
"Wajahmu kenapa suntuk seperti itu?" Gamal bertanya kepada kakak iparnya.
"Aku sudah mengakui dosaku kepada Gaby" kata pria itu kepada Gamal.
"Lalu apa reaksi Gaby?" Gide penasaran.
"Dia ternyata sudah tau sejak lama" Ekspresi Dimas sangat sedih.
"Benarkah?" kedua kakak beradik itu bertanya serentak.
"He em" angguknya.
"Apa istrimu marah?" Gamal sangat terkejut.
"Gaby tidak marah, hanya saja dia kecewa padaku, dia bilang aku tidak punya hati nurani" air muka Dimas sangat sedih.
"Apa sebegitunya Gaby tidak ingin punya anak lagi?" Gide belum tau alasannya.
"Sesungguhnya bukan karena dia tidak mau punya anak lagi, tapi ada alasan lain yang membuatnya tidak mau hamil!" katanya sambil membayangkan bagaimana saat sang istri terkulai lemah tak berdaya setelah tragedi penusukan.
"Memang apa itu?" tanya Gamal.
"Apa kau masih ingat dulu Gaby pernah terluka dibagian perutnya saat ditikam oleh Vita? jadi ternyata sampai saat ini dia masih suka merasakan sakit dibagian yang dulu ditikam itu, namun dia memendamnya sendiri, makanya dia jadi menolak jika aku ingin punya anak lagi" Dimas menjelaskan dengan sedih.
"Astaga iya kau benar, aku lupa!" Gamal yang mengusulkan ide untuk menukar pil KB Gaby dengan vitamin penyubur kandungan langsung panik.
"Maka dari itu aku merasa sangat berdosa padanya sekarang" Dimas menghempaskan dirinya di sofa ruang kerjanya.
"Kalau begini sih sepertinya tidak hanya kau saja yang harus meminta maaf kepada Gaby, tapi kita semua" Gide juga ikut panik.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita bertiga bicara bersama-sama saja? sejujurnya aku sangat takut istriku marah kalau tau kita taruhan" Gamal pias.
"Mereka semua memang sudah tau" Dimas memberikan informasi.
__ADS_1
"Serius?" kedua kembali bertanya dengan kompak.
"Iya, mereka bertiga memang sudah tau sejak awal, tapi sepertinya mereka sengaja pura-pura tidak tau dan menunggu kita untuk mengakui dengan sendirinya" Dimas menganalisis.
"Duhhhh aku juga jadi takut nih" Gide yang terkenal sebagai pria polos menciut.
"Ya sudah, ayo kita atur waktu untuk bisa bertemu berenam sekaligus" Gamal kemudian merancang strategi.
..........
"Jadi?" Gaby yang melihat ketiga menantu Anderson panik bertanya saat mereka sudah berkumpul berenam di rumahnya.
"Kakak ipar, kami bertiga mau minta maaf kepada kalian" Gide yang sudah diserang panik tidak mau berbasa-basi lagi.
"Minta maaf?" Rachel menatap sang suami.
"Kami minta maaf karena sudah melakukan taruhan untuk menghamili kalian" Gamal menjawab sambil menundukkan kepala karena sang istri sudah seperti hendak menerkamnya.
"Kami bersedia menerima apapun konsekuensi yang akan kalian berikan" Dimas menatap ketiga wanita hamil yang ada di depannya secara bergantian.
"Maaf ma" hanya kata maaf yang keluar dari mulut Gamal.
"Apa kalian tidak berfikir kalau kami ini tidak siap hamil lagi?" kini giliran Rachel yang emosi.
"Maafkan papa ma" Gide kehabisan kata-kata.
"Apa kata maaf bisa merubah situasinya? apa bisa aku batal hamil?" Gaby mengulang pertanyaan yang sama seperti saat dirinya hanya berbicara dengan Dimas tempo hari.
"Apa papa tidak berfikir kalau mama masih baru melahirkan? bagaimana dengan Cilla yang masih terlalu kecil untuk punya adik?" Rachel menahan emosinya hingga suaranya bergetar.
"Maaf" Gide tertunduk.
"Otak papa dimana sih, kenapa bisa-bisanya kepikiran menukar pil KB kak gaby dengan vitamin penyubur?" Sera berkacak pinggang.
__ADS_1
"Apa semua laki-laki memang selalu meremehkan kehamilan pada wanita dan menganggap melahirkan itu hal lumrah? padahal pada faktanya saat melahirkan kami ini sesungguhnya sedang mempertaruhkan nyawa!" Gaby sudah tidak tahan lagi untuk mengeluarkan semua isi hatinya.
"Maafkan papa ya ma" Dimas tidak sanggup membayangkan jika sang istri harus bertaruh nyawa lagi.
"Maaaaa" Divo yang sejak tadi mencuri dengar langsung muncul di tengah-tengah mereka.
"Mama dan aunty jangan marah-marah lagi ya, sebenarnya ini semua salah aku, waktu itu aku yang minta papa untuk punya adik laki-laki karena aku iri sama Diva yang punya Syeba dan Cilla sebagai teman main" Divo membela sang papa.
"Sayang, Divo main di kamar dulu ya nak" Dimas yang terkejut oleh sikap Divo berusaha untuk tidak melibatkan anak sulungnya itu.
"Tidak pa, kan memang benar waktu itu aku yang minta, jadi papa dan uncle berusaha agar aku punya banyak adik laki-laki!" Divo yang melihat kedua orang tuanya bertengkar karena dirinya menjadi merasa sedih sendiri.
"Sayang?" Gaby yang mendengar kata-kata sang putra terkejut.
"Mama jangan marahin papa lagi ya, papa gak salah ma, kakak Divo yang salah!" Divo hampir menangis.
"Aunty, maafin uncle ya?" kini bocah itu menatap kedua auntynya secara bergantian.
"Apa Divo sangat ingin punya adik laki-laki?" Gaby bertanya.
"Iya ma" angguknya.
"Tapi kalau nanti ternyata adiknya perempuan lagi bagaimana? Gaby berusaha memberikan kemungkinan terburuk agar sang putra tidak terlalu berharap lebih.
"Ya tidak apa-apa sih, kan yang penting sudah dicoba" Divo sudah pahan akan konsekuensinya.
"Baiklah, kalau begitu kakak berdoa ya agar adiknya nanti laki-laki" Gaby mulai melunak.
"Tapi mama janji jangan marah lagi sama papa ya?" Divo menunjukkan jari kelingkingnya ke arah sang mama.
"Iya sayang" angguk Gaby sambil tersenyum.
"Aunty berdua juga ya jangan marah lagi sama uncle?" Divo masih takut kalau Sera dan Rachel marah kepada suami masing-masing.
__ADS_1
"Iya" baik Sera maupun Rachel sudah tidak punya alasan lagi untuk marah kepada sang suami karena ternyata alasannya sangat menyentuh hati.
Setelah semua klarifikasi yang dilakukan oleh Divo, ketiga pria itu pun terselamatkan dari amukan para istri.