Sang Penjelajah Dimensi

Sang Penjelajah Dimensi
Chapter 34: Desa Hoa 1


__ADS_3

Desa Hoa adalah desa yang yang berada di perbatasan antara kerajaan Moon dan Kerajaan Demon serta jalan penghubung antara manusia dan bangsa Elf. Di ujung desa Hoa terdapat jembatan gantung yang di sebut Jembatan Elf. Jembatan yang hanya di lewati bangsa Elf.


Para Elf sering mengunjungi desa Hoa guna membeli bahan obat – obatan. Desa Hoa adalah desa penghasil tumbuhan obat – obatan, tanah desa Hoa di anugerahi kesuburan sepanjang tahun sehingga tanaman obat dengan mudah tumbuh di desa Hoa.


Desa Hoa juga desa dengan penduduk terpadat, sehingga banyak penduduk desa yang kekurangan lapangan pekerjaan terutama bagi mereka yang terlahir tanpa aliran sihir. Warga desa yang terlahir tanpa sihir sering di kucilkan bahkan hanya bisa menjadi buruh biasa atau bahkan tidak di terima di mana pun.


Setiap desa di jaga oleh para master, sama hal nya dengan desa Hoa.


Di desa Hoa di bangun sebuah menara yang terdapat di dua titik yakni di bagian depan yang berada di samping gerbang masuk desa dan satu menara terdapat di bagian tengah desa. Meskipun desa Hoa adalah sebuah desa tapi penampakan desa ini tidak jauh berbeda dengan ibu kota.


Bangunan – bangunan tinggi berdiri di sepanjang desa. Desa ini juga di keliling tembok besar yang melindungi warga desa dari penghuni hutan kerajaan Demon, kecuali di daerah jembatan Elf yang tidak di beri penghalang atau tidak di buat tembok.


****


Tak terasa dua hari sudah Juline berjalan menuju desa Hoa. Juline telah sampai di depan sebuah gerbang bertuliskan “Selamat Datang Di Desa Hoa”. Kereta Juline berjalan melewati gerbang setelah memperlihatkan token nya pada pengawal yang menjaga gerbang.


Saat sudah memasuki desa Hoa, Juline cukup terkejut melihat keadaan desa Hoa. Desa yang sangat ramai, dengan bangunan tinggi yang tidak jauh berbeda dengan di ibu kota. Kereta terus berjalan, beberapa pasang mata melihat Juline dan kereta nya.


Juline meminta Chandra menepikan kereta nya di depan sebuah restoran ia kemudian memarkir kereta nya di parkiran yang di siapkan yang berada di samping restoran.


Juline memberi Chandra beberapa koin emas dan meminta Chandra untuk sarapan di restoran itu sementara Juline akan berjalan mengelilingi desa Hoa sembari mencari rumah paman John.


Chandra pun mengangguk dan memberi hormat sebelum akhir nya masuk kedalam restoran. Juline mulai berjalan menyusuri jalan desa Hoa yang dipenuhi keramaian. Juline bisa melihat betapa sibuk nya desa Hoa. Juline terus berjalan sembari mengedarkan pandangan nya. Ia pun singgah di sebuah kedai.


Terlihat seorang wanita paruh baya sedang mengendong anak kecil. Ia menghampiri Juline.


“Selamat datang nona, silahkan lihat kalung dan cincin nya, ini adalah hasil buatan saya sendiri nona.”


“Sangat indah bibi, saya ingin membeli beberapa pasang kalung dan gelang yang motif bunga tulip itu."


“Baiklah nona, bibi akan bungkuskan untuk mu yah, tapi nona seperti nya nona pendatang di sini, saya baru kali ini melihat nona.”


“Iya bi, saya dari ibu kota. Bibi kalau boleh tahu jalan ujung desa ini mengarah kemana?”


“Silahkan nona mengikuti jalan di depan nona ini, beberapa meter ke depan nona akan melihat sebuah tugu besar, setelah itu nona silahkan mengambil arah kiri untuk sampai di ujung desa.”


“Terima kasih bibi, Oh iya bibi, aku akan mengambil semua gelang, cincin dan kalung ini.”


“Benarkah nona? Baiklah, saya akan membungkus semua buat nona. "


Setelah membungkus semua barang yang di beli itu, Bi Nua segera menyerahkan semua barang itu pada Juline kemudian Juline memberi sekantong koin emas dan memasukan ke dalam gelang heaven nya. Bi Nua sangat terkejut melihat isi kantong yang diberikan oleh Juline.


“Nona, tapi koin terlalu banyak nona.”


“Tidak apa bi, ini buat bibi dan anak bibi, kalau boleh tahu siapa nama bibi?"


“Saya Nua, panggil saja Bi Nua, dan ini anak saya Mayra.”


“Dia sangat cantik bi, seperti bibi.”


“Terima kasih nak.”


