
"Kau pulang jam berapa nanti?" Gamal memastikan jadwal sang istri saat mereka hampir tiba di depan kampus.
"Jam tiga sudah selesai" kata Sera sambil mengecek jadwalnya.
"Mau langsung pulang atau mampir dulu?" Gamal menoleh ke arah sang istri.
"Sepertinya aku mau langsung pulang saja, mau istirahat" Sera ingin beristirahat lebih lama di rumah mengingat semalam ia tidur begitu larut karena harus menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai seorang istri kepada suaminya.
"Ya sudah kalau begitu, selamat belajar ya sayangku, yang semangat yaaa" Gamal mengecup bibir mungil Sera sebelum istrinya keluar dari mobil.
Meskipun Gamal agak khawatir dengan cerita Sera semalam tentang dosennya, namun Gamal berusaha tetap bersikap tenang dan semaksimal mungkin membuat sang istri tidak merasa cemas.
"Kau juga semangat ya bekerjanya" Sera membalas kecupan sang suami.
"Pasti, aku pasti akan semangat mencari rejeki untuk istriku tercinta ini" Gamal kembali mengecup, rasanya ia masih belum rela berlama-lama berpisah dari sang istri.
"Hati-hati di jalan ya sayang, i love you" Sera kemudian membuka pintu mobilnya.
"I love you more sweety" Gamal tersenyum sebelum pintu mobil di tutup oleh sang istri.
Setelah saling melambaikan tangan dan Sera berjalan menjauh dari mobil, kemudian Gamal pun akhirnya melajukan mobilnya menuju kantor pusat Anderson.
..........
"Seraaaa" Bitha berteriak ketika melihat Sera yang berjalan menuju ke arahnya.
"Hai, kalian lagi pada ngapain sih?" tanya Sera yang penasaran dengan teman-temannya yang sedang berkerumun.
"Ini ada acara malam inagurasi untuk mahasiswa baru" Indah menyodorkan undangan kepada Sera.
"Kita menginap?" Sera terkejut.
"Iya kita akan kemping satu malam di tempat perkemahan" Bitha mengangguk.
"Apa semua mahasiswa baru wajib ikut?" Sera sesungguhnya sangat berat hati jika harus berpisah dari Gamal.
"Sepertinya begitu, karena inagurasi ini memang ditujukan untuk kita para mahasiswa baru" jelas Bitha lagi.
"Hemmmm baiklah" meskipun dengan berat hati Sera pun akhirnya menerima semua itu.
"Aku dengar dari kakak kelas yang jadi panitia nanti acaranya bakal seru loh, akan ada banyak tamu penting yang hadir untuk memotivasi kita belajar agar lebih giat dan jadi orang sukses!" Indah sepertinya tidak sabar ingin cepat-cepat ikut.
"Memangnya sebegitu besarnya acara ini?" Sera yang tidak pernah tau sebelumnya menjadi penasaran.
"Iya, makanya sekarang panitia sedang mencari dana supaya acara bisa berlangsung sesuai rencana" jawabnya dengan sumringah.
"Mereka juga mengijinkan kita membantu mencari dana loh!" Ari yang merupakan salah satu teman sekelas Sera pun ikut nimbrung.
"Kau mau ikut tidak menjadi panitia dana?" Bitha membujuk Sera.
"Tidak ah, aku tidak begitu pandai berorganisasi" Sera menolak mentah-mentah.
__ADS_1
"Yahhhh padahal aku tadinya mau mengajakmu" Bitha menghela nafas.
"Sama Indah dan Ari saja, kan kalian sangat supel" kata Sera sambil menunjuk keduanya.
Setelah cukup lama menunggu jadwal kuliah dengan berbincang-bincang tentang malam inagurasi, akhirnya Sera dan teman-temannya masuk ke kelas untuk mengikuti perkuliahan pertama mereka.
"Selamat pagi semua" Arnold tersenyum dengan sumringah di depan kelas. Setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas, pandangan akhirnya pun jatuh ke arah Sera.
"Selamat pagi pak" jawab para mahasiswa dengan serempak.
"Baiklah, sebelum saya memulai materi pelajaran hari ini, saya ingin menyampaikan terlebih dahulu informasi mengenai kegiatan bagi mahasiswa baru. Jadi seperti budaya di kampus kita, bahwa setiap tahun ajaran baru akan diadakan penyambutan bagi mahasiswa baru dengan diadakannya acara malam inagurasi. Tujuannya selain untuk ajang mengakrabkan diri antara sesama mahasiswa dan juga para dosen, juga sebagai wadah komunikasi dan motivasi bagi mahasiswa agar bisa menjadi mahasiswa yang berprestasi dan unggulan. Kebetulan tahun ini saya yang didaulat untuk menjadi pendampingnya, oleh sebab itu dengan ini saya ingin mengundang kalian semua untuk bisa hadir serta mendukung keberhasilan acara tersebut. Bagi yang ingin berkontribusi menjadi panitia, kami juga sangat terbuka, karena saat ini kami sedang mencari tim untuk menggalang dana. Jadi silahkan yang tergerak untuk bergabung, bisa langsung datang ke ruang badan eksekutif mahasiswa dan mendaftar langsung sebagai panitia. Jika ada hal yang kurang jelas, teman-teman juga bisa langsung bertanya kepada panitia atau kepada saya secara langsung, kami akan dengan senang hati menjawab semua yang bisa kami jawab!" Arnold menjelaskan panjang lebar tentang mekanisme malam inagurasi kepada seluruh mahasiswanya.
