
Waktu berjalan begitu cepat, kini usia Syeba sudah genap satu tahun. Tingkah polahnya yang lucu dan menggemaskan pun membuat Sera dan Gamal merasa sangat bahagia. Hari-hari mereka selalu dipenuhi dengan keceriaan dan canda tawa dari putri tunggalnya itu.
"Kok Divo nempel sama papa terus sih dari tadi?" Gamal bertanya kepada keponakannya yang sejak tadi selalu duduk di sebelah Dimas saat mereka sedang berkumpul di rumah utama.
"Aku sebal tidak punya teman!" Divo menggerutu kesal.
"Loh kan ada adik-adiknya tuh" kata Gide sambil menunjuk ke arah Diva, Syeba dan Cilla.
"Habis semuanya anak perempuan sih, hanya aku saja yang laki-laki sendiri" jawab Divo dengan wajah yang ditekuk.
"Kalau begitu Divo minta buatkan adik laki-laki saja sama mama dan papa biar punya teman main" Gamal berseloroh sambil menatap Dimas dengan wajah yang jahil.
"Papa aku mau adik laki-laki!" Divo yang dikompor-kompori oleh Gamal pun langsung merajuk kepada Dimas.
"Kalau papa sih mau-mau saja punya adik lagi, tapi kan mama tidak mau kak" jawab Dimas kepada sang putra.
__ADS_1
"Ya dibujuklah biar mamanya mau" kata Gide dengan santainya.
"Paaaaa adik laki-laki paaaaaa" Divo benar-benar menginginkannya.
"Tuh lihat, apa kau tidak kasihan sama Divo?" Gamal benar-benar tersenyum dengan usil.
"Kau seperti tidak tau Gaby saja, dia kan sudah kapok hamil dan melahirkan, kalau aku memaksa pasti dia bisa murka" Dimas membayangkan kalau sampai Gaby marah padanya.
"Pakai strategi dong bro biar Gaby mau menerimanya" Gamal tetap memprovokasi.
"Kalau cuma ngomong sih gampang, tapi pada prakteknya sangat susah tau, secara istriku itu pakai pil KB!" Dimas tidak berani macam-macam dengan sang istri.
"Ngaco, sudah gila apa kau ini!" Dimas geleng-gelengkan kepalanya saat mendengar ide gila dari sahabat yang sekaligus juga menjadi adik iparnya itu.
"Kalau kau berhasil, nanti Gide akan memberimu hadiah uang satu milyar, iya kan Gide?" Gamal meminta dukungan dari sang adik.
__ADS_1
"Dih enak saja, masa aku yang harus kasih hadiah!" Gide menolak usul sang kakak.
"Ya sudah gini saja, bagaimana kalau kita bertiga taruhan bikin istri kita pada hamil lagi? kalau sampai ada yang tidak bisa menghamili istrinya, berarti dia yang harus bayar satu milyar kepada dua orang yang lainnya! bagaimana?" Gamal memang paling jago kalau urusan yang seperti ini.
"Setuju!" Gide mengangguk, baginya taruhan kali ini akan sangat menyenangkan, karena selain bisa enak-enak dengan sang istri, dia juga akan dapat bonus bisa dapat anak kedua dan tambahan uang jajan jika sampai ada yang kalah taruhan.
"Ck, kalian ini bisanya bikin repot saja!" Dimas berdecak kesal karena taruhan itu seperti menjebaknya.
"Kan demi Divo bisa punya adik laki-laki ya?" Gamal memberikan kode kepada sang keponakan.
"Iya pa benar, papa pasti bisa kasih aku adik laki-laki!" Divo yang sudah besar pun memberi dukungan kepada sang papa.
"Kalau adiknya yang lahir ternyata perempuan lagi bagaimana?" Dimas menakut-nakuti putra sulungnya.
"Ya tidak apa-apa, kan yang penting papa sudah mencoba buat kasih aku adik laki-laki" Divo sok bijak.
__ADS_1
"Baiklah, tapi kakak jangan bilang mama ya tentang rencana ini, kalau sampai bocor ke telinga mama bararti nanti kita dihukumnya harus berdua loh ya, kan papa melakukan ini demi kakak Divo senang!?" Dimas akhirnya setuju, karena sesungguhnya ia memang ingin punya anak satu lagi, entah itu perempuan atau laki-laki.
Setelah kesepakatan dibuat, mereka pun kemudian mulai merencanakan aksinya masing-masing.