
"Aku ingin makan belut goreng" Sera tiba-tiba nyeletuk saat seluruh anggota keluarga Anderson berkumpul di ruang keluarga keesokan harinya.
"Ya sudah tinggal order saja" jawab Gaby.
"Tapi aku maunya belut goreng hasil buatan sendiri!" Sera ingin yang fresh.
"Aku punya ide!" Gaby langsung berbinar.
"Apa?" Ananda, Ayu dan Maya menjawab serentak.
"Suruh saja para pria untuk mengolahnya!" Gaby tersenyum jahil.
"Ahhhhh ide yang bagus!" Sera langsung bersemangat.
"Divo sayang bolehkah minta tolong untuk panggil semua grandpa, uncle dan juga papa kesini?" Gaby minta tolong kepada Divo.
"Oke ma" Divo selalu saja menurut.
"Ada apa? kenapa sepertinya serius sekali?" Ron memiliki firasat buruk.
"Aku ngidam belut goreng Dad" jawab Sera dengan wajah polos.
"Oh no, jangan bilang kau ingin kami para pria yang memasaknya!" Mike masih ingat betul bagaimana saat Gaby dulu memintanya untuk membuat sate kambing.
"Hehehehe iya ayah betul, aku mau belutnya hasil olahan sendiri, mulai dari beli di pasar, membersihkannya hingga menggorengnya dan membuat sambelnya serta lalapannya!" Sera menunjukkan wajah memohon.
"Apa tidak bisa beli yang sudah matang saja? kripik belut misalnya?" George sudah merasa ngeri duluan membayangkan menyentuh belut hidup yang berwujud seperti ular namun berlendir.
"Papa tidak bersedia ya?" Sera mulai berkaca-kaca.
"Papa, ini yang mau kan cucumu, kenapa kau jahat sekali sih!" Maya yang sangat menyayangi Sera memarahi suaminya, membuat George tidak bisa berkutik lagi.
__ADS_1
"Tau, kenapa sih kalian ini diminta untuk memasak hal sepele saja sudah menggerutu!?" Ayu ikut memarahi suaminya.
"Sudah-sudah, kalian sekarang lebih baik belanja bahan-bahannya ke pasar!" Ananda menatap Rafael dan Richard secara bergantian.
"Tapi bun kenapa harus di pasar?" Rafael protes.
"Memang tidak bisa ya beli belutnya di mall saja?" Richard kesal.
"Mana ada mall ya menjual belut hidup? kalau pun ada pasti sangat langka!" Grandma Merlyn terkekeh.
"Belut itu banyak dijual di pasar trandisional, jadi lebih baik kalian ke pasar induk saja!" Grandma Ruth pun ikut tersenyum membayangkan kedua cucu tampannya ini yang tidak pernah belanja ke pasar harus berkeliling mencari belut.
Sementara Gamal, Dimas dan Gide hanya bisa menelan salivanya tanpa berani komentar apapun agar tidak menjadi sasaran amukan para wanita.
..........
"Nah karena belutnya sudah ada, maka sekarang silahkan kalian semua, tanp terkecuali membersihkan belutnya ya!" Ayu menatap semua pria di keluarga Anderson.
"Aku akan siapkan baskomnya untuk yang sudah bersih!" kata Maya sambil berjalan ke dapur.
"Gamal, kau mulai duluan!" Dimas menyuruh adik iparnya.
"Iya cepat kau pegang dulu!" Gide bergidik ngeri.
"Eh tunggu, Gamal dan Gide jangan ikutan membersihkan, lebih baik kalian membuat sambel saja!" Grandma Ruth melarang.
"Kenapa memangnya grandma?" Gamal heran.
"Jangan, kalau menurut budaya kita calon ayah tidak boleh melukai atau memotong hewan, pamali nanti sama bayinya!" jawab Grandma Merlyn, meski belum teruji keabsahannya secara ilmiah, namun keluarga ini tetap menjunjung tinggi nilai adat budaya leluhur.
"Ayo kalian berenam!" Grandma Ruth menatap Mike, Ron, George, Dimas, Rafael dan Richard.
__ADS_1
"Ayo semangat, demi cucu Anderson!" Grandma Merlyn tersenyum geli.
"Heyyy pegang yang benar bodoh, kenapa malah melemparnya begitu?" Ron kesal saat Mike melepas belutnya.
"Dia terus bergerak dan sangat licin!" Mike sangat kesal.
"Dimas kau pegang ini, jangan dilepas ya!" Geroge lebih memilih bekerjasama berdua dengan Dimas agar tidak perlu repot menyentuhnya.
"Baiklah, tapi Om juga jangan lama-lama motongnya!" Dimas kegelian sendiri saat Belutnya memberontak minta dibebaskan.
"Ahhhhhh mengapa dia lepas terus sih!" Raf sangat kesal karena belut yang dia pegang terus saja lolos dari genggaman.
"Tolong, ahhhhh menjijikan sekali!" Richard tidak kalah kesalnya.
Suasana heboh dan brisik terjadi saat para pria berusaha membersihkan belutnya. Sementara para istri mereka hanya tersenyum melihat bagaimana suaminya bekerja keras.
"Kalau sudah bersih sekarang tinggal di goreng ya!" karena jumlah belutnya cukup banyak, maka kompor yang digunakan pun tidak bisa hanya satu tungku saja.
"Woooooo, ini kenapa begini sih?" Ron berlari ke arah taman saat belut yang digoreng meletup-letup.
"Hey jangan dilempar, pelan-pelan supaya minyaknya tidak muncrat!" George menegur Mike.
"Itu panas dan meledak!" Mike takut kena minyak panas.
"Ahhhhh ini hampir gosong, Raf cepat dibalik!" Richard memerintah sepupunya.
"Kau saja ah aku takut!" Raf menolak.
"Matikan dulu kompornya!" Dimas memberi usul.
Sesuai prediksi para wanita, karena akan mengalami kegaduhan akibat para pria yang tidak bisa memasak sama sekali, maka sangat tepat jika memasak belutnya di lakukan di ruang terbuka seperti di taman belakang rumah besar itu.
__ADS_1
Hari itu semua keluarga sangat menikmati kebahagiaan berkumpul bersama, hanya Rachel saja yang masih terlihat murung.