
Malam semakin larut, para penjaga semakin memperketat perjagaan di pintu gerbang kerajaan Stanzaz dan di beberapa titik di istana. Ketua dan para jenderal nampak masih sibuk mengurus beberapa strategi.
Sementara itu raja Astof nampak tengah berdiri di balkon sembari menatap langit malam itu, entah mengapa malam itu ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, raja Astof bahkan tidak dapat memejamkan matanya.
Ratu Elizabeth yang melihat suaminya nampak gelisah pun beranjak, berjalan menghampiri raja Astof sembari memeluk suaminya dari belakang. Raja Astof terkejut merasakan istrinya tengah memeluk nya, ia mencoba tersenyum lalu membalikan tubuh nya menghadap istri nya.
“Sayang, apa aku membangunkan mu?”
“Tidak suamiku, aku melihat mu dan merasakan kerisaukan mu, ada apa suami ku?”
“Aku hanya tengah memikirkan rakyat kerajaan ini, sebagai seorang raja bukankah aku harus berusaha melindungi kerajaan ini?”
“Kau benar suami ku, tapi suamiku, sebaiknya sekarang kau istirahat, kau masih punya waktu esok.”
“Esok?”
Aku bisa merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi, apa ini hanya perasaan ku saja, apa mungkin aku terlalu memikirkan banyak hal.
Raja Astof semakin merasa gusar seakan malam itu memaksa nya untuk tetap terjaga. Akhirnya ia meminta istri nya untuk beristirahat terlebih dulu. Raja Astof pun mengganti baju tidur dengan baju kebesaran nya dan meminta pengawal mengumpulkan semua jenderal dan para perdana menteri malam itu juga.
Para jenderal dan para perdana menteri yang mendapat panggilan raja pun segera menghadap ke istana dengan sejuta pertanyaan di kepala mereka.
“Tidak biasa nya yang mulia mengumpulkan kita malam – malam begini,”ucap Jenderal Fashiho.
“Mungkin saja ada sesuatu yang ingin yang mulia sampaikan pada kita,”ucap Jenderal Hion.
“Perasaan ku jadi tidak enak,”tambah jenderal Han.
“Apa yang sedang kau pikirkan jenderal Han?” tanya Jenderal Fashiho.
“Ketua, bukankah ini kedua kali nya yang mulia mengumpulkan kita?” tanya Jenderal Han.
Wajah jenderal Fashiho nampak pucat mendengar ucapan jenderal Han, ia tahu betul saat pertama kali raja Astof mengumpulkan para jenderal di malam hari, itu berarti sebuah bencana besar bisa di rasakan oleh raja Astof. Para jenderal mempercepat langkah nya.
Beberapa menit kemudian para perdana menteri dan para jenderal telah berada di hadapan singgasana raja Astof.
“Salam yang mulia raja,”ucap mereka semua serempak.
Suara para perdana menteri dan para jenderal menggema dan membangunkan para penghuni yang tengah terlelap. Putra ketiga dan keempat nampak beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah keluar menuju arah aula istana. Mereka berdua penasaran dan akhirnya mencuri dengar.
“Kenapa ayah mengumpulkan para perdana menteri dan para jenderal malam – malam begini?” tanya Pangeran ketiga bingung.
“Aku juga bingung, tidak biasa nya ayah seperti ini dan lagi kenapa ayah tidak meminta kita bergabung.”ucap Pangeran keempat.
“Sebaiknya kita dengar saja dari sini,”ucap Pangeran ketiga sembari mempertajam telinga nya.
__ADS_1
Di aula istana, raja Astof masih dengan ekspresi datar nya yang membuat orang – orang di hadapan nya nampak bingung dan takut.
“Yang mulia, mohon maaf atas kelancangan saya tapi ada apa sebenar nya sampai yang mulia mengumpulkan kami di sini?” tanya salah seorang perdana menteri.
Raja Astof nampak tengah berpikir sebelum akhirnya menghela napas dan mulai berbicara.
“Aku bisa merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi di kerajaan ini kita ini.”
Semua orang nampak terkejut, mereka saling bertatapan sembari mencerna ucapan raja Astof. Pangeran ketiga dan keempat pun di buat terkejut bukan main.
“Yang mulia, apa ini ada hubungan dengan kebangkitan itu?” tanya jenderal Fashiho.
“Sepertinya ini tidak ada hubungan dengan hal itu Fashiho, aku tidak tahu apa tapi perasaan ini sangat kuat,”jelas Raja Astof.
Aku tidak mungkin mengatakan kepada mereka tentang perasaan ini, perasaan tentang gadis itu, aku merasa ia semakin dekat berada dengan kerajaan ini, aku harap ini hanya perasaan ku saja.
Sementara itu Jenderal Han, Min dan Zin saling tukar pandang seakan memahami apa yang sedang di cemaskan oleh raja Astof.
“Yang mulia tidak sedang memikirkan gadis itukan?” bisik Jenderal Han.
“Tidak mungkin, apa yang harus di takutkan dari gadis lemah seperti itu,”ucap Jenderal Min.
“Kau jangan lupa ia adalah keturunan penguasa kegelapan,”ucap Jenderal Zin.
Raut cemas nampak di wajah ketiga jenderal itu, ketakutan raja Astof sepertinya dapat mereka rasakan. Melihat hal itu, jenderal Fashiho merasa heran melihat raut wajah kedua adiknya, ia bisa melihat sebuah ketakutan di wajah kedua adik nya, hal itu membuatnya cemas atas kedua adik nya.