"Oke, ada pertanyaan?" Arnold kembali berkata kepada seluruh mahasiswa namun tetap dengan menatap intens kepada Sera.
"Kalau tidak ada, maka kita bisa mulai ya perkuliahannya" kemudian Arnold pun menjelaskan materinya hingga waktu kuliah selesai.
..........
"Serafim" Arnold yang sengaja keluar kelas berbarengan dengan Sera menegurnya di depan pintu.
"Ya pak" Sera menengok.
"Bisa bantu saya?" Arnold menatap dengan memohon.
"Bantu apa ya pak?" Sera bingung.
"Ayo ke ruangan saya, akan saya jelaskan di sana!" Arnold mengajak Sera ke ruangannya.
"Hanya sebentar kok, nanti saya yang minta ijin langsung kepada dosen kamu" Arnold agak sedikit memaksa.
"Baik pak" Sera tidak punya pilihan lain karena memang dia hanyalah seorang mahasiswa.
"Silahkan duduk" Arnold menunjuk kursi di depan meja kerjanya. Mereka kemudian duduk secara berhadapan.
"Ada aap pak?" Sera to the point, ia tidak mau terlalu lama berada dalam satu ruangan hanya berdua dengan Arnold.
"Ini, bisakah kamu membantu saya mengecek data di proposal ini? tolong cek semua angkanya dan cocokan harga-harga barang yang tertera di situ dengan harga yang ada di pasaran!" Arnold menyodorkan proposal anggaran pengeluaran untuk malam inagurasi kepada Sera.
"Maaf pak, sejujurnya saya buta akan organisasi, apalagi untuk mengecek proposal ini dan angka-angkanya, saya tidak paham sama sekali" Sera memang berkata apa adanya.
"Saya akan bantu kamu mengecek harganya dan cara menghitungnya" Arnold tidak mau menyerah.
"Apa ini akan masuk ke nilai mata kuliah bapak?" Sera kemudian mencari akal.
"Tidak, ini hanya kegiatan voluntir saja" Arnold menjelaskan.
"Jika ini sifatnya voluntir berarti tidak terikat oleh SKS dan bebas dikerjakan siapa saja kan ya pak?" Sera mempertegas.
"Tentu saja, ini sifatnya bebas dan tidak terikat" Arnold mengangguk.
"Kalau begitu saya terima" Sera menjawab dengan tegas.
__ADS_1
"Good job!" Arnold sangat senang karena seperti mendapat angin segar.
"Kapan saya harus mengerjakan ini?" tanya Sera.
"Bagaimana kalau nanti sepulang kuliah?" Arnold memberikan penawaran.
"Baik, nanti saya akan datang!" Sera mengangguk dengan yakin.
"Oke saya tunggu nanti ya!" Arnold berbinar-binar.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak!" Sera keluar ruangan dengan santai, meninggalkan Arnold dengan hati yang berbunga-bunga.
..........
"Kau dari mana?" Bitha bertanya.
"Aku habis diberi tugas oleh pak Arnold.
"Tugas apa?" Indah penasaran.
"Mencari orang untuk jadi panitia dan membantunya!" Sera berkata dengan serius.
"Benarkah?" Ari antusias.
"Apa kalian mau membantuku menjadi panitia?" Sera menawarkan tugasnya kepada teman-temannya.
"Aku mau!" jawab Bitha semangat.
"Aku juga mau!" Indah dan Ari menjawab serentak.
"Kalau begitu nanti jam tiga kalian ikut aku ya ke ruangan pak Arnold, kita akan mulai bekerja jadi panitia!" Sera menyeringai jahil karena sesungguhnya itu hanyalah akal bulusnya saja agar terhindar dari Arnold.
"Oke!" Bitha sangat senang.
Setelah perkuliahan selesai mereka berempat kemudian menuju ruangan Arnold.
Tok Tok Tok.. Sera mengetuk pintu ruangan Arnold.
"Masuk!" Arnold menjawab.
"Permisi pak" Sera menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Ahhh kau sudah datang, ayo masuk!" Arnold sumringah.
Kemudian Sera pun mengajak ketiga temannya masuk.
"Loh kalian?" Arnold bingung.
"Seperti yang bapak bilang tadi pagi bahwa pekerjaan ini adalah bersifat voluntir dan bebas, maka saya mengajak mereka bergabung pak, karena mereka sangat antusias dan bersemangat untuk menjadi panitia. Bukankah lebih banyak tim yang bekerja akan semakin lebih baik?" tanya Sera dengan senyum jahilnya.
"Iya benar, semakin banyak yang bekerja akan semakin baik" Arnold tersenyum kecut.
__ADS_1
Kemudian mereka berempat pun bekerja di ruangan Arnold secara kompak. Kegaduhan pun tak bisa dihindari ketika keempat mahasiswa baru itu berdebat tentang jumlah harga dan akumulasinya, membuat Arnold dongkol setengah mati.