
"Kau sedang masak apa?" Gamal mencium pipi istrinya yang sedang memotong sayuran di dapur.
"Ini capcay" jawab Sera sambil melanjutkan kegiatan memasaknya untuk sarapan mereka berdua.
"Sini biar aku bantu" Gamal kemudian memotong sayuran sesuai dengan instruksi Sera.
Selama cuti menikah mereka memang lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan kegiatan yang ringan dan berkualiatas seperti memasak dan berkebun untuk menghilangkan jenuh karena Sera masih berhalangan.
"Ayo kita sarapan, ini sudah matang" Sera meletakkan masakan yang ia buat ke meja makan.
"Ayo" Gamal membantu Sera menata alat makannya.
Mereka pun sarapan berdua dengan diselingi obrolan ringan seputar rencana kehidupan mereka dimasa yang akan datang. Setelah selesai mereka pun merapikan segala perlatan masak dan makannya bersama-sama.
"Sayang apa kau sudah selesai?" Gamal bertanya pada Sera yang sedang mencuci piring sambil merangkul pinggang istrinya dari belakang.
Hampir setiap hari Gamal selalu bertanya kepada sang istri apakah datang bulannya sudah selesai atau belum.
"Iya sudah, hari ini sudah tidak ada yang tersisa sama sekali, sepertinya sudah bersih" jawab Sera.
"Jadi kita sudah bisa melakukannya?" Gamal berbisik di telinga Sera, membuat gadis itu bergidik geli.
__ADS_1
"He em" Sera mengangguk malu-malu.
"Ayo kita ke kamar" Gamal yang sudah tidak sabar langsung menggendong Sera.
"Sayang ini kan masih pagi, baru juga selesai sarapan" Sera protes.
"Inikan hari terakhir kita libur, besok kita sudah harus beraktivitas kembali, jadi kita harus tuntaskan saat ini juga" Gamal benar-benar tidak mau membuang-buang kesempatan sama sekali.
"Ishhh dasar kau ini tidak mau rugi" Sera memajukan bibirnya dengan manja.
"Bibirmu itu sepertinya sudah siap aku lahap sampai habis ya?" Gamal menyeringai jahil.
"Sayang!" Sera semakin protes dan membuat Gamal tergelak.
"Kakkkk geliiiii" Sera bergerak tidak karuan karena Gamal memainkan area sensitifnya.
"Kau sangat membuatku tergila-gila Serafim Anderson" Gamal memagut bibir Sera dan tidak membiarkan istrinya lepas sama sekali hingga mereka sama-sama kehabisan nafas.
"Ahhhhhhhh, ahhhhhhhh" Sera mendesah kembali dibawah kungkungan tubuh atletis pria tampan yang kini sudah menjadi suaminya.
"Aku masuk ya?" Gamal bersiap-siap untuk menyatu dengan sang istri.
__ADS_1
"He em" Sera mengangguk malu.
"Tahan sedikit ya sayang, mungkin akan sedikit sakit" Gamal mencoba menerobos dengan perlahan.
"Awwwww" Sera meringis kesakitan.
"Apakah sangat sakit?" Gamal tidak tega melihat sang istri kesakitan.
"Sedikit" kata Sera sambil menahan rasa sakitnya.
Gamal yang tidak ingin menyakiti sang istri akhirnya mengalihkan perhatian Sera dengan kecupan lembut di bibirnya. Setelah dirasa istrinya lebih santai, ia pun kembali mencobanya.
"Ahhhhhhhhhhh" lenguhan panjang keluar dari bibir Sera ketika Gamal berhasil masuk. Sensasi aneh keluar begitu saja dari dalam tubuhnya yang belum pernah ia rasakan sama sekali sebelumnya.
"Eughhhhhhhhhh" Kini giliran Gamal yang melenguh, sempitnya ruang gerak di dalam Sera membuat dirinya terbang melayang.
Bagi mereka berdua ini adalah benar-benar pengalaman pertama yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lenguhan dan ******* terus saja bersahut-sahutan hingga akhirnya mereka mencapai puncak bersama.
"Terima kasih sayang, terima kasih karena kau sudah memberikan hartamu yang paling berharga hanya untukku" Gamal tak hentinya mengecup bibir sang istri karena ia merasa bahagia mendapatkan mahkota yang paling berharga milik sang istri.
"Aku sangat mencintaimu" ungkapan perasaan cinta terus saja terlontar dari mulut pria tampan itu.
__ADS_1
Sepanjang pagi hingga malam hari mereka hanya berada di dalam kamar untuk menikmati momen yang tertunda hampir satu minggu lamanya. Jika tidak ingat akan tanggung jawab besar yang harus diembannya sebagai seorang petinggi di perusahaan Anderson, Gamal pasti sudah ingin mengajukan cuti tambahan untuk bisa lebih lama menikmati kebersamaannya dengan sang istri.