
"Sayang, jadi kau ini memang sengaja mengatur semua ini ya?" Sera yang sudah tidak sabar mendengarkan penjelasan Gamal langsung bertanya kepada sang suami saat mereka sudah berada di dalam mobil pribadi Gamal selepas penutupan acara malam inagurasi.
"Iya" Gamal mengembangkan senyumnya dengan puas.
"Sejak kapan kau tau kalau Arnold yang aku maksud adalah teman kuliahmu dulu?" tanya Sera lagi.
"Sejak kau bercerita tentang malam inagurasi, seperti yang aku bilang sebelumnya, aku dan Arnold sempat bertemu di restoran saat ia sedang menjadi dosen pendamping untuk menggalang dana malam inagurasi, kemudian ia pun bercerita bahwa saat ini dirinya sedang mengincar seorang mahasiswa yang usianya sama sepertimu, lalu saat aku pulang ke rumah kau pun bercerita tentang malam inagurasi dan juga tentang dosenmu yang sengaja memintamu mengecek proposal karena ingin melakukan pendekatan padamu, disitu aku mulai curiga, jangan-jangan yang Arnold maksud adalah dirimu karena kalian kan satu kampus dan cerita kalian saling berkaitan, makanya aku bertanya siapa nama dosenmu itu, saat kau bilang namanya Arnold maka aku pun akhirnya memutuskan untuk datang dan menunjukkan siapa istriku yang sebenaranya supaya ia tidak lagi mengganggumu!" Gamal bercerita panjang lebar.
"Uhhhhh suamiku memang luar biasa, apa kau lihat bagaimana reaksinya saat tau kalau kita adalah sepasang suami istri?" Sera membayangkan wajah Arnold yang pias.
"Tentu saja aku lihat!" Gamal tersenyum geli.
"Awalnya aku tidak paham dengan skenario yang kau buat, namun saat melihatmu bertanya tentang wanita yang diincar oleh Pak Arnold, aku pun mulai paham bahwa kau sebenarnya sudah tau tentang semuanya!" Sera benar-benar kagum dengan suaminya yang cerdik.
__ADS_1
"Kau juga pandai berakting ya ternyata?" Gamal mencubit hidung istrinya dengan gemas.
"Tentu saja, kan suamiku yang menjadi sutradaranya heheheh" Sera terkekeh membayangkan betapa kompaknya mereka mengerjai Arnold.
"Dasar kau itu!" lagi-lagi Gamal gemas dengan sang istri.
"Oya sayang bagaimana kalau kita comblangin saja pak Arnold dengan kakak kelasku?" Sera mencoba membujuk Gamal untuk membantunya mendekatkan Inka kepada Arnold.
"Kau ini sudah seperti duo grandma ya sekarang jadi makcomblang?" Gamal menatap sang istri sekilas.
"Memang kau mau bagaimana mendekatkan mereka?" Gamal penasaran.
"Aku ingin mengajak kakak kelasku Inka main ke rumah kita, nah kau juga ajak pak Arnold, nanti kita buat skenario supaya seolah-olah mereka tidak sengaja bertemu, nah siapa tau mereka bisa jadi semakin dekat, seperti kau dan kak Niken dulu saat bertemu dan bermain ke rumah kak Gaby dan kak Dimas heheheh" Sera membayangkan skenarionya akan berhasil.
__ADS_1
"Ck, kau ini kenapa mengungkit masa lalu segala sih!" Gamal kesal saat Sera menyebut mantannya.
"Sayang aku tidak bermaksud mengungkit masa lalumu, hanya saja ingin mencontohnya, bukankah memang itu dulu yang membuat kalian dekat? jangan marah dong, toh itu hanya masa lalu, bukankah kita sudah bahagia sekarang? jadi jangan baper dongggg heheheh" Sera merayu dengan wajah polosnya.
"Baiklah, terserah kau saja, aturlah sesukamu, aku ikut saja" jawab Gamal sambil mengecup tangan sang istri.
"Benarkah? terima kasih ya sayangggg" Sera senang mendengar suaminya menyetujui idenya.
"Memang kapan kau mau mengundang mereka?" Gamal bertanya.
"Secepatnya" Sera sangat antusias.
"Oke, kebetulan aku pun sudah berjanji pada Arnold ingin mengajaknya makan malam karena saat kita menikah aku tidak mengundangnya" Gamal pun teringat akan janjinya.
__ADS_1
"Nahhhhh kebetulan, mungkin ini yang dinamakan jodoh!" Sera berbinar-binar.
Mereka pun kemudian membuat rencana seapik mungkin untuk menjodohkan Arnold dan Inka. Sepanjang perjalanan dari tempat berkemah hingga tiba di rumah topik yang mereka bahas hanyalah tentang kedua orang itu.