
"Selamat pagi semua" Gamal yang datang pagi hari ke kediaman Mike Anderson menyapa semua anggota keluarga yang sedang duduk sarapan di meja makan.
"Pagi Gamal, apa kau sudah sarapan?" tanya Ananda.
"Sudah, tadi di rumah bersama yang lain" jawab Gamal.
"Dimana Gide?" Dimas mencari keberadaan Gide.
"Dia berangkat langsung ke kantor bersama papa" jawab Gamal.
"Oh" Dimas hanya ber oh ria saja.
"Bun, yah, aku berangkat dulu ya, mau urus kelengkapan ijasah" Sera sudah bersiap-siap berangkat, ia sengaja menghindar dari Gamal.
"Biar aku antar ya" Gamal langsung berdiri saat melihat Sera sudah mengambil tas dipunggungnya.
"Tidak usah" Sera menjawab datar tanpa melihat ke arah Gamal.
"Tidak apa-apa sekalian jalan seperti biasa" Gamal berusaha tersenyum.
"Ck" Sera hanya bisa berdecak karena tidak bisa menolaknya.
"Kami berangkat dulu ya" Gamal berpamitan kepada semuanya sementara Sera sudah berjalan dengan cepat menuju halaman.
"Hati-hati di jalan ya" Ananda berpesan kepada keduanya.
"Mereka itu benar-benar deh" Gaby akhirnya melihat juga secara langsung interaksi keduanya yang memang seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang berkelahi.
"Bun, Yah, apa kalian sudah tau tentang hubungan rumit antara Sera dan Gamal?" Gaby langsung to the point kepada kedua orang tuanya.
"Mereka hanya masih butuh waktu kak" jawab Mike.
"Jadi selama ini ayah tau?" Gaby tidak percaya.
"Ayahmu ini sudah tua kak, jangankan galau ditinggal pacar pergi, ditinggal istri meninggal saja sudah pernah. Ayah juga tau bagaimana rasanya galau ketika jatuh cinta lagi pada bunda disaat hati ayah merasa bahwa cinta ayah masih untuk ibu" Mike berefleksi pada pengalamannya dengan Ariella dan juga Ananda.
"Hemmmm iya juga sih" Gaby manggut-manggut.
__ADS_1
"Kalau pendapat bunda gimana?" Gaby merasa penasaran dengan Ananda.
"Sera masih terlalu kecil untuk memikirkan hal seperti itu, jadi bunda tidak mau ambil pusing, bunda mau Sera kuliah dulu, nanti kalau memang mereka berdua berjodoh pasti juga akan menikah pada akhirnya, seperti kakak dengan Dimas" jelas Ananda.
"Jadi pada dasarnya kalian merestui mereka kan?" Gaby masih belum puas.
"Apapun yang terbaik buat Sera, bunda pasti merestui" jawab Ananda.
"Waktu akan menjawab segalanya sayang" Dimas mengelus punggung sang istri yang sedang menggebu-gebu.
"Sejujurnya kakak gemes sama mereka, ingin sekali rasanya menyeret dua manusia penuh gengsi itu ke pelaminan" kata Gaby gemas.
"Ck, kakak sudah mulai ikut-ikutan duo grandma deh jadi makcomblang" Mike berdecak melihat sang putri yang menuruni sifat grandmanya.
"Ih apa sih ayah, kakak kan cuma mau yang terbaik bagi mereka!" Gaby protes.
"Biar waktu yang menjawab maaaaa" Dimas lagi-lagi harus menenangkan semangat membara sang istri.
"Iya, iya, mama tau paaaa" Gaby akhirnya menyerah.
..........
"Istri kecil, kau masih marah ya?" Gamal akhirnya memberanikan diri memulai percakapan.
"Maaf ya" Gamal meminta maaf dengan tulus.
"Seraaaa" Gamal akhirnya menghentikan mobilnya di tempat yang sepi.
"Apa sih" Sera menepis tangan Gamal yang hendak menggenggamnya.
"Hey lihat aku" Gamal mengarahkan wajah Sera kewajahnya.
"Ck" Sera hanya berdecak.
"Beri aku kesempatan plissss" Gamal menggenggam tangan Sera.
"Buat apa?" tanya Sera ketus.
__ADS_1
"Buat hubungan kita" Gamal menatap wajah cantik gadis kecilnya.
"Aku kan sudah bilang, sampai kapan pun aku tidak akan mau berhubungan dengan pria yang tidak pernah mencintai aku!" Sera berkata dengan tegas.
"Aku akan belajar mencintaimu Sera" Gamal berkata dengan sungguh-sungguh.
"Aku sudah terlambat, cepat jalankan mobilnya" Sera mengalihkan pembicaraan.
"Huffff" Gamal yang sadar bahwa memang ini semua karena dirinya yang belum bisa menetapkan hatinya hanya bisa menghela nafas.
"Nanti siang aku jemput ya, tunggu aku oke?" Gamal mengelus kepala Sera dengan lembut.
"Tidak perlu, nanti siang aku sudah janji dengan Luke" jawab Sera dingin.
"Kau masih berhubungan dengannya?" Gamal lagi-lagi menghentikan laju mobilnya.
"Kenapa berhenti lagi? aku sudah terlambat!" Sera meninggi.
"Janji dulu kau tidak akan berhubungan dengan Luke lagi, baru aku akan jalan!" Gamal menyodorkan jari kelingkingnya.
"Mau jalan atau aku naik angkutan umum?" Sera mengancam tanpa mempedulikan jari Gamal yang sudah ada di depannya.
"Baiklah" Gamal akhirnya menjalankan kembali mobilnya.
"Apa sih hebatnya Luke? kenapa kau mau menerimanya?" Gamal berusaha setenang mungkin bertanya kepada Sera meskipun hatinya bergemuruh kesal.
"Seraaa, kenapa kau diam saja?" Gamal mengelus pipi Sera dengan lembut.
"Karena dia mencintaiku, dia memperjuangkan cintanya untukku dan tidak kenal lelah mengejar cintaku!" jawab Sera yang sontak menohok Gamal.
"Kalau aku memperjuangkan cintaku untukmu, apa kau akan memberi aku kesempatan?" tanya Gamal.
"Sudahlah kak, aku tau cinta kakak hanya untuk kak Niken seorang, jadi kakak tidak usah repot-repot bersandiwara di depanku, toh aku sudah bahagia bersama Luke!" Sera membuka sabuk pengamannya karena mereka sudah berada di depan halaman sekolah Sera.
"Nanti siang tunggu aku jemput ya?" Gamal berkata sebelum Sera keluar.
"Terserah!" jawab Sera sambil keluar mobil dan menutup pintunya dengan cukup keras.
__ADS_1
"Sabar Gamal, Sabar!" Gamal bermonolog pada dirinya sendiri sambil menatap Sera yang berjalan menjauh.