
“Juline, kau mau kemana?” tanya Melanie.
“Aku akan kembali ke rumah, kalian tunggulah di sini.”
“Kenapa tak membawa kami sekalian?” tanya putri Ailene.
“Tidak perlu, Ailene biarkan Genny dan Melanie bersamamu malam ini.”
“Baiklah.”
“Tapi kenapa Juline?” tanya Genny.
“Katakan pada ayah dan kakak – kakak ku, aku kembali ke rumah sebentar.”
Juline pun berjalan tanpa menoleh. Ia berjalan menuju gerbang dan meminta seorang pengawal yang menjemput nya sebelum nya untuk membuka portal.
“Apa aku perlu menemani anda?”
“Tidak perlu, kembalilah 1 jam kemudian.”
“Baiklah.”
Pengawal itu segera membuka portal dan Juline segera berlari melewati portal. Ia kini telah menginjakkan kaki nya di pekarangan rumah nya, tiba – tiba saja langkah sedikit mundur dari tempat ia berpijak. Betapa terkejutnya ia melihat rumah nya kini berubah menjadi reruntuhan, di bawah lampu yang masih tegap berdiri, ia bisa melihat reruntuhan rumah itu.
Juline berlari menuju runtuhan, ia membuka satu persatu runtuhan itu, membuang nya kemana – kemana, ia tak mampu lagi berbicara selain memanggil nama adik nya.
“Mayra, kau dimana, MAYRA…
Juline masih mengobrik abrik reruntuhan itu, satu persatu tubuh nampak dihadapan nya, tubuh yang ia kenal, paman John bersama kedua putra nya yang kini sudah tak bernyawa dengan luka hebat yang hampir menghancurkan kepala mereka. Tangan Juline gemetar, ia mengangkat tubuh paman John dan kedua putra nya dan membaring nya di bawa sinaran lampu,
Juline masih terus membongkar reruntuhan itu, Anna, Celine, Bi Joan dan Martha tergeletak di bawah reruntuhan dengan luka di sekujur tubuh, dan tanpa sehelai benang pun, Juline merasakan amarah nya meledak, Ia mengambil kain yang berada di gelang heaven nya dan menyelimuti tubuh mereka berempat.
Hati Juline rasanya di cabik – cabik, seperti sebuah pisau tajam menghujam jantung nya, kedua matanya mulai menghitam, ia kembali mencari Mayra serta Jiona dan Jiana, sembari menahan auranya yang hampir meledak, ia terus mencari adik nya, dan akhirnya, Juline terhenti setelah melihat seorang anak kecil dalam gendongan dua orang gadis yang juga tanpa sehelai benang pun.
Ia melihat tubuh adik nya membiru, wajah nya penuh goresan benda tajam, seperti ujung pisau menari - nari di wajah nya, ia memindahkan tubuh Jiana dan Jiona lalu menyelimuti tubuh mereka.
Juline menggendong adiknya yang sudah tak bernyawa. Auranya meledak, mata kini berubah menjadi mata yang paling mengerikan, amarah nya memuncak, ia tak bisa menahan dirinya.
Burung – burung di hutan itu nampak terbang menjauh, terdengar suara binatang Sihir dan iblis berlari ke sana kemari, aura yang begitu mengerikan dari Juline membuat mereka takut. Beberapa saat kemudian guncangan terjadi yang membuat semua kerajaan bahkan semesta bisa merasakan guncangan itu.
“AKAN KU PASTIKAN KALIAN SEMUA MATI, BAHKAN NYAWA KALIAN TIDAK AKAN CUKUP MEMBAYAR SATU NYAWA PUN. KALIAN TELAH MENGAMBIL SESUATU YANG HARUS KALIAN BAYAR BAHKAN SETELAH KALIAN MATI. Juline memeluk erat adik nya untuk terakhir kali. Ia menarik kembali auranya dan mata kembali normal.
Air mata nya perlahan jatuh, menatap orang – orang yang ingin dia lindungi harus mati karena nya.
Sementara itu kerajaan Demon yang terkena guncangan hebat terkejut, begitu pun dunia iblis yang sedikit merasakan aura itu. Raut wajah Ascar nampak cemas, tiba – tiba saja ia memikirkan Mayra.
Para Jenderal dan pengawal berlari memeriksa depan gerbang istana, para perdana menteri pun berlari memeriksa keadaan di luar istana.
Raja William yang melihat hal itu pun mengantar Ascar, Dryas dan Roman langsung menuju kediaman mereka. Sebelum mereka berangkat, Damien, Pangeran Laureun beserta Genny, Melanie dan Ailene datang menghampiri mereka.
__ADS_1
“Paman, kami ikut,”ucap Melanie.
“Melanie, Juline mana?”tanya Roman.
“Juline tadi bilang dia akan kembali ke kediaman melihat keadaan Mayra tapi dia belum kembali.”
Mereka semua pun langsung melewati portal yang sudah di buka. Saat mereka semua sampai di depan pekarangan, langkah mereka lemas, Ascar perlahan berjalan menuju tempat Juline kini tersungkur dengan tatapan kosong menatap mayat – mayat dihadapan nya sembari menggendong adik nya.
Tangis pecah ketika Ascar mendapati Mayra sudah tak bernyawa dengan wajah penuh luka. Dryas, Damien, Roman, Pangeran Laureun dan Raja William terpaku menatap kediaman Juline yang kini telah rata.
Genny, Melanie dan Ailene berlari memeriksa tubuh yang kini diselimuti kain, tangis mereka pun pecah saat mengetahui tak ada satu pun yang selamat.
