
"Wahhhh jadi kau juga hamil ya?" Grandma Ruth sangat senang melihat kedua cucunya hamil dalam waktu yang bersamaan.
"Iya grandma" Sera menjawab dengan wajah yang sumringah saat seluruh keluarga besar Anderson berkumpul di rumah utama.
"Divo dan Diva sebentar lagi punya dua adik bayi lohhh" kata Grandma Merlyn sambil memeluk Diva.
"Nanti satu laki-laki, satunya lagi perempuan yaa" kata Diva dengan semangat.
"Iya, kita berdoa supaya lahirnya nanti sepasang ya" kata Grandma Ruth sambil mencubit pipi gembul Diva.
"Amin" Gandma Merlyn mengamininya.
Meskipun kehamilan Rachel adalah sesuatu yang diluar dugaan semua orang, namun tetap saja keluarga Anderson merasa bersukacita menyambutnya, sama seperti menyambut kehamilan Sera.
"Rach apa kau sudah mencari sanggar untuk senam selama hamil?" Sera bertanya kepada sang sepupu.
"Belum, aku belum sempat" Rachel menjawab dengan malas.
"Bagaimana kalau kita senam bersama saja? aku sudah menemukan tempat yang tepat lohhh" kata Sera semangat.
"Emmmm nanti aku pikirkan lagi ya" Rachel sama sekali tidak berminat.
"Oya kak Gide juga harus membantu ya, karena kata pelatihnya senam hamil itu sangat bagus kalau dilakukan bersama-sama dengan pasangannya, iya kan sayang?" Sera meminta dukungan Gamal.
"Iya betul, kita kan jadi bisa double date juga setelah pulang dari senam hamil!" Gamal paham dengan maksud Sera yang ingin membuat Rachel dan Gide menjadi lebih dekat lagi.
"Tentu saja, aku pasti akan melakukan apapun demi istri dan anakku tersayang" kata Gide dengan tulus sambil menatap Rachel yang bersikap acuh tak acuh akan obrolan mereka.
Meskipun belum ada cinta dihatinya untuk Rachel, namun dengan kehamilannya membuat Gide menjadi merasa bertanggung jawab penuh akan kehidupan wanita muda itu serta bayi mereka.
"Wahhh kalau ada acara ngedatenya segala aku ikut dongggg" Gaby merasa Iri.
"Berarti kakak juga harus ikutan hamil seperti kami heheheh" Sera berseloroh.
"No way, kalau itu sih terima kasih banyak deh!" Gaby menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tambah satu lagi boleh lahhhh" Gamal melirik Dimas.
"Kalau aku sih mau-mau saja dan siap menghamilinya kapan pun, tapi kan ratuku itu selalu menolak!" Seloroh Dimas.
"Papa ihhhh!" Gaby merasa suaminya terlalu vulgar.
"Kan papa hanya berkata yang sebenarnya maaa" Dimas mengangkat bahunya.
"Ayo kak, beri grandma cucu satu lagi" Grandma Merlyn pun mendukung Gaby untuk hamil anak ketiga.
"Sudah ah ganti topik" Gaby bersikeras tidak mau hamil lagi.
"Huhhh dasar kakak ini!" Sera mencibir.
"Kau tunggu saja sampai saatnya melahirkan nanti, kalau tidak merasa sakit berarti kau hebat!" Gaby membayangkan perutnya yang terasa nyeri akibat melahirkan.
"Sudah-sudah jangan berdebat lagi, lebih baik kita makan saja yuk, makanannya sudah matang lohhh" Ananda yang baru selesai masak bersama Ayu dan Maya melerai keduanya.
"Divo sayang panggilkan ketiga Grandpa di halaman belakang ya sayang!" Ayu meminta tolong kepada cucunya.
"Oke grandma" Divo yang sangat penurut langsung berjalan menuju halaman belakang untuk memanggil Mike, Ron dan George, serta menuju lantai dua untuk memanggil Rafael dan Richard.
"Huekkkk" Sera kembali mual saat mencium bau makanan yang disajikan di meja makan.
"Sayang apa kau mual lagi?" Gamal kembali cemas setiap kali melihat sang istri sudah mulai menunjukkan gejalanya.
"Sedikit, sepertinya aku lebih baik di dalam kamar saja untuk istirahat, aku tidak kuat mencium aroma makanan ini" Sera menutup hidungnya.
"Biar aku temani" kata Rachel.
"Kau tidak makan?" Gide bertanya pada istrinya.
"Aku tidak lapar" Rachel menjawab dengan datar.
"Baiklah ayo" Sera yang melihat ekspresi Rachel pun kemudian dengan senang hati menggandeng tangannya.
__ADS_1
Baginya ini adalah kesempatan bagus untuk bisa berbicara dari hati ke hati kepada sepupunya itu setelah semua masalah yang menimpanya dan membuat wanita muda itu merasa frustasi.
"Kita mau istirahat di kamarku atau di kamarmu?" tanya Sera.
Karena mereka sedang berada di rumah utama, maka setiap cucu Anderson memiliki kamarnya masing-masing yang posisinya saling berjejer atau berhadapan di lantai dua rumah besar yang seperti istana itu.
"Kamarmu saja" jawab Rachel yang memang menjadi malas berada di kamarnya sendiri karena kehadiran Gide.
"Ya sudah ayo!" Sera merangkul Rachel.
"Ngomong-ngomong apa kau baik-baik saja?" Sera menepuk kasur kosong disebelahnya sebagai kode agar Rachel mendekat.
"Entahlah" Rachel menjadi lebih tertutup sejak tragedi di villa waktu malam pengantin itu.
"Rach jujurlah padaku, aku tau kau sedang tidak baik-baik saja, ayo ceritalah, jangan dipendam sendiri! apa kau tidak percaya padaku?" Sera menatap wajah cantik sepupunya yang menunjukkan aura suram.
"Hiks hiks hiks" Rachel tiba-tiba memeluk Sera dan terisak.
"Menangislah kalau itu membuatmu lega!" Sera memeluk erat tubuh Rachel yang sangat rapuh.
Tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari Rachel. Hanya isak tangis pilu yang terdengar darinya.
"Mungkin saat ini kau masih butuh waktu untuk mencerna semua kajadian yang tidak mengenakkan ini dan aku paham itu pasti sangat berat, tapi satu hal yang harus kau tau adalah aku akan selalu ada di sampingmu dan mendukungmu apapun yang terjadi, kau adalah adikku dan aku sangat menyayangimu!" Sera menghapus air mata dari pipi Rachel.
"Terima kasih" Rachel masih terisak.
Malam itu Sera meminta Gamal untuk tidur di kamar lain karena ia ingin menemani Rachel dan memberi dukungan padanya. Meskipun tidak ada topik pembahasan apapun karena Rachel memang lebih memilih untuk diam sepanjang malam, namun Sera percaya bahwa kehadirannya bisa sedikit membantu meringankan perasaan hati Rachel.
......................
Halo semua, apa kabar? Nah yang dari kemarin nanyain kisah Rachel dan Gide, ini Rosi kasih bocoran dikit-dikit ya.. Nanti untuk detailnya ada di Novel mereka sendiri.. Mudah2an kalau tidak ada halangan akan segera rilis minggu depan, setelah Sera dan Gamal dibungkus rapih...
Soooo buat yang masih mau kisah The Andersons berlajut plis bantu like, komen, vote, hadiah, favorit, share dan follow Rosi ya supaya bisa lebih semangat nulisnya...
Happy reading all..
__ADS_1
Luv Luv...