
"Pak, nanti bapak pulang naik apa kalau sudah sampai rumah saya?" Inka masih penasaran dengan pemikiran Arnold yang dengan mudahnya meninggalkan mobilnya di kampus demi untuk mengantarnya pulang.
"Tentu saja pakai mobil ini" jawab Arnold dengan entengnya.
"Hah? tapi ini kan mobil saya? kenapa jadi bapak yang bawa? kalo saya mau pergi-pergi gimana?" Inka protes.
"Mulai sekarang aku akan jadi supir pribadi kamu, jadi kalau kamu butuh sesuatu tinggal telpon aku aja, nanti aku yang antar ke tempat tujuan" Arnold tersenyum jahil.
"Gak mau, saya gak butuh supir, pokoknya habis ini kembalikan kuncinya titik!" Inka menolak.
"Terserah" Arnold berseloroh dengan santai.
"Pak Arnold!" Inka berkacak pinggang.
"Apa sayang?" jawab pria itu sambil terus mengemudikan mobilnya.
"Ck!" Inka pada akhirnya hanya bisa berdecak dan memalingkan wajahnya dengan cemberut ke arah luar jendela.
"Jangan cemberut dong sayang, nanti cantiknya hilang loh" Arnold mengelus rambut Inka.
"Ihhh apa sihhhh norak banget!" sesungguhnya Inka sangat bahagia diperlakukan layaknya seorang kekasih oleh Arnold, namun ia masih ragu dengan hati pria itu, sehingga beteng tinggi itu tetap dijaga agar tidak runtuh.
"Nikah yuk?" Arnold dengan spontan kembali mengajak Inka untuk menikah.
"Gak usah ngaco deh!" Inka melotot.
"Aku serius, aku pengen nikah sama kamu!" Arnold kini menunjukkan wajah seriusnya.
"Nyetir aja yang bener!" Inka tidak mau merespon.
"Sayanggggg" Arnold merajuk.
"Apa sihhhh" Inka masih tidak nyaman dengan panggilan 'sayang' yang dipakai Arnold untuk memanggilnya.
"Nikah yuuuuukkkkk" Kini wajahnya seperti anak kecil yang sedang minta dibelikan mainan.
"Tau ahhhh" Inka membuang mukanya ke jendela agar senyumnya tidak terlihat oleh Arnold.
Sepanjang jalan mereka berdua terus saja ribut masalah pernikahan. Arnold dengn gigih merayu Inka agar mau menikahinya segera, sementara Inka masih keras kepala untuk menolaknya.
..........
"Mau apa kalian ke sini?" Inka yang baru masuk ke dalam rumah langsung berteriak kencang saat melihat ayah dan ibu tirinya sedang duduk di ruang keluarga.
"Inka sudah pulang?" sang ibu tiri berpura-pura menyapa dengan baik.
"Pergi!" Inka melotot ke arah wanita yang telah merusak rumah tangga orang tuanya itu.
__ADS_1
"Inka jaga sikapmu, dia itu ibumu!" sang ayah menghardik Inka.
"Ibuku sudah meninggal, dia itu hanya seorang perempuan murahan yang merebut suami ibuku dan menghancurkan rumah tangganya!" Inka naik pintam.
"Beraninya kau!" tangan sang Ayah sudah mengayun hendak menampar Inka.
"Hentikan!" Arnold memegang tangan ayah Inka.
"Siapa kau berani ikut campur urusanku?" ayah Inka menatap Arnold dari atas sampai bawah.
"Ah iya saya lupa memperkenalkan diri, saya adalah Arnold, calon suami Inka" jawab Arnold dengan santai.
"Calon suami? sejak kapan Inka punya calon suami?" ayah Inka mencibir Arnold.
"Bukankah anda ayahnya? mengapa anda tidak tau kalau Inka akan segera menikah? atau jangan-jangan anda ini bukan ayah yang baik ya sampai-sampai hal sebesar ini anda tidak tau?Ck!" Arnold balik mencibir.
"Kurang ajar!" ayah Inka hendak menampar Arnold.
"Ayah hentikan!" Inka memasang badanny di depan Arnold.
"Sayang minggirlah, biar aku yang hadapi!" Arnold menarik Inka dengan lembut.
"Tapi!?" Inka ragu namun tetap menyingkir setelah Arnold memberi kode.
"Dengarkan saya tuan, pengacara kami telah melakukan serangkaian penyelidikan terhadap tindakan anda berdua, mulai dari perselingkuhan yang kalian lakukan beberapa tahun lalu hingga membuat almarhum istri anda meninggal karena serangkaian penyiksaan yang anda lakukan terhadapnya. Kami juga sudah melakukan visum terhadap luka-luka Inka kemarin dan mengantongi CCTV pada hari kejadian tersebut. Jadi jika anda tetap bertindak gegabah, saya pastikan anda dan selingkuhan anda akan terjerat kasus hukum yang sangat berat!" Arnold berbicara dengan santainya.
