
"Aku kok belakangan ini merasa sangat bosan ya di rumah terus, ingin sekali jalan-jalan deh, tapi tidak ke mall atau taman hiburan yang ramai pengunjung, aku ingin ke tempat baru yang sunyi dan nyaman" Gaby berkata kepada kedua adik perempuannya yang sedang sama-sama hamil.
"Iya aku juga, apa lagi kalau melihat wajah papanya Syeba, bawaannya emosi terus deh" Sera yang masih kesal perihal taruhan para suami berkata.
"Bagaimana kalau kita kemping di tepi hutan hujan tropis saja, aku pernah ke sana saat mau observasi hewan-hewan yang ada di balai konservasi, disana ada lokasi untuk kemping keluarga juga, pasti seru deh kalau kita kesana, sekalian nanti kita kerjain suami-suami kita! hehehe" Rachel memberi usul yang licik.
"Setuju!" Gaby dan Sera serentak.
Mereka pun kemudian membuat berbagai macam rencana liburan serta strategi untuk mengerjai para suami selama di tempat kemping.
..........
"Ma, kan kalian bertiga lagi hamil semua, masa mau menginap di tenda sih?" Dimas yang mendengar rencana Gaby istrinya liburan di tepi hutan langsung protes.
"Iya benar ma, hutan itu tidak aman loh, kita tidak tau ada makhluk bahaya apa saja yang mengintai kita di sana" Gamal mendukung kakak iparnya sambil menatap ke arah Sera.
"Lagi pula fasilitas tenda itu kan tidak banyak, nanti kalau tiba-tiba tengah malam papa ingin pipis gimana? atau hujan tengah malam misalnya?" Gide ngeri membayangkan jika Rachel dan Cilla berada dalam kondisi seperti itu.
"Kalau papa tidak mau ikut ya sudah tidak apa-apa, kami tidak memaksa kok, silahkan saja tinggal di rumah!" Gaby tidak menghiraukan protes Dimas.
"Iya, masa hanya kemping saja nyali papa sudah ciut, lemah sekali jadi laki-laki!" Sera mencibir suaminya.
"Percuma lah kita punya suami tampan kalau hanya masalah sepele saja sudah mengeluh!" Rachel pun memasang wajah mengejek kepada Gide.
"Bukan begitu ma, ini kan masalahnya kalian lagi hamil" Dimas berusaha meluruskan persepsi Gaby.
"Justru karena lagi hamil makanya kami ingin kemping, karena ini bawaan orok!" Gaby mulai berkacak pinggang.
"Apa tidak bisa dialihkan menjadi menginap di hotel berbintang gitu ma?" Gamal memberi solusi yang lain.
"Mana bisa, ini kan anak kamu yang kepengen!" Sera juga mulai meninggikan suaranya.
"Lalu bagaimana dengan anak-anak? apalagi Cilla kan baru berusia lima jalan enam bulan ma" Gide membawa anaknya sebagai tameng.
__ADS_1
"Cilla akan baik-baik saja, justru dengan begini dia akan belajar bahwa hidup itu sangat kejam!" Rachel melotot.
"Sudahlah, terserah kalian mau ikut atau tidak, pokoknya kami tetap jalan, titik!" Gaby kemudian beranjak dari tempatnya.
"Iya, dengan atau tanpa kalian kami juga bisa!" Sera mengekor sang kakak.
"Tau, memangnya dikira kami perempuan lemah apa?" Rachel pun ikut berjalan.
Sementara sang istri pergi, para suami hanya bisa menghela nafas dengan berat.
"Apakah ini bagian dari hukuman kita karena telah membuat mereka hamil ya?" Dimas menyesal telah ikut taruhan.
"Yang jelas ini adalah bagian dari ngidam anehnya mereka bertiga" Gamal mengusap wajahnya dengan kasar.
"Satu orang yang ngidam saja sudah bikin susah, lah ini tiga orang sekaligus, jadinya ya musibah!" Gide menghempaskan kepalanya ke sofa.
..........
"Kita mau tidur di tenda ya ma?" Diva bertanya kepada sang mama.
"Iya sayang, nanti mama-mama dan anak-anak tinggal di tenda yang besar, nah papa-papa tinggal di tenda yang kecil" Gaby menjelaskan.
"Ohhhh oke" Divo mengangguk tanda paham.
"Nah ini dia tenda kita" Rach menunjuk sebuah tenda besar yang muat ditempati oleh sepuluh orang.
"Wahhh besar ya, keren" Sera berdecak kagum.
"Ohhhh jadi kita tidurnya di tempat ini toh? kalau tau begini sih dari kemarin papa pasti setuju!" Gamal yang melihat isi tenda layaknya sebuah kamar hotel berbintang merasa senang.
"Fasilitasnya lengkap ya ternyata? ada toilet dan tempat tidurnya juga" Gide tersenyum senang karena bayangannya tentang tenda yang sempit dan sederhana salah.
"Divo dan Diva mau bobok dimana nanti? biar sama papa saja ya?" Dimas bersiap-siap untuk meletakkan perlengkapannya di dekat salah satu kasur.
__ADS_1
"Eitssss siapa bilang papa tidur di sini?" Gaby mencegah Dimas meletakkan tasnya.
"Terus dimana ma?" Dimas bertanya.
"Tenda kalian itu adanya di depan sana!" Rachel menunjuk perlengkapan tenda berukuran kecil yang belum dirakit persis di depan tenda para istri.
"Loh kok ma?" Gide terkejut.
"Benar, tenda glamping alias glamorous camping ini hanya akan ditinggali oleh mama-mama dan anak-anak!" Sera tersenyum licik.
"Yah ma, kok tega banget sih, padahal tenda ini kan muat juga buat kami" Gamal memasang wajah melas.
"Udah sana ahhh, mama capek, mau istirahat" Sera mendorong suaminya keluar dari tenda mewah itu.
"Kalian nanti kalau mau ke toilet ada di ujung sana ya, jangan yang di dalam sini" Rachel yang pernah mengikuti kegiatan kampus di tempat ini sudah cukup hafal dengan lokasinya.
"Betul, pokoknya jangan keluar masuk tenda kita ya, kalian nanti mengganggu anak-anak yang mau bobok" Gaby memperingatkan.
Dengan berat hati para suami itu pun akhirnya hanya bisa pasrah menerima nasib mereka yang harus tidur di tenda kecil berukuran tiga kali tiga meter persegi.
Hufff nasib, ini sih mereka namanya bener-bener ngerjain kita!" Gamal mulai membuka lembaran tenda yang akan dipasang.
"Iya, tenda mereka benar-benar mewah seperti kamar hotel, sementara kita?" Gide membandingkan keduanya sambil menancapkan kerangka tendanya ke tanah.
"Sudahlah jangan banyak mengeluh, sekarang yang perlu kita lakukan adalah berusaha bertahan hidup selama disini!" Dimas pasrah.
"Hey itu ditahan dong, kalau kau tidak pegangin nanti yang sisi bagian sini bisa copot!" Gamal mengomel.
"Sabar dong, kenapa kau ini selalu mengomel sih!" Gide yang diomeli oleh sang kakak membalasnya.
"Kalian bisa tidak sih kerja dengan tenang? berkelahi terus!" Dimas yang mendengar keduanya bak anjing dan kucing pun ikut tersulut.
Sementara itu para istri yang menyaksikan betapa menderitanya suami mereka memasang tenda tersenyum puas penuh kemenangan.
__ADS_1