
"Selamat malam tuan" seorang pelayan menyambut kedatangan Gamal.
"Malam, dimana Sera?" Gamal bertanya kepada pelayan yang menyambutnya itu.
"Nona Sera sudah tidur tuan" jawab sang pelayan dengan hormat.
"Yang mana kamarnya?" Gamal sudah tidak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatinya itu.
"Di lantai atas, pintu pertama sebelah kanan, mari saya antar" sang pelayan hendak berjalan menunjukkan letak kamar Sera.
"Tidak usah, biar aku sendiri saja, terima kasih" Gamal kemudian berjalan dengan langkah yang lebar menyusuri anak tangga.
Dengan degub jantung yang begitu cepat Gamal memegang gagang pintu dan mencoba membukanya dengan perlahan.
Ceklek, pintu kamarnya tidak dikunci. Gamal masuk ke dalam dalam diam. Lampu tidur yang redup membuatnya harus beradaptasi dengan suasana pencahayaan di kamar. Namun demikian ia tetap bisa menangkap siluet Sera yang sudah tertidur lelap memunggunginya. Tanpa menunggu lama Gamal langsung meringsek masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh mungil gadis itu dari belakang serta menempelkan wajahnya di tengkuk Sera. Sera yang merasakan adanya pergerakan di belakang tubuhnya pun kemudian membalikkan badan hingga wajah mereka saling berhadapan dengan tangan Gamal yang masih melingkar di pinggangnya dan memeluk tubuh gadis itu dengan erat.
"Kak Gamal?" Sera menyapa Gamal dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"Hai" Gamal tersenyum begitu ia melihat wajah polos dan natural milik Sera.
Karena Sera sangat mengantuk dan menganggap bahwa Gamal yang ada dihadapannya hanyalah mimpi, ia pun kemudian kembali memejamkan matanya sambil membalas pelukan Gamal tanpa berkomentar apapun. Sera menempelkan kepalanya di dada bidang Gamal dan mengendus aroma tubuh pria itu.
"Kenapa mimpi ini terasa begitu nyata? kenapa pelukanmu begitu hangat kak? aroma tubuhmu pun begitu membuatku nyaman!" Sera hanya membatin saja tanpa ingin banyak bicara ataupun bergerak mengubah posisinya yang sedang berpelukan erat dengan Gamal. Ia takut jika ia terbangun maka semua kenyamanan yang sedang ia rasakan tiba-tiba hilang dan menguap bersama mimpinya.
Gamal yang juga merasa kelelahan setelah melakukan perjalan udara yang panjang pun tidak mau banyak bicara. Ia yang sudah sangat merindukan Sera sejak dua minggu lalu hanya ingin menikmati kebersamaan mereka dengan tenang. Mereka berdua pun akhirnya tertidur dengan lelap hingga pagi menjelang.
..........
"Astaga!" Sera yang sudah sadar secara penuh sangat terkejut melihat sosok yang tidur di sampingnya.
"Selamat pagi" Gamal tersenyum saat melihat Sera menunjukkan ekspresi tidak percaya.
"Kak kau benar-benar datang?" Sera langsung duduk dengan tegap menghadap ke arah Gamal.
__ADS_1
"He em" Gamal hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kau tidak bilang kalau mau datang ke sini?" Sera protes.
"Aku ingin memberimu kejutan" Gamal bergeser ke arah Sera dan meletakkan kepalanya di paha gadis itu sebagai bantal.
"Ada apa kau ke sini?" Sera masih heran dengan kedatangan Gamal yang tiba-tiba.
"Aku sangat merindukanmu" Gamal memeluk pinggang gadis itu dan membenamkan wajahnya di perut Sera.
"Kak jangan seperti ini!" Sera merasa risih dengan posisi mereka.
"Sebentar saja, aku mohon" Gamal semakin mempererat pelukannya.
Sera yang melihat Gamal seperti anak kecil pun akhirnya tidak tahan untuk mengelus kepala pria itu. Gamal yang merasakan belaian lembut tangan Sera dikepalanya pun tersenyum.
"Sera" Gamal menengadahkan kepalanya menghadap ke wajah Sera.
