
"Sayang kalau nanti siang kau pulang kuliah hanya sama supir saja tidak apa-apa kan?" Gamal bertanya kepada sang istri saat mereka sudah sampai di depan kampus Sera. Ia merasa bersalah ketika harus membiarkan sang istri pulang kuliah sendiri.
"Memangnya kenapa? aku kan memang sudah biasa begitu dari dulu" Sera merasa suaminya terlalu berlebihan.
"Itukan dulu waktu kita belum menikah, kalau sekarang kan kau jadi tanggung jawabku secara penuh" kata Gamal dengan serius.
"Memangnya kalau aku minta dijemput setiap hari kau bisa menjemputku? yang ada baru satu minggu kau sudah dipecat oleh ayah!" Sera terkekeh.
"Iya juga sih" Gamal menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah jangan cemaskan aku, fokus saja bekerja, aku akan baik-baik saja kok" Sera meyakinkan Gamal.
"Baiklah, terima kasih ya sayang, kau sangat pengertian" Gamal mengecup kening sang istri.
"Aku masuk dulu ya, hati-hati di jalan" Sera kemudian mengecup pipi Gamal.
"Kok hanya pipi sih?" Gamal protes.
"Memang mau apa?" Sera mengernyit.
"Ini" jawab Gamal sambil menunjuk bibirnya.
"Memangnya yang tadi pagi belum cukup apa?" Sera merasa suaminya seperti robot yang powerful, sangat tahan lama.
"Siapa suruh kau membuatku kecanduan?" Gamal tersenyum jahil.
"Ck, dasar suami mesum!" Sera menepuk lengan suaminya dengan manja dan kemudian mengecup bibir Gamal dengan lembut.
__ADS_1
"I love you" Gamal mengelus pipi Sera.
"I love you too" Sera membalasnya sebelum keluar dari mobil dan kemudian berjalan menjauh menuju gedung perkuliahannya.
..........
"Kau mau makan apa?" tanya Bitha saat mereka sudah keluar kelas dan menuju kantin untuk istirahat makan siang.
"Sepertinya soto ayam enak ya" Sera membayangkan kuah segar dengan perasan jeruk nipis.
"Hemmmmm sepertinya menggoda, kalau begitu ayo kita ke kios soto" Bitha pun jadi tergiur.
"Pak sotonya dua ya, nasinya dipisah" Sera memesan untuk mereka berdua.
"Minumnya apa non?" tanya sang penjual.
"Baik, ditunggu sebentar ya" kata sang penjual.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Sera dan Bitha pun mengobrol tentang materi yang baru saja mereka peroleh dengan cukup serius sampai tidak menyadari bahwa seseorang menghampiri mereka.
"Hai" sapa orang itu.
"Pak Arnold?" Sera dan Bitha berseru bersama-sama lagi.
"Kalian mau makan soto juga?" Arnold bertanya.
"Iya pak" jawab Bitha, sementara Sera hanya mengangguk.
__ADS_1
"Apa saya boleh bergabung di sini? sepertinya akan lebih seru kalau makan bareng-bareng dari pada sendirian" Arnold berkata dengan tersenyum sambil menatap ke arah Sera.
"Silahkan" kembali Bitha yang menjawab, sementara Sera hanya tersenyum.
"Serafim tidak keberatan kan?" tanya Arnold kepada Sera yang sejak tadi diam saja.
"Tidak pak, silahkan saja" Sera memberi tempat duduk di sebelahnya.
"Terima kasih" kata Arnold kepada Sera.
"Sama-sama" Sera menjawab dengan sopan, sementara Bitha memperhatikan bahwa Arnold memang sengaja ikut nimbrung dengan mereka karena ingin mendekati Sera.
"Ini pesanannya non" sang penjual membawa dua porsi mangkuk berisi soto dan piring nasi serta es jeruk untuk Sera dan Bitha.
"Satu porsi lagi sama persis seperti mereka ya pak" Arnold memesan menu yang sama.
"Siap pak dosen, ditunggu ya sebentar" kata sang penjual yang sudah mengenal Arnold dengan cukup baik.
"Terima kasih" Arnold berkata.
Setelah semua pesanan Arnold datang, mereka bertiga makan diselingi obrolan ringan seputar perkuliahan. Sesekali Arnold pun bertanya dan berbicara menyerempet ke arah kehidupan pribadi Sera. Arnold terus saja asik berbicara panjang lebar hingga waktu istirahat mereka habis.
"Baiklah kalau begitu, selamat melanjutkan belajarnya ya" Arnold kemudian berdiri dan berjalan menjauh. Sementara Sera dan Bitha hanya saling tatap dengan perasaan aneh melihat tingkah dosen mereka yang bisa dibilang sangat penasaran kepada kehidupan pribadi Sera.
"Kau lihatkan, dia itu sepertinya mengincarmu!" Bitha menatap Sera.
"Sepertinya begitu" Sera jadi takut sendiri membayangkan bagaimana nanti jika Gamal sampai tau kalau dia memiliki penggemar, bisa-bisa suaminya itu akan murka.
__ADS_1