“Apa bibi berjualan sendiri?”

__ADS_1


“Iya nak, suami bibi sudah lama meninggal sejak Mayra masih dalam kandungan, siapa namamu nak?”


“Saya Juline.”


“Nama yang indah, saya berharap Mayra tumbuh menjadi gadis secantik kamu nak Juline.”


Tiba – tiba segerombolan pria berbadan besar menghampiri kedai Bi Nua sembari berteriak mendorong Juline. Juline menatap tajam pada segerombolan pria besar di hadapan nya.


“Apa yang sedang kalian lakukan?”


“Gadis kecil pergilah dari sini cepat, kami ada urusan dengan wanita j*l*ng ini.”


“Apa? Berani nya kalian mengatai seseorang dengan sebutan keji seperti itu.”


“Hey, gadis kecil apa kau sudah bosan hidup?”


“Ku mohon jangan sakiti nona ini, saya akan membayar semua utang – utang saya,”ucap Bi Nua sembari memohon pada salah satu pria besar itu.


Para pria besar mulai mengobrak abrik kedai Bi Nua, Mayra yang masih kecil pun menangis. Salah seorang pria besar itu hendak memukul Mayra dengan balok besar yang di pegang nya tapi pedang Juline lebih dulu melayang dan memotong pergelangan tangan pria itu.


Pria lain nya yang melihat itu nampak terkejut, salah satu pria itu dengan cepat menusuk perut Bi Nua dan membuat Bi Nua jatuh tersungkur, Mayra masih menangis di gendongan ibu nya, Juline yang melihat itu dengan cepat memenggal kepala pria yang telah membunuh Bi Nua, bahkan ia memenggal semua pria besar di hadapan nya.


Orang – orang mulai berkumpul, melihat penuh kengerian, beberapa master datang menghampiri mayat – mayat yang terpenggal itu. Juline menggendong Mayra dan menutup mata Bi Nua yang telah menghembuskan nafas terakhir nya.


“Ada apa ini? apa yang kau yang membunuh mereka gadis kecil?” tanya seorang master bernama Peter.


“Apa kau kalian master?”tanya Juline.


“Bagaimana kau bisa membunuh mereka dengan keji?” tanya salah satu master lain nya bernama Duan.


“Maafkan kami nona, tapi mereka ini adalah anak buah kepala desa di sini, dan kami tak bisa berbuat apa –apa,”ucap Peter.


“Nona seharusnya tidak melakukan hal ini, ini melanggar peraturan di sini,”ucap Duan.


“Nona, sebaiknya ikut kami menghadap ke menara, dan juga kepada kepala desa,”tambah Fluid.


“Biarkan saya mengurus Bi Nua terlebih dahulu.”


Akhir nya Juline dibantu para warga mengurus jenazah Bi Nua sementara para master dan di bantu para pengawal mengurus mayat – mayat pria besar itu. Semua warga yang berada di sekitar tempat kejadian hanya bergidik ngeri melihat mayat – mayat tanpa kepala.


Chandra yang melihat kerumunan pun ikut melihat apa yang sedang terjadi dan betapa terkejut nya dia melihat Juline yang sedang menggendong seorang anak dengan darah yang memenuhi pakaian nya.


Chandra menghampiri Juline dan membantu mengendong Mayra dan membawa nya ke kereta nya. Juline meminta Chandra untuk menjaga Mayra di kereta, sementara Juline mengikuti para master untuk menemui kepala desa dan ketua master yang bertugas di desa Hoa.


Mereka kini telah sampai di depan sebuah mansion yang cukup mewah yang berada di depan menara. Terlihat seorang pria tua berkumis tipis dan seorang pria bermata hijau sedang duduk sembari bercengkrama. Peter dan Duan maju dan memberi hormat pada kedua orang itu sementara Juline hanya berdiri sembari menatap tajam ke arah dua pria itu.


“Ada apa peter?” tanya ketua master.


“Begini master, kepala desa, gadis ini telah memenggal kepala para anak buah anda,”jelas Peter.


“APA?! Gadis ini mana mungkin membunuh para anak buah ku yang sangat kuat,”ucap kepala desa.


“Benar kepala desa, mayat – mayat anak buah kepala desa saat ini sudah diurus oleh para pengawal,”jelas Duan.

__ADS_1


“Kau gadis kecil, mengapa kau melakukan itu pada anak buah kepala desa? Apa kau sedang mencari masalah dengan kepala desa?” tanya ketua master.


“Bagaimana bisa seorang kepala desa membiarkan anak buah nya menindas bahkan sampai membunuh warga nya sendiri,”ucap Juline.


“Cih, itu salah mereka sendiri karena enggan membayar upeti, anak buah saya tidak bersalah dan kau yang telah bersalah karena membunuh orang – orang yang tidak bersalah tapi karena kau sangat cantik, aku tidak akan menghukum mu, jadilah istri kelima ku akan ku bahagiakan kau dengan hartaku,”ucap kepala desa sambil menatap Juline dari atas sampai bawah.