"Brengsek!" ayah Inka merasa terpukul telak.
"Beraninya kau!" ayah Inka yang sudah ingin melayangkan tangannya kemudian mengurungkan niatnya karena menganggap Arnold adalah seseorang yang memiliki kekuatan.
"Silahkan anda keluar dari rumah ini segera dengan cara yang baik, sebelum saya meminta pengacara saya bertindak!" Arnold menunjuk pintu keluar.
"Cih!" ayah Inka kemudian melangkah dengan emosi keluar rumah.
"Sayang kenapa kita keluar, bukannya kau bilang rumah ini hakmu?" sang wanita pengganggu tidak terima diusir begitu saja.
"Diam kau!" Ayah Inka hanya bisa menghardik sambil tetap berjalan keluar rumah.
"Hufffff!" Arnold pun bernafas lega saat kedua orang itu sudah pergi.
"Inka!" Arnold mengejar Inka yang berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Aku ingin sendiri pak!" Inka merebahkan dirinya dengan posisi miring di atas tempat tidur dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Sayang,," Arnold kemudian duduk di pinggiran tempat tidur dan mengusap punggung gadis malang itu dengan lembut.
"Hiks, hiks hiks" hanya terdengar isak tangis pilu dari balik bantal.
__ADS_1
"Menangislah kalau itu membuatmu lega" Arnold masih mengelus punggung Inka untuk menyalurkan energi positifnya.
Cukup lama Inka menangis hingga akhirnya ia terlelap. Selama itu juga Arnold setia duduk disampingnya untuk menenangkan.
..........
"Kau sudah bangun?" Arnold yang baru selesai memasak sup iga masuk ke dalam kamar dan mendapati Inka sedang berdiri di depan jendela kamar dan menatap ke arah luar.
"Ayo kita makan, aku sudah buatkan sup Iga untukmu" Arnold mendekat ke arah Inka namun gadis itu tetap diam tak meresponnya.
"Sayang" Arnold memberanikan diri memeluk Inka dari belakang dan menaruh dagunya di bahu gadis itu.
"Jangan sedih lagi, ijinkan aku berada disampingmu selamanya agar aku bisa menjagamu ya?" kini Arnold mengendusi leher jenjang Inka.
"Bolehkan? yaaa?" Arnold mempererat pelukannya.
"Pakkkk,,," Inka tidak tau harus menjawab apa, hati dan pikirannya sangat kacau.
"Lihat aku, tatap mataku, apa benar kalau kau tidak menginginkan aku lagi dalam hidupmu?" Arnold memutar tubuh Inka menghadapnya.
"Apa tidak ada lagi cintamu untukku seperti dulu?" Arnold meraih pinggang Inka dalam dekapannya.
"A-aku,," Inka sangat gugup.
Cup, sebuah kecupan lembut mendarat di bibir mungil Inka. Secara perlahan tapi pasti Arnold pun menerobos ke dalam dan merasakan betapa gadis itu sangat manis. Inka yang awalnya ingin menolak pun akhirnya tak kuasa untuk membalas setiap sentuhan yang dilakukan oleh pria yang begitu ia cintai. Seketika rasa ragu itu menguap saat ia merasakan bahwa Arnold sangat tulus padanya. Mereka pun berpagut cukup lama untuk menyalurkan setiap emosi dan rasa yang selama ini terpendam.
"Ayo kita makan" setelah menyelesaikan segala kegalauan yang terpendam antara mereka berdua selama ini, Arnold akhirnya menuntun Inka ke sofa dan mulai menyuapi gadis itu.
"Aku bisa sendiri" Inka meraih mangkuk supnya.
"Sudah diam saja, jangan cerewet!" Arnold menolak memberikan mangkuknya.
"Terima kasih pak" Inka tersenyum kepada Arnold.
"Sayang, panggil aku sayang mulai sekarang!" Arnold menekankan status mereka.
"Tapi aku tidak terbiasa" Inka sangat malu.
"Kau harus terbiasa nyonya Arnold, karena sejak saat ini hingga sisa umurmu nanti kau harus terus memanggilku dengan sebutan itu!" Arnold tersenyum jahil.
"Pakkkkk" Inka memukul lengan Arnold dengan manja.
"Sayang!" Arnold protes.
"Iya deh sayang" Inka malu-malu.
"Nah gitu dong, baru namanya nyonya Arnold!" seloroh pria tampan itu sambil menyuapi Inka supnya.
__ADS_1
Malam itu adalah malam yang menjadi permulaan bagi hubungan mereka berdua. Aura kebahagiaan begitu terasa di hati keduanya. Inka yang awalnya merasa sedih karena sang ayah pun bisa dengan mudah melupakannya.
"I love you Inkania" Arnold mengecup kening Inka sebelum akhirnya pulang ke rumahnya.