"Juline, mereka semua sudah tidak ada bernyawa, " ucap Melanie dengan butir air mata yang mulai jatuh.
“Mayra, anak ku, Juline, apa yang terjadi nak, bagaimana ini bisa terjadi?”
“Beraninya mereka melakukan hal ini di wilayah ku, Laureun kembalilah dan minta para jenderal kemari dan juga para master sihir,”titah Raja William.
“Baik yang mulia.”
Juline masih tak bergeming, ia berusaha menahan amarah nya, Roman dan Damien memeluk Juline, berusaha menenangkan adik nya, sementara itu Ascar menatap wajah Mayra untuk terakhir kalinya.
Ketika para master sihir datang, satu persatu mayat di masukan dalam peti dan langsung di adakan pemakaman malam itu juga. Juline masih tak bergeming saat adiknya di masukan dalam sebuah peti bercorak. Dryas bersama Roman dan Damien ikut membantu pemakaman para pelayan nya mereka.
Para jenderal kembali dari reruntuhan rumah itu, dan menemukan beberapa helai kain yang dipercaya di gunakan oleh orang – orang yang menyerang para pelayan Juline. Ascar masih tak bisa membendung kesedihan nya, raja memutuskan keluarga Juline akan tinggal di istana.
Pagi itu Juline masih duduk di gazebo sembari menatap langit cerah di kerajaan Moon, tak ada tangis, raut sedih pun tak nampak di wajah nya.
Harus ku apakan kalian, mencabik - cabik kalian seperti nya tidak cukup, apa perlu ku hancurkan saja satu kerajaan itu, seperti nya itu ide yang bagus.
Dari kejauhan, Roman, Damien, Pangeran Laureun dan Dryas menatap Juline. Sudah beberapa hari sejak penyerangan itu, Juline hanya duduk diam tak bergeming, hal itu membuat mereka cemas, sama hal dengan Juline, Ascar pun terlihat terpukul dan kini masih terbaring dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
Melihat hal itu, raja dan ratu nampak cemas. Saat kebingungan itu, Raja Samuel dan Rain tiba – tiba saja datang dan ikut menatap Ascar yang masih terbaring.
“Paman Ascar,”panggil Rain.
“Ayah, Rain..”
“Kau mengenalnya Rain?”tanya Raja Samuel.
“Dia adalah ayah Juline, apa yang sebenarnya terjadi yang mulia?” tanya Roman.
“Beberapa hari yang lalu, kediaman Juline di serang oleh sekelompok orang.”
“Apa kau sudah mencari tahu siapa mereka? berani nya mereka, lalu dimana gadis itu?” tanya Raja Samuel.
“Dia sedang di gazebo ayah, dia sama terpukul nya dengan Ayah nya,”jawab Raja William.
Raja Samuel menghilang dan kini tiba di hadapan Juline. Saudara – saudara Juline yang melihat hal itu nampak kaget. Pangeran Laureun menjelaskan jika pria itu adalah kakeknya.
__ADS_1
“Kakek pangeran?” tanya Damien.
“Hmm.”
“Tapi bagaimana bisa ia semuda itu?” tanya Dryas.
“Karena dia adalah Raja Dunia iblis.”
“APA?!” teriak mereka bertiga.
“Sebaiknya kita tinggalkan mereka.”
Raja Samuel menatap Juline yang tak bergeming dengan kedatangan nya. Ia duduk dan ikut memandangi langit biru kala itu.
“Kehilangan akan selalu mengikuti di setiap pertemuan, tidak peduli sekuat dan seberkuasa apa ia di dunia ini.”
Juline menoleh menatap Raja Samuel. Wajah yang tidak asing, perasaan yang tidak asing. Raja Samuel beranjak dan memeluk adik nya. Ia bisa merasakan aura kemarahan yang begitu besar di sekitar adik nya. Juline membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan raja Samuel.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Bagaimana mungkin kau tidak mengenal ku."
"Apa kau seterkenal itu?" Melepaskan pelukan Samuel.
"Apa kau selemah ini?"
"Apa aku terlihat lemah dimatamu?"
"Apa kau sedang merencanakan sesuatu?"
"Hmm... "
"Butuh bantuan?"
Juline tidak menjawab, ia kembali menatap langit pagi itu.
Nikmati lah waktu kalian, karena malam ini kalian akan bertemu dewa kematian, bahkan jika dewa kematian memihak kalian, akan ku berikan kematian istimewa untuk dewa kematian sekalian.
Sementara itu Kota sihir tengah mengatur pesta pernikahan antara Ing Noel dan Ing Carmel yang akan dilaksanakan besok. Ing Noel nampak duduk di tepi kasurnya sembari menatap langit kota sihir yang sedikit mendung. Ia yang tidak ingin menerima pernikahan itu terpaksa harus menerima nya karena tidak ingin melukai perasaan Carmel. Ing Shen masuk dan mendapati kakaknya diam tak bergeming.
“Kak, apa kau baik – baik saja?”
“Apa aku terlihat baik – baik saja? aku akan menikah dengan seseorang yang tidak ku inginkan dan orang yang aku inginkan entah kini berada dimana, apakah dia baik – baik saja, aku merasa hal – hal mengerikan terus saja terjadi.”
“Dia pasti baik – baik saja kak, kakak tahu sekuat apa gadis itu, jika kakak menyayanginya sebaiknya tidak menambah penderitaan nya dengan perasaan kakak.”
“Kau benar, aku seharusnya tidak memikirkan diri sendiri, apa aku benar – benar kehilangan bulan ku?”
😍😍😍😍😍
__ADS_1