"Aku sangat mencintaimu" Gamal membelai lembut wajah Sera.
"Kak!?" Sera sangat terkejut dengan pernyataan Gamal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Maukah kau menikah denganku dan menjadi ibu bagi anak-anakku kelak?" Gamal kemudia meraih tangan Sera dan mengecupnya dengan lembut.
"Kak, kenapa tiba-tiba kau berbicara seperti ini?" Sera bingung harus bereaksi apa.
"Karena aku mencintaimu sayang" Gamal merubah posisinya menjadi duduk dan menghadap Sera.
"Kau tau, selama dua minggu kau berada di sini hidupku rasanya sangat kacau, kepergianmu sukses membuat hidupku jungkir balik tidak karuan, aku baru sadar kalau aku tidak bisa hidup jauh darimu, aku mencintaimu Serafim Anderson!" Gamal menatap dengan intens wajah Sera.
"Kak akuuu" Sera tercekat.
"Aku akan sabar menunggu sampai kau siap, sampai kapan pun aku tidak akan pernah berpaling kepada wanita lain, bahkan ketika kau menolakku maka aku lebih baik hidup sendiri sampai aku mati nanti" Gamal mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam.
__ADS_1
"Bagaimana dengan kak Niken?" Sera merasa bahwa dirinya menjadi perusak hubungan orang lain.
"Sudah aku katakan bukan, aku dan Niken tidak seperti yang kau banyangkan. Memang benar waktu pertama kali kami bertemu kembali aku sempat berciuman dengannya karena aku menganggap aku masih mencintainya dan sangat merindukannya, namun ternyata perasaanku padanya telah berubah, aku merasa cintaku padanya sudah mulai hilang seiring berjalannya waktu, kini hanya ada namamu di hatiku" Gamal menarik tangan Sera dan meletakkannya di dadanya.
"Bukankah itu tidak adil bagi kak Niken?" Sera masih mencemaskan perasaan Niken.
"Dia yang pencampakkan aku selama empat tahun, aku dulu sudah berusaha untuk memperjuangkannya tapi dia menghilang begitu saja, jadi jangan salahkan aku jika akhirnya aku menemukan cinta sejatiku ditempat lain" Gamal membela diri.
"Tapi waktu itu kan kak Niken sedang sakit!" Sera sangat baik hati.
"Seharusnya dia jujur padaku, kalau dia mencintaiku, dia pasti akan mengatakan segala permasalahannya kepadaku supaya kami bisa menyelesaikannya bersama-sama, tapi buktinya dia malah menghilang, itu artinya dia tidak percaya padaku!" Gamal tidak mau menceritakan kenyataan yang sesungguhnya tentang Niken kepada Sera.
"Tapi kakkkk" Sera ingin menyanggah lagi namun ia merasa semua yang dikatakan oleh Gamal adalah fakta sehingga ia tidak bisa berkata-kata lagi.
"Sampai kapan kau akan terus memikirkan perasaan orang lain? Niken sekarang sudah baik-baik saja, percayalah padaku!" Gamal mengusap pipi Sera dengan lembut, sementara Sera hanya diam untuk mencerna semua keadaan yang tiba-tiba saja ia alami pagi ini.
"Apa hari ini kau ke kampus?" Gamal kemudian mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya" Sera mengangguk.
"Kalau begitu bersiaplah, aku akan mengantarmu" Gamal mengacak-acak rambut Sera yang tergerai.
"He em" Ia kembali mengangguk.
Gamal kemudian berdiri dan keluar dari kamar Sera. Ia turun ke lantai satu untuk mencari barang-barangnya yang semalam ia tinggalkan begitu saja saking rindunya kepada Sera.
"Selamat pagi tuan" sapa sang pelayan.
"Pagi, dimana barang-barangku berada?" Gamal bertanya.
"Sudah ada di kamar anda tuan, di lantai dua tepat di depan kamar nona Sera" jawab sang pelayan.
"Oke baiklah, terima kasih" Gamal kemudian naik lagi ke lantai dua untuk membersihkan dirinya di kamar.
__ADS_1