Sangkakala Milik Serafim

Sangkakala Milik Serafim
Janji Arnold


__ADS_3

Kringggg,,,


Telpon Sera berbunyi menunjukkan nama Gaby.


"Halo kak" jawab Sera.


"Kau sedang dimana?" tanya Gaby dengan nada panik.


"Aku dan kak Gamal sedang menjenguk teman kuliahku yang sedang sakit di rumahnya" Sera menjawab lagi.


"Apa kau bisa datang ke rumah sakit sekarang juga?" suara Gaby terdengar sangat cemas.


"Ada apa kak?" Sera yang tidak tau apa-apa pun jadi ikutan cemas.


"Rachel,," suara Gaby tercekat.


"Ada apa dengan Rachel?" firasat buruk sudah melingkupi Sera.


"Tadi dia pingsan saat sedang kuliah, kemudian saat dibawa ke rumah sakit hasilnya positif!" Gaby menjelaskan dengan suara yang bergetar.


"Maksud kakak dia hamil?" Sera langsung menebak dan sontak membuat Gamal membelalakkan matanya.


"Iya" Gaby hanya bisa menjawab singkat.


"Baiklah, aku dan kak Gamal akan langsung ke rumah sakit sekarang juga!" Sera segera menutup telponnya.


"Sayang!?" Sera menatap suaminya penuh arti. Gamal yang paham pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Ayo" dengan sigap ia menggandeng sang istri.


"Kak Inka, pak Arnold, maaf ya kami harus segera pulang, ada urusan keluarga yang mendesak" Sera menjelaskan.


"Apa ada masalah penting?" Arnold menatap Gamal.


"Ah tidak, hanya urusan keluarga saja" Gamal tidak ingin aib keluarga Anderson menjadi konsumsi publik.


"Terima kasih ya Sera, kak Gamal, maaf aku jadi merepotkan kalian" Inka merasa tidak enak hati.


"Jangan begitu, kita kan teman, kakak cepat sembuh ya, nanti kalau aku ada waktu luang pasti akan datang lagi, kalau butuh sesuatu bilang ya kak!" Sera memeluk Inka sebelum berpisah.


"Iya, hati-hati di jalan ya" Inka membalas pelukan Sera.


Setelah melakukan salam perpisahan Sera dan Gamal pun pamit pergi meninggalkan Inka dan Arnold di dalam kamar hanya berdua saja.


"Ada apa?" Arnold bertanya kepada Inka yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bapak tidak pulang juga?" Inka bertanya dengan polos.

__ADS_1


"Kau mengusirku?" Arnold mendekat ke arah Inka dan duduk di tepian tempat tidurnya.


"Tidak, aku tidak bermaksud mengusir,," Inka panik saat merasa salah bicara.


"Kalau tidak mengusir lalu apa namanya hemmm?" Arnold sengaja membuat gadis itu semakin panik.


"Duh maaf pak, bukan begitu maksudnya, kan yang lain sudah pada pulang, memangnya bapak tidak lelah seharian di luar rumah? ini kan sudah mulai menjelang malam, makanya saya bertanya kenapa bapak tidak pulang, begitu!" Inka berusaha mengklarifikasi ucapannya dengan mimik wajah yang gugup, membuat Arnold semakin geli.


"Bwahahahahahah, kau ini lucu juga ya kalau sedang panik!" Arnold tidak tahan lagi untuk tidak tertawa terbahak-bahak.


"Bapak mengerjai aku?" Inka baru sadar kalau dosennya itu sedang menjahilinya.


"Kau ini bodoh sekali, pantas saja ayahmu menindasmu seperti ini!" Arnold menyentuh pipi Inka dengan jarinya.


"Awwwww" Inka meringis.


"Apa masih sakit?" Arnold mendekat dan mengamati pipi Inka yang lebam keunguan akibat tamparan bertubi-tubi dari sang ayah.


"Sedikit" Inka berbohong, padahal rasanya sangat nyeri luar biasa.


"Tunggu sebentar!" Arnold kemudian berdiri dan keluar kamar meninggalkan Inka duduk termenung dengan sikap Arnold yang sangat berbeda dari biasanya.


"Apa itu?" Inka penasaran dengan baskom yang dibawa oleh Arnold setelah ia kembali ke dalam kamar.


"Es" jawab Arnold singkat sambil mengambil sebuah waslap yang sudah di rendam di air es.


"Untuk dibuat jus" jawab Arnold dengan asal.


"Hah???" Inka kebingungan.


"Tentu saja untuk mengompres lukamu!" Arnold mulai menempelkan waslapnya ke wajah Inka yang lebam secara perlahan.


"Pak jangan repot-repot, biar saya sendiri saja" Inka sangat sungkan.


