Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 88: Penyesalan Juline


__ADS_3

Saat mereka tengah bingung, dari ambang pintu Genny dan Melanie masuk dan nampak terkejut saat melihat Juline.


Mereka berlari memeluk Juline dengan air mata yang mulai mengalir. Bagai mimpi mereka tak mampu menahan diri. Juline memeluk kedua sahabat nya.


“Aku pikir kau akan meninggalkan kami juga, aku tidak tahu harus bagaimana Juline, saat kau pergi kami semua kehilangan arah, kau jahat Juline,”ucap Genny.


“Maafkan aku,”ucap Juline.


“Apa kami ini beban untuk mu?” tanya Melanie.


“Kalian adalah keluarga ku, aku tidak pernah berpikir seperti itu,”ucap Juline.


“Melanie, ayah di mana? Kenapa aku tak melihat nya? Apa dia sedang sedang bersama Raja William?” tanya Juline.


“Juline, saat kau pergi paman semakin terpukul atas kepergian Mayra, dia belum sepenuh nya bisa menerima kematian Mayra,”jelas Genny.


“Lalu? Ayah dimana?” tanya Juline.


“Juline, paman sudah meninggalkan kita semua,”ucap Melanie.


Juline nampak terpaku. Mencoba mencerna ucapan Melanie. Ia berusaha meyakinkan dirinya jika yang ia dengar itu salah. Juline kemudian menatap ketiga kakak nya. Raut wajah mereka nampak menunjukan jika ucapan Melanie benar ada nya.


Juline merasakan pipinya basah. Kilas balik awal kedatangan nya nampak terbayang. Wajah yang dilihat nya pertama kali. Seseorang yang membuat nya hidup sekali lagi. Kini ia telah tiada. Seseorang yang harus nya tetap hidup jika saja ia tak membawa nya bersama nya. Dada Juline terasa sesak.


Penyesalan mulai menyerang nya. Ia bisa merasakan air mata nya semakin deras, tanpa suara, tanpa ekspresi namun begitu menyakiti hati nya. Roman, Damien dan Dryas kembali memeluk adik mereka. Juline masih terpaku. Tak ada suara namun air mata nya semakin deras.


“Juline,”panggil Roman sembari menggoyangkan tubuh Juline.


“Ayah, ayah- ini salah ku,”ucap Juline.


“Juline, ini bukan salah mu,”ucap Dryas.

__ADS_1


“Jika saja aku tak membawa ayah pindah, ayah akan baik – baik saja, jika saja ayah tidak mengikuti ku, mungkin ayah masih ada, mungkin ayah tidak akan meninggalkan kalian semua, meninggalkan ku, kak, kita tidak punya orang tua lagi. Aku lupa kita punya ibu bukan. Tidak, dia tidak cukup pantas di panggil ibu, maafkan aku kak,”ucap Juline terisak.


Mereka semua tak ada dapat mengucapkan apa - apa, hanya air mata yang terus mengalir. Melihat adik dan sahabat mereka menanggung luka yang bukan main menghancurkan hati nya. Menangis tanpa suara karena menahan sesak nya.


****


Sementara itu, Alec dan Aniel nampak bersiap dengan beberapa pakaian mereka. Setelah mendapat kabar adik mereka, mereka memutuskan pergi ke kerajaan Demon untuk menjemput ayah dan adik mereka.


Saat mereka bersiap dengan kereta kuda mereka, dua orang anak laki – laki nampak berdiri di depan kereta mereka.


“Petra, Shimon, kalian sedang apa di sini?” tanya Alec.


“Master, izinkan kami ikut, aku ingin bertemu Juline, aku merasa jika Juline saat ini bersama Melanie, aku mohon master,”ucap Shimon.


“Kami mohon master, aku tidak bisa membiarkan Shimon pergi sendiri, izinkan aku ikut juga,”ucap Petra.


“Petra, kau adalah seorang pangeran, bagaimana jika kepergian mu bersama kami justru akan memperburuk keadaan adik – adik ku,”ucap Aniel.


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Alec dan Aniel mengizinkan Petra dan Shimon ikut mereka ke kerajaan Demon. Berangkatlah mereka pagi itu ke kerajaan Demon.


Selama perjalanan, mereka berempat hanya diam tanpa mengucapkan kata apapun. Sampai akhir nya Shimon menatap Alec.


“Master, hmm kak Alec, apa menurut kakak adik ku baik – baik saja? Beberapa hari yang lalu aku mendengar dia masih hidup, walaupun aku ragu akan kebenaran itu,”ucap Shimon.


