
Melihat para vampire itu membuat Juline geram, ia mengeluarkan aura nya sembari menyeringai. Nampak raut ketakutan di wajah para vampire sementara itu ketiga kakak Juline terdiam merasakan aura yang begitu kuat dan bisa saja membuat mereka melemah, Rain dengan cepat membuat perisai melindungi para werewolf dan mereka berempat.
“Apa aura nya semengerikan ini, bahkan ayah tidak punya aura semengerikan ini,”ucap Dioz.
“Aura nya berasal dari penderitaan yang Juline lewati selama ini, semakin besar penderitaan yang kau lewati semakin mengerikan pula aura yang kau miliki,”jelas Raja Samuel.
“Aku penasaran sebesar apa penderitaan yang adik kita lewati,”ucap Dark dengan mata berkaca – kaca.
Sementara itu Juline masih menatap para vampire yang mulai berjatuhan karena tidak tahan dengan aura Juline.
“Aura apa ini, aura ini bisa membunuh kita semua,”ucap salah satu vampire.
“Kita harus mundur sekarang kalau tidak kita bisa habis disini,”saran salah satu vampire yang mulai kesulitan bernapas.
“Kalian tidak berniat melarikan diri kan?” teriak Juline.
Salah satu vampire hendak membuat perisai tapi dihancurkan begitu saja dengan satu layangan tangan Juline. Mata para vampire membelalak tak percaya, keberanian mereka seakan terenggut begitu saja, satu persatu berusaha melarikan diri tapi dengan cepat api hitam dari tangan Juline membuat vampire itu terbakar dan seketika menjadi debu.
Melihat itu para vampire masih berusaha melarikan diri, salah satu ketua dari vampire itu berhasil lolos setelah mengorbankan para bawahan nya.
“Adikku, kenapa kau membiarkan mahluk itu melarikan diri?” tanya Dark.
“Biarkan saja, harus ada yang menceritakan tentang hari ini, agar para vampire lain nya berpikir sebelum mengusik kaum lain.”
Juline melayangkan tangan nya dan menciptakan sebuah sulur yang melilit leher para vampire dan dengan cepat memutus kepala vampire, Rain kemudian maju dan membakar kepala para vampire satu persatu.
Sebagian vampire yang masih tersisa, bersujud dan memohon ampun kepada Juline agar membunuh mereka. Para vampire mengaku hanya menuruti perintah kerajaan Vampire.
Juline menurunkan tangan nya, sulur itu hilang, hal itu membuat ketiga saudaranya, Rain dan para werewolf terdiam menatap Juline, mereka penasaran apakah Juline benar – benar akan memaafkan para vampire itu. Juline memiringkan kepalanya, ia bisa merasakan aura kelicikan dari para vampire, ia menyeringai.
“Bagaimana yah, aku lupa cara memaafkan,”ucap Juline sembari mengangkat tangan nya, dan mengeluarkan kabut hitam yang hanya menutupi para vampire.
Saat kabut itu mulai menutupi, terdengar jeritan yang cukup membuat telinga nyeri, para werewolf nampak menutup telinga karena tidak tahan mendengar jeritan yang berhasil membuat mereka iba.
Mendengar jeritan yang mengerikan yang belum pernah sekalipun mereka dengar, membuat ketiga kakak Juline dan Rain tak dapat mengeluarkan satu kata pun. Ada perasaan yang sama yakni rasa iba karena jeritan itu tidak hanya mengerikan tapi juga memilukan.
Mata mereka menatap Juline, mereka tidak menyangka Juline memiliki kekuatan yang mengerikan seperti itu dan lebih parah nya lagi, Juline tak menampakan rasa iba sedikitpun tapi justru seperti menikmati.
__ADS_1
Terdengar suara memohon untuk segera di matikan daripada di siksa dengan kabut hitam Juline.
“Adikku, suara mereka mengganggu ku,”keluh Raja Samuel yang semakin terusik dengan jeritan yang berubah menjadi raungan yang semakin mengerikan.
Juline mengangkat tangan nya dan kembali melayangkan nya di sertai dengan satu kata yang membuat ketiga kakak nya dan juga Rain terkejut.
“Death.”
Seketika raungan itu hilang, kabut itu pun hilang, nampak para vampire dengan jasad yang mengenaskan, para werewolf menutup mata, tak sanggup melihat kondisi para vampire yang sudah tidak terbentuk, Rain langsung membakar jasad para vampire.
“Adikku, sekuat apa dirimu?” tanya Dioz penasaran.
"Juline, kau tahu itu adalah kata yang hanya diucapkan oleh penguasa kegelapan, sebuah kata yang tidak dapat kami ucapkan bahkan aku hanya sekali mendengar ayah mengucapkan kata itu," jelas Raja Samuel.