“Ku perintahkan semua jenderal dan para pengawal serta para master sihir untuk siap siaga malam ini, jenderal Fashiho aku serahkan segalanya pada mu, aku bisa merasakan hal buruk ini,”ucap Raja Astof.
“Baik yang mulia,”jawab mereka semua serempak.
Para master sihir dan perdana menteri di minta menjaga area kerajaan, sedangkan para pengawal dan para jenderal di bagi untuk menjaga di perbatasan serta di tengah kota dan sebagian di area padat penduduk.
Malam itu nampak semua personil kerajaan bergerak di segala penjuru kerajaan. Jenderal fashiho dan Jenderal Hion serta Jenderal Min dan Zin nampak siapa siaga di camp militer yang berada tidak jauh dari pemukiman warga.
Jenderal Min nampak gelisah sembari menatap Jenderal Zin. Melihat hal itu, jenderal Fashiho menghampiri kedua adik nya.
“Min, Zin, ada apa? Apa ada masalah?” tanya Jenderal Fashiho.
“Tidak kak, kami hanya mencemaskan ucapan yang mulia. Apa benar yang mulia katakan?” tanya Min berusaha menutupi kecemasan nya.
“Semoga saja itu hanya perasaan yang mulia, apa ada hal kalian berdua sembunyikan?”
Jenderal Min dan Zin nampak terdiam sejenak sebelum akhirnya menatap kakak mereka dengan senyuman, berusaha meyakinkan kakak mereka bahwa tidak ada satupun yang mereka sembunyikan.
Sementara itu Juline yang kini sudah berada di gerbang masuk kerajaan Stanzaz, ia mendongak melihat dinding yang menjulang di hadapan nya, sembari menyeringai, ia meniup pelan ke arah tembok besar yang berada di hadapan nya, seketika angin besar meluluh lantahkan tembok besar itu.
__ADS_1
Para Cemon yang melihat dari atas gunung hanya menelan saliva mereka melihat kekuatan mengerikan yang dimiliki Juline.
Para penjaga yang berada di sekitar gerbang tewas seketika, para warga yang mendengar dentuman keras segera berlari keluar dengan panik, para pengawal dan para jenderal yang mendengar dentuman keras itu segera berlari ke arah gerbang begitupun Jenderal fashiho dan jenderal Hion beserta Min dan Zin.
Di istana, para master sihir, perdana menteri serta keluarga kerajaan bisa merasakan getaran hebat dari runtuh nya tembok yang melindungi kerajaan mereka. Raja Astof meminta keluarga nya agar segera ke tempat aman. Para master sihir dan para perdana menteri berlari keluar dari istana dan melihat situasi di luar.
Betapa terkejutnya mereka semua melihat tembok besar runtuh seakan sesuatu yang sangat besar baru saja menghantam nya, sementara di luar tembok yang telah runtuh Juline masih berdiri menatap tembok yang jatuh.
“Aku yang terlalu kuat atau memang tembok ini terlalu lemah?”
“Kau yang terlalu kuat,”jawab Raja Samuel yang baru saja tiba bersama Diamond ana, Carol dan Caster serta Rain.
“Ehh, kalian sedang apa di sini? Bagaimana dengan kerajaan?” tanya Juline bingung.
“Tenang saja, di sana ada paman Dark dan Dioz, walaupun sangat susah membujuk mereka,”jawab Diamond ana.
“Kasihan tembok ini,”ucap Carol dengan raut sedih.
“Diam kau, kenapa kau harus mengasihani tembok itu?” tanya Caster sembari memukul kepala belakang adik nya.
“Kau apakan tembok itu adikku?” tanya Raja Samuel.
“Aku hanya meniup nya sedikit,”jawab Juline.
Mereka pun bersama – sama melangkah melewati runtuhan tembok, Juline menoleh dan sedikit terkejut melihat Raja Samuel, Carol, Caster, Diamond ana serta Rain nampak mengambang melewati reruntuhan. Mereka berlima berhenti dan menatap Juline.
“Ada apa tuan putri?” tanya Rain.
“Ahh, tidak apa – apa, aku hanya lupa kalau kalian bukan manusia,”ucap Juline sembari melangkah meninggalkan mereka berlima yang tiba – tiba terpaku.
“Kenapa ucapan itu seakan menusuk jantungku,”ucap Carol.
“Kita memang bukan manusiakan,”tambah Diamond ana.
“Aku juga merasa aneh dengan ucapan itu,”ucap Caster datar.
“Sepertinya kalian lupa diri,”ucap Raja Samuel sembari mengikuti Juline bersama Rain meninggalkan ketiga anaknya yang masih terpaku.
Sementara itu di depan Juline nampak barisan para pengawal telah bersiap dengan senjata dan sihir mereka. Jenderal Fashiho, Hion, Min dan Zin memimpin para pengawal kini berada di hadapan Juline.
“Terima kasih telah menyambut ku,”ucap Juline menyeringai sembari mengeluarkan pusaran angin dari tangan nya dan melempar ke arah para prajurit namun dengan cepat para jenderal membuat perisai yang tidak dapat di tembuh oleh angin Juline.
“Mereka banyak juga,”ucap Caster.
“Bukankah ini menarik? Sudah lama aku tidak berolahraga,”ucap Carol yang langsung melesat diikuti Caster berusaha memecahkan perisai pelindung para prajurit kerajaan.
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