Sangkakala Milik Serafim

Sangkakala Milik Serafim
Empat Bulanan Gaby


__ADS_3

"Grandma" Gaby memeluk ibu asuh yang sudah membesarkan Ananda di panti asuhan seperti grandmanya sendiri.


"Apa kabar?" Grandma asuh mengelus perut Gaby yang membuncit.


"Aku sehat-sehat Grandma" Gaby bergelayut manja di lengan ibu asuh.


"Bu" Ananda, Ayu dan Maya kemudian bergantian memeluk dan mencium ibu asuh.


"Ayo masuk" ibu Asuh mengajak keempat wanita itu masuk ke dalam ruang serba guna yang dipenuhi anak-anak.


"Kalian mau minum apa?" ibu asuh bertanya.


"Tidak bu, jangan repot-repot, ibu duduk saja disini, kan sudah lama kita tidak ngobrol-ngobrol bersama" kini giliran Ananda yang bergelayut manja dilengan sang ibu.


"Ya sudah terserah saja" pada akhirnya ibu asuh hanya bisa pasrah jika anak asuhnya itu sudah merajuk.


"Grandma, sebenaranya aku datang ingin meminta ijin" Gaby membuka pembicaraan.


"Ijin apa?" tanya ibu asuh.


Gaby kemudian mengutarakan keinginannya untuk mengadakan acara empat bulan kehamilannya di panti asuhan.


"Apa boleh grandma?" Gaby takut jika ibu asuh tidak mengijinkannya.

__ADS_1


"Tentu saja boleh nak, apapun yang terbaik pasti grandma ijinkan, ini juga rumah kalian, kalian adalah anak dan cucuku, sampai kapan pun, setua apapun kalian" jawab ibu asuh kembali sambil mengelus perut Gaby dengan penuh kasih sayang.


Melihat bagaimana ibu asuh memperlakukan Gaby dengan baik, menjukkan bahwa kebaikan itulah yang selama ini sudah ditularkannya kepada Ananda. Bagaimana Ananda bisa menyayangi Gaby seperti anak kandungnya sendiri tanpa membedakan status kandung atau sambung, karena Ananda yang sejak kecil sudah yatim piatu pun mendapat kasih sayang seorang ibu meskipun bukan dari ibu kandungnya sendiri.


"Kapan acaranya berlangsung?" tanya ibu asuh lagi.


"Menurut grandma kapan waktu senggangnya panti?" tanya Gaby balik.


"Kapanpun bisa, toh anak-anak panti kan tidak pernah punya acara, justru mereka pasti akan sangat senang" kata ibu asuh menjelaskan.


"kalau akhir pekan minggu depan bisa tidak?" akhirnya Gaby memutuskan waktunya.


"Tentu saja, dengan senang hati" ibu panti tersenyum.


"Terima kasih untuk semua yang sudah hadir di acara ucapan syukur empat bulan kehamilan istri saya, terima kasih karena anda semua selalu mendukung kami, mohon doanya semoga istri dan anak saya bisa selalu sehat hingga waktu persalinannya nanti tiba" Dimas memberikan kata sambutan saat acara syukuran empat bulan kehamilan Gaby berlangsung.


"Selamat ya, semoga sehat terus sampai nanti waktunya melahirkan nanti" begitulah kira-kira kata para tamu undangan yang hadir.


Meskipun undangan terbatas hanya untuk keluarga dan beberapa rekan kerja saja, tapi acara yang berlangsung cukup meriah. Mereka semua bersuka cita saat mengikuti rangkaian acara.


"Uhhhhh keponakan tanta Niken, cepetan lahir ya, udah gak sabar deh pengen uyel-uyel" kata Niken sang sahabat yang hadir di panti asuhan bersama Gamal.


"Dari pada nungguin anak aku lahir, mendingan kalian cepetin deh proses bikin anak kalian sendiri" goda Gaby kepada Niken dab Gamal.

__ADS_1


"Doakan ya supaya kami bisa cepat menyusul" kata Gamal sambil merangkul pinggang Niken.


"Kakak ihhh, malu tau" Niken merah merona.


"Ciye-ciyeee, ada yang malu nih ceritanya?" Gaby semakin gencar menggoda.


"Apa sihhhh" Niken semakin malu.


"Memang kapan rencananya?" Dimas yang sejak tadi duduk di samping sang istri ikut angkat bicara.


"Aku sih maunya melamar hari ini juga, tapi yang dilamar belum mau" Gamal berseloroh.


"Kakkkkkkkk" Niken mencubit perut Gamal.


"Awwwww,, yanggg sakitttt" Gamal pura-pura meringis kesakitan.


"Segala sesuatu yang baik harus disegerakan, pamali kalau ditunda-tunda ken" kata Gaby menasehati sahabatnya.


"Doakan saja ya yang terbaik" Niken berkata.


"Amin, pasti didoakan" kata Gaby mengamini.


Entah mengapa meskipun Niken juga sangat mencintai Gamal, seperti Gamal mencintai Niken, namun ia selalu saja menolak jika Gamal ingin serius melamarnya. Niken seperti menyimpan sebuah rahasia besar yang masih Gamal tidak ketahui.

__ADS_1


__ADS_2