“Shimon, aku percaya dia baik – baik saja selama dia bersama Juline. Kamu mungkin tidak terlalu mengenal nya, tapi dia adikku yang berarti juga saudara mu dan Melanie walaupun tidak sedarah. Melanie sangat dekat dengan Juline, ia menyadari jika Juline memiliki kedudukan yang sama dengan mu yakni saudara. Aku juga yakin bagi Melanie, Juline adalah saudara yang sangat ia cintai. Melanie tahu jika Juline akan melakukan apapun demi orang – orang yang Ia sayang sekalipun harus mengorbankan dirinya sendiri,”jelas Alec.


“Aku sama sekali tidak menyadari hal itu, aku terlalu memikirkan diriku sendiri terutama sejak ayah menikah lagi, aku tak ingin tahu apapun lagi tentang Melanie dan ayah,”jelas Shimon.


“Maafkan saya master dan Shimon, saya tidak mengerti apa yang terjadi pada kerajaan dan Juline, saya juga bingung kenapa kerajaan justru memusuhi Juline yang sudah menyelamatkan kerajaan,”jelas Petra.


“Aku juga tidak mengerti, yang pasti kita harus menyelamatkan Juline dari orang – orang yang ingin menghancurkan Juline,”ucap Aniel.

__ADS_1


Sementara itu di kerajaan Stanzaz, raja Astof dan para perdana menteri serta para master sihir merasa menang. Mereka berpikir telah membuat Juline tak berdaya dengan anti demon mereka.


Raja Astof meminta pertolongan Frost namun ditolak oleh Shion Ing Frost. Hal ini membuat para perdana menteri bingung.


Raja Astof menyadari satu hal. Ia tahu mengapa Frost tidak ingin ikut dalam permasalahan kerajaan Stanzaz dan Juline. Ratu dan juga para pangeran nampak duduk di meja makan namun tatapan mereka tertuju pada ayah mereka.


“Suamiku, aku dengar Frost tidak ingin membantu kita? Apa alasan nya? Kenapa Frost membiarkan iblis itu menghancurkan kita? dan juga iblis itu telah membunuh putra ku,”ucap Ratu kerajaan Stanzaz.


“Aku juga tidak paham, kalian tidak perlu cemas, aku akan meminta tolong pada kerajaan Moon untuk membantu kita, aku pasti akan membalas iblis itu”jelas raja Astof.


Kedua pangeran nampak tertunduk dengan mata berkaca – kaca. Mereka masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Kerajaan mereka nyaris hancur dalam semalam. Kakak mereka harus meregang nyawa. Banyak hal yang terjadi secara tiba – tiba mulai menghancurkan hidup mereka.


“Ayah, aku penasaran kenapa Frost menolak membantu kita? Apa ayah telah berbuat sesuatu yang buruk?” tanya pangeran Asyuar.


“Apa maksudmu pangeran?” tanya Ratu.


“Setahuku Frost bertugas melindungi kerajaan dari gangguan apapun kecuali gangguan itu di buat oleh kerajaan itu sendiri,”jelas Pangeran Asyuar.


“Diam kau Asyuar, kau lebih baik focus mengurus pendidikan mu,”ucap raja Astof.


“Pendidikan? Apa masih ada masa depan untuk kita? Apa ayah pikir iblis itu akan berhenti? Aku bisa merasakan kerajaan ini telah berjalan menuju kehancuran dan aku yakin ayah pasti tahu kenapa semua ini terjadi,”jelas Pangeran Asyuar.


Suasana hening. Raja hanya tertunduk sembari menatap makanan nya. Ia merasa apa yang di katakan putra nya memang benar. Dialah yang menjadi penyebab kehancuran kerajaan nya. Karena keteledoran nya mengambil keputusan, ia menghancurkan kerajaan nya.


Raja Astof beranjak meninggalkan ruang makan tanpa berkata apa – apa. Sementara ratu nampak terdiam. Air matanya mulai jatuh mengingat putra nya, mengingat kerajaan mereka yang tengah dalam kehancuran. Hal itu membuat ratu tak dapat menahan kesedihan nya. Kedua pangeran bergerak memeluk ibu mereka.


“Maafkan ibu nak,”ucap ratu.


“kenapa ibu minta maaf?” tanya pangeran Ashuir.


“Karena ibu gagal menjadi ratu, ibu gagal menjadi seseorang yang bisa diandalkan oleh ayah mu,”ucap ratu dengan air mata yang mengalir dipipi nya.

__ADS_1


__ADS_2