
Setelah acara selesai, semua keluarga dan tamu undangan pulang ke rumah masing-masing. Gamal, Gide dan Dimas yang awalnya berangkat bersama, memilih untuk pulang sendiri-sendiri dengan kendaraan yang berbeda. Gide pulang bersama mobil George dan Maya, Dimas pulang bersama Gaby dan anak-anak mereka, sementara Gamal pulang berdua bersama Sera dengan membawa mobil yang tadi ia kendarai saat berangkat.
"Sayang, kenapa kau tidak bilang sih kalau mau pulang?" Gamal mengendarai mobilnya sambil mengecup tangan sang kekasih dengan lembut.
"Kalau aku bilang kan jadi bukan kejutan namanya, gimana sih kakak!?" Sera protes sambil mengerucutkan bibir seperti biasanya.
"Kondisikan bibirmu!" Gamal selalu saja ingin melahap bibir mungil itu bila sang kekasih bertindak menggemaskan.
"Ishhh kau itu selalu saja mesum!" Sera kembali protes.
"Jadi ceritakanlah bagaimana kau bisa pulang tanpa sepengetahuanku dan membuat kejutan seperti tadi?" Gamal menuntut sang kekasih menjelaskan kronologinya.
"Jadi beberapa waktu yang lalu bunda, mommy, tante Maya dan Kak Gaby video call denganku di rumah utama dan membuatku menjadi sangat rindu dengan rumah. Lalu saat aku bilang aku mau pulang untuk sekedar melepas rindu, kak Gaby bilang kalau pulangnya saat kakak ulang tahun saja karena mereka mau membuat kejutan untukmu, jadi akhirnya mereka membuat skenario seperti tadi deh" Sera menjelaskan.
"Memang kapan kau sampai di sini?" Gamal sangat penasaran.
"Tiga hari yang lalu" jawab Sera dengan santai namun sontak membuat Gamal menghentikan laju mobilnya dengan mendadak.
__ADS_1
"What?? kau sudah tiga hari di rumah tapi tidak bilang padaku???" Gamal melotot.
"Kan namanya juga mau kasih kejutan, kalau kau tau berarti bukan kejutan lagi dong namanya!" Sera tetap santai.
"Apa semua orang tau?" Gamal belum percaya dengan apa yang dia dengar.
"He em, kan mereka semua yang merencakanan kejutan ini!" Sera sangat lugu.
"Sayang, kau ini jahat sekali sih, kenapa aku malah yang terakhir tau? kalau aku tau kau sudah pulang dari kemarin kan aku tidak perlu menahan rindu segala!" Gamal merajuk dan masih belum terima kalau dia menjadi orang terakhir yang mengetahui kedatangan sang kekasih.
"Uluhhhhh, uluhhhhhhh, cup cup cupppp, sedihnya!!" Sera malah terkekeh melihat sang kekasih ngambek.
"Uhhhh sayanggggg, jangan ngambek dong, nantikan gantengnya jadi hilang!" Sera mencubit pipi sang kekasih dengan gemas.
"Tau ahhhh!!" Gamal mengerucutkan bibir.
"Jangan ngambek lagi ya, ini biar gak ngambek lagi aku kasih hadiah dehhh" Sera menyodorkan sebuah hadiah berbentuk tabung kepada Gamal.
__ADS_1
"Apa ini?" Gamal menerimanya.
"Buka saja!" Sera tidak menjawab.
"Sayang ini!?" Gamal terperanga saat membaca sebuah gulungan kertas yang berada di dalam tabung tersebut yang menyatakan bahwa Sera telah mengajukan permohonan pindah kuliah dan sudah resmi terdaftar sebagai mahasiswa baru di kampus ternama di ibukota tempat keluarga mereka tinggal.
"He em" Sera mengangguk.
"Kau benar-benar akan pindah kuliah ke sini?" Gamal berkaca-kaca.
"Iya, setelah aku pikir pikir aku memang tidak bisa jauh dari kalian semua, setiap hari aku selalu merindukan rumah dan rasanya aku selalu ingin pulang!" Sera menarik nafasnya dengan berat.
Baginya keputusan ini cukup berat mengingat cita-citanya sebagai designer ternama harus ia korbankan, namun biar bagaimana pun ia lebih menyayangi keluarga besarnya sehingga hatinya lebih berat kepada mereka semua. Terlebih saat ini ada Gamal yang sudah berstatus menjadi kekasihnya, ia tidak rela jika harus kehilangan Gamal hanya karena keegoisannya mengejar mimpi di tempat yang jauh, sementara di tempatnya sendiri pun sesungguhnya ia masih bisa meraihnya.
"Sayang, terima kasih, ini adalah hadiah terindah yang aku dapat di hari ulang tahunku ini!" Gamal menarik Sera ke dalam pelukannya.
"I love you so much" Gamal mengecup kening kekasihnya dengan penuh cinta.
__ADS_1
"I love you too" Sera membalasnya.
Beberapa saat mereka terlarut dalam kebahagiaannya, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk kembali melajukan mobil dan pulang ke rumah karena hari sudah semakin malam.