
Juline duduk di balkon sembari menikmati udara malam itu, memejamkan mata nya, mengingat kejadian demi kejadian yang ia lewati, hal yang semakin menyakitkan hati nya, tujuan awalnya yang mulai samar, keinginan berkumpul bersama kedua orang tua nya yang mulai memudar,
“Apa kau baik – baik saja?” tanya Dewa Q yang kini duduk di samping Juline.
“Kemana saja dewa selama ini, aku hampir kehilangan arah, katakan padaku, siapa sebenarnya yang harus aku hancurkan, katakan pada ku, aku ingin menyelesaikan segalanya.”
“Sebentar lagi penguasa kegelapan itu akan bangkit, dan kau akan melakukan itu.”
“Apa maksud dewa?”
“Kau bertugas membangkitkan sekaligus memusnahkan penguasa kegelapan, itu adalah takdir yang tak bisa kau hindari.”
Juline terdiam mendengar penuturan, ia mulai mengerti kenapa ia berada di dunia itu, mengapa ia harus menghadapi takdir semengerikan itu.
“Kau sebaiknya bersiap, selesaikan tugas mu dengan baik dan kau bisa bereinkarnasi bersama kedua orang tua mu.”
Dewa Q menghilang dalam kegelapan, Juline bisa merasakan perubahan Dewa Q yang entah mengapa membuat nya perasaan nya tidak enak. Mengetahui dialah yang harus membangkitkan sekaligus memusnahkan penguasa kegelapan membuat nya tak habis pikir.
Ahh jadi ini alasan sebenarnya aku di sini, takdir ini benar – benar mengejutkan ku, sebentar lagi maka semua akan selesai aku hanya perlu bertahan.
Juline beranjak dan merebahkan dirinya di kasur, ia memejamkan mata nya dan seketika ia telah berada di dalam gelang semesta nya, sebuah layar menampilkan sesuatu, ia menatap tajam menanti apa yang akan ia lihat di layar itu, nampak seorang pria bertelinga panjang sedang bertarung dengan 10 orang pria.
Pria bertelinga panjang dan bermata merah itu mampu mengalahkan 10 orang itu, ia hampir menang tapi tiba – tiba seseorang menusuk jantung pria itu, seketika itu rantai melilit tubuh pria itu, pria bertelinga panjang itu meraung kesakitan, kemarahan dan kesakitan membuat butir – butir air mata jatuh memenuhi pipi nya.
Darah mengalir dari kedua mata nya saat ia melihat seseorang yang ia sayangi di lempar oleh orang yang menusuk nya di lubang neraka, ia berusaha melepas rantai itu tapi rantai yang dikendalikan oleh 20 orang itu terlalu kuat untuk nya yang seorang diri.
Ia menjerit, memohon agar dilepaskan, ia ingin menolong seseorang di balik lubang neraka itu tapi tak ada satu pun yang mendengar nya, semua orang menatap nya jijik, bahkan beberapa orang terlihat tersenyum saat melihat pria bertelinga panjang itu tak mampu lagi berkutik.
__ADS_1
Layar itu lenyap berganti dengan seorang wanita bergaun putih dengan bercak diri yang memenuhi tubuh nya, wajah nya pucat, mata nya tak dapat tertutup namun tak dapat berkedip.
Wanita itu tampak seperti boneka, menatap kosong dengan lingkar hitam di bawah mata nya. Seorang pria tengah menangis sembari menggenggam tangan wanita itu, dari sorot mata nya nampak kemarahan ketika melihat keadaan wanita itu.
Seorang wanita berambut putih masuk dan menenangkan pria yang sedang menangis itu dan berjanji akan menyembuhkan wanita itu setelah itu layar itu hilang. Juline terpaku, ia mencoba mencerna hal yang barusan ia lihat. Kepalanya dipenuhi pertanyaan – pertanyaan yang sangat ingin ia ketahui jawaban nya.
Seseorang menepuk pundak Juline, ia menoleh dan melihat seorang gadis yang tidak asing bagi nya, gadis itu tersenyum menatap Juline, ia menggenggam tangan Juline dan menatap Juline lekat – lekat.
“Ini takdir kita, kita pasti bisa melewati nya,”ucap Gadis itu.
“Kau..
“Iya ini aku.”
“Kau Pemilik tubuh ini? Bagaimana kau bisa ada di sini?”