“Kau lebih kejam daripada ayah,”ucap Dark yang tiba – tiba tersungkur karena tidak tahan dengan aura Juline.
“Dark,”teriak Dioz.
“Adikku kau kenapa? Rain bantulah para werewolf."
“Baik yang mulia.”
Juline melihat seorang pria bermata seperti dirinya tengah memeluk seorang wanita bergaun putih, rambut kecoklatan yang sedang menimang seorang bayi mungil.
“Putriku Mintiaz, ayah dan ibu sangat menyayangimu, ayah dan ibu harap kau tumbuh menjadi gadis yang kuat, gadis yang tidak mudah terkalahkan, ibu harap kau tumbuh menjadi gadis yang memiliki cinta yang begitu luas,”ucap wanita itu dengan senyuman nya.
Juline melepas tangan nya, ia sedikit mundur, Dark menatap adiknya, begitupun Dioz dan Raja Samuel.
“Ada apa adik ku?”
"Terima kasih adikku,"ucap Dark.
“Hmm."
“Ayo, kita menolong para werewolf."
Para jenderal pun mulai berdatangan bersama pengawal dan dengan cepat membantu para werewolf. Juline pun melangkah ke kerumunan para wanita yang sedang memeluk anak nya yang sedang terluka. Melihat Juline menghampiri mereka, para wanita itu bersujud dan menatap Juline dengan tatapan lirih.
__ADS_1
Anak – anak mereka terlihat sekarat dengan luka yang menganga, membuat para wanita itu tak memilki tenaga lagi untuk bertahan hidup. Juline duduk di hadapan mereka.
“Tolong selamatkan anak kami yang mulia Ratu, kami tak sanggup melihat mereka menahan sakit, atau jika yang mulia tak bisa, bunuh saja anak – anak kami yang mulia,”lirih salah seorang wanita.
“Kenapa aku harus membunuh mereka?”
“Yang mulia Ratu, dibanding melihat mereka tersiksa, kami lebih memilih mereka mati saja, tolong berikan kematian pada mereka, biarkan anak kami tidak merasakan kesakitan lagi.”
“Bukankah kalian akan merasakan siksaan atas kehilangan anak – anak kalian?”
“Kami siap menanggung siksaan itu yang mulia, kami gagal menjadi seorang ibu, kami tak mampu melindungi anak kami, kami siap menerima kematian yang menyakitkan, yakni kehilangan seorang anak yang kami cintai.”
Juline menatap anak – anak yang mencoba bertahan, air mata yang mengalir di pipi anak – anak itu seakan meminta tolong pada Juline untuk diberikan hidup sekali lagi.
Juline menaruh kedua tangan nya di tanah dan menutup mata nya. Beberapa saat, cahaya hijau mulai menyelimuti kerajaan itu, cahaya itu membuat semua orang yang terluka sembuh.
Para jenderal, prajurit dan juga ketiga saudara Juline serta Rain nampak terdiam, melihat Juline yang duduk dan mengeluarkan cahaya hijau dari tubuh nya, membuat siapapun tak mampu berkata – kata.
Para wanita melihat anak – anak mereka kembali, dengan luka yang menutup, tubuh yang kembali kuat. Cahaya hijau itu menghilang, semua werewolf nampak sehat seperti semula.
Para wanita dan anak – anak itu kembali bersujud, memohon rasa terima kasih dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipi mereka.
“Dia adalah gadis yang luar biasa,”ucap Raja Samuel.
Para werewolf bersujud dihadapan Juline, rasa terima kasih tak hentinya mereka ucapkan. Ketiga kakak Juline dan Rain serta para Jenderal menghampiri Juline yang kini beranjak. Ia kembali melayangkan tangan nya, dari atas munculah sebuah perisai yang begitu kuat melindungi kerajaan para werewolf.
“Tidak Kuizinkan satu kaum vampire pun menginjakkan kaki di tanah ini,”teriak Juline bersamaan dengan itu sebuah dentuman keras terdengar.
Para werewolf tak henti – hentinya berterima kasih dalam sujud mereka. Juline meminta mereka semua bangkit.
“Kau sangat hebat adikku,”puji Dioz.
“Kami bahkan tak sekuat dirimu,”ucap Dark.
“Ada banyak cara bertahan hidup, daripada memilih kematian cobalah bertahan hidup, bunuh mereka yang pantas dibunuh, jangan iba pada mereka yang tidak mengerti itu, atau kalian akan membunuh orang – orang yang kalian sayangi,"ucap Juline.
Setelah mengucapkan itu, mereka berlima menghilang kembali ke kerajaan karena matahari mulai terbenam, para jenderal diminta untuk membantu para werewolf. Para wanita tak hentinya mengucapkan rasa syukur mereka, bagi mereka Juline adalah penyelamat mereka, seseorang yang hanya ada satu di dunia ini.
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