"Kau ini kenapa cerewet sekali sih? bisa diam tidak!" Arnold pura-pura marah.


"Maaf" Inka cemberut.


"Wajahmu itu sudah sangat jelek, kalau cemberut begitu akan semakin jelek!" Arnold tersenyum jahil.


"Pakkkk" Inka lagi-lagi dikerjai oleh sang dosen.


"Hahahahahah, iya maaf, maaffff" Arnold kemudian terkekeh sambil terus mengompres wajah Inka dengan perlahan sampai semuanya merata.


Tok Tok Tok,,


"Permisi, non ini bubur pesanannya" sang asisten rumah tangga masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi bubur.

__ADS_1


"Loh aku tidak pesan bubur kok!" Inka terkejut.


"Aku yang pesan, terima kasih" Arnold berdiri dan kemudian menerima nampan itu sambil tersenyum kepada sang asisten.


"Ayo buka mulutmu" Arnold menyendokkan bubur.


"Pak biar aku sendiri saja" Inka mencoba meraih sendok yang dipegang oleh Arnold.


"Diam dan buka mulut!" Arnold menatap dengan tajam membuat Inka menciut. Gadis itu makan dalam diam tanpa berani banyak bicara.


"Sekarang istirahatlah!" setelah semua bubur habis, Arnold pun menaruh mangkuk kosongnya ke atas nakas, kemudian ia menarik selimut sampai menutupi dada gadis itu.


Tok Tok Tok,,


"Permisi pak Arnold, ini ada kiriman baju ganti untuk bapak" asisten rumah tangga Inka mengantarkan sebuah paper bag ke kamar gadis itu.


"Terima kasih ya" jawab Arnold.


"Loh kenapa ada kiriman baju ganti segala?" Inka bingung.


"Aku akan menjagamu sampai kau benar-benar sembuh!" kata Arnold dengan santai.


"Pak aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dicemaskan, bapak bisa pulang kok!" Inka tidak menyangka bahwa Arnold sampai berencana menginap di rumahnya.


"Kau bilang seperti ini tidak apa-apa?" Arnold menekan pipi Inka yang biru keunguan.


"Awww pakkk sakit!" Inka protes.


"Nahhhh kannnn, baru dipegang sedikit saja sudah berteriak begitu, bagaimana kalau nanti ayahmu datang dan menganiayamu seperti semalam lagi hah?" Arnold berkacak pinggang.


"Tidak mungkin, ayahku tidak akan berani kesini lagi sampai aku sembuh nanti, aku sudah paham dengan pola itu!" karena ini bukan pertama kalinya Inka menjadi korban kekerasan sang ayah, maka ia pun sudah paham dengan siklus kekejaman ayahnya itu.


"Ck, kau sampai sebegitu hafalnya ya?" Arnold benar-benar tidak habis pikir bahwa ada ayah yang begitu kejam kepada putri kandungnya sendiri.


"Pak, lebih baik bapak pulang saja, aku tidak apa-apa kok sungguh!" Inka memasang wajah penuh keyakinan.


"Sudah jangan cerewet, sekarang cepatlah tidur, aku tidak akan pulang meski apapun yang kau katakan!" Arnold kemudian berjalan menuju kamar mandi.


"Kalau aku selesai mandi dan kau belum tidur juga, maka aku akan menghukummu saat kau sudah sembuh nanti!" Arnold berhenti untuk menoleh dan menatap Inka dengan tatapan intimidasi.


"Tapi pakkkk,," Inka hendak protes namun Arnold sudah keburu masuk ke dalam kamar mandi tanpa mau mendengarkannya.


Ceklek,,


Arnold yang sudah selesai mandi menghampiri Inka di tempat tidurnya. Tidak perlu menunggu lama untuk Inka bisa tertidur dengan lelap, selain ia memang sangat kurang tidur karena semalaman menangis, badannya pun terasa seperti remuk semua akibat penganiayaan yang diterimanya dari sang Ayah.


"Kenapa kau begitu bodoh? kenapa kau diam saja diperlakukan dengan kasar begitu oleh ayahmu? bukankah kau seharusnya bisa mengadu kepada seseorang yang kau percaya dapat melindungimu?" Arnold menatap Inka yang sudah terlelap dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah penuh luka itu.

__ADS_1


"Maafkan aku yang selama ini sudah mengabaikanmu dan menganggapmu gadis pengganggu, aku tidak tau kalau ternyata sikap cari perhatianmu di kampus selama ini adalah karena kau memang kurang perhatian dari ayahmu. Mulai sekarang kau bisa mengandalkan aku Inka, aku berjanji akan menjagamu dan membelamu di depan ayahmu!" Arnold sangat merasa iba dengan nasib yang dialami oleh Inka.


__ADS_2