“Waktu ku tidak lama Mint, aku hanya ingin kau ingat kau adalah aku dan aku adalah kamu, hancurkan mereka yang telah mempermainkan hidup kita, membuat kita melewati takdir yang mengerikan seperti ini, aku tak bisa berbuat apa – apa tapi kamu bisa.”
Juline mulai menyadari satu hal, ia tak ingat apapun lagi tentang dirinya yang dulu, nama bahkan orang – orang yang beberapa waktu lalu masih ia rindukan kini seakan lenyap tak berbekas.
Tiba – tiba saja mata Juline terbuka, ia kini kembali di kamar tempat ia merebahkan dirinya, bangkit dan menatap dirinya di cermin. Membayangkan kejadian yang baru ia saksikan.
Aku adalah kamu dan kamu adalah aku, apa arti dari ucapan nya, siapa yang ia maksud, aku harus segera menemukan jawaban nya.
Juline bergegas ke kamar mandi dan membersihkan dirinya setelah itu ia turun dan masuk di sebuah ruangan yang terdapat di depan kamarnya bertuliskan perpustakaan. Juline masuk kedalan, nampak rak berjejer rapi, buku tersusun rapi di setiap rak, gulungan – gulungan yang menghiasi lemari bagian atas di sebelah tangga berwarna keemasan. Ruangan yang cukup indah menurut Juline.
Juline berjalan menyusuri lorong yang terletak di antara rak – rak, kepalanya sedikit terangkat melihat buku yang cukup tebal berada di bagian atas rak. Ia menaiki tangga kecil dan meraih buku tebal itu. Ia duduk dan mulai membuka buku itu.
__ADS_1
Sampul buku tersebut bertuliskan Sisilah keluarga Slava Pavlo Redomir, Juline mulai membuka lembar pertama dan membaca Silsilah serta menatap foto dari nama – nama itu. Mata Juline berhenti di salah satu foto di bagian atas, wajah yang tidak asing.
“Bukankah pria ini yang tadi aku lihat, pria bertelinga panjang dan bermata merah itu,”gumam Juline sembari terus membuka lembar demi lembar.
*****
Kabar tentang Juline sampai di telinga keluarga Rosemburg yang saat sedang terjadinya penyerangan Black vampire mereka memilih tinggal di tempat persembunyian mereka di banding mempertaruhkan nyawa mereka.
Alec dan Aniel nampak duduk sembari menatap ibu mereka yang terlihat cemas memikirkan Dryas dan Damien. Michael Rosemburg nampak duduk sembari memangku dagu nya.
“Aku sudah bilangkan padamu Marie untuk menjemput anak – anak mu, sekarang kau lihat, ia jadi buronan karena gadis sampah itu, sial sekali keluarga ini karena gadis itu,”ucap Michael Rosemburg.
“Apa yang harus kita lakukan ayah?” tanya Richi.
“Kita harus bekerja sama membawa gadis itu didepan raja, dan kita meminta raja mengampuni Dryas dan Damien karena mereka hanya di pengaruhi oleh sampah itu.”
“Kakek, bukankah kakek sangat keterlaluan, Juline adalah adikku, aku tidak suka kakek menyebut nya sampah karena dia tidak seperti itu,”ucap Alec.
“Cih, sepertinya sampah itu sudah berhasil mempengaruhi mu, baiklah aku tidak akan memanggil nya sampah tapi monster,”ucap Michael.
Alec dan Aniel berusaha menahan diri mereka, raut kecemasan nampak di wajah mereka berdua, memikirkan adik mereka yang entah berada dimana, ayah mereka membuat mereka semakin tidak tenang. Sementara itu di istana kerajaan Moon, Ratu, Diz Tenzin dan Diz Minot sedang menikmati teh hijau di gazebo istana.
“Bagus, kalian berhasil menyingkirkan gadis bodoh itu, aku menginginkan tanah itu, tanah yang sudah menjelma menjadi sebuah perkebunan elit pertama di kerajaan Moon, bisa – bisa nya ia mengalahakan kekayaan ku, kuranga ajar,”ucap Ratu sembari tersenyum.
“Sama – sama yang mulia ratu, kami senang membantu yang mulia ratu,”ucap Diz Tenzin.
“Pastikan gadis itu di hukum, aku tidak suka ada rakyat biasa yang berani mengalahkan ku, dan juga gadis itu sudah kurang ajar pada putriku dan menantang raja.”
__ADS_1
“Kami akan memastikan kepala nya di penggal beserta keluarga nya yang mulia ratu,”ucap Diz Minot.
Happy Reading ☺️