar mandi dan langsung mengganti pakaian nya, ia bahkan tak menyapa Juline seperti Moira, Moira menatap Neyra.

__ADS_1


“Neyra, kau seharusnya menyapa Juline, kau membuat nya takut,”ucap Moira.


“Apa itu penting?”


“Kau selalu saja seperti itu, Juline, ayo ku ajak kau keliling – keliling kastil,”ajak Moira.


“Baiklah.”


Moira pun menggandeng tangan Juline dan mengajak Juline keliling sembari menjelaskan setiap ruangan dan kastil yang mereka lewati, beberapa murid mulai memperhatikan Juline. Moira dan Juline sampai dibagian belakang kastil, Moira menunjuk ke arah sebuah jalan setapak yang di tutup dengan pagar besi.


“Kau lihat jalan setapak itu?”


“Hmm.”


“Itu adalah jalan menuju hutan kematian, hutan yang kata nya tempat penguasa kegelapan di segel, apa kau percaya?”


“Aku tidak tahu.”


Tiba –tiba mata kanan Juline terasa perih, ia memegang mata kanan nya, Juline merasakan mata kanan nya terasa di bakar, Moira yang melihat Juline memegang mata nya kanan nya mendekat.


“Juline, kau kenapa? Apa matamu sakit?”


“Iya, seperti nya debu memenuhi matak- Akkkhhh.”


“Juline, kau baik – baik saja, aku akan mengantarmu ke ruang perawatan.”


“Tidak apa – apa, ayo kita kembali ke kamar,”ajak Juline yang berusaha menahan sakit di matanya.


Saat sampai di kamar, Juline buru – buru masuk ke kamar mandi, hal itu membuat Moira and Neyra bingung terutama Moira yang sedikit cemas karena mata Juline tiba – tiba sakit.


“Apa Juline baik – baik saja?”


“Anak itu kenapa?”


“Tadi mata Juline tiba – tiba sakit,”


“Kau terlalu jauh membawa nya keliling, debu bisa saja dengan cepat memenuhi matanya,”


“Itu tidak mungkin."


Sementara Juline di kamar mandi, ia duduk di pojok kamar mandi sembari menggigit ujung baju nya menahan rasa sakit di mata nya, ia merasa biji mata kanan nya seperti akan keluar, tubuh nya di penuhi peluh.


Aku harus kuat, aku harus kuat demi kedua orang tuaku, aku tidak ingin menyerah sekarang.


Air mata mulai mengalir dari kedua mata nya dan perlahan sakit di mata nya mulai mereda, Juline menghela napas, ia mengusap peluh di wajah nya, Juline pun beranjak dan menatap wajah nya di cermin kamar mandi nya dan betapa terkejut nya melihat mata hitam nya yang kini memenuhi mata nya, ia meraba mata nya.


Kenapa? Kenapa mata ku menjadi hitam seperti ini, mataku membuat ku terlihat seperti iblis, bagaimana cara nya aku menutupi mata ini dari orang – orang di sini, apa yang harus kulakukan.


Juline masih menatap mata kanan nya di cermin, ia berpikir keras bagaimana cara nya ia menyembunyikan mata kanan nya, Juline pun mengambil gunting dan merobek ujung baju nya lalu menutup mata kanan nya, ia membuat ikatan yang cukup panjang.


“Seperti nya ini cukup untuk saat ini.”


Happy Reading 🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2