“Kau sebaik nya menerima tawaran itu, atau tidak kau di hukum mati karena telah membunuh orang di desa ini,” tambah ketua master.


Juline menatap dua pria di hadapan nya secara bergantian, ia menyeringai dan sedikit memiringkan kepala nya, Peter, Duan dan Fluid bisa merasakan aura pekat di sekitar Juline.


“Apa academy tahu soal ini?” tanya Juline.


Hal itu sukses membuat ketua master dan ketiga master terkejut sekaligus di buat panik, mereka tidak mengira bahwa Juline ternyata murid academy. Ketua master terlihat gelagapan.


“Jangan pernah berpikir untuk membuat nama para master di sini terlihat buruk di academy, kami semua di sini sudah berjuang melindungi rakyat disini,”ucap ketua master.


“Menjaga? Maksudmu menjaga pria tua jelek itu?” ucap Juline sembari menunjuk ke arah kepala desa yang sedang menatap nya penuh minat.


“Kau, berani menghina ku, baiklah jika kau ingin mati,”ancam kepala desa sembari memanggil para anak buah nya yang juga berbadan besar.


“Kepala desa, ku mohon jangan membunuh gadis ini, dia adalah murid academy, murid academy adalah tanggung jawab para master, saya akan membujuk nya untuk menerima tawaran anda,”jelas ketua master.


Tapi Juline yang sudah dikuasai amarah, melesat cepat dan kembali memenggal kepala pria – pria berbadan besar itu, mata kepala desa, ketua master dan ketiga master lain nya membelalak tak percaya, mereka menyaksikan Juline yang dengan cepat memenggal pria – pria besar di hadapan nya, mereka bisa merasakan aura mengerikan dari Juline yang sedikit membuat mereka kesusahan bernapas.


Juline perlahan berjalan ke arah kepala desa yang terlihat pucat pasi setelah menyaksikan kengerian yang baru kali ini ia rasakan, langkah nya mundur saat Juline perlahan menghampiri nya, ketua master yang merasa nyawa kepala desa terancam melayangkan sebuah mantra sihir api pada Juline.


“Fire ball”


Bola – bola api melesat cepat ke arah Juline tapi dengan sigap Juline menghancurkan bola – bola itu dengan hanya menatap nya. Ketua master dan ketiga master mematung melihat itu, perasaan cemas dan takut mulai membayangi mereka, aura yang semakin pekat membuat mereka merasakan ketakutan yang luar biasa, mereka bahkan tidak bisa menggerakan tubuh mereka.


“K-kau, apa yang kau lakukan?” tanya kepala desa yang kini tersungkur di depan Juline.


“Tenang saja, aku tidak akan membunuh mu, aku tidak akan melakukan nya demi keluarga mu dan demi anak – anak mu,”ucap Juline sembari melihat ke arah para istri dan anak – anak kepala desa yang berdiri dengan wajah penuh ketakutan.


“Tapi ini akan menjadi peringatan untuk mu, jika kau masih berlaku tidak adil pada rakyat mu, maka akan ku pastikan akan memotong – motong tubuh mu dan menjadikan setiap bagian nya makanan untuk binatang sihir,”jelas Juline.


“B-baik nona, saya tidak akan berbuat seperti itu lagi, terima kasih atas kebaikan nona,”ucap kepala desa.


Juline berbalik dan menatap ketua master dan ketiga master yang masih mematung menatap Juline.


“Bagaimana nona bisa menghancurkan bola – bola api itu?” tanya peter berusaha memberanikan diri.


“Sihir lemah seperti itu tidak berpengaruh padaku, kau ketua master, bagaimana kalau kejadian hari ini sampai di telinga Ing Noel, kira – kira apa yang terjadi pada kalian semua?"


Ketua master dan ketiga master seketika itu bersujud di hadapan Juline, mereka tidak menyangka jika Juline akan menyebut nama Ing Noel.


“Nona, mohon maafkan saya dan bawahan saya, kami mengakui kesalahan kami hari ini, kami memang tidak pantas menjadi seorang master tapi tolong jangan melaporkan hal ini pada Ing Noel,”ucap Ketua master.


“Nona, mohon maafkan kami,”ucap Peter, Fluid dan Duan serempak.


Tiba – tiba seorang anak kecil menarik ujung baju Juline, Juline menoleh dan melihat seorang anak lelaki menatap diri nya dengan mata berbinar – binar.


Beberapa wanita diikuti anak –anak lain nya berlari dan langsung bersujud di hadapan nya, mereka memohon pada Juline agar tidak menyakiti anak kecil yang kini berada di hadapan Juline.

__ADS_1


♡♡♡♡♡


__ADS_2